
Saat pelajaran di mulai, Arin yang biasa nya lebih semangat, namun tidak dengan hari ini.
Apalagi saat Arin melihat ke arah murid baru tersebut yang bernama Adel, kemarahan Arin semakin memuncak.
Adel selalu memperhatikan pak Gani, saat memberi mata pelajaran.
Terkadang Adel juga melemparkan senyuman saat pak Gani melihat ke arah semua murid-murid.
"Arin, kerjakan tugas yang benar, jangan terus melamun,!" ucap pak Gani.
Namun yang di tegur bukan nya mendengarkan, malah pikiran nya entah teraveling kemana-mana.
Pak Gani berjalan mendekati Arin yang terus melamun saat mata pelajaran nya berlangsung.
Saat pak Gani menegur, tiba-tiba entah kenapa Arin menitikkan air mata nya, yang membuat pak Gani dan teman-teman lain nya merasa heran dengan sikap Arin.
"Kamu kenapa, apa ada masalah.?"
Namun Arin bukan nya menjawab dengan ucapan, yang ada hanya dengan gelengan kepala.
"Mungkin dia ada masalah di rumah nya pak," ucap Adel.
Hati Arin semakin panas, saat mendengar Adel berucap kata-kata yang mengatakan masalah keluarga.
Bukankah selama ini keluarga nya baik-baik saja, malah bisa di bilang keluarga nya sangat harmonis.
"Arin,??????" ucap pak Gani dengan suara yang terdengar sedikit lembut.
Entah kenapa pak Gani merasa ada yang tidak beres.
Bukankah pagi tadi saat mereka bertemu di parkiran, sikap Arin baik-baik saja.
Malah Arin terlihat tersenyum tanpa beban.
"Maap pak," jawab Arin.
"Kamu baik-baik saja.?"
"Iya pak, saya baik."
'Tapi hati saya yang sakit pak, lihat tuh cewek cari perhatian kepada bapak,' batin Arin.
Pelajaran berlangsung tanpa ada keributan di kelas.
Tiba-tiba bunyi lonceng yang pertanda waktu istirahat tiba, yang di tunggu-tunggu setiap para murid.
Saat semua murid pada keluar kelas dan mereka menuju tempat dimana yang ternyaman bagi mereka.
Arin memilih untuk tetap berada di dalam kelas.
"Lo yakin tidak mau kekantin,?" ucap Indah.
"Iya aku di sini saja, kalian aja yang kekantin,!" jawab Arin.
"Baiklah kita ke kantin dulu ya, udah laper banget nih."
Arin lagi tidak mood untuk sekedar keluar dari kelas nya.
Entah kenapa tiba-tiba perasaan nya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Apa lagi Arin memikirkan jika memang Adel menyukai pak Gani.
'Ihhh gue apa-apaan sih, kenapa hati gue merasa tidak iklas sih,' emang nya pak Gani siapa, kan dia bukan siapa-siapa gue, batin Arin.
Di lain tempat.
"Ehh gila tuh cwo ganteng banget sih, tapi kok dia bertiga mirip banget ya,?" ucap Amanda.
"Ehh iya ganteng banget ya, aduh mau dong satu," ucap Aruna.
"Ihh gue biasa aja sih melihat mereka, ya gue akuin sih mereka bertiga ganteng-ganteng dan mirip juga," mungkin dia kembar kali, tapi tetap aja hati gue kecantol pak Gani, jawab Adel.
"Ihh lo sih suka nya yang mateng-mateng," lah kita mana doyan sama model pak Gani, ucap Aruna.
Mereka tertawa bersama, namun tidak dengan seorang laki-laki yang sempat mendengar obrolan ke tiga perempuan itu.
Dia hanya tersenyum sinis, saat mengetahui bahwa murid nya menaruh hati kepada nya.
Ya dia adalah pak Gani.
Pak Gani sedang mencari minuman dingin untuk menemani nya memperiksa tugas para murid nya.
Tidak senghaja saat dia melintas di belakang murid baru tersebut, dia sempat mendengar obrolan ke tiga perempuan itu.
Setelah pak Gani sampai di muka ruangan nya, tiba-tiba pak Gani melihat Arin, yang berjalan menuju ke arah nya.
Pak Gani ingin meminta tolong untuk membantu nya memperiksakan tugas-tugas murid.
"Arin sinih,!" ucap pak Gani.
"Iya pak ada apa.?"
"Emmmm," Arin berpikir sebentar.
"Bisa atau tidak,?" ualng pak Gani.
"E-eh bisa pak, iya bisa."
Saat ini Arin sudah berada di dalam ruangan bersama pak Gani.
Arin di berikan tugas untuk memperiksa semua tuga teman-teman nya.
Saat Arin mulai memperiksa tugas Adel, tiba-tiba mood nya kembali menjadi buruk.
'Ternyata dia juga murid yang pintar, seperti nya juga berprestasi,' batin Arin.
"Jangan karena memandang keburukan seseorang, kamu juga harus membenci hasil pekerjaan nya," ucap pak Gani.
Sontak membuat Arin menjadi salah tingkah.
"Kanapa muka kamu, apakah benar yang saya bilang tadi.?"
"T-tidak kok, bapak sok tau deh."
"Ohh saya sok tau ya,?" tapi entah kenapa menurut saya kamu itu sedang menutupi sesuatu dari saya.?
"Apaan sih pak, apakah selain menjadi guru, bapak juga seorang peramal.?"
"Saya bukan seorang peramal, tapi saya bisa melihat dari mata dan hati kamu," ada sesuatu yang sedang kamu tutupi dari saya, namun saya tidak memaksa nya.
__ADS_1
Cepat atau lambat saya pasti akan mengetahui nya.
"Bapak sok tau deh."
Gani yang merasa sedikit terhibur telah mengerjai Arin menjadi tertawa.
Entah kenapa Gani merasa sedikit berbeda saar bersama Arin.
Sikap nya yang pernah hilang, kini seperti nya sedikit kembali hadir saat bisa menjahili Arin.
Setelah bunyi lonceng ke dua, akhirnya semua murid pada keluar dari kelas, dan menuju tempat parkiran.
Dimana ada motor, dan sepeda mereka berbaris rapi.
Saat ini ke tiga laki-laki kembar pada berkumpul di parkiran, sedang menunggu seorang putri cantik di kerajaan mereka.
"Selamat siang tuan putri," ucap Adnan, Adrian, dan Aidan.
"Apaan sih kalian, norak tau," jawab Arin.
Sedangkan ke dua teman Arin, Indah dan Desi, sedang menertawakan sikap cuek Arin hari ini.
"Kak Adnan, ada yang lagi galau," ucap Indah.
Cepat-cepat Arin menutup mulut sang sahabat, karena sedikit bocor.
"Ehhh siapa yang galau,?" ucap Adrian yang mulai kepo, dengan ucapan sahabat adik nya itu.
"T-tidak kak, aku hanya bercanda," jawab Indah.
Lain hal nya dengan Desi, dia memilih diam takut nanti nya menjadi amukan Arin.
"Ayolah katakan, jika kamu mau mengatakan nya nanti kakak teraktir makan loh," ucap Adrian.
"Sudah, jangan biasakan sikap kepo mu itu bertambah menjadi-jadi," jawab Adnan yang menarik tangan Adrian untuk menjauh dari adik dan sahabat adik nya.
Lain hal nya dengan Aidan, dia memilih untuk diam saja.
Karena menurut nya hal seperti itu hanya receh saja.
Dan mereka ber enam pulang mengendarai motor masing-masing.
Dan arin di bonceng dengan Aidan.
Ada empat pasang mata yang menatap mereka dengan tidak suka.
Siapa lagi kalo bukan Amanda dan Aruna.
Di lain tempat
Ara, terus menangis karena meminta kepada nenek nya untuk jajan makanan seperti yang Ayah nya bawa kemaren.
Namun sang nenek merasa bingung, entah dimana menemukan makanan seperti itu.
"Nanti kalo Ayah nya datang kita tanya ya,?" beli nya dimana, karena nenek juga tidak tahu, ucap nenek Ara dengan berbicara lemah lembut.
Ara pun menurut dan berhenti menangis.
Aku kembali lagi gaes 🤭🤭
__ADS_1
Maap ya lama up nya, karena aku sibuk dengan ke dua cerita sebelah 🙏🙏🙏🤭