
Dea sudah berada di dalam rumah dinas milik Alvar saat ini, dia memperhatikan Alvar yang tengah menyimpan sepatu dinas tempatnya.
“Kamu nunggu aku lama ya?” tanya Dea lirih saat melihat Alvar yang sudah berjalan kembali kearahnya saat ini.
“nggak, aku juga barusan pulang” jawab Alvar sambil sesekali melihat Dea yang masih merasa sedikit canggung. Hal itu terlihat dari gerak tubuh perempuan tersebut yang sesekali menunduk. “Apa yang kamu bawa di tanganmu?” tanya Alvar saat dia melihat totebag yang di bawa Dea.
“Ini, aku aku bawakan makan siang untukmu” balas Dea sambil menunjukkan apa yang dia bawa pada Alvar.
“Ayo ke dapur,” ajak Alvar pada Dea. “Seharusnya kamu tidak usah repot-repot,” lanjut Alvar sambil sesekali menengok pada Dea yang mengikutinya.
“Tidak apa-apa,” pungkas Dea. “Maaf, Letnan Alvar. Aku mau tanya kenapa kau menyuruhku ke sini” tanya Dea sambil melihat tubuh Alvar yang berjalan pelan didepannya.
Alvar langsung menghentikan langkahnya Dea yang hampir saja menabrak tubuh tegap Alvar yang berhenti tanpa memberi aba-aba.
“Kenapa kamu masih begitu canggung denganku, bukannya kamu sudah ingat siapa diriku. Kenapa kamu masih memanggilku Letnan Alvar sekarang” tanyanya menatap Dea intens.
“La..lalu aku harus bagaimana?” gugup Dea saat di tatap seperti itu oleh Alvar saat ini.
“Bersikap santai dan biasa saja, panggil aku dengan namaku atau panggilan lain selain Letnan dan Danton” turut Alvar meminta Dea tidak memanggilnya dengan sebutan Letnan atau Danton. “Kalau kamu tidak keberatan panggil saja aku mas atau abang” pungkas Alvar lagi, tatapan penuh harap begitu terlihat dimata pria itu.
Dea tampak terkejut mendengar permintaan Alvar barusan, tapi dengan permintaan tersebut membuat dadanya berdegup dan terasa berbunga-bunga.
“Ta..tapi, aku le..” ucap Dea terpotong-potong, dia sendiri bingung untuk mengatakannya. Umurnya dan Alvar terpaut tiga tahun masa dia memanggil Alvar begitu, batin Dea kebingungan dengan hal itu.
“Nggak usah tapi-tapian, bukannya aku suamimu. Cukup panggil aku dengan sebutan itu” pinta Alvar dan langsung mengambil totebag di tangan Dea sebelum melenggang pergi lebih dulu.
....................................................
Alvar sudah berangkat dinas lagi setelah istirahat makan siang di rumah dinasnya, dia meninggalkan Dea di rumahnya seorang diri. Ia meminta perempuan itu untuk tidak pulang ke rumah. Menyuruh menunggunya hingga pulang dinas, karena nanti dia ingin mengajak perempuannya pergi jalan-jalan menghabiskan waktu bersama. Waktu yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini jalan berdua dengan orang yang dia cintai.
Alvar berjalan di koridor kodim yang mengarah ke ruangan Dandim saat ini, dia melangkah perlahan sambil melempar senyum kecil pada rekan-rekan yang ia lewati.
“Siang ndan,” sapa salah satu tentara.
“Iya siang” jawab Alvar, sambil berjalan melewatinya.
__ADS_1
Tok, tok..
Alvar mengetuk pintu perlahan saat dia sudah berada di depan ruangan Dandim.
“Masuk” terdengar suara yang memintanya masuk saat ini.
Perlahan tangan Alvar memutar knop pintu dan membuka pintunya perlahan. Dia bisa melihat atasannya itu sedang duduk di meja kerjanya sambil melihat kearahnya saat ini.
“Oh kamu, Danton Alvar. Silahkan masuk” ucap Fahrul meminta anak buahnya sekaligus menantunya untuk masuk kedalam ruangannya saat ini.
“Terimakasih ndan” pungkas Alvar, dan dia melangkah masuk tak lupa ia menutup pintu lebih dulu sebelum berjalan kearah atasannya yang langsung berdiri dan berpindah duduk ke sofa.
“Ada apa kamu menemui saya var, tumben” uap Fahrul yang sudah duduk di sofa. “duduk dulu var, santai saja jangan formal begitu” pinta Fahrul saat melihat Alvar yang belum duduk.
Alvar langsung menurutinya, dia langsung duduk di sofa berhadapan dengan atasannya.
“Tumben kamu nemuin ayah tanpa di perintah menghadap” ucap Fahrul yang mulai berbicara santai tanpa adanya ke formalan dalam ucapannya.
“Sebelumnya saya minta maaf karena mengganggu waktu komandan, saya kesini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan langsung pada Dandim” tukas Alvar masih berbicara dengan begitu formal.
“Memang hal penting yang akan saya sampaikan”
“Begini yah, saya Letnan Alvar Kastara Prawira meminta ijin pada ayah untuk menikahi putri ayah Dea Khairunisa secara sah oleh hukum dan agama. Maka saya meminta restunya” ucap Alvar terus terang menyampaikan niatnya menemu Fahrul.
Fahrul sedikit tertegun mendengar itu, ia menatap wajah Alvar yang tampak serius dengan ucapannya.
“bukannya kamu belum mau menikahi Dea secara hukum kalau ingatannya belum pulih” ucap Fahrul yang mengingatkan kembali akan ucapan Alvar beberapa bulan lalu padanya.
“Iya itu dulu, tapi sekarang kondisi sudah berbeda yah. Dea putrimu sudah mengingat semuanya, dan saya tidak mau hubungan kita berdua disembunyikan lagi” terang Alvar.
“APA? Dea sudah ingat denganmu?” Fahrul tampak terkejut mendengar ucapan Alvar yang bilang Dea sudah pulih ingatannya. “kamu serius var, Dea sudah ingat. Kenapa dia nggak bilang sama ayah?” lanjut Fahrul yang masih belum percaya.
“Iya serius ya, dia sudah ingat semuanya. Dia sendiri yang bilang padaku, kalau dia mengingatku. Ia juga sudah sepakat untuk mengadakan pernikahan kita seara resmi, maka dari itu aku kesini memohon restu darimu” jelas Alvar pada mertuanya.
“Alhamdulliah var, ayah ikut senang dengarnya. Pasti-pasti ayah restui, bagus kalau kalian berdua langsung kepikiran untuk menikah secara hukum ayah bakal bantu kalian, ayah bakal bilang juga pada ayah kamu soal hal ini” Fahrul tampak bahagia mendengar kabar ini. kabar yang ia tunggu-tunggu dari menantunya.
__ADS_1
“Tidak perlu yah, ayah Bara sama bunda beberapa hari lagi ke Jogja. Aku bakal beritahu mereka berdua saat mereka disini, mereka pasti juga ikut senang”
“Kamu serius, ayah kamu bakal kesini. Kalau iya, sungguh Alhamdulillah. Kita beritahu mereka saat sudah disini saja, anggap saja ini sebagai kejutan buat ayah kamu sama bunda kamu.”
“iya,”
“Oh iya yah, maaf sebelumnya aku ingin merepotkan ayah soal urusan ini” lanjut Alvar menatap mertuanya.
“Merepotkan kenapa,?”
“Ayah, aku minta tolong bantu aku untuk mengurus surat pengajuan nikah”
“Soal itu, kamu tidak usah khawatir. Pasti ayah bakal bantu kamu,” ucap Fahrul sambil tersenyum saat mendengar permintaan Alavar. Ia kira menantunya meminta tolong apa ternyata hanya minta tolong hal itu.
“Terimakasih sebelumnya yah” ucap Alvar.
“Iya sama-sama, ayah senang kalian bakal bahagia sebentar lagi”
“Satu lagi yah, aku minta ijin untuk mengajak Dea pergi nanti malam. Apakah boleh?”
“Tentu saja boleh, ayah tidak bisa melarang suami yang mengajak istrinya pergi, kalian berdua habiskan lah waktu berdua” ucap Fahrul sambil menepuk pundak Alvar yang duduk tak jauh darinya itu.
“Ayah sesering-seringlah pulang ke rumah, Dea pasti senang ayah pulang ke rumah” ucap Alvar kemudian, dia sesekali melihat ayah mertuanya yang langsung melihat kearahnya sekarang.
“Iya, ayah bakal sering-sering pulang ke rumah.” Tukas Fahrul.
“Ya sudah kalau begitu, aku permisi dulu yah” pamit Alvar pada ayah mertuanya.
“Kenapa buru-buru, disini saja kita ngobrol-ngobrol lagi” ucap Fahrul.
“masih ada tugas yah, saya permisi” ucap Alvar sambil berdiri dari duduknya saat ini. Fahrul juga ikut berdiri, Alvar langsung memeluk mertuanya sebelum pamit pergi begitu juga dengan Fahrul yang balas memeluk hangat dan memberikan tepukan pada bahu Alvar sebelum pria itu pergi.
°°°
T.B.C
__ADS_1