Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 28


__ADS_3

Hari bahagia Alvar akhirnya tiba, acara peresmian jani suci Alvar dan Dea terlaksana juga. hari bahagia itu di gelar di sebuah gedung Aula yang berada di Kodim.


Aula itu dihias dengan cukup mewah dengan perpaduan warna putih dan sedikit keemasan dan juga bunga-bunga putih yang berada di vas-vas besan nan cantik.


Alvar tengah berada di ruang gantinya, tidak sendiri dia ditemani oleh abangnya dan juga para rekan-rekan terdekatnya. Tak lupa juga disitu ada Bara yang melihat anaknya tengah bersiap mengenakan seragam yang akan digunakan untuk upacara pedang pora. Sesekali Bara memberikan masukannya pada Alvar yang kurang rapi dalam berpakaian.


Bara meskipun terlihat dingin dan tegas, dia sesekali tampak memalingkan wajahnya haru matanya berkaca-kaca melihat moment ini. dia mengingat dirinya dulu saat menikahi Jihan dan waktu berjalan cukup cepat tak terasa dia mengantarkan dua anaknya dalam tahap serius seperti saat ini.


“OM, mari photo Om” ucap damar yang memegang Camera mengajak Bara untuk berfoto bersama mereka.


Bara langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua anaknya, Azka dan juga Alvar.


“Ayo yah, kita foto bareng” ucap Azka pada sang ayah.


“Bunda kalian nggak diajak, ayah panggil bunda kalian dulu” pungkas Bara saat mengingat Jihan tak berada bersama mereka.


“Tante Jihan nanti aja OM, ini versi Boys time” ucap Damar.


“Iya yah, kita foto versi pria-pria dulu nanti baru aja bunda” sahut Azka.


“Bener kata bang Azka yah, kita foto sekarang sebelum aku keluar” timpal Alvar yang sependapat dengan kakaknya.


“Ya sudah, kalau begitu” Bara akhirnya menuruti ucapan kedua putranya saat ini. dia menggeser Alvar agar berdiri di tengah sedangkan dirinya dan Azka berada di sisi kanan dan kiri Alvar saat ini.


Damar yang sebagai juru foto langsung menjepret ketiga pria beda umur tersebut yang telah tersenyum menghadap ke kamera.


Di tempat acara, terlihat para prajurit berbaris di sisi kanan dan kiri jalan yang akan di lewati Alvar dan juga Dea nantinya. Pasukan pedang pora terlihat begitu tegap-tegap dengan pedang mereka yang terselip disi kiri mereka masing masing menunggu kedua mempelai memasuki ruang acara.


Pembawa acara sendiri tengah memberikan sambutanya, yang menjadi pembawa acara di pernikahan Alvar dan juga Dea adalah Juna. Dia melakukan tugasnya dengan cukup baik


“Selamat pagi dan salam sejahtera, Hadirin yang terhormat pada pagi hari ini marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatnya. Sehingga kita diijinkan berkumpul di tempat ini untuk menghadiri resepsi pernikahan abang kami Letda Alvar Kastara Prawira, S.Th dengan kakak kami Dea Khairunisa S.E. pada kesempatan yang berbahagia ini kami korps Perwira Akademi Militer akan mempersembahkan acara tradisi korps kebanggaan kami Acara Korps Pedang Pora”


Setelah Juna mengatakan itu, terompet mulai berbunyi cukup nyaring ditelinga sebagai tanda mulainya acara pedang pora tersebut.


Kedua mempelai mulai memasuki acara, tangan Dea terkait manis di lengan Alvar yang berdiri tegap disebelahnya. Dea tampak begitu anggun dengan hijab serta gaun pengantinnya yang cukup indah. Begitu juga Alvar yang tampak gagah dan tampan dengan setelan baju PDUnya


Dimas berjalan tepat didepan Alvar dan juga Dea, memberikan laporan pada kedua pengantin itu kalau acara pedang pora sudah siap dimulai.


“Lapor Acara tradisi Korps Pedang Pora siap dimulai” ucap Dimas cukup lantang didepan Alvar.


“lanjutkan” jawab Alvar.


Dimas langsung berjalan pergi dengan langkah tegapnya, para pasukan yang sudah berbaris segera menghunuskan pedang mereka keatas saat aba-aba dari komandan upacara.

__ADS_1


Drumband pun berbunyi mengiringi langkah kedua mempelai yang berjalan melewati pedang yang terhunus keatas menyambut mereka.


Mereka berdua langsung berjalan ketengah-tengah aula, diikuti oleh pasukan yang berbaris tadi. Dan pasukan pedang pora itu langsung membuat pola mereka mengitari pengantin dengan pedang yang terhunus keatas.


..............................................


Acara ijab Qobul dan juga Pedang Pora telah selesai, dan saat ini pengantin diijinkan untuk berganti pakaian sebelum menyambut para tamu mereka.


Bara dan keluarganya sedang berada diruang make up untuk keluarga pengantin sedangkan pengantin di acara ini berada di ruangan yang terpisah.


“Dek, mas ke Fahrul dulu” ucap Bara pada istrinya yang sedang di make up oleh perias.


“Iya,” jawab Jihan.


Bara sendiri langsung berjalan pergi mendekati Fahrul yang berada disi lain ruangan besar itu, Fahrul tengah mengobrol dengan Juna, Dimas dan juga Azka.


“Fahrul” panggil Bara


Sontak Fahrul dan yang lainnya langsung melihat kearah kedatang Bara saat ini.


“Iya pak besan ada apa?” jawab Fahrul setengah menggoda Bara.


“Saya ingin bicara sebentar sama kamu” ucap Bara yang sudah berjalan mendekat.


“Bicara apa? dan mau bicara dimana ini?”


“Ada apa ya?”


“Ada apa yah, kayaknya penting banget” kepo Azka menatap ayahnya.


“Saya mau mengucapkan terimakasih sama kamu” tukas Bara mengabaikan pertanyaan Azka.


“Terimakasih soal apa ya?”


“Terimakasih soal acara ini, kamu sudah saya dan anak saya repot kan”


“Yaampun, saya kira soal apa. siapa yang direpotkan, Alvar juga anak saya jadi sudah tanggung jawab saya soal acara ini. “


“Mulai lebay,” cibir Azka.


Bara hanya menatap tak suka pada Azka yang berbicara begitu dengannya, Azka sendiri hanya membuang muka jengah.


Yang lainnya hanya bisa diam, melihat hal itu.

__ADS_1


“Sudahlah Letkol Bara. Ini bukan hal yang harus mendapat ucapan terima kasih. Justru saya yang berterima kasih pada kamu sekeluarga yang mampu menerima putri saya dan sabar dengannya. Acara ini juga kan atas campur tangan kamu juga,” tukas Fahrul sambil memegang bahu Bara.


“Ayo mas, aku sudah selesai dirias. Kita lihat Alvar sama Dea, mereka juga pasti sudah selesai di dandani” ajak Jihan yang telah selesai di rias agar tampak lebih fres lagi.


“Iya,” sahut Bara


“Kalian mau ikut atau disini saja?” tanya Bara dan juga Jihan pada yang lainnya.


“Kita disini saja dulu, nanti kita nyusul” jawab Azka bersamaan dengan Fahrul.


“ya sudah kita duluan” ucap Bara dan langsung menggandeng tangan Jihan.


..............................................


Alvar sedang bersama dengan Dea, pria itu dnegan setia melihat Dea yang tengah dirias saat ini. ia tampak terkesima degan wajah perempuan tersebut. Begitu anggun dan manisnya perempuan yang teah menjadi istrinya itu.


“Kamu lelah?” tanya Alvar pada perempuan itu yang terlihat menghela nafas setelah di rias barusan.


“Nggak kok, aku hanya lega saja” jawab Dea sambil menatap Alvar yang berdiri disebelahnya duduk.


Alvar diam tetapi tangannya perlahan menggenggam tangan Dea yang berada di atas meja rias.


“Kamu cantik” ucap Alvar lembut sambil tersenyum cukup manis, Dea terpukau dengan senyum itu. senyum Alvar yang semakin manis dari biasanya, apalagi itu senyum mahal dari seorang Alvar.


“Mas bisa aja,” lirih Dea malu-malu.


“Aku serius,” ucap Alvar lagi sambil mendekatkan dirinya dan hendak mengecup kepala Dea tapi niatnya langsung terhenti saat pintu terbuka dari luar membuat Alvar seketika melepaskan tangannya dari Dea dan sedikit menjauh. Tentu saja dia melakukan hal itu, dia tipe pendiam dan tak ingin orang lain melihat keromantisannya pada sang istri.


“Oh, maaf-maaf bunda ganggu ya” ucap Jihan yang langsung berhenti didepan pintu saat melihat anaknya dan juga menantunya yang tadinya berjarak sangat dekat.


“Mas kayaknya kita tunggu di luar aja deh mereka juga sudah siap. Kita malah ganggu disini” ucap Jihan mengkode Bara yang berdiri dibelakangnya.


“Hemm” sahut bara dan langsung berbalik hendak pergi.


“Ayah sama bunda mau kemana sudah masuk kenapa nggak sekalian masuk. Kenapa malah mau pergi?” tanya Alvar pada kedua orang tuanya.


“Ayo dek,” ucap Bara menarik istrinya.


“Ayo mas,” jawab Jihan. Mereka mengabaikan anaknya ,


“Lanjutkan saja, jangan pikirkan ayah sama bunda” ucap Bara berbalik sekilas melihat Alvar dan juga Dea, dengan sedikit menggoda mereka.


“Nggak jelas” cibir Alvar saat orang tuanya langsung keluar begitu saja. Sedangkan Dea tampak malu karena ulah kedua mertuanya barusan. Dia langsung menatap Alvar yang kini juga menatapnya. Seulas senyum langsung keluar dari keduanya saat saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


°°°


T.B. C


__ADS_2