
Dea yang sudah selesai menaruh bubur dan juga sop di mangkuk berbeda membawanya ke kamar Alvar. Dia masuk kedalam kamar tersebut dengan perlahan setelah mengetuk pintu, tapi karena tak ada sahutan ia langsung masuk saja kedalam dan dia bisa melihat Alvar tengah tertidur saat ini.
“Perasaan baru aku tinggal kedapur sebentar Danton Alvar sudah tidur” ucap Dea pada dirinya sendiri sambil berjalan ke sisi tempat tidur Alvar saat ini.
Dea menaruh dua mangkuk berisi bubur dan sop ayam di nakas meja, tapi saat dia menaruh itu matanya teralihkan pada sebuah cincin yang kebetulan berada di atas nakas tersebut. Itu cinci yang sama dengan yang dia bawa saat ini.
“Cincinnya sama dengan yang ku bawa” gumam Dea saat melihat itu.
“Sedang apa?” tanya Alvar yang tiba-tiba bangun dan melihat Dea yang berdiri tepat disebelahnya tidur. Perempuan itu tampak melihat cincinnya yang ada di nakas meja.
“Itu cincinmu?” tanya Dea menatap Alvar meminta jawaban.
“Iya, itu milikku” jawab Alvar sambil perlahan menyandarkan dirinya sesekali juga dia mengamati wajah Dea. ia ingin melihat reaksi perempuan tersebut.
“Aku juga memilikinya” ucap Dea sambil merogoh saku gamisnya. Ia langsung menunjukkan cincin miliknya tersebut pada Alvar.
“Jadi benar, aku istrimu” tukas Dea.
“saya sedang tidak ingin membahasnya, kalau saya bilang kau istriku apa kau percaya. saya sedang tidak enak badan sekarang, lain kali saja kita bahas. Kalau kamu tidak ada keperluan lagi silahkan pergi” pinta Alvar.
“Kenapa kau beburuk sangka padaku, bagaimana aku bisa percaya kalau anda terus ketus begini denganku” tukas Dea langsung menatap mata Alvar yang kembali melihatnya.
Alvar langsung diam, dia memperhatikan Dea dengan rasa bersalahnya, bukannya dia ingin berbicara ketus tapi kondisinya tak memungkinkan untuk berdebat.
“Saya minta maaf” lirih Alvar pada akhirnya mengurangi egonya.
“Aku maafkan, kalau begitu anda makan saja dulu” pungkas Dea dan dia mengambil mangkuk bubur.
“Saya saja,” ucap Alvar dan akan mengambil alih mangkuk bubur yang berada di tangan Dea.
“Tidak usah biar aku saja yang menyupi anda, badan anda lemas kan” ucap Dea tetap bersi keras ingin menyuapi Alvar.
“Aku melakukan ini, karena aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka terhadap suami” ucap Dea yang duduk di tepi ranjang sebelah Alvar saat ini.
Alvar yang mendengar itu tampak terkejut dan dia langsung melihat kearah Dea yang siap menyuapinya.
“Kau barusan bilang apa?” tanya Alvar memastikan apa yag dia dengar barusan adalah benar.
“Aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka terhadap suami” jawab Dea, dan menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Alvar.
Alvar terus menatap wajah Dea yang juga melihatnya sambil memegang sendok didepan mulutnya saat ini.
__ADS_1
“Danton Alvar ayo buka mulutmu,” perintah Dea pada Alvar yang mematuhi begitu saja perintah Dea. pria dingin tersebut langsung membuka mulutnya dan sesuap bubur masuk kedalam mulut Alvar.
Alva mengunyah bubur tersebut dengan masih melihat kearah Dea cukup intens, dia seakan menilai segala ekspresi dan tindakan yang dilakukan Dea saat ini.
“Kau sudah ingat semuanya?” tanya Alvar penasaran.
“Belum” jawab Dea sambil menggeleng.
“Kalau belum kenapa kau mengakui pernikahan yang katamu tak mungkin” tukas Alvar.
“Meskipun itu terdengar tak mungkin, tapi dari apa yang aku dengar dari orang-orang itu bisa saja benar. bahwa aku istrimu, meskipun aku tidak mengingatnya tapi aku usahakan kedepannya aku akan berusaha menjadi istri yang baik” tutur Dea menatap Alvar penuh keyakinan. Dia benar-benar berusaha menerima kenyataan ini, dimana dia adalah seorang istri dari Alvar.
...................................................
Alvar bangun dari tidurnya saat ini, badannya terasa sedikit lebih enakkan tetapi ada sesuatu yang berat di kepalanya. Dia secara refleks memegang dahinya saat ini dan mengambil benda tersebut yang ternyata handuk basah.
“Siapa yang mengompresku?” gumamnya sambil menduduk dirinya dan bersandar pada sandaran tempat tidur.
“Kamu sudah bangun” tanya seseorang yang masuk kedalam kamar saat ini, ternyata itu Dea yang berjalan mendekati Alvar.
Alvar yang melihat Dea ada didepannya sedikit tertegun, ia pikir apa yang ada diingatannya itu hanya mimpi ternyata memang benar perempuan itu ada di mesnya.
“Kamu..” ucap Alvar menggantung.
“Maaf Danton barusan bilang apa?” tanya Dea saat sedikit mendengar guman Alvar barusan.
“Tidak”
“Aku sudah buatkan makan siang untuk Daton, nanti sebelum pergi dinas dimakan ya. Aku permisi dulu, Danton juga sepertinya sudah baikan” ucap Dea pada Alvar, da mulai berdiri dari duduknya saat ini. tetapi Alvar langsung menariknya dan memeluknya saat ini.
“Untuk apa kau pergi bukannya kau bilang ingin menjadi istri yang baik untuk suamimu” ucap Alvar smabil memeluk Dea.
Mendengar itu membuat Dea sedikit gugup, dia menegk salivanya.
“Ma..maksudnya?” ucap Dea terbata, dibayangannya saat ini haruskah dia melayani Alvar.
Alvar melonggarkan pelukannya, dia menatap mata Dea.
“Kau sudah mengakui kalau kau istriku, jadi menetaplah disini denganku” tukas Alvar.
“Apa?” Dea cuup terkejut dengan ucapan tegas Alvar tersebut. Dia segera memberi jark pada Alvar menatap pria itu tak yakin.
__ADS_1
“ti..tidak bisa begitu dong Danton”
“Kenapa tidak?” tanyaALvar yang juga ikut berdiri saat Dea berdiri.
“Ya pokoknya tidak bisa begitu, aku memang menerima diriku sebagai istrimu tapi..tapi aku belum bisa tinggal bersamamu. Ak..aku pergi dulu kalau begitu” ucap Dea yang tampak gugup, entah mengapa wajahnya juga memerah sekarang.
“Ja..jangan lupa makan yang sudah aku buatkan tadi sebelum pergi” lanjutnya dan langsung pergi meninggalkan Alvar yang diam menatapnya. Tapi meskipun Lavar terlihat diam, seulas senyum kecil tampak di wajahnya saat Dea pergi terburu-buru.
Dia langsung duduk di ranjangnya sambil tersenyum,
“Akhirnya apa yang aku tunggu datang juga,” gummnya tak bisa menahan senyum bahagianya.
.......................................................
Dea berjalan terburu-buru, sampai dia tak sadar kalau didepannya ada beberapa tentara yang juga berjalan berlawanan dengannya.
“Eh, Eh mbak Dea” ucap Kalief yang hampir tertabrak Dea tetapi dia segera menahan bahu perempuan itu.
Dea Refleks langsung memberi jarak dan dia cukup terkejut saat melihat empat orang tentara didepannya saat ini.
“Aduh maaf lif, Joan, Varel, Nino. Mbak nggak sengaja” ucap Dea pada keempatnya.
“Iya nggak pa-pa mbak, mbak Dea darimana kok kayak buru-buru pergi” ucap Joan.
“I..itu, dari..”
“Dari rumah Danton Alvar ya mbak?” potong Nino
“Hemm, apa?” Dea langsung gugugup sendiri.
“Kok kamu tahu mbak Dea dari rumah Daton Alvar Nin?” tanya Verel.
“Tadi pagi aku nggak sengaja lihat mbak Dea masuk rumah Danton” jawab Nino.
Mereka berempat langsung saling lihat satu sama lain, dan berbarengan menatap kearah Dea.
Dea yang ditatap dengan rasa curiga tampak semakin gugup.
“Ka..kalu begitu aku permisi dulu” pamitnya dengan sedikit terbata, dan langsung pergi begitu saja menghindar tatapan penuh tanya dari keempatnya tersebut.
°°°
__ADS_1
T. B. C