
Langit sudah mulai berubah warna ke orenan yang menandakan matahari mulai terbenam dan berganti sinar rembulan. Kodim tak pernah sepi akan suara riuh para prajuritnya, apalagi saat ini banyak para tentara yang tengah berolahraga lari serta bermain voli di lapangan.
Begitu juga Alvar saat ini yang tengah menonton pertandingan Voly rekan-rekannya, dia sehabis lari tadi tidak langsung kembali ke asramanya tetapi dia bergabung bersama rekannya yang lain di lapangan Voly.
“Danton Alvar ayo main, giliran kamu daripada cuman lihat di pinggir lapangan mari main” seru Adam salah satu tentara yang berpangkat Sertu.
“Iya mari Ndan, mainlah sekali-kali daripada nonton” sahut Bayu yang sama-sama berpangkat Sertu dengan Adam.
“Danton nggak mau main kalau nggak ada penonton cewek, buang tenaga” ucap Dimas sambil bercanda melihat kearah Alvar.
Alvar langsung melihat kearah Dimas yang malah tersenyum pada Alvar saat ini, ria itu tak takut dengan tatapan tajam seorang Alvar yang ditakuti taruna muda yang lain.
“Wah-wah parah kamu Dim, lihat tuh Danton marah pasti” ucap Adam sedikit berbisik pada Dimas yang berada disebelahnya.
“Nggak bakal, dia nggak berani marah sama saya” ucap Dias dengan percaya dirinya.
“Iya ya, kau kan anak Dandim disini. mana berani danton marah sama kamu” ucap Adam.
“Bukan itu juga dia nggak berani marah sama saya,”
“Karena apa lagi yang buat dia nggak bisa marah sama kamu,?”
“Ada deh” ucap Dimas
Alvar yang tidak mau di ledeki lagi oleh rekan-rekannya akhirnya berdiri dan berjalan kearah lapangan, dia akan bermain voly dnegan yang lain.
“Puas saya main dengan kalian?” tukas Alvar.
“Puas, Ndan” seru semuanya yang berada disitu.
Permainan pun kembali dimulai saat Alvar sudah bergabung di salah satu Tim tersebut, mereka biasanya bermain hingga malam hari dan yang lainnya biasanya mandi sebentar dan langsung apel serta jaga malam.
............................................
DI Jakarta...
Keluarga Alvar sedang berkumpul di ruang tengah saat ini, disitu ada Bara ayah dari Alvar dan juga Jihan istri dari Bara yang merupakan bunda dari Alvar.
__ADS_1
Tak hanya mereka berdua yang berada di ruang tengah tetapi ada putra sulung dari keluarga mereka yang sama-sama berprofesi sebagai tentara yang berdinas di jakarta. Dia adalah Azka putra sulung dari pasangan Bara dan Jihan kakak dari Alvar.
Azka tidak sendiri disitu melainkan dia bersama dnegan istrinya yang tengah hamil beberapa bulan lebih tepatnya baru hamil alan empat bulan.
“Serius ini Alvar mau pulang ke Jakarta? Ayah kata siapa?” tanya Azka pada ayahnya.
“kata Om Fahrul di mau pulang sama Dea katanya dia pulangnya”
“Wow, serius yah. Dea juga mau ikut. Dia udah ingat sama Alvar” tanya Kinan istri dari Azka.
“Belum, tapi Om Fahrul yang nyuruh dia kesini dan kayaknya dia mau.” jelas Bara pada anak dan menantunya.
“Tapi mana mungkin Dea mau mas, dia kan nggak kenal sama Alvar” tukas Jihan yang terlihat tak yakin jika Dea akan ikut bersama Alvar ke Jakarta.
“Pasti mau, fahrul soalnya bilang kalau Dea bersikeras ingin mengingat kenangan yang dulu.dan disini banyak kenangannya dulu”
Semoga aja ya mas dia mau, kalau dia mau aku senang banget ulang tahun pernikahan kita kali ini lengkap. Kita sudah punya dua menantu sekaligus” ucap Jihan sedikit terharu.
“Tapi Alvar kasihan, dia sudah menikah tapi seperti belum menikah” lanjut Jihan dan mengingat putra keduanya itu yang begitu membuatnya sedih.
“udahlah bun, nggak usah terlalu dibawa perasaan. Alvar aja nggak pa-pa dia sabar jalani itu semua” ucap Azka yang langsung pindah tempat duduk disebelah bundanya mengusap bahu sang bunda saat sudah berkaca-kaca ingin menitikan air mata.
“Udah ah, nggak usah cengeng. Udah tua, nggak pantes kamu dek nangis begitu” ucap Bara sambil meledek istrinya yang duduk ditengah.
“Apaan sih,” kesal Jihan dan mencubit lengah sang suami.
Mereka berempat berakhir tersenyum bersama karena itu, senyum getir yang terkesan dipaksakan untuk menghibur hati mereka masing-masing.
“OH iya si kembar kemana bun? Kok nggak kelihatan?” tanya Kinan menanyakan adik-adik dari Azka.
“Itu mereka katanya sih nonton film di kamar sama mbok yem” jawab Jihan.
“Oh, aku kira mereka kemana kok nggak kelihatan dari kita dateng tadi”
“Si kembar sukanya apa sekarang yah?” tanya Azka pada ayahnya.
“Kenapa? Kamu beliin kado buat mereka?” tukas Bara menatap anaknya.
__ADS_1
“Iyalah, adik ulang tahun masa nggak dibelikan kado”
“Nggak usah aja bang, ayah udah belikan kok” ucap Bara melarang Azka untuk membelikan adik-adiknya kado.
“Nggak pa, masa abangnya nggak ngasih apa-apa. mereka sukanya apa bun?” ucap Azka dan beralih bertanya pada bundanya.
“Kalau Bian sekarang sukanya mobil sama motor-motaran. Gara-gara dia lihat motornya Alvar yang di garasi”
“Kalau Aruna sekarang biasa kesukaan perempuan, dia lagi suka mainan boneka”
“Seriusan Aruna masih suka boneka, anak enam tahun masih suka mainan boneka”
“Ya mainan apa, namanya anak cewek mas” ucap Kinan yang menatap aneh sang suami.
“Ya gadget atau apa gitu, kan anak jaman now.”balas Azka.
“anak jaman now, kamu itu. mereka masih kecil nggak ayah bolehin mainan gadget ngerusak mata”
“Ya udah besok pas jemput Alvar sekalian aku beliin itu” ucap Azka.
...................................................
Dea tak bisa tidur di dalam kamarnya sedari tadi dia bergerak ke sana kemari di atas ranjang, padahal hari sudah semakin larut tapi matanya belum juga bisa terpejam saat ini.
Pikirannya masih menggelayang kemana-mana, di pikirannya saat ini ada wajah Alvar yang terus muncul di pikirannya. Entah kenapa dia memikirkan Alvar. padahal mereka tak begitu dekat dan pria itu terkesan banyak diam padanya.
Wajah dingin Alvar terus muncul di kepalanya saat ini, dia merasa dialah penyebab wajah dingin itu tapi apa yang dia lakukan mereka saja baru kenal dan dia baru tahu Alvar dari lima bulan lalu setelah sadar dari koma.
“Kenapa aku terus merasa akulah penyebab wajah dingin itu, kenapa-kenapa wajah itu terus muncul di kepalaku saat ini. apakah aku dan dia sebelumnya saling kenal, jika iya kenapa dia tidak bilang apapun padaku malah terkesan dingin,” batin Dea berbicara sendiri, dan dia melangkah kearah jendela karena tak bisa tidur pikirannya terus tertuju pada Alvar saja. Begitu resah dirinya saat ini memikirkan itu,
“Apa besok aku tanyakan saja padanya soal hubungan kita sebelumnya pernah saling mengenal atau tidak” gumam Dea dan matanya menatap di luar Jendela. Di sana dia seakan bisa melihat seorang yang mengendarai sepeda sambil berboncengan.
“Apa ini, bayangan apa ini? siapa yang membonceng ku..” ucap Dea sambil memegangi kepalanya yang langsung terasa sakit.
Setiap kali ada bayangan yang muncul di kepalanya, kepalanya langsung berdenyut sakit padahal dia ingin berusaha mengingat jelas moment itu dengan siapakah dia saat itu. dan saat di cafe tadi dia melihat dirinya yang berlari cepat keluar dari cafe meninggalkan seorang pria yang tak jelas wajahnya sendiri sambil terpaku melihatnya
Dea perlahan berjalan menuju tempat tidurnya, kepalanya sudah terasa semakin berdenyut, lebih baik ia tidak memaksakannya lagi. Besok lagi dia akan terus berusaha lebih baik dia istirahat saat ini. tapi bisakah dia tidur sekarang kalau pikirannya kemana-mana..
__ADS_1
°°°
T.B.C