
Hingar bingar lampu malam menerangi setiap sisi dari lingkungan Kodim, terdengar deru ramai para tentara yang berjalan dari arah masjid. Mereka selesai melaksanakan sholat magrib berjamaah.
Saling beriringan berjalan membawa sajadah mereka masing-masing dan sebagian hanya berjalan dengan tangan kosong mereka.
Diantara orang-orang itu ada lima orang yang mengobrol dengan sangat intens dan penuh keakraban satu sama lain. Mereka tampak berjalan beriringan dan saling berbicara meskipun sesekali terbagi menjadi dua antar mereka berlima.
Dua orang pria yang sedikit lebih dewasa dari mereka bertiga mengobrol dengan sendirinya dan ketiga pemuda juga mengobrol dengan urusan mereka.
Mereka berlima tentu saja Alvar beserta ayah dan kakaknya, dan juga Fahrul serta Juna. Lima orang yang saling mengenal dari masa lalu kini berkumpul bersama membuat yang lainnya yang tak tahu mereka saling bertanya satu sama lain.
“Maaf ya bar, saya baru bisa nemuin kamu sekarang tadi saya ada urusan soalnya” ucap Fahrul pada rekan lamanya tersebut.
“Iya tidak apa-apa santai saja, saya maklum kok” pungkas Bara tak begitu mempermasalahkan hal itu.
“tadi Dea dan Dimas menyambut kalian dengan baik kan?” tanya Fahrul mengenai sikap anak-anaknya.
“Mereka menyambut kita dengan baik kok, kamu tidak usah khawatir. Masa Dea menyambut mertuanya tidak baik kan aneh,” kata Bara sambil sedikit tersenyum.
“Ya siapa tahu” Fahrul tampak lega mendengar hal tersebut. “Oh iya Bar, Alvar sudah bilang sesuatu sama kamu belum” ucap Fahrul lagi sambil melihat besannya itu.
“bilang apa?” Bara sedikit memperlambat langkahnya sambil melihat kearah rekannya tersebut.
“Tidak, nanti saja kita bicarakan di rumah. sudah ayo, Bar pasti istri kamu sama anak saya sudah menyiapkan makanan buat kita” ucap Fahrul sambil menepuk bahu Bara.
“Iya mari,” angguk Bara dan mengiyakan perkataan Fahrul barusan. Mereka lalu berjalan pergi menyusul yang lainya yang sudah berjalan lebih dulu.
..................................................
Di rumah Fahrul sendiri saat ini para perempuan tengah menyiapkan makan malam untuk mereka nantinya.
Dea membantu Jihan menyiapkan makanan dimeja saat ini, dan dia juga sesekali membantu Kinan yang membawa beberapa makanan kemeja.
“Sudah Kinan biar bunda sama Dea saja yang menyiapkannya,” ucap Jihan mengambil alih mangkuk sayur yang dibawa sang menantu saat ini.
“nggak pa-pa bun, aku juga pengen ikut bantu-bantu” pungkas Kinan tetap bersih keras membantu mertua dan juga Dea.
__ADS_1
“benar kata bunda Jihan.. Kinan, kamu temani si kembar saja di depan. Nanti kamu kecapean, kasihan juga anak dalam kandungan kamu” timpal Dea yang sependapat dengan Jihan.
“Aku kuat kok De, santai saja. Ini juga nggak berat-berat amat kok,” tutur Kinan yang terus bersikeras dengan keinginannya.
“Ya sudah kalau itu mau kamu Kinan,” sahut Jihan pada akhirnya.
“Nah gitu dong bunda yang sellau dukung kemauanku. Aku sayang bunda deh” tukas Kinan girang.
“bunda, bunda aku boleh main keluar nggak” ucap Bian yang menghampiri bundanya saat ini.
“mau main kemana? disini aja. Nanti kalau hilang gimana? Ayah sama abang-abang kamu sebentar lagi pulang” kata Jihan sambil meletakkan piring yang berisi tempe goreng di meja menatap anak bungsunya tersebut.
“mau lihat-lihat, tadi aku denger suara-suara ramai di lapangan. Aku pengen lihat bunda” rengek Bian.
“Adek disini saja ngapain lihat ramai-ramai, mainan aja yuk sama Mbak Runa sama mbak Kinan” bujuk Kinan pada adik iparnya itu.
“nggak mau, aku mau keluar lihat orang-orang di lapangan. Aku mau beli jajan juga” Bian masih terus saja ingin main keluar.
“hayo, mau lihat orang di lapangan atau mau jajan. Kamu mau jajan kan sebenarnya?” tebak Jihan menatap anaknya.
“Bunda..” rengek bocah itu lagi.
“Bian, kok rewel sih. Mana mbak Runa? Mbak Runa aja nggak minta aneh-aneh” ucap Jihan sambil mendekati sang anak.
“Bunda sudah nggak pa-pa, biar aku saja yang antar Bian” ucap Dea yang sedari tadi mengamati akhirnya memutuskan untuk ikut nimbrung.
“Tapi ini jam makan malam De, nanti saja. Bian memang begitu, udah biarin aja”
“Nggak pa-pa bun, kasihan Bian sampai begitu. Lagipula yang lain juga belum datang kan, aku anterin dia pergi beli jajan dulu saja?” Dea merasa tak tega saja melihat anak kecil merengek didepannya sambil menangis.
“Kenapa nangis Bian,” suara tegas tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk ruang tengah.
“Tuh ayah datang, masih mau rewel, “ ucap Jihan pada anaknya itu. dia bukannya tidak ingin menuruti permintaan anaknya tetapi ini saatnya makan malam dan Bian juga tadi sudah beli jajan dengan Aruna.
Bian yang tadinya menangis sambil merengek langsung terdiam, saat melihat ayahnya
__ADS_1
“Kenapa bun,?” tanya Azka yang berdiri disebelah sang ayah.
“Biasa adik kamu ya gitu” jawab Jihan.
“kenapa Bian, sini sama abang” ucap Azka meminta Bian mendekat kearahnya.
“Bian, ayah kemarin bilang apa? “ ucap Bara mengingatkan Bian akan ucapannya.
Bian hanya bisa diam sambil menahan tangisnya,
“Bian rewel ayah, masa minta jajan nangis” adu Aruna yang berlari masuk kedalam bersama dengan Fahrul.
“Sini, sama bang Alvar. Mau beli jajan apa? abang belikan” pinta Alvar pada adiknya.
“Tidak usah var, ayo kita makan malam saja. Nanti Bian keterusan kalau dibelikan terus, dia tadi sudah jajan” larang Bara. “Sudah Bian, kamu masih mau nangis atau mau ayah hukum” ucap Bara lagi.
“Sudah-sudah ayo makan dulu, beli jajannya nanti ya Bian sayang. Sama bang Alvar sama mbak Dea juga, mau ya” ucap Fahrul menengahi.
Alvar berjalan mendekati adiknya yang hanya diam dan sedang ditenangkan oleh Kinan dan juga Dea.
“Sudah, nant abang belikan jajan. Makan dulu, nanti ayah tambah marah sama kamu” ucap Alvar sambil memegang tangan bocah tersebut.
“Aruna juga mau, masa Bian saja yang dibelikan” ucap Aruna yang iri dengan adiknya.
“Iya nanti Aruna juga” balas Alvar melihat adik perempuan satu-satunya itu.
“Sudah-sudah ayo makan, mereka sudah capek-capek buatin kita makan malam loh” ucap Fahrul mengajak semuanya untuk makan. “Ayo bar, kita makan malam dulu” tepu Fahrul di bahu Bara mengajak rekannya kemeja makan.
“Ayo var makan malam dulu, Dea Kinan ayo” ucap Jihan pada ank dan menantunya.
Azka sendiri sudah berjalan kearah meja bersama dengan ayahnya tadi, Alvar yang masih berada didekat adik bungsunya melihat sekilas kearah Dea yang mengangguk seakan memintanya untuk makan malam. Alvar menuruti tanda dari perempuan yang dia cintai itu, ia segera menuju ke meja makan saat ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1