
“Buru, Buru kumpul semuanya” ucap Alvar sambil menyuruh angggotanya yang sedang duduk-duduk ditrotor jalan Kodim untuk berdiri dan mendekat kearahnya.
Tentu saja mereka semua mengikuti perintah Alvar, semuanya segera berkumpul mengelilingan komandan mereka.
“Kalian kumpul bentuk barisan melingkar, dan berhitung satu sampai lima belas. Angka yang sama bakal jadi pasangan” perintah Alvar pada ketiga puluh anggotanya tersebut
“maaf ijin bertanya Ndan, kita mau main game?” tanya Jafar salah satu anggota disitu.
“Saat ini dilarang bertanya cukup ikuti perintah Danton” ucap Serda Vikri yang ditunjuk menemani Alvar mengarahkan beberapa anggota tersebut. Bukan hanya Vikri saja tapi dua anggota lain juga ditunjuk untuk menjadi pengawas mereka alias orang kepercayaan Alvar dikala Alvar tengah sibuk.
Mereka langsung mengikuti apa yang diperintahkan Alvar,
“Berhitung mulai,” ucap Dimas yang kebetulan ada pada barisan pertama.
Mereka semua segera berhitung sampai lima belas, dan kembali berhitung dari angka satu lagi.
Setelah selesai berhitung, mereka sudah mendapatkan pasangan masing-masing, Alvar yang sedari tadi melihatnya kini mendekati mereka.
“Sudah selesai” ucap Alvar cukup lantang.
“Sudah Ndan” seru semuanya.
“Hari ini jadwal binsik kita, tapi saya ubah menjadi lebih seru. Saya akan memutur musik penyemang bagi kalian dan kalian tentukan siapa yang akan menggendong terlebih dahulu.”
“maaf Ndan, ijin intrupsi, maksudnya menggendong gimana?” sela Dimas yang tak mengerti jalan pikiran kakak iparnya itu.
“Kalian atihan fisik dnegan cara mengangkat beban, berlari dari sini hingga tiang bendera yang ada di depan sana” tukas Alvar smabil menunjuk kearah tiang bendera yang jaraknya lumayan jauh dari mereka.
“Gila,” seru mereka semua menggelang tak percaya.
“Ini mah hukuman Ndan, bukan latihan fisik”celetuk Hasan.
“Tidak ada protes, ketika sampai di tiang bendera gantian rekan kalian yang menggendong. Ini juga untuk menguji kesabaran kalian semua. Saya akan memutar lagu yang sering kalian dengarkan, dan saat lagu dimulai kalian juga mulai menggendong rekan kalian” pungkas Alvar menjelaskan peraturannya.
“Serda Vikri, Serda Joan saya serahkan pada kalian” ucap Alvar pada kedua orang kepercayaannya itu.
“Siap Ndan,”
Joan dan Vikri langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Alvar pada mereka. Ia langsung menyuruh para anggota itu untuk mulai bersiap sedangkan Alvar sudah berdiri di speaker yang memang sedari tadi sudah ia siapkan disitu. ia siap memutarkan musi sebagai backsoud anggotanya.
Musik langsung di putar oleh Alvar, dan Joan serta Vikri segera menyuruh mereka semua untuk mulai berlari kecil menggendong rekan mereka menuju tiang bendera.
__ADS_1
.........................................
Alvar sedang bersantai di pohon yanga da di lapangan, dia tak sendiri melainkan bersama dengan Vikri dan Joan. Ia baru saja membelikan minum untuk dua orang yang selalu dia percaya itu.
“Ndan, makasih loh traktirannya” ucap Joan sambil mengangkat air mineral dinginnya.
“Sama-sama”
“Ndan maaf ijin bertanya, saya dari dulu penasaran bagaimana kisah cinta mbak Dea sama bang Alvar kok tiba-tiba bang Alvar baru dinas disini enam bulan tapi sudah langsung bisa menikah sama mbak Dea. maaf sebelumnya bang, kalau terlalu ingin tahu” ucap Vikri.
“Ngajuin pertanyaan panjang banget Vik, vik” ucap Joan.
“Ya habis gimana saya penasaran”
“Sebenarnya saya malas cerita masalah pribadi, tapi berhubung kalian orang yang saya percaya ya sudah saya ceritakan” pungkas Alvar, dia emmang begitu kalau sudah dekat keorang lain ucapannya tidak akan singkat dan kaku.
“Saya sama Dea sudah pacaran lama, masa kalain belum denger soal itu.” ucap Alvar lagi.
“belum Ndan, kita mah jarang kepo ke orang. Keponya langsung ke Danton aja, kan lebih dapat jawaban yang bener” tukas Vikri.
“Kenalnya waktu di Akmil ndan?”
“Nggak, jauh sebelum itu saya sudah kenal Dea. saya kenala dia saat saya masih..” belum juga Alvar selesai bercerita ada seorang tentara yang berlari kecil menghampiri ketiga orang tersebut.
“Iya tidak apa-apa, kenapa?”
“Itu Ndan di pos ada teman Danton yang ingin bertemu”
“Siapa?”
“Yang pernah datang kesini waktu Danton menikah sebulan lalu,”
“Kan tamunya banyak waktu Prada Bagas” celetuk Joan melihat tentara yang baru datang itu.
“Maaf saya lupa namanya ndan, tapi dia bilang dari Medan orangnya tinggi putih ada tahi lalat kecil di hidung”
“Oh, ya sudah saya kesana” ucap Alvar yang tahu siapa itu,. Itu Damar yang datang, Alvar berdiri sambil bertanya-tanya dikepalanya untuk apa Damar datang menemuinya disini. Seharusnyakan Damar datang ke Jakarta menemui pakdenya bukan menemui dirinya disini.
“Kalian, istirahat saja. saya pergi dulu” ucap Alvar pada Vikri dan Joan.
“Iya ndan” jawab keduanya.
__ADS_1
..................................................
Alvar mengajak Damar kerumah mertuanya, karena tak mungkin dia mengajak kerumahnya dirumah hanya ada istrinya sedangkan Damar harus istirahat jadi dia membawa Damar kerumah ayah mertuanya yang tak lain rumah Dimas juga.
Mereka berdua duduk di sofa wajah keduanya tampak serius, seakan ada hal penting yang harus dibahas.
“Var tehnya,” ucap Bulek dari istrinya yang memang dirumah itu untuk memasakkan makanan Dimas dan juga ayah mertuanya.
“Iya bulek, terimakasih”
“Dam, diminum” ucap Alvar menawri Damar untuk minum.
“Iya var, maaf juga aku kesini malah ngerepotin kamu”
“Nggak pa-pa santai saja,”
“aku kesini, ya karena aku cuman percaya sama kamu soal masalah ku ini. kamu bilang suruh datang kerumah pakdemu kan, itus erius atau cuman candaan kalian orang saja?” damar memastikan itu sekali lagi setelah tadi dia menanyakannya saat mengobrol singkat dengan Alvar di Pos. Dan Alvar langsung mengajaknya kesini, untuk berbicara serius.
“Soal tiga hari lau, kamu masih menganggap apa yang aku bilang candaan” wajah Alvar berubah serius.
‘Ya bukannya begitu, tapi kamu tahu sendiri mbakmu seperti apa. mana mau dia sama aku, dia dulu terang-terangan nolak dan bilang nggak mau sama anggota ya udah aku mundur. Tapi sekarang setelah aku berusaha untuk mundur meskipun masih ada rasa, kamu bilang mbak mu itu suka denganku” Damar mengungkapkan segala keresaanya itu, ia masih belum percaya saja kalau Nura benar-benar menyukainya.
“Aku serius, kalau kamu tidak percaya ya sudah kembali saja ke Medan dam. Anggap kamu tidak pernah tahu soal Mbak Nura. Pakdeku orang yang keras, dia nggak sembarangan nyerahin anak perempuannya ke orang lain tapi dia langsung pengen kamu datang mengajak orang tua kamu buat nemui dia. itu masih kamu bilang apa yang aku katakan hanya candaan””
“jangan kesel dong var, bukannya gitu aku masih belum percaya saja soal ini”
“Kalau belum percaya datang ke Jakarta temui langsung pakde Banu, dia nunggu kamu.”
Damar menggaruk kepalanya bingung,
“Oke habis dari sini aku langsung ke Jakarta. Aku telpon kedua orang tuaku untuk datang ke jakarta. Aku pegang ucapan kamu var, aku selama ini dekat dengan Azka tapi aku lebih mempercayaimu”
“Bagus kalau keputusanmu begitu, kau tidak usah khawatir. Mbak Nura juga menyukaimu, dia pasti menerima lamaranmu itu kali ini. dia tidak mungkin menolak pilihan ayahnya dan adik-adiknya” Alvar menepuk bahu damar mencoba meyakinkan pria itu untuk lebih percaya diri lagi.
“Thanks Var,”. Ucap Damar smabil melihat Alvar yang meyakinkan dirinya.
“hemm,.” Sahut Alvar singkat,
“minum lagi tehnya” ucap Alvar lagi.
Damar langsung meminumnya, dia jadi semakin yakin bahwa memang dia harus melamar Nura. Banyak dukungan dari rekan-rekannya, bahkan dia terharu ayah dari Nura sendiri yang menyuruhnya datang langsung membawa orang tuanya.
__ADS_1
°°°
T.B.C