Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 39


__ADS_3

Dea baru saja selesai mandi, rambutnya yang basah tergelung oleh handuk supaya kering. Dia melihat dirinya di pantulan cermin meja riasnya melihat dirinya disitu. pandnagannya itu tertuju pada area sekitar lehernya dimana terdapat tanda merah disitu. itu tanda yang diberikan Alvar tadi padanya, entahlah mereka juga khilaf elakukan hubungan suami istri di sore hari. Apalgai Alvar yang seperti tak ada rasa lelah padahal pria itu baru pulang dinas sudah menginginkannya.


Alvar sendiri masih berada di tempat tidur, mungkin pria itu lelah sampai lupa mandi. Dea sendiri ada niatan untuk membangunkan Alvar setelah mandi, dia pun langsung berdiri saat melihat jam yang ternyata habis magrib. Ia harus membangunkan Alvar untuk mandi dan sholat magirb dulu.


Tak butuh waktu lama dia yang sudah berada di sebelah sisi ranjang Alvar


“Mas, mas Alvar bangun sudah magirb mas” ucap Dea membangunkan sang suami dengan lembut.


“Ngg,.” Alvar hanya mengolet saja, membuat Dea lebih mendekatkan dirinya lagi.


“Mas bangun,.” Lagi Dea berusa membangunkan Alvar.


“Iya sayang” Akhirnya Alvar merespon dna dia melihat istrinya yang sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


“kenapa,?” tanya lembut


“Bangun mandi mas, terus sholat” pinta Dea tak kalah lembutnya.


Alvar malah mengambil tangan Dea mencium tangan itu,


“Iya aku bangun” ucapnya selesai mencium tangan Dea.


“Kamu sudah mandi?” tanyanya saat sudah duduk menatap Dea.


“Sudah mas barusan,”


“Ya sudah aku mandi dulu, tolong siapkan bajuku dan juga perlengkapan sholatnya” pungkas Alvar smabil melangkah turun tempat tidur.


“Iya mas pasti aku siapkan,” Dea juga ikut berdiri dan dia langsung menju kelemari bajunya untuk menyiapak baju Alvar.


Drrttt,


Terdengar bunyi ponsel yang bergetar di meja mengalihkan pandangan Dea yang tengah membuka lemari pakaian.


Dan dia melihat ponsel suaminya yang bergetar, membuat dia langsung melihat siapa yang menelpon suaminya saat ini.


“Damar,” gumam Dea saat melihat nama yang tertera di ponsel suaminya. Dan dia melihat kearah kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar.


“Mas, rekanmu yang namanya Damar menelpon” seru Dea cukup keras agar suaminya mendengar.


“Siapa sayang?”


“Damar mas,”


“Iya biarkan saja, nanti biar mas telpon dia” ucap Alvar dari dalam kamar mandi.


Mau tak mau Dea menaruh kembali ponsel itu dimeja, membiarkan ponsel yang terus bergetar itu karena Alvar tidak menyuruh dirinya untuk mengangkatnya. Dea kembali menyibukkan dirinya mencari baju untuk Alvar didalam lemari.


................................................


Alvar duduk sendiri di kursi kayu yang berada di depan rumahnya, dia tampak tengah menelponseseorang sednagkan Dea tengah berada di dapur membuatkan pisang goreng untuk cemilan Alvar.

__ADS_1


“Saya nggak sibuk, kenapa?” ucap Alvar dna bertanya pada orang diseberanag sana.


“Nggak pa-pa, aku cuman pengen tanya. Beneran pakde kamu nyuruh aku ke Jakarta dengan orang tuaku?”


“Kamu tahu darimana Damar?” tanya Alvar balik sebelum menjawabnya.


“Abang kamu yang bilang, tapi aku kurang percaya kalau Azka yang ngomong. Itu serius atau cuman candaan dia, dan untuk apa aku ke Jakarta?” tanya Damar terdengar serius pertanyaanya itu.


“Kamu masih menyukai mbak Nura kan? pakdeku minta kepastian darimu. Dia setuju kalau kau yang jadi suami kakak sepupuku”


“Apa, kau tidak bercandakan. Darimana pakdemu tahu soal itu, dan bagaimana bisa aku jadi suami kakak sepupumu dia saja tidak menyukaiku”


“Kata siapa dia tidak menyukaimu, dia suka padamu, kalau kau memang masih menyukainya temui pakdeku. Ini kesempatan buatmu, pengorbanamu tidak akan sia-sia mar,”


“Jangan bercanda var, aku ikhlas soal ini semua. Mungkin ini memang jalanku,”


“Apa aku pernah bercanda, dengarkan saja apa kataku dan abangku. Pergilah ke Jakarta dan temui pakdeku, kapan kau akan ke Jakarta biar bang Azka yang mengaturnya” tegas Alvar pada rekannya tersebut.


“Eh, ini serius atau...”


“kalau kau tidak mau ya sudah, jangan menyesal kalau mbak Nura dengan orang lain” Alvar langsung memotong ucapan Damar.


“Oke, aku akan ke Jakarta dengan orang tuaku. Tapi kalau sampai ini hanya candaan kalian berdua, aku pastikan aku tidak akan ingin berhubungan dengan kalian berdua lagi”


“Terserah dirimu, kapan akan ke jakarta”


“dua atau tga hari lagi”


“Terimakasih atas dukunganmu, berkat dirimu juga orang tuaku mampu menerima diriku lagi” ucap Damar.


“Sama-sama, kita teman seperjuangan harus saling bantu”


“Sedang apa kau sekarang?” tanya Damar


“Santai dirumah, kau sendiri?”


“Aku sedang dinas”


“Oh, ya sudah kalau begitu maaf mengganggu”


“Tidak var, santai saja.”


“Ya sudah matikan saja mar,”


“Santai saja var, kenapa buru-buru”


“Nggak enak takut ganggu pekerjaanmu, sudah dulu ya. Assalamualaikum” ucap Alvar dan langsung memberi salam.


“Iya walaikumsalam” jawab Damar, dan panggilan langsung terputus.


Alvra menghela nafas lega, akhirnya masalah Damar selesai. Semoga saja pria itu bisa bahagia dengan kakak sepupunya.

__ADS_1


...........................................


Alvar saat ini berada di ruangan mertuanya, dia datang untuk menghadap. Menatu dan Mertua itu sudah duduk di kursi mereka, dengan secangkir teh dan juga kue yang sudah tersaji di atas meja.


“maaf Ndan, bukannya hari ini komandan ada kunjungan ke Koramil?” tanya Alvar pada yah mertuanya tersbeut, dia memang ketika di lingkungan dinas ia akan bersikap profesional.


“Memang hari ini rencananya saya akan ke koramil tapi, saya undur nanti siang”


“Ayah kamu bagaimana kabarnya?” tanya Fahrul.


“Alhamdulilah baik Ndan,”


“Baguslah kalau begitu, saya belum sempat untuk bertemu ayah kamu. padahal pengen ngobrol-ngobrol sama dia”


“Lain kalia saja Ndan, komandan juga sibuk begitu juga ayah saya”


“Iya,”


“Oh iya kapan kira-kira kamu dan Dea memberikan cucu untuk ayah” ucap fahrul yang berubah bersikap santai tidaks eperti tai.


Alvar yang baru saja menyeruput tehnya langsung sedikit tersedak mendnegar ucapan tersebut.


“Uhuk,” Dia lalu menaruh pelan cangkirnya dimeja kembali.


“maaf ndan” ucapnya lagi meminta maaf karena tersedak.


“Hahaha, santai saja var. Maaf ya ayah tanya masalah pribadi, ayah juga cuman bercanda kok santai saja” pungkas Farhul sambil tertawa melihat menantunya yang terkejut itu.


“I..iya ndan”


“Kamu sama Dea nggak usah buru-buru, sedikasihnya sama yang diatas.” Ucap Fahrul menasehati.


Alvar hanya mengangguk saja, sambil menelan ludahnya ia mengamati wajah mertuanya itu yang terlihat santai.


“Maaf Ndan, ijin bertanya. kapan komandan ada waktu luang?” tanya Alvar


“Kenapa memangnya?”


“Kapan-kapan kita makan malam keluarga diluar, apa komandan setuju?”


“Kita atur saja, ayah beberapa hari ini agak longgar. Kita atur waktu saja”


“Baik Ndan, nanti saya atur, saya tanya Dimas juga kapan dia bisanya”


“Oke, nanti bilang saja pada ayah” ucap Fahrul.


“Diminum lagi var, hati-hati minumnya nanti kesedak lagi” canda Fahrul pada menantunya


Alvar hanya tersneyum kecil menanggapi hal itu, begitu juga dengan Fahrul. Dia lalu menyeruput tehnya


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2