Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 35


__ADS_3

Alvar dan Dea yang sudah sampai dirumah keluarga Alvar tengah sibuk menurunkan koper mereka agar nanti saat berangkat ke Jogja mereka tidak terburu-buru mengambil keatas. Dea yang selesai membawa satu kopernya langsung bergabung bersama dengan Kinan dan juga mertuanya yang tengah duduk di ruang tengah.


Dia berjalan mendekati kedua orang itu yang melihat kearahnya,


“Sudah selesai berberes De?” tanya Jihan pada menantunya tersebut.


“Sudah bun, makasih juga ya bun sudah bantu kita membereskan koper” jawab Dea sambil berjalan kearah kedua orang yang duduk di depannya.


“Sini Dea duduk disebelah ku” Kinan menepuk sofa disebelahnya meminta Dea untuk duduk di situ. Dia mengiyakannya dengan berjalan kearah Kinan.


“Lah Alvar kemana? Kok belum turun?” tanya Jihan saat tidak melihat anaknya.


“Mas Alvar masih di kamar bun, dia ganti baju dulu katanya au jemput Bian sama Aruna” jawab Dea.


“Oh,”


“Gimana bulan madu kalian kemarin, seru?” tanya Kinan sambil sedikit tersenyum menggoda perempuan disebelahnya.


“hah,.” Dea meneguk ludahnya gugup bingung untuk menjawab apa.


“Se..seru kok” ucapnya kemudia dengan sedikit tergagap.


“Seru apa seru” kinan menggoda Dea.


Dea menanggapinya hanya dengan tersenyum saja, Jihan yang ada di situ hanya menggeleng melihat kedua menantunya.


“Bun, Dea aku pamit pergi jemput Bian sama Aruna dulu” ucap Alvar yang menuruni tangga sambil memakai jam tangannya, pria itu hanya memakai kaos berwarna abu-abu polos dan celana chino pendek.


Ketiga perempuan itu menoleh melihat Alvar yang turun,


Manggil istri kok nama doang, Dek atau sayang gitu” celetuk Kinan sambil memasang wajah jahilnya.


Alvar hanya melihat Dea dan beralih pada Kinan yang berbicara seperti tadi, dia memasang wajah datarnya pada sang kakak ipar.


“Maaf-maaf,” pungkas Kinan saat di tatap Alvar dengan datar,


“Bun, aku berangkat” alvar mengabaikan begitu saja dan langsung pamit pada bundanya. Sebelum pergi dia melihat kearah Dea seakan meminta ijin utuk keluar dengan tatapannya yang teduh. Dea hanya mengangguk kecil tanda mengiyakan.


“Alvar kalau manggil kamu masih pakai nama, nggak ada panggilan khusus gitu?” tanya Kinan yang penasaran.


“Ada kok,” jawab Dea lirih.


“Serius Dea, bunda pengen tahu dong dia manggil apa ke kamau. Soalnya anak itu cuek bebek nggak ada romantis-romantisnya sama orang” tukas Jihan penasaran.


“Iya bilang dong, aku juga penasaran. Tahu sendiri Alvar begitu, anaknya nggak asik kelihatan nggak romantis juga” timpal Kinan yang juga penasaran.


“Dia romantis kok bun, Kinan.”


“Serius” Kinan seakan tak mempercayainya.


“Iya, kalau sama aku di romantis.” Jawab Dea, sambil sedikit tersenyum saat mengingat pagi tadi sebelum mereka pulang ke rumah betapa romantisnya Alvar.


“Dea kenapa? Kok senyum-senyum sendiri. nggak kesambet kan?” senggol Kinan sambil menatap Dea yang terlihat tersenyum sendiri.


“Ngg..nggak” Dea langsung tersadar dan dia hanya diam saja.


“Iya deh, iya aku percaya Alvar romantis. Kamu senyum begitu berarti beneran anak itu romantis minta ampun” pungkas Kinan.


“Syukur kalau Alvar romantis, bunda takut kamu bosen sama dia.” ucap Jihan sambil terkekeh.


Dea hanya tersenyum menanggapinya,

__ADS_1


.............................................................


“Bang vavar,” seru kedua bocah dari gerbang sekolah taman kanak, mereka berlari keluar sambil diikuti salah satu guru mereka.


Alvar yang berdiri disebelah mobilnya menunggu sang adik langsung menoleh saat mendengar kedua bocah itu memanggilnya. Dia langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Bian dan Aruna.


“Maaf masnya ini kakaknya Bian sama Aruna ya?” tanya seorang guru yang tadi mengikuti Bian dan Aruna dari belakang.


“Iya saya kakaknya, ada apa?” jawab Alvar dan menatap guru tersebut.


“Tidak ada apa-apa mas, saya cuman memastikan kalau masnya kakak Bian sama Aruna. Karena saya takutnya mereka diajak orang yang tidak di kenal”


Alvar hanya diam mengangguk, dia lalu berdiri sambil memegangi tangan adiknya.


“Ayo kita pulang,” ajak Alvar apda dua bocah itu.


“Terimakasih bu, sudah mengantar adik-adik saya kedepan. Kalau begitu saya permisi” tukas Alvar pada guru tersebut.


“Iya sama-sama” jawab guru itu.


“Dada bu Farida,” ucap Bian dan Aruna serempak sebelum masuk kedalam mobil yang sudah di bukakan oleh Alvar.


Guru itu membalas lambaian tangan kedua muridnya, dia memang guru pendamping di sekolah mereka berdua. Alasan Bu Farida menanyai Alvar tadi karena tadi orang tua Bian dan juga Aruna alias Bara berpesan kalau yang akan menjemput dua bocah itu adalah kakak mereka. Dan setahu Bu Farida kakak kedua bocah tadi adalah Azka dan dia belum pernah melihat pria didepannya tadi.


Alvar langsung menyalakan mesin mobilnya, dia membuka sedikit kaca mobil miliknya dan bagian belakang dimana adik-adiknya duduk agar bisa melambaikan tangan apda guru mereka. Alvar sendiri hanya mengangguk singkat pada Guru itu.


“Aruna Bian, pakai sabuk pengamannya sayang” pinta pria itu pada dua bocah yang duduk di belakang.


“Siap bang vavar” seru Bian semangat, Runa diam tapi mengikuti apa yang kakaknya suruh.


“Bisa kan?” tanya Alvar melihat sekilas kebelakang.


“Bisa dong” jawab kedua bocah tersebut.


............................................


Mobil yang di kemudikan Alvar berhenti di depan kantor polisi, dia menunggu Radit yang ingin bertemu dengannya. Dia terpaksa menemui kakak sepupunya itu karena kapan lagi mereka akan bertemu nanti saja dia sudah kembali ke Jogja.


Dari arah pintu masuk, Radit dengan seragam polisinya berlari kecil sambil menyapa rekan-rekannya yang ada di pos sebelum menuju kearah Alvar.


“Lama nunggu ya?” tanya Radit saat dia sudah didekat mobil milik Alvar dimana pria itu sudah menurunkan kaca mobilnya.


“Nggak bang”


“Bang Adit,” seru dua bocah yang duduk di eblakang dan menyundulkan kepalanya keluar saat melihat kakak sepupunya didepan mereka.


“Lah dua bocil ini juga ikut?” kaget Radit saat melihat dua sepupu kecilnya.


“Hai, sayang. Cium dong bang Raditnya” Radit langsung mendekatkan kepalanya kearah jendela mobil dua bocah itu meminta diucium.


Keduanya langsung menuruti dan mencium kedua pipi Radit bergantian.


“Kenapa bang mau ketemu sama aku?” tanya Alvar


“Kamu balik Jogja kapan?”


“Nanti sore sih rencananya, kenapa?


“Itu ada titipan dari bundaku?” ucap Radit.


“Bude Fira, memang nitip apa?”

__ADS_1


“Dia bawain cumi kering sama apa itu, aku juga nggak tahu”


“Cumi kering?”


“Iya, dikirim dari Sulawesi.”


“Repot-repot banget, pakde ya nyuruh”


“Yah bundaku,”


“Kenapa di abwain sih bang, itu barang yang di razia pakde kan. memang nggak di marah atasan?”


“Ayahku atasan mereka, itu juga di lelang terus ayahku yang beli.”


“Udah nggak usah banyak tanya, itu bawa aja. Bunda bilang itu buat oleh-oleh kamu, karena bunda nggak bisa ketemu kamu” pungkas Radit.


“Bang ayok pulang, aku laper” rengek Aruna mengajak sang kakak untuk cepat pulang


“Bian juga” sahut Bian.


“bentar ya sayang,” ucap Radit saat melihat keponakannya merengek pada Alvar.


“Let, Let tolong ambilkan kotak kardus di pos sebelah kamu itu” seru Radit pada temannya yang berada di Pos.


“Ini?” ucap Teman Radit sambil mengangkat kardus tersebut.


“ya tolong bawa kesini”


Rekan Radit langsung berjalan membawakan kardus yangs edikit berat itu mendekat kearah Radit dan Alvar.


“Apaan sih ini berat banget” ucap rekan Radit itu saat dia sudah ada di depan Radit.


“Batu itu” awab Radit asal.


“Taruh mana ini?” tanya Radit pada Alvar.


“Taruh depan aja bang” jawab Alvar.


“Tolong let” ucap Radit sambil memberikan tatapan memelas pada rekannya.


“Kau ini let, let” sungut rekan Radit dan berjalan mengitari mobil Alvar dan membuka pintu sebelah Alvar menaruh kardus itu di situ.


“Makasih bang” ucap Alvar pada rekan Radit barusan.


“Sama-sama bang” jawab pria itu sebelum menutup pintu mobilnya kembali.


“Sudah bang cuman ini saja, kalau tidak ada lagi aku pamit pulang” pungkas Alvar pada kakak sepupunya.


“Nggak ada lagi kayaknya, sebenarnya abang pengen ngomong soal mbak Nura. Tapi ya udahlah bang Radit bicara saja sama abang kamu. kamu juga mau balik Jogja”


“Ya bahas saja bang Azka, itu bukan urusanku juga bang. aku pergi ya” ucap Alvar yang mulai menyalakan mesin mobilnya.


“Ya sudah, hati-hati. Hati-hati juga balik Jogja, semoga selamat sampai tujuan”


“Hemm”


“Mari bang,” sapa Alvar pada rekan Radit.


“Iya bang” jawab Rekan Radit itu.


Mobil Alvar langsung berjalan pergi meninggalkan kedua orang yang masih berada dipinggir jalan.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2