
Pagi hari di Jogja, Alvar dan Dea sudah kembali dari jakarta semalam. Hari ini Alvar sudah mulai berdinas kembali, dia sudah bangun pagi begitu juga dengan Dea yang sudah selesai memasak sarapan untuk suaminya.
Sarapan sederhana yang bisa dia masa dengan bahan seadanya di kulkas, sayur sop dan juga tempet menemani sarapan Alva pagi ini.
Selesai dengan urusan dapurnya, Dea langsung berjalan ke kamar mereka berdua melihat Alvar sudah selesai mandi atau belum.
Saat Dea membuka pintu, ternyata Alvar sudah rapi dengan seragam PDLnya, pria itu tengah berjalan untuk menggantung handuk di tempatnya.
“Mas sarapan dulu?” ucap Dea
“Iya, sebentar. Oh iya sayang kamu pindah dimana ya sepatu dinasku?” jawab Alvar dna balik menanyakan soal sepatu dinasnya yang sudah berpindah tempat karena semula dia menaruh di lemari bawah tapi sekarang itu sudah berganti menjadi baju milik Dea.
“Aku taruh dilemari yang ada di ruang makan mas”
“Oh, kamu pindah disitu. ya sudah ayo sarapan” Alvar berjalan kearah Dea yang menatapnya. Ia mengajak perempuan itu untuk keluar dari kamar, sebelum Alvar keluar dari kamarnya ia mengecup kening Dea lebih dulu.
“Mas tapi aku cuman masak sayur sop sama goreng tempe aja, nggak pa-pa kan. soalnya di kulkas cuman ada itu” ucap Dea sambil mengikuti Alvar yang berjalan keluar.
“Nggak pa-pa, itu udah enak kok”
“Nanti aku ijin keluar ke pasar ya, buat belanja sayuran sama bumbu dapur yang lain” ucap Dea meminta ijin untuk berbelanja sayuran
“Sama siapa?” tanya Alvar berbalik sambil melihat kearah Dea.
“Sendiri, mau sama siapa lagi”
“Nggak usah ya, nanti siang aja ke supermarket sama mas. Aku anterin belanja”
“Ke supermarket mahal mas, mending ke pasar. Aku sendiri nggak pa-pa,”
Alvar bukannya menjawab, dia menarik kursi makan didepannya dan duduk.
“Kamu mau naik apa? naik motor? Memang berani, udah nunggu aku nanti siang” ucap Alvar yang sudah duduk sambil melihat Dea yang berdiri disebelahnya.
Dea diam, ia tampak berpikir benar juga apa yang dikatakan suaminya, dia mau naik apa. naik motor jelas tidak mungkin, ia masih trauma. Naik taksi nanti pulangnya sulit dapat taksi lagi.
“Gimana? Masih mau kepasar sekarang” tanya Alvar lagi sambil mengambil tempe goreng.
“Nggak,” jawab Dea menggeleng.
“Ya sudah nanti aja, nunggu aku. kita sarapan dulu” pungkas Alvar sambil memegang tangan Dea menariknya agar duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
....................................
“Wiih yang baru pulang bulan madu,” seru Juna saat melihat Alvar. Otomatis tentara lain yang duduk-duduk di depan Aula saat ini langsung menoleh kearah senior mereka.
“Sudah pulang saja Ndan” ucap Varel saat melihat senornya itu.
“Cepet banget perasaan, baru berpa hari kan di Jakarta?” sahut Letna Cakra yang kebetulan ada disitu juga. mereka duduk-duduk santai sambil menunggu matahari sedikit naik agar mereka bisa berolahraga dibawah terik matahari langsung.
Alvar hanya diam saja tidak menanggapi mereke-mereka semua yang terus bertanya dan melempar candaan padanya. Dia berjalan tegap mendekati mereka semua sambil membawa kantung kresek berwarna hitam ditangannya.
“Maaf bang ijin bertanya, apa itu bang yang ditangan abang?” tanya Joan saat Dantonnya tersebut sudah berjalan cukup dekat dengan mereka.
“Oh iya apa itu let,” pungkas Cakra yang menyadari rekannya membawa sesuatu.
“Yang bertugas di dapur hari ini siapa?” tanya Alvar saat dia sudah didepan mereka semua.
“Nino sama Noval serta Serda Adam Ndan” jawab Joan
“Kenapa kamu tanya begitu var, apa yang kamu bawa itu?” tanya Juna penasaran.
“Oleh-oleh bang” jawab Alvar singkat, dia sembari melihat tentara yang duduk-duduk itu dan dia tidak menemukan ketga orang yang disebutkan Joan barusan.
“Prada Joan, tolong berikan ini pada mereka nanti. Mereka suruh masak ini untuk makan siang atau kapan terserah yang penting dimasak hari ini” perintah Alvar pada Joan, dan dia memberikan kantong kresk hitam itu pada Joan.
“Cumi kering Ndan” heran Joan saat melihat apa yang didalam tersebut.
“Cumi kering,” heran semuanya yang mendengar apa yang dikatakan Joan.
“Kamu bawa cumi kering buat apa Let, sebanyak itu lagi. Ada tuh satu kilo, mahal lo cumi kering” tukas Cakra yang bersuara lagi padahal sedari tadi dia tidak di tanggapi Alvar.
“Saya ada banyak dirumah, itu oleh-oleh dari saudara saya” jawab Alvar dan dia langsung duduk di sebelah Cakra yang kebetulan masih longgar untuk dia duduki.
“Dari saudaramu yang mana var, cumi kering mahal loh di kota” tanya Juna pada Alvar.
“Bang Juna, kenal sama abang sepupu saya kan bang Radit yang pernah saya kenalin sama bang Juna dulu” ucap Alvar sambil melihat Juna yang duduk agak terpisah satu orang darinya.
“Iya tahu,” jawab Juna setelah mengingat-ingat sepupu Alvar yang bernama Radit.
“Orang tuanya kan tinggal di Sulawesi mereka yang mengirimkannya ke Jakarta” jelas Alvar.
“Oh, dikirim dari Sulawe. Dikasih banyak kamu, kok kamu ngasih sebanyak itu buat kita-kita”
__ADS_1
“Allhamdulilah bang”
“Astaga saya lupa,” ucap Alvar smabil menepuk jidatnya, dia langsung berdiri kembali.
“kenapa let?” tanya Cakra yang terkejut
“Saya harus kasih laporan ke Dandim, kalau saya sudah balik dinas. Saya permisi dulu, mari bang” ucap Alvar yang langsung pamit pergi dari situ. Dia harus memberikan laaporannya, meskipun itu mertuanya dia harus profesional dong tidak langsung mengirim pesan.
.......................................
Alvar saat ini sudah membonceng Dea yang duduk di belakangnya, tangan Dea memegang pinggang Alvar sebagai pegannya agar tidak terjatuh. Motor yang di lajukan Alvar berjalan pelan di area kodim menuju pos.
Alvar mengklason motonrnya, untuk menyapa dua tentara yang tengah berjaga di pos. Dua tentara itu hanya mengangguk saja saat melihat danton mereka keluar dari are kodim. Pintu penghalang memang sedari tadi sudah terbuka, karena banyak kendaraan yang keluar masuk.
“Mas, kamu sudah ijinkan kalau siang ini keluar?” tanya Dea sesekali melihat suaminya dari spion.
“Kenapa harus ijin, ini memang jam istirahat.”
“Oh iya, aku lupa. Aku takutnya kamu kena sanksi dari ayah nantinya karena ninggalin tugas”
“Nggak ada sanksi, aku juga sedang tidak ada pekerjaan”
“emmh,”
“kamu pegangan yang kuat, aku mau ngebut” pinta Alvar pada Dea.
Dea langsung melakukannya, dia menggenggam pinggang Alvar semakin kuat saja.
“Jangan begitu kalau mau pegangan” ucap Alvar.
“terus bagaimana mas, kalau bukan begini”
Alvar memelankan motornya, dia mengambil tangan Dea yang berada di pinggangnya, dan melingkarkan tangan tersebut di pinggangnya. Sehingga Dea memeluk dirinya di atas motor saat ini.
“Kok kayak gini, nggak enak dilihat orang terlalu intim begini mas”
“Ya kenapa, banyak yang begitu. Kita sudah sah jadi tidak masalah, sudah daripada kamu jatuh nanti”
Dea melakukannya, dia memeluk pinggang Alvar, dan motor yang dikendarai Alvar langsung melaju dengan begitu kencang.
“Suatu hal yang menyenangkan diriku saat bersamamu, hal manis yang kuinginkan sedari dulu kini akhirnya bisa kurasakan bersamamu istriku” monolog Alvar di hatinya, dia tersenyum senang melihat tangan Dea yang memeluknya erat.
__ADS_1
°°°
T.B.C