
Dimas subuh-subuh sudah mengetuk pintu kamar kakaknya, dia baru saja pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat berjamaah dengan para tentara yang lain.
“Mbak, Mbak Dea” panggil Dimas sambil terus mengetuk pintu dengan perlahan.
“Iya,” jawab Dea dari dalam kamar.
Dimas menunggu sejenak sampai pintu itu terbuka pada akhirnya, dimana ketika pintu terbuka Dea menatap adiknya yang sudah berdiri didepan kamarnya saat ini.
“Iya kenapa dim?” tanya Dea pada adiknya.
“Mbak Dea lagi apa mbak?”
“Mbak baru selesai sholat, kenapa memangnya?” jawab Dea dan bertanya balik pada sang adik.
“Aku minta tolong sih mbak buatin bubur sama sop ayam.” tukas Dimas meminta tolong pada kakaknya untuk membuatkan bubur dan sop ayam.
“Kamu pengen bubur sama sop, ya udah mbak buatin”
“Bukan buat aku mbak, tapi buat bang Alvar. Dia sakit nggak enak makan katanya”
“Letnan Alvar sakit?” tanya Dea yang wajahnya langsung berubah sedikit cemas. Tapi dia berusaha mengelak perasaan cemas itu.
“Iya, bang Alvar sakit. Makanya aku minta tolong mbak Dea buatin ya” Dimas menatap sang kakak berharap Dea mau membuatkan bubur untuk Alvar.
“Ya udah, mbak buatin. Kalau begitu mbak ke pasar dulu buat beli ayah sama kebutuhan lain”ucap Dea dan aan menutup pintunya saat dia sudah melangkah keluar.
“Nggak usah, aku tadi minta tolong sama Juan ajudannya ayah buat ke pasar sebentar”
“Oh, ya udah mbak racik bumbu yang ada dulu. kamu sana ganti baju hari ini kamu dinas kan” perintah Dea.
“Iya nanti aja mbak, nunggu mbak Dea selesai masak dulu. soalnya mau aku kasih ke bang Alvar langsung makanannya”
“Nggak usah biar mbak aja yang ke sana kasih makanan, dia di mes nya kan?”
“Serius mbak, Mbak Dea yang mau kasih ke bang Alvar?” Dimas tampak tak percaya mendengar hal tersebut.
“Iya Dim, sudah sana kamu ganti baju. Nanti kamu telat kena marah komandan mu, “ tukas Dea.
“Komandanku kan bang Alvar mbak, dia sakit jadi bebas dong.” Ucap Dimas sambil tersenyum.
“Kan ada yang gantiin dim, nanti kamu kena marah udah buruan”
“Iya, iya mbak”
Dimas langsung berjalan pergi menuju kamarnya, sedangkan Dea langsung berjalan ke dapur.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dimas keluar lagi dan dia langsung ke dapur mencari kakaknya,
“Mbak, Mbak Dea” panggilnya mencari keberadaan sang kakak.
“Kenapa?” seru Dea yang membuka kulkas.
“aku mau tanya sebentar bisa mbak?”
“Tanya apa?”
“Waktu itu mbak Dea aku kasih cincin kan? cincinnya mbak Dea buang atau mbak Dea simpan?” ucap Dimas menatap kakaknya harap-harap cemas.
“Mbak simpan, kenapa?”
“nggak pa-pa sih, ya udah lanjut mbak. Aku ganti baju dulu” ucap Dimas dan dia langsung berjalan pergi membuat Dea bingung kenapa adiknya menanyakan soal cincin itu. jelas ia simpanlah cincin tersebut tidak mungkin dia buang, bukannya itu cincin pernikahannya dengan Alvar. Meskipun dia tak ingat dan belum cukup menerima hal itu tapi setidaknya ia tidak pantas membuangnya dan dia juga harus memastikan apakah benar itu cincin pernikahan atau bukan.
......................................................
Alvar benar-benar tidak enak badan hari ini, ia sudah berusaha menahan rasa tak enak di badannya tapi ternyata badannya tak mampu. Akhirnya dia terpaksa tidak dinas hari ini, ia sedari tadi hanya menonton tv didalam kamar sambil berbaring saja. Dia bangun hanya untuk menjalankan sholat subuh saja selebihnya dia berbaring lagi di kasur.
Ponsel yang berada di nakas meja sebelahnya bergetar membuat Alvar menoleh kearah ponsel yang tidak jauh darinya. Ia melihat sekilas nama yang tertera dan tanpa menunggu waktu lama dia mengangkat panggilan tersebut.
“Walaikumsalam, kenapa bang?” tanya Alvar yang sudah mengangkat panggilan dari kakaknya.
“Suara kamu agak serak var? Kamu sakit?” tanya Azka dari seberang sana, iya memang Azka lah yang menghubungi Alvar saat ini.
“Minum obat, sama banyak minum air putih” tukas Azka menasehati adiknya.
“hemm”
“bang Azka ada perlu apa nelpon?” tanya Alvar.
“Nggak pa-pa pengen nelpon adik abang aja, nggak suka kamu abang telpon” tukas Azka di seberang sana.
“bukannya gitu, aku kira ada hal penting yang mau di bicarakan”
“nggak ada”
“Eh bang Juna sekarang tugas di tempat kamu ya?”
“Iya,”
“Salamin buat dia, suruh ke Jakarta buat temuin abang”
“Suruh sendiri bisa kan bang,”
__ADS_1
“Hemm, abang suruh dia sendiri saja”
“Bang sudah dulu ya, kepala ku pusing. Aku mau istirahat” ucap Alvar pada kakaknya.
“Ya sudah, banyak-banyak istirahat. Titip salam nggak sama ayah bunda?”
“Iya aku titip salam buat mereka, sama si kembar juga”
“Oke nanti aku salamin, cepat sembuh. Assalamualaikum” pungkas Azka sebelum mematikan panggilannya.
“Walaikumsalam” ajwab Alvar dan langsung menaruh kembali ponselnya ke nakas meja yang berada di sebelahnya.
Alvar memutuskan untuk tidur saja saat ini, dia harus istirahat agar nanti kondisinya lebih baik dan bisa melihat pelaksanaan seleksi administrasi calon bintara.
............................................
Dea memutuskan masuk kedalam mes milik Alvar, dia membuka pintu itu dengan kunci cadangan yang diberikan oleh Dimas. Entah Dimas dapat darimana kunci rumah Alvar, Dea masuk kedalam karena setelah beberapa kali ia mengetuk tak ada jawaban dari dalam membuatnya begitu cemas takut terjadi sesuatu dengan Alvar di dalam. Karena kondisi pria itu sedang sakit.
“Danton, Danton Alvar” panggil Dea lirih sambil melihat sekeliling ruangan tersebut. Dia menelusuri setiap sisi ruangan rumah dinas itu. tampak sepi bahkan dapur yang terlihat pun juga sepi. Arah pandang Dea beralih pada pintu yang tertutup
“Apa dia masih tidur?” batin Dea sambil terus menatap pintu kamar tersebut.
Dea perlahan melangkah mendekati pintu kamar Alvar yang masih tertutup, dia mengetuk pintu perlahan.
“Danton Alvar,.” Panggilnya sambil mengetuk pintu kamar.
“ya,” jawaban lirih terdengar dari dalam kamar itu.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Alvar yang mengenakan baju polos berwarna hijau. Dia sedikit terkejut saat melihat Dea berada di dalam rumahnya.
“Kamu, sedang apa disini. dan bagaimana kamu bisa masuk” tanya Alvar yang bingung.
“Maaf sebelumnya Danton, saya lancang masuk ke rumahmu sembarangan. saya masuk dengan kuci rumah yang diberikan Dimas padaku” jawab Dea lirih dan sedikit merasa tak enak hati karena telah lancang masuk kedalam.
“Ada urusan apa?”
“Kata Dimas kau sakit, ini aku bawakan bubur dan sop ayam” ucap Dea sambil memperlihatkan barang bawaannya.
Alvar menatap Dea dengan lekat, membuat Dea tampak gugup dengan tatapan Alvar yang terlihat memabukkan dirinya.
“Le..lebih baik anda masuk saja ke kamar, aku si..siapkan makanan untukmu” ucap Dea yang gugup dan bersiap pergi ke dapur.
“Tidak usah repot-repot, saya baik-baik saja. Taruh saja dimeja nanti saya makan” ucap Alvar menolak untuk disiapkan makanan oleh Dea.
“Tidak merepotkan kok, saya siapkan dulu ya. Tunggu saja di kamarmu Danton, sebentar lagi saya kembali” ucap Dea dan langsung berjalan ke dapur. Melihat itu Alvar hanya bisa menghela nafasnya karena Dea yang bersih keras
__ADS_1
°°°
T. B. C