Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 19


__ADS_3

“Mbak Runa nggak boleh gitu, curang ah. Aku bilang ayah nanti” pungkas Bian cemberut melihat saudari kembarannya tersebut tampak curang saat bermain.


“Nggak,” geleng Runa.


“Curang, aku nggak mau main lagi” Bian langsung berdiri dari duduknya, bocah tujuh tahun itu kesal dengan kembarannya.


“huh marah” ledek Aruna.


Bian tidak perduli dan pergi begitu saja, dia tampak kesal sambil beberapa kali menghentakkan kakinya.


“Ayah, Ayah..” seru bocah laki-laki tersebut memanggil ayahnya.


“Apa? kenapa teriak-teriak” jawab suara bas Bara yang menghampiri anak bungsunya.


“Mbak Runa curang, aku dicurangi” adu bocah itu pada ayahnya.


“Nggak, Bian yang nggak mau kalah” elak Runa yang juga berdiri didekat ayahnya.


Bara segera menyamakan tingginya dnegan sang anak,


“Nggak boleh saling marah lah, nggak baik loh. Ayo maafan” pinta Bara pada kedua anaknya.


“Kenapa yah?” tanya Azka yang baru saja turun dari lantai atas.


“Ini adik kamu berantem” jawab Bara sambil melihat kearah Azka sekilas.


“berantem kenapa?” heran Azka sambil memperhatikan kedua adiknya.


“Nggak tahu, katanya Aruna curang. Entah curang apa”


“Mbak Runa curang mainnya, masa giliran aku dia main”


“Nggak ya, itu giliran aku” ucap Runa tak mau mengalah.


“Sudah-sudah, adik-adik abang masa berantem sih. Kan katanya sudah gede nggak mau dibilang anak kecil lagi kan, masa masih mau berantem” ucap Azka mencoba menengahi pertikaian kecil itu.


“Sudah baik kan,” perintah Bara


Dua bocah itu tak bergeming sama sekali, mereka masih saling gengsi satu sama lain untuk minta maaf lebih dulu.


“Ayah hitung sampai lima kalau kalian nggak ada yang saling minta maaf, ayah kasih hukuman mau” tegas Bara sambil memperhatikan kedua anaknya dengan tatapan yang berbeda dari tadi kai ini tatapannya lebih tajam.


“Tuh, ayah marah. Buruan mbak Runa minta maaf dulu,” pinta Azka sambil berbisik ditelinga Runa.

__ADS_1


“Bian adik mbak Runa loh, jadi mbaknya dong yang ngalah. Kayak abang ngalah sama bang Alvar sama kalian juga. buruan mbak, nanti ayah marah kena hukuman loh” ucap Azka sambil sedikit menakuti sang adik.


Runa langsung mengulurkan tangannya pada Bian yang berada disisi kanan ayahnya.


“Maaf,” lirih bocah itu.


“Bian” tegur Bara saat Bian tak kunjung membalas ucapan Aruna.


“Iya,” jawab bocah itu sambil membalas uluran tangan kembarannya.


“Nah gitu dong, adik-adik abang harus akur. Nggak boleh berantem-berantem oke” ucap Azka sambil tersenyum gemas melihat sikap adiknya yang menurutnya menggemaskan meskipun kedua bocah itu sudah lebih besar daripada dulu.


“Ya sudah sana kalian main lagi atau nggak nyusul bunda ke meja makan, ayah mau ngobrol sama abang kalian” perintah Bara pada kedua anaknya yang masih kecil itu.


Dua bocah kembar itu langsung pergi dari hadapan kakak dan ayahnya,


“Ayo bang, kita ngobrol di pinggir kolam renang saja” ajak Bara pada putra sulungnya.


“Siap ayah,” jawab Azka, dan langsung mengikuti ayahnya yang berjalan didepannya saat ini. berjalan dibelakang sang ayah membuat Azka terpukau dengan tubuh ayahnya yang masih bagus dan tegap padahal ayahnya sudah lumayan tua meskipun belum tua sekali.


“Gila badan bokap gue masih bagus begini, latihannya dulu berarti nggak sia-sia. Gue harus giat olahraga nih, kalau nggak malah gue nanti yang kelihatan lebih tua dari bokap” batin Azka.


.........................................................................


Udara malam saat ini begitu dingin tapi entah kenapa Alvar begitu menikmatinya, dia tengah tugas malam kali ini. seperti biasa dia akan duduk saja di pos tanpa ikut kegiatan malam yang di lakukan rekan-rekannya. Suasana hatinya tampak begitu bagus, terlihat dari wajahnya yang mengukir senyum sambil memegangi jari manisnya yang terpasang cincin.


Alvar sendiri tampak terjingkat pelan, dan melihat kebelakang wajahnya berubah datar seperti biasanya saat melihat Dimas dan juga dua orang tentara lain. Siapa lagi dua tentara itu kalau bukan Cakra dan juga Noval.


“Parah kamu Dim, Danton kamu gituain.” Tukas Noval sambil menarik kursi yang berjarak satu kursi lain dari Alvar.


“Iya parah dia, mentang-mentang anak Dandim semena-mena sama kita” sahut Cakra.


“Wah serius Letnan Cakra, dia begitu juga sama anda. Parah memang, kau dim” tukas Noval sambil membelalakkan matanya menatap Dimas tak percaya.


“Jangan asal tuduh siapa juga yang semena-mena sama kalian, wah Parah juga ini Letnan Cakra main fitnah saja” Dimas tak terima dikatakan begitu oleh seniornya.


“Ini buk..” ucapan Cakra terpotong lebih dulu karena perkataan Alvar.


“Kalian kenapa kesini, kalau ingin berisik jangan disini kelapangan sana” tegas Alvar yang menatap jengah ketiganya.


“Santai saja Letnan Alvar, kita kesini yang mau nongkrong santai. Nemenin si Jomblo akut macam Letnan” sahut Cakra sambil tersenyum jahil pada temannya itu.


“Eitts, kata siapa bang. Bang Alvar punya calon istri ya, kurang update ini” ucap Dimas membela Alvar.

__ADS_1


“Masa, siapa?” ucap Cakra dan Noval hampir berbarengan.


“Ups, aku tahu.yang dulu ya” ucap Cakra sambil berbisik pelan.


Dimas dan Alvar langsung saling lihat, memang Cakra tahu siapa orangnya.


“Yang mana?” tanya Alvar serius.


“Yang bikin Letnan Alvar sensi terus waktu pendidikan, iya kan? benar kan?” tukas Cakra sambil memperlihatkan wajah kemenangannya karena berhasil menebak siapa calon Alvar.


“Bukan urusan mu, Letnan Cakra bukannya tugas anda banyak kenapa selalu membuntuti ku setiap gerak ku hah” ucap Alvar cukup panjang sambil berdiri dan tangannya ia taruh di pinggang menatap Cakra.


Cakra malah membeo, mendengar ucapan Alvar yang panjang seperti ini.


“kata siapa tugasku banyak, tugasku sedikit hehee. Jadi santai lah, dan siapa bilang aku mengikuti Letnan Alvar, percaya diri banget. Bener nggak Val” ucap Cakra yang sambil tersenyum dan menatap jahil rekannya.


“Lutfi dan Darren kedua kau ini” cibir Alvar dan duduk kembali di kursinya tadi.


“Wiih, jadi beneran Letnan sudah ada calon istri. Cincinnya dipakai sekarang” ucap Noval saat melihat tangan Alvar yang mengenakan cincin.


Dimas langsung melihat kearah pandangan kedua rekannya yang melihat tangan Alvar yang segera disembunyikan oleh pria itu.


“Bang, tumben dipakai. Katanya nggak mau makai sebelum mbak Dea ingat abang” bisik Dimas di telinga Alvar.


Alvar hanya melihat sekilas pada Dimas, dia tampak berpikir kenapa Dimas bilang begitu.


“Kenapa Dimas seakan belum tahu alasanku memaki cincin ini, apa dia belum tahu kalau Dea sudah mengingatku” batin Alvar sambil menatap adik iparnya.


“Kalian bisik-bisik kenapa?” tanya Cakra dan Noval penasaran.


“Nggak ada,” jawab Dimas dan langsung menjauhkan diri.


“Aku pergi dulu,” ucap Alvar yang akan menghindar dari keduanya.


“Mau kemana Let?” tanya Cakra.


“Apel malem, ayo Dim, Noval” ajak Alvar pada Dimas dan Noval yang merupakan anggotanya.


“Lah kalian pergi lah saya gimana?” pungkas Cakra dengan wajah polosnya.


“I don't Know, ayo buruan kalian berdua, telat lima detik saya hukum kalian” tukas Alvar langsung pergi begitu saja.


“Asli anak itu, parah banget kamu let. Saya kesini buat nemenin kamu eh kamu nya malah pergi” seru Cakra pada Alvar yang tak memperdulikannya. Pria itu terus berjalan dan Noval serta Dimas sudah berlari-lari kecil berusaha mengimbangi langkah Alvar setelah pamit pada Cakra.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2