
“Cielah yang besok mau nikah, sekarang lagi latih kebugaran nih” ucap damar yang melihat Alvar tegah pul up dihalaman depan rumah dinas pria itu. alvar yang tadinya fokus langsung menghentikan kegiatannya dan melihat temannya itu yang sudah duduk di undak-undakan rumah melihat kearahnya.
“Sudah bangun?” tanya Alvar dan berjalan mendekati Damar saat ini.
“Sudahlah, gue kan bukan tipe orang tukang molor” pungkas Damar.
Alvar menanggapinya dengan senyum tipis, dia lalu melihat kebelakang saat menyadari ada seorang yang berjalan mendekati mereka. Begitu juga Damar yang juga melihat kebelakang.
“Pak komandan satu juga sudah bangun. Kenapa bangun buru-buru pak, istri pengen masih pengen dipeluk pasti” goda Damar pada Azka yang berjalan mendekati mereka dengan muka bantalnya.
“Nggak usah bikin ledekan pagi hari deh” sungut Azka yang sedang tak ingin bercanda. Dia langsung duduk begitu saja disebelah adiknya, sehingga mereka bertiga duduk berderet.
“Iye, iye. Sensi banget pagi-pagi” tukas Damar yang merasa tak asik dengan Azka.
“Bunda sama ayah kemana sih bang, aku bangun mereka sudah tidak ada?” tanya Alvar pada abangnya.
“Kamu tanya abang, abang aja baru bangun. Aturan bang Azka yang tanya kamu. tuh si kembar main taruh di kamar abang aja” ucap Azka sambil menguap.
“Bokap kalian katanya mau ke rumah pak Heru, mereka kemarin belum ke sana jadi ke sana sekarang” ucap Damar memberitahukan hal itu pada Azka dan juga Alvar.
“Oh,” sahut Azka dan juga Alvar bersamaan.
“Mari bang, Ndan” seru para tentara yang tengah lari pagi di area kodim.
“Iya..” jawab Alvar dan yang lainnya.
“komandannya disini, anak buahnya lari pagi. Nggak lari pagi sekalian nih kita” ucap damar melihat kedua temannya.
“Nggak, habis ini saya mau pergi. Kalau kam mau lari pagi sama bang Azka tau bangunkan Lutfi saja” ucap Alvar.
“Mau pergi kemana kamu var?” taya Azka dan sembari melihat kearah adiknya.
“Mau nganter Dea ke makam ibunya bang” jawab Alvar.
“Kalian pergi berdua? Pamili besok nikah sekarang ketemuan. Begitu kan tradisi di jawa?” ucap Damar dan malah balik bertanya soal tradisi.
“Mereka sudah menikah nggak masalah” sahut Azka.
__ADS_1
“menikah, bukannya menikahnya baru besok?” heran Damar yang sedikit terkejut matanya terbuka sedikit lebar dan melihat kearah Alvar yang duduk diantar dirinya dan Azka.
Alvar yang mendengar itu hanya diam, dia langsung berdiri pamit pergi, karena dia harus mandi dan habis itu baru ke rumah Dea menjemput perempuan tersebut dirumahnya.
“Lah tuh anak, gue tanya woy” ucap Damar saat melihat Alvar pergi.
“Sudahlah jangan berisik mar, ini tempat orang. Intinya adik gue sudah menikah sama Dea. sana lo bangunin Lutfi kita lari pagi sama temuin bang Juna” pinta Azka pada temannya.
“iya-iya” ucap Damar yang langsung berdiri dari duduknya.
Begitu juga dengan Azka yang ikut berdiri dari duduknya, dia meregangkan otot-otot tubuhnya saat ini.
...........................................................
Alvar dan Dea sudah berada di makam ibu dari Dea. perempuan itu membawakan bungan tabur, perlahan dia menaburkan bunga tersebut di pusaran sang ibu. Alvar juga melakukan hal yang sama dia sesekali melihat Dea yang sudah mulai duduk dan mengusap nisan ibunya.
“Assalammualaikum bu, Dea datang bu. Ibu apa kabar?” lirih Dea sambil memegangi nisa tersebut.
“Maafin Dea ya bu, Dea baru datang hari ini. Dea nggak datang sendiri tapi datang sama mas Alvar bu, suami Dea” ucap Dea lembut memperkenalkan Alvar pada ibunya.
“Assalamualaikum bu, saya Alvar” ucap Alvar sambil bergantian memegang nisan ibu Dea.
Dea yang mendengar itu langsung menatap Alvar, dia tak mengerti dengan ucapan Alvar barusan. Apa itu artinya Alvar sering ke makam ini untuk menyekar ibunya.
“Lihat Dea bu, dia terkejut mendengar ucapan ku barusan” adu Alvar pada pusaran tersebut sambil tersenyum menatap Dea yang semakin melebarkan matanya tak percaya.
“Sudah kamu tidak usah terkejut begitu, ibu sudah tahu aku. aku sering kesini buat Ziarah” ucap Alvar sambil melemparkan senyum manisnya pada Dea. dan tangannya tak diam saja melainkan mengusap lembut tangan perempuan itu.
“kamu sering kesini mas?” tanya Dea pada akhirnya.
“Iya aku sering kesini,” jawab Alvar sambil sesekali menaburkan bunga di pusaran itu.
“kenapa kamu nggak pernah ngajak aku, sama siapa kamu kesini”
“bagaimana aku mau ngajak kamu, kamu nggak kenal aku saat itu.” jawab Alvar, “ aku kesini kadang sama Dimas kadang sendiri” lanjutnya lagi.
Dea hanya bisa diam, benar yang dikatakan Alvar saat itu dia tak mengingat Alvar dan dia belum bisa menerima kalau ibunya sudah tidak ada. Jadi bagaimana bisa Alvar mengajaknya,.
__ADS_1
“Sudah tidak sah dibahas, kita doa saja buat ibu. Sama bilang soal rencana baik kita besok” ucap Alvar pada Dea meminta untuk berdoa dan mengatakan rencana mereka besok.
Dea mengangguk menuruti permintaan Alvar, Alvar langsung bersiap untuk berdoa dan Dea mengikuti apa yang Alvar lakukan. Dia langsung berdoa agar ibunya tenang di sana, dan semoga juga ibunya sellau merestui mereka.
...................................................
Saat ini Alvar dan lainnya sedang berkumpul di kantin yang ada di dalam Kodim, mereka berdua mengobrol di tempat itu karena Juna dan juga Dimas yang ingin bergabung padahal mereka tengah bertugas.
“Abang dua ini dulu temannya bang Alvar?” tanya Dimas pada Damar dan juga Lutfi. Dua orang yang belum pernah dia temui sebelumnya.
“Yups betul” jawab Damar dan Lutfi serempak.
“Lalu bang Juna juga teman kalian?” tanya Dimas yang lagi-lagi dibuat penasaran. Karena Juna begitu dekat dengan teman-teman seangkatan kakak iparnya.
“kalau teman sih bukan, bang Juna cuman nganggap teman tuh sih Alvar. Dia menganggap kita cuman junior bener nggak ka” ucap Lutfi sambil meminta persetujuan Azka.
“Gue nggak ikutan” ucap Azka lepas tangan.
“Sudah Dim, mereka berdua tidak usah kamu dengarkan. Mereka memang selalu begitu, mengganggap sellau dianak tirikan. Kamu tahu sendiri abang nggak begitu kan” tukas Juna meminta Dimas tak usah terllau mendengarkan Damar ataupun Lutfi.
‘Entahlah, aku juga nggak percaya sama omongan bang Juna” ucap Dimas polos, sambil menyangga wajahnya dengan satu tangannya
“kamu nggak percaya dengan bang Juna, lalu siapa yang kamu percaya. Abang kamu cuman bang Juna loh” ucap Juna yang tak terima.
“Aku hanay percaya sama tuhan bang, dan untuk omongan manusia aku cuman percaya sama bang Alvar. Dan kata siapa abang aku cuman bang Juna, bang Alvar juga abang ku” ucap Dimas meledek Juna.
Yang lainnya terkekeh mendengar hal itu,
“mentang-mentang ada abang baru, abang lama dilupakan” cibir Juna.
“Bukan melupakan bang, tapi memang fakta. Omongan bang Juna kadang nggak bisa di percaya, bener nggak bang Alvar” ucap Dimas dan menatap Alvar yang sedari tadi diam fokus dengan ponselnya.
“hemm” hanya jawaban itu yang diberikan.
“Haduh, deheman lagi” grutu Dimas.
“Sabar bro, begitulah adik abang” ucap Azka sambil memegang pundak dimas. Sedangkan Juna dan Damar hanay tersenyum meledek Dimas karena tanggapan Alvar yang sangat singkat. Mereka lalu sibuk mengobrol kan hal-hal yang mereka alami ditempat dinas masing-masing dan mereka juga membicarakan rencana pernikahan Lutfi yang juga sebentar lagi akan terlaksana. Kemungkinan tidak lama dari pernikahan Alvar dan Dea.
__ADS_1
°°°
T. B. C