
Alvar mengabaikan Dea begitu saja di dalam pesawat, dia sedari tadi hanya diam dan hanya membantu Dea menaikan koper. Itupun tanpa bersuara sama sekali, Dea yang duduk di dekat jendela pesawat melirik sekilas kearah Alvar yang melipat tangannya di dada sambil memejamkan matanya bersandar di kursi pesawat.
“Danton Alvar,” panggil Dea lirih, membuat Alvar sedikit membuka matanya dan melihat sekilas kearah perempuan tersebut.
“Ada apa?” ucapnya menatap Dea.
“aku minta maaf atas ucapan ku semalam” lirih Dea sesekali melihat wajah Alvar.
“Untuk apa kau minta maaf, kau tidak salah” tukas Alvar dan akan kembali memejamkan matanya.
“Aku dulu pernah dengar kalau kau dan aku pernah memiliki hubungan, boleh aku tahu seberapa jauh hubungan kita dulu” ucap Dea menatap Alvar yang langsung membuka matanya lagi menatap Dea dengan mata lebar.
“kenapa kau ingin tahu?”
“Karena aku merasa kau tahu sesuatu, kalau kau memang tahu sesuatu soal ingatanku masa lalu. Aku mohon bicaralah daripada aku terus membuat dirimu merasa sakit hati” tutur Dea berharap Alvar mau bilang semuanya.
“Kalau aku bicara apa kau percaya, karena sepertinya kau tidak gampang mempercayai orang” sinis Alvar.
“Apa kau percaya kalau aku bilang, aku suamimu” tukas Alvar dengan serius menatap manik indah mata Dea.
Seketika Dea langsung melebarkan matanya menatap Alvar,
“Ba..barusan Danton Alvar bilang apa? ka..kau suamiku” pungkas Dea dengan terbata sedikit tak mempercayainya.
Alvar diam saja, dia mengamati wajah Dea yang tampak syok dan menunggu jawaban darinya dengan mata yang sedikit bergetar mencari kebenaran dari wajahnya.
“Lupakan saja, kau tidurlah” pungkas Alvar yang langsung memalingkan wajahnya.
“Danton Alvar kenapa kau malah diam, kau suamiku?” pungkas Dea yang langsung memegang tangan Alvar yang akan memalingkan tubuhnya.
“Aku hanya bercanda, tidak usah di ambil serius. Lagi pula kalau benar kau tidak mungkin percaya ucapan ku seperti dulu” ucap Alvar dan melepaskan tangan Dea perlahan dan dia langsung memalingkan tubuhnya membelakangi Dea.
Dea terdiam mendengar ucapan ketus Alvar, dia terpaku begitu saja. Satu hal yang membuatnya kembali semakin yakin kalau dia dan Alvar di masa lalu pasti memiliki hubungan yang cukup serius. Perkataan pria itu yang mengatakan bahwa dia suaminya, sebuah kebenaran atau hanya candaan saja. Apa benarkan pria di depannya adalah suaminya, jika iya bisakah dia menerima kenyataan ini dan kapan dia menikah dengan pria dingin didepannya. Pikir Dea menata Alvar yang sudah memunggunginya.
..............................................
__ADS_1
Di Kodim Fahrul sedang mengobrol bersama Juna keponakannya yang juga merupakan seorang anggota tentara dan kini dia baru saja di pindah tugaskan ke Kodim tempat dimana dirinya menjadi atasan.
“Selamat bergabung dengan kesatuan kita Juna,” ucap Fahrul yang duduk sambil menaruh segelas air di depan keponakannya itu.
“Iya Om, eh saya panggil Om atau panggil komandan nih” ucap Juna sambil tersenyum.
“terserah kamu sajalah Jun, kamu sekarang cara bicaranya sama Om kamu formal banget” tukas Fahrul sambil tersenyum.
“maklum, hehehe. Kan sudah jadi anggota Om . jadi harus lebih sopan lagi. Agar jadi contoh yang baik buat junior” jawab Juna sambil tersenyum.
“Baguslah kalau gitu, itu minumnya diminum dulu”
“Iya,”
“Oh iya, Dea sama Alvar hari ini kan pulang ke Jogja ya Om?” tambah Juna.
“Iya katanya hari ini,”
“Perkembangan hubungan mereka bagaimana OM? Ada kemajuan?”
Juna mendengar itu menghela nafasnya,
“Sepertinya aku juga perlu turun tangan” ucapnya dalam hati sambil sesekali memperhatikan Omnya yang tampak sedih saat mereka membahas hubungan Dea dan juga Alvar.
“OM Fahrul yang sabar saja, pasti bakal ada kemajuan nantinya. Kondisi Dea masih trauma atau bagaimana ?”
“Adikmu sih sepertinya sudah tidak trauma lagi, dia sudah bisa menerima semua kenyataan yang ada. Dan karena itu Om sangat mengharapkan Alvar untuk jujur saja pada Dea tapi dia sama sekali tidak mau bilang. Dia ingin menunggu sampai Dea ingat sendiri siapa dia” jelas Fahrul pada keponakannya.
“Alvar dari dulu masih begitu ternyata, aku kira dia sudah berubah setelah beberapa tahun” gumam Juna yang tak habis pikir dengan Alvar yang tak ada perubahan. Pria itu masih mementingkan egonya saja tanpa orang lain boleh ikut campur.
“Juna, kalau Om boleh tahu apa Alvar selama ini selalu berpikir sendiri tanpa meminta nasehat atau bantuan orang lain” ucap Fahrul yang tiba-tiba bertanya seperti itu pada Juna. Dia bertanya pada Juna, karena Juna pasti tahu soal Alvar karena Alvar pernah menjadi junior Juna di AKMIL.
“Saya sih tidak tahu betul Om, tapi kalau kata Azka. Alvar memang begitu tidak pernah meminta nasehat siapapun dan tidak membiarkan siapapun itu ikut campur dalam urusannya”
“Hah, Alvar sepertinya lebih dingin dari ayahnya ternyata” lirih Fahrul menghela nafasnya sambil sedikit memijat keningnya yang sedikit berdenyut.
__ADS_1
....................................................
“Maaf bang, saya kelamaan ya” ucap Noval salah satu junior yang dekat dengan Alvar. Dia turun dari mobil dengan terburu-buru mendekati Alvar dan juga Dea yang sudah menunggu sedari tadi dengan koper-koper mereka.
“Nggak pa-pa santai aja” jawab Alvar lirih.
“Kau masuk kedalam mobil saja dulu, biar aku yang bawa koper mu” perintah Alvar pada Dea yang berdiri di sebelahnya.
“Tidak usah Letda Alvar, biar saya saja yang bawa”
“Mbak Dea, udah nggak pa-pa biar saya sama bang Alvar aja yang bawa. Mbak masuk ke mobil dulu aja” sahut Noval.
Dea melihat sekilas kearah Alvar yang juga melihatnya,
“Ya sudah aku masuk dulu” ucap Dea pada akhirnya.
Dea langsung berjalan kearah mobil, membuka pintu bagian belakang secara perlahan sambil matanya tak lepas menatap Alvar yang mulai mengangkat kopernya dan di bantu oleh Noval yang membawakan koper milik Alvar.
“Kenapa hatiku tidak menolak saat kau bilang dirimu adalah suamiku, apa benar yang kau ucapkan itu Letda Alvar?” gumam Dea sambil terus memperhatikan Alvar yang mulai mendekati mobil dan membawa masuk koper ke bagasi belakang.
Alvar memasukkan koper miliknya dan juga Dea ke bagasi belakang dibantu oleh Noval,
“bang, tadi di Kodim ada rekan baru yang kenal abang dia senior abang katanya” ucap Noval sambil membantu Alvar.
“Siapa namanya?”
“Bang Juna kayaknya, dia juga masih Letda sama kayak abang tapi dia senior abang di Akmil dulu”
“Oh,”
“Abang nanti langsung dinas atau mau istirahat”
“Saya nanti langsung dinas, nanti kita binsik siang” tukas Alvar dan langsung melenggang pergi meninggalkan Noval yang juga langsung menutup pintu bagasi mobilnya. Dia sudah biasa di perlakukan begitu oleh Alvar.
°°°
__ADS_1
T.B.C