
Dea sedang memasukkan dompet serta ponselnya kedalam tas selempang nya saat ini. dia ingin keluar jalan-jalan sambil berusaha untuk mengingat apa saja yang dulu pernah ia lakukan. Kata Dimas ia dulu sering membagikan nasi kotak pada orang-orang di jalanan dekat alun-alun. Dimas juga bilang kalau di sering mengajari anak-anak pemulung yang tinggal di bawah tol dia akan ketempat itu untuk menemui mereka dan agar membantunya berusaha mengingat semuanya.
“Dea,..” terdengar suara panggilan dan dibarengi oleh pintu kamarnya yang terbuka saat ini mengalihkan pandangan Dea.
“Iya yah kenapa?” jawab Dea sambil melihat kearah ayahnya yang berjalan masuk kedalam kamarnya saat ini.
“Ini tiket buat kamu, kamu nanti ikut Alvar ke Jakarta ya” Fahrul menyerahkan tiket pesawat pada Dea yang menatap bingung.
“Tiket pesawat yah? Dan kenapa aku harus ikut ke Jakarta dengan Danton Alvar yah?” bingung Dea, masih menatap tiket pesawat yang belum dia ambil dari tangan sang ayah.
“Emm, ka..karena..” Fahrul tampak bingung harus menjawab apa saat ini.
“karena apa yah?” tanya Dea semakin penasaran kenapa ayahnya menyuruh dirinya untuk ikut dengan tentara itu.
“Emm karena, karena di sana banyak kenangan kamu Dea. dulu kita pernah tinggal di Jakarta, dan adik ayah juga kan ada di sana. Om hendra kamu tahu dia kan?” ucap Fahrul.
“Apa benar, aku banyak kenangan di sana?” tanya Dea seakan tak yakin dengan ucapan sang ayah.
“Iya sayang, di sana banyak kenangan mu. Bahkan beberapa bulan sebelum kamu kecelakaan dulu kamu sempat ada di Jakarta” ucap Fahrul berusaha meyakinkan sang anak.
“Ya sudah aku ke Jakarta,” ucap Dea meskipun tak yakin dia mengambil tiket pesawat dari tangan ayahnya.
“Kamu hati-hati di sana ya, semoga apa yang kamu inginkan cepat terwujud” ucap fahrul sambil mengusap kepala anaknya yang tertutup hijab itu.
“Iya, berangkatnya nanti kan?”
“Iya jam-jam 10an”
“Ya sudah, ayah berangkat dinas dulu ya. Kamu beres-beres aja, nanti Alvar ayah suruh kesini. Sama nanti Juan ayah suruh buat mengantar kalian ke Jakarta” pungkas Fahrul
“hemm,”
“Oh iya kata mas Juna dia mau pindah dinas disini yah, lalu dia kapan sampai disini nya?” tanya Dea menghentikan langkah sang ayah.
“Juna? Kalau dari surat pemindahan dinasnya sih kemungkinan besok atau apa di sudah bisa tugas disini.”
“Kalau besok kenapa mas Juna belum disini?” tanya Dea menanyakan sepupunya itu.
__ADS_1
“Ayah juga kurang tahu, mungkin dia nemuin Papanya dulu baru kesini” jelas Fahrul
“oh” pungkas Dea dan langsung duduk di pinggir ranjangnya murung. Dia ingin sekali bertemu dengan Juna, selama ini pria itu terus-terusan menyuruhnya untuk berusaha mengingat orang-orang disekitarnya.
.................................................
Alvar mengunci pintu asramanya saat ini, dia sudah mengenakan seragam PDL dan juga tas ransel yang ia gendong saat ini. dia memang kalau pulang mengambil cuti selalu mengenakan seragam untuk berjaga-jaga kalau ada apa-apa di jalan.
“Bang Alvar jadi pulang hari ini?” tanya seseorang yang berdiri di jalan depan asrama Alvar.
Alvar yang sudah selesai mengunci pintunya langsung berbalik melihat kearah orang tersebut.
“Iya Zak, mumpung ada cuti” jawab Alvar dan berjalan mendekat kearah Zaki yang melihatnya saat ini.
“Hati-hati dijalan ya bang, titip salam buat orang tua bang Alvar” ucap Zaki salah seorang anggota Alvar. Alvar memang sedikit dekat dengan Zaki daripada yang lain meskipun pangkat mereka cukup jauh. Zaki yang baru menjadi seorang tentara dan berpangkat Prada itu bisa cocok dengannya saat berbicara alhasil tanpa canggung pun mereka saling berbicara dan cerita satu sama lain.
“Iya, saya pulang dulu. kamu disini banyak latihan, jangan banyak main game Zak. “ ucap Alvar berpesan pada Zaki.
“Siap Abang ku,” jawab Zaki sambil memberi hormat.
“Saya ada kok yang nganter,”
“Oh, ya sudah bang.”
“Oh iya, Imam dimana? Dia apa libur hari ini kenapa tidak kelihatan tadi saat binsik?” tanya Alvar menanyakan Imam yang juga anggotanya.
“Iya dia libur hari ini, mungkin tidur sekarang dia”
“Oh, ya sudah. Saya permisi dulu Zaki,” ucap Alvar dan berjalan pergi meninggalkan Zaki sendiri.
Zaki juga langsung pergi setelah Alvar yang berjalan kearah rumah Dandim mereka, entah kenapa Alvar pergi kesitu. Tapi bodo amat itu bukan urusannya.
Alvar berjalan menuju ke rumah Fahrul, dia akan menghampiri Dea dan juga Juan yang sudah ada di sana menunggunya.
Hari ini dia akan kembali ke Jakarta setelah lebih dari lima bulan dia tidak pulang dan kepulangannya hari ini sangat spesial karena Dea juga akan ikut bersamanya. Meskipun perempuan itu tak mengingatnya tapi mereka bisa bersama saat ini. rasanya tak sabar menunggu kenangan Dea kembali,.
“Loh mau kemanan Var?” tanya Pian yang melihat Alvar menggendong ransel punggung berwana hitam.
__ADS_1
“Saya mau pulang Ke Jakarta yan” jawab Alvar pada rekannya tersebut.
“Oh ambil cuti, tumben. Cuti pulang?” ucap Pian yang penasaran.
“Iya sekali-kali pulang ke rumah”
“Nah gitu dong, sekali-kali keluar biar kamu juga dapat Jodoh dan bisa nyusul saya” tukas Pian sedikit menggoda Alvar. Pian memang baru saja melamar calon istrinya.
Dan dia tidak tahu kalau Alvar sudah ada seseorang yang mengisi hatinya, ia tahu Alvar yang sendirian tanpa pacar. Karena Alvar sama sekali tak tertarik akan pembahasan tentang seorang perempuan membuat mereka terkadang berpikiran aneh soal Danton mereka.
Alvar hanya tersenyum mendengar ucapan Pian barusan, tentu saja bukan senyum lebar tapi hanya seulas saja.
“terimakasih doanya, saya permisi dulu” jawab Alvar singkat dan langsung berlalu.
“Iya sama-sama, aku doain kamu cepat nyusul ya.” Seru Pian saat Alvar sudah berjalan melewatinya.
Alvar diam saja dan terus berjalan, begitulah karakteristik Alvar selama ini. mereka yang bekerja dengan Alvar sudah tahu kalau danton mereka begitu dingin pada orang lain. Jadi mereka memaklumi hal itu, dengan teman dekatnya saja Alvar juga cuek.
................................................
Dea dan Alvar saat ini sudah berada di dalam pesawat dan Dea duduk tepat disebelah Alvar. Dia sebenarnya sedikit kikuk duduk berdua dengan Alvar tapi mau bagaimana lagi, dia dapat nomor kursi di sebelah Alvar.
“kenapa melihatku begitu, ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Alvar saat menyadari Dea terus melihat kearahnya.
“Nggak ada” balas Dea.
“Kau beda seperti dulu, dulu kau malu-malu untuk sekedar menatapku secara langsung. Tapi sekarang kau terus menatap ke arahku” ucap Alvar sambil tersenyum kearah Dea.
Dea terpaku dengan senyum pria dingin didepannya, dia tak menyangka Alvar bisa tersenyum. Tapi tunggu pria didepan bilang dulu dia malu saat melihat wajah Alvar, berarti dulu mereka saling kenal satu sama lain. Dan ini mungkin saatnya dia bertanya soal hubungan mereka yang terus dia pikirkan sedari semalam.
“Maaf sebelumnya, apa kita saling mengenal sebelum aku kecelakaan dulu?” tanya Dea menatap wajah Alvar meminta jawaban pria tersebut..
Alvar diam menatap mata Dea, apa yang harus dia jawab saat ini. apa dia jawab saja yang sebenarnya..Alvar diliputi kebingungan sekarang
°°°
T.B.C
__ADS_1