
Juna yang baru saja keluar dari ruangan atasannya, tak sengaja melihat Alvar yang sedang duduk menyendiri di kursi bawah pohon mangga sibuk memainkan ponselnya tanpa menimbrung pembicaraan rekan-rekan yang kebetulan juga berada di situ meneduh dari teriknya matahari siang.
“Hayo sibuk ngapa kamu,” Juna yang sudah berada di dekat Alvar mengejutkan pria itu yang tentu saja langsung menoleh melihat seniornya.
Yang lain yang juga ada disitu tentu saja langsung melihat kearah Juna yang baru saja datang. Tetapi mereka hanya melihat sekilas, karena tak ingin ikut campur senior-senior mereka mengobrolkan apa.
“Nggak sibuk bang?” tanya Alvar.
“Ini barusan selesai, ikut nongkrong juga ah” pungkas Juna dan langsung duduk di dekat Alvar..
“Disini kerjanya agak nyantai ya, enak bisa rileks begini”
“Namanya juga Kodim bang, beda sama batalyon” sahut Alvar yang sesekali masih sibuk dengan ponsel miliknya.
“Iya juga sih ya, kamu sibuk ngapain sih. Awas ya sampai duain Dea,” tukas Juna setengah bercanda.
“Duain darimana bang, saya lagi balas chat bang Azka” pungkas Alvar sambil memperlihatkan sedikit isi chatnya pada Juna.
“Tumben chatan, biasanya mana pernah.” Heran Juna, karena biasanya Alvar dan Azka kalau penting pasting langsung nelpon dan dua ornag itu jarang berbalas pesan. Juna tahu hal itu karena begitulah dua adik kakak tersebut.
“bang Azka masih rapat di Kodam”
“Oh,”
“kepo dong bahas apa?” ucap Juna sedikit mendekat dan melirik sekilas isi pesan Alvar.
“Oh lagi bahas adik kamu,” ucap Juna sambil menganguk-angguk dan menggeser duduknya sedikit jauh.
Alvar melihat Juna dengan sedikit mengangkat alisnya,
“Adik bang? siapa yang bahas adik” ucap Alvar polos.
“Itu chat kamu, Nura itu adik kamu kan. si kembar lucu itu kan” ucap Juna sok tahu.
“Bukan bang, Nura itu kakak sepupu. Kalau Runa baru adik saya dan bang Azka”
“Oh, salah ya” ucap Juna smabil tersenyum kikuk, dia salah mengira. Ia pikir itu adik Alvar.
Alvar hanya menggeleng, dengan tingkah seniornya yang konyol itu. bisa-bisanya ia pikir Nura dan Runa sama jela-jelas beda huruf.
“Nanti malem dinas lagi var?” tanya Juna pada Alvar yang sudah memasukkan ponselnya ke saku baju PDLnya.
“Nggak bang,”
“Oh iya, saya lupa mau bilang bang Juna. Nanti malem abang ada tugas nggak? Soalnya komandan ngadain acara makan malam diluar” ucap Alvar yang teringak akan pembahasannya dan mertuanya kemarin.
“Acara pribadi atau lingkungan Kodim?”
__ADS_1
“Pribadi bang, nanti saya juga bilang Dimas.”
“Acara keluarga gitu, kita makan malam diluar” Juna masihtak yakin.
“Iya”
“Aku bisa, Om kok nggak bilang”
“Dia yang pesan sama saya, untuk menyampaikan pada bang Juna sama Dimas”
“Oh gitu,” Juna menganguk-angguk mengerti.
“Kalau begitu saya permisi dulu bang. saya ada janji temu dengan Letnan Cakra” pamit Alvar dna langsung berdiri.
“Ya sudah kalau begitu, aku juga mau balik keruangan” Juna juga ikut berdiri dari duduknya saat ini.
Mereka berdua langsung pergi dari situ, dan saling melambaikan tangan singakt saat berpisah jalur, Alvar ke kanan dan Juna ke kiri.
....................................................
Dea sedang menyirami tanaman yang ada di depan rumahnya, dia baru membeli bungan dan juga beberapa tanaman yang tengah ia sirami saat ini. karena di rumah dinas Alvar tidak banyak bunga dan juga tanaman jadi dia memutuskan untuk membelinya agar rumah mereka terlihat lebih asri. Saat dia sedang menyirami bunga-bunga ditaman kecil depan rumahnya itu dua orang ibu persit yang kemungkinan seumuran atau maah lebih muda dari Dea tapi wajah mereka tampak masih muda berjalan dan berhenti tepat didepannya.
“Siang mbak Dea,” ucap keduanya menyapa Dea yang tentu saja langsung menoleh kebelakang melihat dua orang itu.
“Eh, Nadine, Indah siang juga. darimana?” sahut Dea tersenyum ramah pada keduanya.
“Oh, mampir Mbak Indah, Mbak Nadin” ucap Dea mempersilahkan mereka untuk mampir kerumahnya.
“Kapan-kapan saja mbak, Kok siang-siang nyiram bunga sih mbak” ucap Indah pada Dea.
“Iya, soalnya tadi saya lupa untuk nyirami mereka”
“Oh iya mbak, ibu-ibu persit mau ada acara bak Dea ikut kan?” ucap nadine yang memberitahu Dea soal agenda para persit lain.
“Kalau boleh tahu acara apa ya?” tanya Dea yang memang dia tak tahu soal itu.
“Loh mbak Dea nggak baca di grub?” heran Nadine.
“Maaf mbak, saya belum masuk di Grub. Kalau boleh tahu Admin Grubnya siapa ya, bisa tolong masukkan saya di situ” ucap Dea.
“Adminya teh mawar sama Bu Kasdim mbak, coba nanti saya bilang sama beliau berdua kalau mbak Dea blum ada di Grub” pungkas Indah.
“Iya makasih ya,”
“kalau begitu kita berdua permisi dulu ya mbak.” Keduanya langsung pamit untuk pergi, Dea sendiri tersenyum rama menanggapinya.
Tetapi saat mereka berdua pergi wajahnya berubah sedih. Dia jadi teringat soal ibunya, ibunya dulu saat masih hidup dia begitu aktif menanyai para prajurit baru yang baru saja menikah dan memasukkan para istri prajurit itu kedalam grub sehingga tahu apa saja kegiatan Persit.
__ADS_1
Tapi saat ibunya tak ada, dan hanya ayahnya sendiri yang jadi Dandim, kepengurusan Persit ada pada istri dari Kasdim. Dan bukannya menjelekkan tapi sepertinya istri Kasdim tidak terlalu aktif bahkan dia saja tidak pernah ditemui untuk di mintai nomer telpon.
“Sudah Dea, tidak boleh begitu setiap orang ada kekurangan” ucap Dea menggeleng, menghilangkan pikiran buruk dari kepalanya. Dan dia kembali menyirami bunganya, untuk menghalau pikira-pikiran aneh-aneh.
.........................................
“Assalamualikum” ucapan salam dari luar membuat Dea yang berada didalam langsung berlari kecil kedepan untuk membukakan pintu rumahnya, yang ia kunci dari dalam. Karena setiap magrib dia akan mengunci pintu rumah. Dan ini sudah selesai magrib, kemungkinan yang datang adalah suaminya yang baru saja pulang dinas.
“Walaikumsalam” jawabnya sambil membuka pintu, dan benar ternyata itu Alvar yang datang. Tidak sendiri suaminya datang bersama dengan adiknya juga.
“Dimas, kok kamu kesini?” ucap Dea saat melihat snag adik yang berdiri dibelakang Alvar.
“Sayang,” ucap Alvar smabil mengulurkan tangannya pada Dea.
“Astagfirulah lupa mas,” Dea langsung mengambil tangan suaminya dan mencium tangan itu.
“Aku mau numpang makan mbak, dirumah nggak ada yang masak. Jadi aku makan disini ya, mbak Dea masak apa?” ucap pria itu smabil mengikuti Alvar yang masuk kedalam lebih dulu setelah Dea mencium tangannya.
“Mbak masak sambal cumi, sama tumis kangkung campur udang.” Jawab Dea.
Dea berjalan mendekati Alvar membantu snag suami melepas baju PDLnya, dna menyisahkan kaos loreng saja.
“Capek mas, mau aku angetin air panas buat mas Alvar mandi?” tanya Dea menatap sang suami.
“Nggak usah sayang, air biasa saja. Mas tolong buatin teh saja, sama Dimas itu juga sekali buatin dia teh”
“Iya mas,”
“Oh iya mas, hari ini ayah jadi ngajak makan malam bareng?” ucap Dea sebelum ke dapur.
“Nggak jadi, ayah masih ada tamu. Kemungkinan besok, makanya aku Dimas makan disini hari ini” jawab Alvar.
“emm, ya sudah mas Alvar duduk saja dulu. aku buatin teh sebentar,” ucap Dea dan langsung berjalan menuju dapur.
“Dimas, cuci tangan dulu baru makan, sama tunggu mas Alvar makan dulu” seru Dea saat melihat adiknya sudah memegang piring.
“yaelah mbak,” Dimas sedikit cemberut, dia benar-benar lapar sekaa suruh menunggu kakak iparnya dulu. tahu sendiri Alvar makannya agak ngaret.
“Kamu makan dulu saja dim, abang nanti sama mbak kamu” Alvar sekana tahu kalau adik iparnya itu memang kelaparan. Dia tak mempermasalahkan kalau Dimas akan makan lebih dulu.
“Makasih bang, hehe. Bang Alvar memang abang terdebest kalau dirumah. tapi beda kalau di tempat dinas,.” Ucap Dimas dan dia semakin kagum dengan iparnya itu, dia begitu profesional di pekerjaan dan saat dirumah bak kakak yang benar-benar mengayomi.
Alvar sendiri langsung duduk di sofa ruang tv, smabil menunggu sang sitri yang sednag membuatkannya teh hangat. Ia memang selalu begitu pulang kerja minum teh hangat karena menurutnya setelah minum teh badannya akan segar kembali.
°°°
T.B.C
__ADS_1