Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 31


__ADS_3

Dea masuk kedalam kamar milik Alvar yang sekarang juga menjadi kamarnya, kamar masa muda Alvar itu memang selalu terlihat rapi dan tak ada yang berbeda dari kamar itu. yang beda hanya tepat tidurnya saja yang beda ukuran. Kini ranjang tersebut berganti ranjang yang besar.


Dea menari sesuatu di kopernya yang tak jauh dari lemari pakaian di kamar itu, entah apa yang tengah dia cari saat ini. ditengah dia yang sedang mencari Alvar muncul dari dalam kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang terlilit saja di pinggangnya. Dia melihat sang istri yang tampak sibuk membongkar koper.


“Kamu nyari apa?” tanya saat melihat Dea yang tak menyadari dirinya.


“Oh mas,” Dea langsung mendongak melihat Alvar yang berdiri didepannya dengan tubuh yang basah.


“Ini aku nyari coklat yang aku bawa dari Jogja, mau aku kasihkan ke Runa sama Bian” jawab Dea sambil berdiri dari duduknya.


“Coklatnya sudah aku ambil,” pungkas Alvar.


“Sudah mas ambil? Kok nggak bilang itu untuk Bian sama Runa mas”


“aku kasih kan ke teman-temanku kemarin, Bian sama Runa nggak boleh makan coklat sama ayah jadi aku kasihkan teman-temanku” jelas Alvar soal alasannya mengambil coklat Dea dari dalam koper.


“Mereka nggak boleh makan coklat?”


“Nggak, ayah sering marah kalau mereka makan coklat” tukas Alvar.


“Oh,”


“Tolong siapin bajuku sayang,” pungkas Alvar sambil memegang bahu Dea.


“Maaf kalau boleh tahu mas Alvar mau kemana?” tanya Dea pada suaminya itu.


“Mau main bola”


“Sama?”


“Sama kamu” jawab Alvar sambil melihat intens wajah Dea.


“Hah, sama aku” Dea bingung mendengar hal itu.


“Nggak usah bingung, buruan kamu juga ganti baju habis ini kita jalan-jalan” suruh Alvar sambil tersenyum dan dia langsung berlalu menuju lemari pakaian.

__ADS_1


Dea melihat heran pada Alvar yang tiba-tiba tersenyum dan langsung berlalu pergi, hal itu semakin membuat Dea bingung saja. Main bola, kenapa juga Alvar mengajaknya main bola, mana mungkin dia bisa bermain bola dia mengenakan rok begini.


.......................................


Alvar dan Dea berjalan beriringan menuruni tangga di rumah Alvar saat ini, di lantai bawah ada Kinan dan Nura beserta kedua adik Alvar sedangkan Azka sednag dinas begitu juga dengan ayahnya yang tengah dinas dan ada acara di Kodim jadi bundanya juga ikut ke sana.


“Mau kemana var, De” tanya Kinan saat melihat sepasang suami istri itu yang sudah turun.


“Kita mau pergi Nan, ada apa? kamu mau titip sesuatu?” jawab Dea dan balik bertanya.


“Mau pergi kemana sih adik mbak,?” tanya Nura pada Alvar dan juga Dea.


“Jalan-jalan mbak, kok mbak Nura ada disini?” tanya Alvar kakak sepupunya.


“mbak lagi curhat sama Kinan, sama pengen curhat juga sama Dea. eh Dea mau kamu ajak keluar”


“Mau Curhat apa? masalah asmara. Kalau masalah itu turutin aja apa kata pakde Banu. Kalau beliau suruh mbak nikah ya nikah aja mbak, mbak Nura juga sudah dewasa dan calonnya juga sudah ada nunggu apalagi mbak” Alvar mulai menceramahi kakak sepupunya itu.


“Kamu sekarang bawel banget ya, ngelebihin Azka. Kamu pikir nikah gampang apa” ucap Nura dan suaranya berubah ketus.


“Gampang, buktinya aku sama bang Azka sudah nikah duluan” Dea yang mendengar ucapan suaminya begitu terhadap Nura langsung menyenggol lengan Alvar.


“Iya itu kamu, sudahlah sana kamu pergi kalau mau pergi mbak nggak mau denger ceramah kamu. mbak sudah capek denger ceramah orang-orang, apalagi pakde kamu tuh bawelnya minta ampun” kesal Nura dan langsung duduk memalingkan wajah dari Alvar yang menatapnya datar.


“Sayang maaf, aku bisa minta tolong ajak Bian sama Runa ke kolam renang dulu” lirih Alvar pada istrinya yang berdiri disebelahnya saat ini.


“Iya mas,”


“Kinan kalau kamu mau ikut dengan Dea ikut saja, aku bicara sebentar dengan mbak Nura” ucap Alvar pada Kinan yang berdiri menatap bingung harus apa dengan situasi saat ini yang diliputi ketegangan.


“Mau ngomong apa, mbak nggak mau ngomong sama kamu” sentak Nura


“Mbak aku pergi dulu ya,” Kinan memutuskan untuk ikut Dea saja daripada dia harus disitu, kemungkinan ada perdebatan nantinya.


“Nggak, sekarang mbak Nura maunya apa?” tanya Alvar yang duduk tepat didepan kakaknya.

__ADS_1


“Mbak nggak mau apa-apa lah,”


“Lah terus, mau curhat soal percintaan begitu. Apalagi yang mau di curhatin,?”


“Bukan urusan kamu var, sudah sana kamu pergi katanya mau pergi”


“pakde Banu nyuruh mbak Nikahkan? Makanya mbak bingung sekarang. Dan aku tanya mbak, alasan mbak nolak Damar dulu apa ya?”


“kepo lu,”


“Mbak Nura dari dulu pengen cepat nikah kan, tapi yang ngajak nikah bukan kriteria mbak Nura. Terus sekarang nggak dia ajak-ajak nikah curhat galau terus, maunya mbak apa. malah sekarang yang tadinya bukan kriteria malah mbak jadikan pacar, apa bedanya sama Damar kalau gitu mbak”


“Makin cerewet aja ya kamu var, ya itu urusan mbak”


“Iya urusan mbak, tapi yang ikut pusing bundaku karena pakde yang terus ngomong soal mbak sama bunda”


“kalau sama bang hardi mbak hanya pacaran nggak ada kejelasan mau dibawa kemana mending tinggalin aja mbak, dia bukan kriteria mbak kan. mbak nggak suka anggota bukannya begitu”


“Kata siapa nggak ada kejelasan bang hardi mau nikahin mbak kok”


“Kapan, dari dulu bilangnya gitu mbak. Tapi mana buktinya, sampai aku sama bang Azka nikah bang hardi mana nggak bilang. Aku juga baru tahu mbak pacaran sama bang hardi belum lama ini. ini baru aku yang nasehatin belum bang radit bang Azka, yang lebih parah kalau ngomong” Alvar mulai menceramahi kakak sepupunya, dia bilang begitu karena lebih baik dia yang menasehati daripada Azka dan radit yang kalau bicara tidak bisa di kontrol dan sebentar-bentar emosi.


“Sudahlah var, mbak nggak butuh ceramah kamu pakde mu sudah ceramahi mbak banyak omongan yang dia ucapkan”


“Mbak Nura dulu pacaran sama Psikolog, sama dokter, tapi mana ujungnya putus kan mbak. Terus ada yang ngelamar mbak Nura, bilangnya nggak suka anggota bukan kriteria. Terus rekanku dulu si damar ngajak mbak pacaran, mbak nggak mau tapi mbak mau dideketin. Terus suruh nunggu di pelantikan mbak nggak mau karena cari yang pengen langsung ngelamar. Tapi habis itu belum ada yang neglamar mbak, mbak malah ganti-ganti pasangan terus, sekarang malah tahu-tahu pacaran sama Brimob, katanya nggak mau anggota. Terus itu sudah pasti mau ngelamar belum, atau nunggu naik pangkat baru negalamar mbak. Tahu gitu mending sama Damar”


“Kamu ini dari tadi ngomongin damar, damar dan Damar, kau sengaja mau jodohin mbak sama dia. soal asmara mbak nggak usah ikut campur var, ini urusan mbak”


“Terserah mbak Nura kalau tidak mau mendengarkan nasehatku, aku cuman memberitahu saja kalau apa yang aku bilang sekarang demi kebaikan mbak Nura. Ini belum bang radit atau bang Azka yang kasih ceramah ke Mbak Nura. Kalau mereka sudah ngomong, bisa aku pastikan mbak bakal nangis karena omongan mereka. Pesan ku cuman satu sih mbak, mbak lebih baik putus saja sama bang hardi yang nggak ada kepastian dan mending balik sama Damar. Dia sudah niat mau menikah, tapi belum ada calonnya karena nunggu mbak Nura” ucap Alvar yang langsung berdiri dari duduknya.


“Kamu ini maksa banget, kamu nggak tahu apa kita berdua berbeda. Mbak sama damar beda var, nggak usah maksa deh. Dan urusan mbak kalau prinsip mbak berubah”


“Aku tahu kalian beda, tapi mbak Nura harus tanggung jawab soal Damar. Mbak yang baperin dia, sampai dia sama seperti kita. Maksudkan apa yang ku bilang, dan pasti tahu alasanku menyebut Damar terus” ucap Alvar dan dia benar-benar pergi menyusul istrinya yang ada di kolam renang bersama dengan adik-adiknya.


Nura hanya termangu ditempatnya, dia tampak tak percaya dengan ucapan Alvar soal damar barusan. Apa benar begitu, kalau benar dia yang bersalah disini. dia dulu hanya memanfaatkan Damar saja dan tidak berniat serius, soal perbedaan mereka dia tidak memikirkan itu dulu. tapi mendengar barusan, kenapa dia menjadi bersalah dengan Damar. Apa karena itu juga keinginannya menikah belum terlaksana juga hingga sekarang, apa itu karma.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2