
Alvar dan Dea saat ini tengah bersiap di dalam mobil, mereka memeriksa apa saja perlengkapan mereka yang akan dibawa kerumah Heru ayah angkat Alvar dan juga Azka dulu. mereka akan bertandang kerumah Heru untuk memberitahukan rencana pernikahan mereka berdua, tak etis kalau tak memberitahu orang yang pernah berharga bagi Alvar yang sudah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Pernikahan Alvar dan Dea sendiri tinggal menghitung hari lagi menuju hari H, jadi banyak yang harus mereka persiapkan dan banyak juga yang harus mereka undang.
“Ada yang ketinggalan?” tanya Alvar melihat Dea yang tampak sudah selesai melihat kedalam isi tas mereka berdua.
“tidak ada, eh powerbank kamu sudah belum?” tanya Dea saat ingat soal pengisi daya milik Alvar.
“sudah, ada di dasborb coba kamu lihat dulu” jawab Alvar yang sudah akan bersiap menyalakan mesin mobil. Tangannya yang kokoh dan berotot itu sudah ada di stir mobil ia sesekali melihat Dea yang memeriksa dashbord sesuai permintaannya. Dia mengamati perempuan bergamis serta berhijab coklat tersebut yang tampak anggun.
“Iya ada kok, kalau begitu ayo jalan” ucap Dea pada Alvar.
“Bentar, aku ingin bicara dulu sama kamu. aku puya satu permintaan buat kamu, kamu bisa melakukannya?” Alvar menatap lembut manik mata Dea yang tampak bertanya-tanya dan terlihat penasaran dengan permintaan apa yang di ajukan Alvar.
“Iya apa?” lirih Dea berusaha mengiyakan hal itu meskipun dia belum tahu permintaan Alvar.
“Tolong panggil aku mas atau bang, rasanya lebih enak di dengar daripada hanya sapaan aku kamu. pasti bapak nanti malah menggoda kita kalau hanya memanggil aku kamu” Alvar mencoba mengingatkan Dea soal panggilan yang mereka telah sepakati dulu tetapi Dea belum melakukannya sama sekali. Lebih baik dia ingatkan sekarang daripada nanti saat sampai dirumah Heru bisa-bisa mereka malah di goda habis-habisan oleh Heru nantinya.
“So..soal itu, ak..aku minta maaf aku , aku lupa” Dea terbata merasa tidak enak sendiri dengan hal itu. apalagi sudah kedua kalinya Alvar memintanya untuk memanggil dengan sebutan barusan.
“Tidak apa-apa, aku hanya mengingatkan saja” jawab Alvar sambil tersenyum simpul, dia langsung menyalakan mesin mobilnya saat ini.
“tidak ada yang ketingalan kan, kalau begitu kita jalan sekarang” ucap Alvar yang mulai menyalakan mesin mobilnya saat ini.
Dea hanya menganggguk mengiyakannya saja, melihat anggukan Dea barusan Alvar langsung menjalankan mobilnya saat ini meninggalkan area kodim.
........................................................
Azka baru saja bangun, dia keluar dari salah satu kamar yang ada di rumah dinas Alvar. Ia melihat kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa ruang tamu bersama dengan adik-adiknya dan juga istrinya disitu.
__ADS_1
“Loh Alvar mana bun?” tanyanya pada sang bunda.
“Adik kamu sudah pergi kerumah pak Heru” jawab Jihan sambil menyuapi kedua anak kembarnya.
“Dia sudah berangkat? sayang kenapa kamu kok nggak bangunin aku sih” ucap Azka pada kInan yang duduk di antara kedua orang tuanya.
“memang mas Azka mau ikut kerumah pak Heru? Aku yang nggak tahu kalau kamu mau ikut mas” jawab Kinan yang tak tahu kalau suaminya tersebut ingin ikut.
“Sudah jangan salahkan istri kamu. salah kamus endiri nggak bilang kalau mau ikut. Kalau kamu bilangkan adik kamu pasti nungguin” sela Bara yang membela menantunya.
“ya aku juga nggak tahu yah, kalau dia pagi-pagi keluarnya. Aku kira nanti sore atau malem makanya aku nggak bilang” tukas Azka. “Padahal aku mau ikut ketempat bapak, sudah lama aku nggak kesana” lanjut Azka yang masih menyayangkan dirinya tak ikut kerumah Heru.
“Ya sudah nanti atau besok kita kesana. Bunda sama ayah juga belum ketemu sama Heru.” Pungkas Jihan memberikan solusi.
“iya besok kita ke sana saja, ayah juga sudah lama tidak bertemu dengan Heru” sahut Bara.
“Ya sudah mas, kamu cuci muka atau mandi dulu sana, aku siapin makanan. Kamu sendiri yang belum sarapan” ucap Kinan.
“Kita sudah sarapan semua bang, buruan kamu mandi. biar istri kamu yang siapin makanan buat kamu” ucap Jihan.
“tega bener kalian, aku masih tidur dibangunin disuruh sarapan kenapa. Ini malah makan sendiri-sendiri” cibir Azka sambil berjalan pergi meninggalkan ruang tamu. Ia tak habis pikir dengan keluarganya yang cukup tega meninggalkan dirinya yang masih tidur. Memang parah keluarganya tak ada kekompakan sama sekali.
“Nggak usah drama, sudah mau jadi bapak-bapak masih drama. Kalah sama adik-adik kamu” pungkas Bara sambil membuka korannya.
Azka hanya mencebikkan bibirnya saja sambil berjalan pergi, mengabaikan ucapan ayahnya tersebut. Paginya sungguh membosankan hari ini. bisa-bisanya juga dia bangun kesiangan, niatnya ingin lari pagi malah kesiangan, semua gara-gara Juna dan juga Dimas adik ipar adiknya itu yang mengajaknya mengobrol hingga larut malam. Bukan malam lagi mungkin pagi, mereka baru selesai bicara.
.........................................................
“Mas, nanti berhenti dulu di pasar” ucap Dea tiba-tiba dan membuat Alvar melihat kearahnya.
__ADS_1
“kenapa berhenti di pasar? Kamu mau beli sesuatu?” tanya Alvar penasaran.
“Kita beli oleh-oleh dulu buat pak Heru dan keluarganya. Beli buah atau beli sesuatu”
“tidak usah, dirumah Bapak banyak makanan. Kita kesana tangan kosong saja” larang Alvar, karena dia tahu dirumah bapak asuhnya itu tersedia banyak makanan dan juga sembako. Jadi tidak mebawa apa-apa tak masalah.
“Jangan begitu, meskipun dirumah pak Heru tersedia semuanya. Kita sebagai tamu apalagi kamu sebagai anak angkatnya tidak membawa apa-apa rasanya enggk enak mas” ucap Dea yang menasehati Alvar.
“Ya sudah nati kita beli sesuatu, di pasar atau di supermarket” pada akhirnya Alvar menuruti perkataan Dea. dia menjalankan mobil sambil mencari-cari supermarket terdekat atau penjual buah yang kemungkinan mereka lewati.
“kamu tadi manggil aku dengan sebutan mas, berarti ini sudah pastikan kamu bakal memanggilku dengan sebutan begitu?” tanya Alvar memastikan lagi panggilan Dea padanya, karena tahu sendiri Dea seringkali mengubahnya lagi.
“Insyaallah pasti mas,” lirih Dea.
“Allhamdulilah kalau begitu,” balas Alvar dan sesekali mengangguk-anggukkan dagunya dan melirik kearah Dea.
“Oh iya, nanti habis pulang dari tempat pak Heru, mas Alvar bisa mengantarku kesuatu tempat?”
“Kemana?”
“Aku mau ijin sama ibu mas, soal pernikahan kita nantinya. Rasanya kurang afdol kalau aku tidak ijin sama beliau. Aku juga rindu sama beliau”
“Ya sudah nanti habis tempat bapak kita ke makam ibu” putus Alvar.
“Terimakasih mas,” Dea mengucap penuh syukur kalau Alvar mau mengantarkannya melihat makam ibunya.
“Iya sama-sama” jawab Alvar dan dia kembali fokus Menyetir saat ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C