Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 14


__ADS_3

Alvar memberhentikan mobilnya didepan sebuah Halte, cuaca saat ini tidak mendukung. Langit begitu gelap dan hujan deras mengguyur kota.


Dia kesitu karena menjemput Dea yang terjebak hujan, perempuan itu tidak bisa pulang karena hujan yang cukup deras sedangkan dia mengendarai sepedanya dan tak membawa payung sebelumnya.


Alvar langsung mengambil payung dari kursi belakang mobilnya, setelah mengambil payung tersebut dia langsung membuka pintu mobilnya untuk menghampiri Dea yang sesekali melihat apakah hujannya cukup deras atau tidak. Dan saat itu mobil yang berada didepan perempuan itu terbuka membuat arah pandangannya menatap siapa yang keluar dari mobil.


Dea cukup terkejut melihat Alvar lah yang keluar dari mobil saat ini, dia terus menatap pria itu yang kian mendekat kearahnya.


“Letnan Alvar, kenapa anda bisa ada disini” tanya Dea yang penasaran karena Alvar ada didepannya saat ini.


“Dimas yang menyuruh saya menjemputmu, ayo masuk mobil” jawab Alvar dan mengajak Dea untuk masuk kedalam mobil.


Dea memang tadi menelpon Dimas, ia bilang pada adiknya itu kalau dia kemungkinan pulang sedikit terlambat karena sedang berteduh di halte yang tidak jauh dari rumah mereka.


“Oh, terimakasih kalau begitu. Tapi bagaimana sepedaku?” pungkas Dea dan melihat sepedanya yang tidak jauh darinya saat ini.


“sepeda mu akan saya taruh di atas mobil, kau masuklah dulu. dan ini payungnya pakailah” ucap Alvar dan menyerahkan payung yang dia pegang pada Dea.


“Tapi Letnan bagaimana kalau payungnya untukku,”


“Saya tidak apa-apa, masuklah dulu ke mobil” perintah Alvar dan langsung mendekati sepeda Dea dan mulai mengangkatnya. Dea langsung sigap menghampiri Alvar dan akan memayunginya saat Alvar akan melangkah keluar halte bus.


Alvar yang menyadari itu langsung berhenti melangkah dan melihat kearah Dea yang sudah siap memayungi dirinya.


“sudah saya bilang masuklah kedalam mobil, saya tidak apa-apa kena hujan” tegas Alvar memerintah Dea.


“tapi bagaimana kalau kau sakit Letnan, sudah tidak ap..”


“Berapa kalai harus saya bilang saya tidak apa-apa, kau masuk saja. Kalau kau sakit malah merepotkan semua orang” Alvar memotong ucapan Dea dengan ketus. Dan dia langsung melenggang meninggalkan Dea sambil mengangkat sepeda siap ia naikkan keatas mobil yang memang ada besinya di atas.


Dea yang diketusi begitu oleh Alvar hanya terpaku saja, dan menuruti perintah pria dingin terebut. Tetapi pandangannya sesekali melihat pada Alvar yang kehujanan menaikkan sepedanya itu keatas mobil.


Tubuh tinggi tegap berbalut kaos loreng dan celana loreng itu kini basah kuyup oleh guyuran hujan yang cukup deras. Dea dengan terpaksa masuk kedalam mobil saat ini meninggalkan Alvar yang berusaha menaikkan sepeda.


Alvar berjalan masuk kedalam mobil saat dia sudah menaikkan sepeda, dia sebelum masuk mengambil handuk kecil dari kursi belakang. Dan dia baru naik dengan handuk tersebut yang ia taruh di kursi pengemudi untuk ia duduki.


“Maaf, dibelakang masih ada handuk lagi atau tidak?” tanya Dea sambil melihat Alvar.


Alvar yang tadinya akan menjalankan mobil langsung melihat pada Dea

__ADS_1


“untuk apa handuk?” tanya Alvar tak mengerti kenapa perempuan disebelahnya menanyakan handuk lagi.


“Kau terkena air hujan?” tanya Alvar lagi.


“Tidak, tapi untukmu. Seharusnya kamu gunakan handuk itu untuk mengeringkan tubuhmu” pungkas Dea sambil terus memperhatikan Alvar yang basah kuyup.


“Aku tidak apa-apa begini, kursi mobil yang lebih penting” pungkas Alvar dan dia langsung menyalakan mesin mobilnya saat ini.


Dea hanya bisa diam saja, dia lalu mengalihkan pandangannya tapi sesekali ia masih melirik kearah Alvar yang sudah menjalankan mobil. Entah mengapa ia takut saja jika pria yang berada didepannya akan jatuh sakit nantinya


..............................................


“Kopinya komandan-komandan” seru Noval yang berjalan membawa nampan yang berisi beberapa gelas kopi diatasnya.


Saat ini para atasan tengah berkumpul di tenda yang baru saja didirikan di tengah lapangan, tenda yang akan digunakan untuk penilaian calon bintara besok yang akan melakukan seleksi berkas.


Tentara-tentara yang berada disitu berkumpul karena tugas malam mereka dan ada juga yang sengaja datang karena hanya ingin sekedar melihat atau mengobrol mencari kebisingan saja.


“Wiih, mantep ini val” ucap Cakra yang langsung menerima segelas kopinya.


“Danton Alvar teh bukan?” tanya Noval pada atasannya itu.


“Tumben kamu var minum teh, biasanya juga ngimbangin kita” heran Cakra dan di angguki oleh Pian.


“tadi Danton habis minum obat bang makannya dia pilih teh” sahut Noval yang menimpali sebelum Alvar menjawab.


“Minum obat? Kamu sakit var” sahut Juna yang juga berada di situ.


“Nggak bang, cuman capek aja”


“Gimana nggak capek ndan, habis pulang dari Jakarta langsung dinas. Terus hari ini dinas lagi, malem Danton malah disini bukannya istirahat. Jelas capek lah,” gerutu Bayu salah satu Sertu disitu.


“Ndan, lebih baik danton sekarang istirahat saja deh. Besok banyak kegiatan loh” tukas Adam.


“Bener kata Adam var, lebih baik kamu istirahat dulu saja. Soal ini kan masih banyak yang lain”


“Nggak bang, saya nggak pa-pa kok” jawab Alvar yang mengelak padahal badannya rasanya tak enak bahkan tubuhnya sudah mulai merasa sedikit demam. Tapi mau bagaimana lagi teman-temannya yang akan menjadi penilai bersama dengannya besok berada disini. jadi dia tak enak kalau tidak ikut berkumpul bersama dengan mereka.


“Ya sudah terserah kamu saja var, ayo kita lanjut ngobrol-ngobrol lagi” ucap Juna mengajak yang lainnya tak terlalu terfokus pada Alvar.

__ADS_1


“Siap, Senior” seru semuanya yang berada disitu.


“Bang Nikah kapan, buruan. Abang nikah kita nikah” ucap Pian yang bertanya pada Juna.


“Kalau kamu nikah ya tinggal nikah aja, ngapain nunggu saya” ketus Juna menatap sinis Juniornya tersebut.


“Itu bang masalahnya, saya belum ada jodoh yang tepat” sahut Pian sambil terkekeh.


“ya sama, makanya nggak usah nyuruh-nyuruh.”


“Masa abang belum ada calon, nggak mungkin bang” sahut Cakra tak percaya.


“belum, puas. Sudah lah ngapain bahas menikah” jawab Juna dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Ya kan, kalau abang nikah kita para Junior dan rekan-rekan muda yang lain ikut nikah juga” ucap Cakra.


“Apa hubungannya”


“Ya ada bang, bang Juna nikah kita jadi anggota terus kita ikut dapat jodoh di nikahan bang Juna whahaa” Pian tak bisa menahan senyumnya memikirkan itu.


Yang lain hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, mendengar para senior itu berbicara.


“Kok kamu diem saja sih var, padahal kamu malah jomblo ngenes tapi kayaknya santai-santai saja soal nikah. Kita yang kelihatan pacaran pusing mikirin nikah karena nggak ada yang pas” tukas Cakra sambil melihat Alvar yang tampak tak terlalu ikut me nimbrung dalam pembicaraan mereka. Dia santai menyesap tehnya dan sesekali merasakan badannya yang tak terlalu fit.


Mendengar hal tersebut membuat Alvar langsung melihat kearah Pian, dia membuka mulutnya siap untuk bicara tapi sebuah celetukan membuatnya beralih melihat ke sebelahnya dan karena celetukan dari Juna membuat semua orang yang ada disitu menatap kearah Juna.


“Ya jelaslah dia nggak mikirin nikah, dia sudah nikah sama..” celetuk Juna dan langsung menutup mulutnya dan melihat kearah Alvar yang menatapnya tajam.


“Hah serius bang, sama siapa Danton Alvar menikah. Perasaan nggak pernah pacaran nikah sama siapa?” beberapa orang yang berada disitu tampak tak percaya dan melayangkan berbagai pertanyaan pada Juna dan Alvar mereka menatap kearah Alvar saat.


“Serius, kamu sudah menikah Let” tanya Cakra pada Alvar langsung.


Semuanya menunggu jawaban dari Alvar kecuali Juna yang langsung merutuki kebodohannya sendiri. mampus bisa habis gue sama Alvar, batinnya


“Bang Juna cuman bercanda” hanya itu saja jawaban dari Alvar terkesan dingin dan kaku, ia langsung memalingkan wajahnya saat Cakra menatapnya terus.


°°°


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2