Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 12


__ADS_3

Malam sudah semakin larut banyak, tetapi suasana Kodim tak sepi layaknya pada malam hari justru ramai sorakan-sorakan para tentara yang tengah bermain voli di bawah sinar lampu di lapangan.


Dan sebagian yang bertugas berkeliling Kodim mengecek suasana di tempat itu, Alvar sendiri saat ini tengah duduk di pos bersama tiga rekannya termasuk Juna abang seniornya saat di Akmil dulu.


“Selamat bergabung di kesatuan kita bang” ucap Alvar pada Juna yang menyesap kopi di depannya.


“Iya terimakasih sambutannya var” jawab Juna.


“Dunia memang sempit banget ya, segitu banyaknya tempat dinas tentara. Disini sini juga bang Juna di pindah tugaskan, kita Reuni lagi nih nostalgia masa pendidikan dulu bang” ucap Cakra yang memang juga berada di situ.


“makanya itu Cak, saya bosen lihat kamu sama Pian. Kemana-mana berdua, eh dinas disini juga berdua” canda Juna pada juniornya tersebut.


“gitu banget sih bang,” ucap Cakra sambil menggelengkan kepalanya.


“hahahha, bercanda. Ini kalau ada teman-teman karibnya Alvar tambah ramai lagi nih apalagi sih Lutfi sama siapa itu teman kamu var yang putih itu” ucap Juna sambil melihat kearah Alvar yang meminum tehnya.


“Siapa bang? Radit atau Darren?” tanya Alvar tampak memikirkan siapa yang dimaksud Juna barusan.


“Yang putih terus sering berantem sama Lutfi atau sama kakak kamu” ucap Juna sambil mengingat-ingat siapa teman Alvar yang ia maksud.


“Itu loh Let sih Darren” sahut Cakra.


“Oh Darren bang”


“Kayaknya iya”


“Dia di kampung halamannya bang” pungkas Alvar.


“saya pergi dulu ya bang, Let. Saya mau istirahat, besok harus ikut Dandim ke Surabaya pagi-pagi” ucap Cakra yang pamit lebih dulu, karena besok dia ada kunjungan dengan Dandim.


“Iya silahkan, ini ngomong-ngomong yang jaga pos pada kemana?” tukas Juna sambil melihat sekelilingnya yang sepi.


“Biasa main Voli dulu bang, kan ada Letda Alvar sama abang disini jadi mereka ya main lah. Sudah ya saya permisi dulu” pungkas Cakra dan langsung berjalan pergi meninggalkan pos.


Kini tinggal Alvar dan juga Juna yang berada disitu, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Juna melihat sekilas kearah Alvar yang diam sambil meminum teh,


“Bagaimana hubungan kamu sam Dea, sudah ada kemajuan belum” ucap Juna tanpa basa-basi.

__ADS_1


“kemajuan gimana bang?” tanya Alvar seakan tak tahu arah pembicaraan Juna.


“Aku rasa kamu tahu apa yang aku maksud?” ucap Juna.


“Aku sudah bilang, tapi entah dia percaya atau tidak kalau aku suaminya” tukas Alvar.


Mendengar itu membuat Juna sedikit terkejut, ia pikir Alvar belum mengatakan hal itu.


“Kamu serius sudah bilang pada Dea?” Juna seakan tak percaya mengenai hal tersebut.


 


“Sudah,"


“baguslah, tinggal aku yang melakukan tugas selanjutnya” ucap Juna tanpa sadar dan membuat Alvar langsung menatapnya.


“Maksudnya bang?”


“nggak, salah denger. Minum lagi teh mu,” elak Juna.


“Bang, saya minta saran dari abang” Alvar tiba-tiba berbicara begitu menatap penuh harap pada Juna.


“Apa yang harus saya lakukan kedepannya bang, saya sudah bilang pada Dea kalau saya suaminya. Tapi apa dia bakal percaya begitu saja? Terus apa yang harus saya lakukan kalau dia bertemu dengan Gavin” baru kali ini Avar berkata panjang begitu dia tampak butuh solusi dari hal tersebut.


“Soal Dea percaya atau tidak sama kamu, itu serahkan saja padaku. Dan kenapa kau membawa-bawa nama Gavin. Itu bosnya Dea kan?”


“Iya”


“Saya tidak suka jika perempuanku bertemu dengan pria lain, apalagi saya tahu Gavin menaruh hati pada Dea bang.” Lanjut Alvar begitu risau memikirkan bagaimana nantinya Dea akan bertemu dengan gavin. Dna dia takut Gavin menggunakan kesempatan itu untuk mengambil Dea darinya.


Juna menggaruk pelan dahinya, sambil menatap Alvar.


“Kamu takut kalau Dea akan membalas cinta Gavin? Kalau soal itu kau tidak usah takut. Hati tidak akan mengingkari perasaan pada orang yang di cintai meskipun ingatannya lupa akan hal itu.” tukas Juna.


“Tahulah bang saya pusing, saya juga merasa harus berubah tapi enath kenaa saya terus bersikap seperti ini” ucap Alvar yang lelah dengan dirinya sendiri.


“Sudah, nggak usah di pikir. Minum lagi tehmu. Bawa santai saja, aku yakin sebentar lagi Dea asti inget kamu. dan dia pasti percaya soal apa yang kamu bilang padanya tadi.” Juna berusaha membuat Alvar sedikit lebih snatai dan bepikir yang baik-baik saja.


....................................

__ADS_1


Titik demi titik kenangan seakan mulai memaksa masuk kedalam pikiran Dea, dia keluar dari kamar dengan wajah pucatnya. Ia tak bisa tidur semalaman karena terus berusaha mengingat dan memikirkan apa yang di katakan Alvar padanya kemarin saat mereka kembli ke Jogja.


Hari ini dia harus bertemu dengan Gavin dan dia juga harus kesalah satu sekolah yang katanya dia dirikan untuk anak-anak kurang mampu.


“kenapa mbak?” tanya Dimas yang sudah siap dengan setelan baju dinasnya dan dia menatap cemas kerah kakaknya yang sesekali memejamkan mata sambil memijat pelipisnya.


“Nggak pa-pa” jawab Dea lirih.


“Kamu sudah sarapan? Kalau belum mbak siapin sarapan buat kamu” tukas Dea.


“Aku udah sarapan kok mbak, itu aku juga sudah siapin sarapan buat mbak Dea juga. mbak Dea kurang sehat atau bagaimana? Kalau misalkan sakit mau aku antarkan ke dokter atau suruh tentara bagian kesehatan buat periksa mbak Dea” ucap Dimas.


“Mbak nggak pa-pa Dim, mbak cuman kelelahan aja.”


“Mbak Dea mau kemana sekarang?”


“Mbak mau ke Cafe tempat kerja mbak dulu”


“mau apa kesana mbak?”


“Mbak mau ketemu sama bos mbak,”


“Oh, yaudah mbak. Buruan mbak Dea sarapan biar lebih enakan badannya. Aku mau pakai sepatu dulu mbak”


“Sebentar dim, mbak mau tanya sama kamu?”


“Mau tanya apa mbak” ucap Dimas yang menghentikan langkahnya dan kembali melihat kearah Dea.


“Letda Alvar apa suami mbak? Kapan mbak nikah sama dia” tanya Dea penuh harap akan mendapat jawaban dari pertanyaannya itu


Sedangkan Dimas tampak terkejut mendengar pertanyaan dari kakaknya barusan. Darimana kakaknya itu tahu. apa Alvar sudah memberitahukan hal itu, batin Dimas berbicara..


“Dimas kenapa diam, mbak tanya sama kamu?” tukas Dea meminta jawaban.


“Kenapa mbak Dea tanya begitu sama aku mbak?” pungkas Dimas yang belum mau memberikan jawbannya.


“Kamu nggak perlu tahu mbak tahu darimana, yang penting jawab Dim. Mbak butuh jawaban kamu” Dea sekana frustas akan hal itu dia benar-benar butuh jawaban karena jawabn itu yang akan menentukan bagaimana hidupnya di masa depan kalau dia tak mengingat sama sekali.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2