Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 42


__ADS_3

Dea pagi-pagi sudah memasak di dapur, dia sibuk sendiri di dapurnya saat ini. dia mencuci wada-wadah yang baru saja ia gunakan untuk memasak, ia akan mebersihkan itu dulu baru setelah sayurnya matang dia akan membersihkan rumahnya. Baru saja dia akan mebilas mangkuk yang sudah ia beri sabun sebelumnya ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakng saat ini.


“Pagi-pagi sudah sibuk” suara berat yang cukup mendebarkan terdengar ditelinga Dea.


“Mas Alvar, ngagetin aja” tukas Dea melihat sekilas ke suaminya yang bertumpu di bahunya saat ini.


“Masa ngagetin, nggak hafal aroma suami sendiri” goda Alvar yang meniup leher Dea. Dea memang tak menganakan hijab saat ini karena berada didalam rumah.


Mendapat tiupan dilehernya seketika bulu roma Dea berdiri, dia merasa ada gelora aneh dalam dirinya.


“Mas, aku mau cuci piring dulu jangan ganggu” pungkas Dea,


“Aku nggak ganggu sayang, ganggu darimana” elak Alvar. “kamu kalau mau cuci piring ya cuci aja, aku bakal diam kok” ucap Alvar yang merasa dirinya tak akan mengganggu. Ia hanya butuh pelukan pagi hari saja saat ini. rasanya lelah sehabis olahraga sirna setelah memeluk istrinya.


“Ya tapi susah mas, kalau kamu begini.” ucap Dea yang masih merasa kesusahan untu bergerak bebas.


“Mas Alvar, daripada meluk aku begini. tolong lihatin sayur ku sudah matang belum mas nanti gosong loh kalau airnya kering”


“masak apa?” tanya Alvar smabil mencium aromanya.


“Semur ayam mas,” jawab Dea.


Alvra langsung melepaskan pelukannya pada Dea dan dia langsung menuruti apa yang diperintahkan istrinya tersebut.


“Ini sudah belum sayang?” tanya Alvar saat membuka penutupnya.


“Coba di tes pakai sendok mas, keras atau nggak kalau nggak matiin aja kompornya” pungkas Dea.


Alvar layaknya suami yang penurut dia lagi-lagi melakukan apa yang di perintah oleh istrinya.


..........................................


“Mba Dea,.” seru anak-anak disebuah sekolah kecil yang ada di abwah jembatan. Sekolah yang dulunya didirikan oleh Dea beserta kawan-kawannya untuk anak-anak kurang mampu.


Dea tidak datang sendiri dia mengajak Alvar bersamanya, mereka datang membawa banyak makanan di tangan mereka berdua.


Alvar yang belum pernah ketempat itu melihat-lihat lingkungan sekitar. Dia sedikit heran biasanya tempat seperti ini sedikit kumu tapi ini tempatnya begitu tertata rapi.


“Hai semua, kalian apa kabar” ucap Dea menaruh barang-barang yang ia bawa di tanah dan merentangkan tangannya menyambut mereka smeua. Kurang lebih dua puluh anak yang berada di situ.

__ADS_1


Mereka tersenyum dan berhambur kearah Dea siap memeluk peremuan tersebut, Alar yang melihatnya semakin terpukau. Dia sudah tahu soal ini semua sedari dulu kalau Dea memiliki sekolah seperti ini, tapi dulu ia hanya melihatnya dari postingan-postingan saja tapi kini dia melihatnya langsung semakin bangganya dia bisa mendapatkan perempuan seperti Dea.


“Mbak Dea apa kabar, kita kangen” ucap salah satu anak yang berada disitu.


“Tuh mbak, mereka kangen kan. mbak Dea lama banget sih nggak kesini” ucap Ciko yang merupakan taman Dea di kampus maupun d komunitas sosialnya di Jogja.


Alvar yang belum pernah melihat itu hanya melihatnya saja, tapi dia penasaran dengan pria itu.


“Bukan mereka saja tapi kita juga, lama banget kamu nggak kesini.” Ucap Tata teman Dea juga yang membantu mengajar di sekolah itu.


“Iya maaf ya,” ucap Dea meminta maaf.


“Mas sini,” Dea meminta Alvar mendekat kearahnya, karena pria itu sedari tadi hanya diam melihat.


“Eh ngajak pak suami juga, mari mas” ucap Ciko dia tersneyum ramah saat menaydari kalau suami dari temannya juga ikut.


“Iya,” jawab Alvar dan dia berjalan mendekati istrinya itu.


“anak-anak, kenalin disebelah mbak ini namanya mas Alvar” seru Dea memperkenalkan Alvar pada anak muridnya.


“Suami mbak Dea ya,” celutk salah satu dari mereka.


“hehehe iya, maaf ya mbak waktu itu nggak ngasih tahu kalian”


“Kalian mau kenalan nggak sama suaminya mbak Dea, mana si Jaki katanya mau jadi tentara. Ini suaminya mbak Dea tentara loh,” seru Tata pada anak-anak itu.


Bocah yang bernama Jaki itu tak kunjung menampakkan dirinya membuat Dea dan yang lainnya bingung dimana Jaki kenapa tidak ada disitu.


“Tadi Jaki perasaan ada, kok sekarang nggak ada ya” bingung Tata karena seingatnya tadi saat mengajar Jaki ada di kelas.


“Sudah-sudah, mana mbak jajan buat mereka. Aku kasihkan ke mereka-mereka habis ini kita ngobrol-ngobrol” ucap Ciko yang mengalihkan perhatian.


“Oh iya ini Cik, tolong bagikan ke mereka ya” Dea kembali mengambil kantong kresek putih cukup besar yang dia taruh tanah tadi dan menyerahkannya ke Ciko.


“Mas punya mas Alvar,” Dea mengambil da kantong kresek dari tangan Alvar dan menyerahkannya ke Tata.


“Anak-anak, ini mbak Dea sama mas Alvar bawain kalian makanan tolong dibagi rata ya. Azizah sama Danu mas Ciko minta tolong bagikan ini dong ke teman-temannya” pungkas Ciko pada dua bocah itu.


“Siap mas,” bocah bernama Danu dan Azizah itu langsung mengambil jajanan tersebut dari tangan Ciko dan Tata.

__ADS_1


“Mbak Kita duduk di situ biar enak ngobrolnya, mari mas Alvar” ucap Ciko mengajak Dea dan Alvar kearah empat kursi yang tertata rapi didekat sebuah bangunan kecil dari kayu yang penuh hiasan di dinding kayu tersebut.


“Iya mari” jawab Alvar dna dia langsung berjalan mengikuti sitrinya yanga da didepannya. Alvar memang terlihat sungkan karena ini pertama kalinya dia bertemu dengan teman-teman mengajar Dea di Jogja. Eh bukan pertama kali tapi kedua kalinya, karena teman-teman Dea datang ke pernikahannya waktu itu tapi tidak dnegan pria bernama Ciko ini jadi ia pertama kali bertemu dengan pria tersebut.


“maaf ya mbak, mas waktu kalian nikah dulu saya nggak dateng” ucap Ciko yang merasa tak enak karena tak hadir ke pernikahan Dea.


“Iya nggak pa-pa kok ko, santai saja” pungkas Dea yang tak mempermasalahkannya.


“hari ini jadwal kalian yang ngajar ya, kalau besok jadwalnya siapa kalau boleh tahu” ucap Dea, karena yang mengajar bukan Cuma mereka saja karena masih banyak yang lain yang juga mengajar disini. mereka yang mengajar disini adalah orang-orang yang punya kesibukan lain tai masih bisa menyempatkan untuk mengajar anak-anak kurang mampu itu.


“kayaknya sih sih Fikri sama Naya” jawab Tata.


“Oh, itu sudah jadwal baru ya?”


“Iya jadwalnya sudah kita rubah mbak, semenjak mbak Dea koma dulu.” jawab Tata sedikit lirih merasa tak enak membahas hal dulu.


“Mas Alvar mau minum apa biar saya pesankan?” tanya Ciko yang melihat Alvar yang hanya diam. Dia jadi tak enak sendiri.


“Udah nggak usah repot-repot mas,” jawab Alvar.


“Iya ko nggak usah reot-repot, kita cuman sebentar kok. Ini mau pamit dulu,” timpal Dea.


“Lah kok buru-buru sih, baru juga sampai” kaget Tata.


“Iya soalnya mau ketemu teman saya,” jawab Alvar.


“Iya ta, ko maaf ya. Lain kali kita kesini lagi, aku titip anak-anak ya, tolong ajarkan mereka. Dan kapan-kapan aku juga mau ngajar mereka tolong buatkan jadwal juga untukku”


“Iya mbak, nanti saya buatkan jadwalnya”


“makasih ya,”


“Ya sudah yuk mas, kita pulang” Dea mulai berdiri dari duduknya begitu juga dengan Alvar dan dua orang tersebut.


“Kita permisi dulu,” ucap Alvar sbeleum pergi,


“Iya mas, hati-hati mas mbak” ucap Ciko dan juga Tata.


Alvar dan Dea langsung pergi dari situ, mereka masih ada urusan lain yaitu bertemu teman Alvar. Rekan Alvar di Akmil dulu, Radit datang dari Surabaya dan dia sedang ada di sekitaran candi prambanan sehingga Alvar meminta Radit untuk menunggunya disana.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2