Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 26


__ADS_3

Hampir menjelang malam mobil yang dikemudikan Alvar telah sampai di depan Cafe tempat Dea bekerja dulu.


“Kamu mau ikut masuk atau nunggu di mobil mas?” tanya Dea sembari menatap Alvar yang sudah mematikan mesin mobilnya.


“Aku tunggu disini saja,” jawab Alvar memilih untuk menunggu di dalam mobil saja ketimbang masuk kedalam.


“Kamu serius”


“Iya” jawab Alvar singkat.


“Ya sudah aku turun dulu mas,” Dea mengambil sebuah kantung plastik kecil yang didalamnya ada beberapa undangan pernikahannya yang akan dia berikan pada rekan-rekan kerjanya. Setelah mengambil itu Dea langsung berjalan keluar mobil meninggalkan Alvar yang hanya melihatnya saja dari balik jendela mobil yang sudah di turunkan.


Belum juga Dea masuk kedalam Cafe dia sudah di sambut Gavin lebih dulu, tentu saja Alvar melihat semua itu. ia jadi tak senang melihatnya, ekspresi wajah yang sudah datar dan dingin jadi semakin dingin. Tanpa aba-aba, dia langsung membuka pintu dan keluar menyusul Dea yang tampak berbicara dengan gavin sambil berjalan masuk kedalam Cafe.


“Dea tunggu,” panggil Alvar pada calon istrinya tersebut.


Alhasil Dea dan juga Gavin berhenti melangkah dan melihat Alvar yang berada di belakang mereka. Dea sendiri tampak bingung saat Alvar turun dari mobil dan memanggilnya barusan. Karena pria itu bilang tidak mau ikut kedalam, tapi baru beberapa menit dia turun alvar sudah menyusulnya.


“Loh mas, ada apa?” tanya Dea saat melihat Alvar.


“aku juga ingin masuk kedalam” ucap Pria itu dan langsung berdiri disebelah Dea saat ini. gavin hanya melihatnya saja, dia memaklumi hal itu mau bagaimanapun Alvar pacar Dea.


“Mari masuk” uap gavin mengajak keduanya untuk masuk kedalam Cafenya.


“Kalian mau minum atau makan apa, biar aku minta pegawai ku untuk membuatkannya” ucap Gavin lagi saat mereka sudah berjalan menuju salah satu kursi yang kosong.


“Tidak usah, kita tidak lama-lama disini.” tolak Alvar begitu saja langsung mendapat tatapan dari Dea.


“kenapa, tidak apa aku minta pegawai ku untuk membuatkan minuman saja untuk kalian ya” tukas Gavin.


“Tidak perlu mas gavin, saya hanya sebentar kok. Saya kesini hanya mau memberikan ini buat mas Gavin dan yang lain” ucap Dea yang akhirnya membuka omongan sambil mengambil sesuatu dari dalam kantung plastik kecil tersebut.


Gavin memperhatikan apa yang diambil Dea, begitu juga dengan Alvar yang seperti menyadari kalau Dea mengerti dirinya.


“Ini mas, aku tolong titip buat yang lain juga ya” ucap Dea sambil menyerahkan beberapa undangan tersebut pada gavin.

__ADS_1


“Undangan pernikahan?” ucap Gavin lirih saat melihat itu.


“Iya, itu undangan pernikahanku dengan mas Alvar. Tolong berikan ke yang lain juga ya mas Gavin”


“Iya pasti aku berikan ke yang lain, selamat ya buat kalian berdua” ucap gavin


“Iya terimakasih” jawab Alvar meskipun terdengar acuh menjawabnya.


“ayo mari masuk lebih dulu” ajak gavin pada Dea dan juga Alvar.


“maaf mas, bukannya saya tidak mau masuk. Tapi ini sudah malam, mas Alvar kayaknya juga sudah capek mas. Jadi kita berdua pamit lebih dulu” ucap Dea berubah pikiran untuk masuk.


Alvar yang mendengar itu sedikit terkejut, kenapa calon istrinya menjadi tidak mau masuk padahal tadi dia ingin masuk kedalam.


“Oh” lirih Gavin.


“Kita pamit mas Gavin” ucap Dea dan memberi kode pada alvar dengan lirikan matanya.


Alvar mengerti hal itu, dan dia langsung pamit pada Gavin.


.............................................


Diperjalanan pulang, Alvar sesekali melihat kearah ponselnya saat ini, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka belum juga pulang ke rumah sedari pagi pergi, mau bagaimana lagi mereka pulang dari rumah Heru sudah sore ditambah mampir ke Cafe tempat Dea bekerja meskipun hanya sebentar tapi karena tempatnya yang tak searah membuat mereka masih dalam perjalanan saat ini.


“Kamu ada yang ingin di beli atau tidak?” tanya Alvar pada Dea yang berada disebelahnya.


Dea yang tadi diam langsung melihat kearah Alvar saat ini,


“Nggak, memang mas Alvar mau beli apa?” tanya Dea balik.


“Pengen beli cemilan buat Damar dan Lutfi,” jawab Alvar.


“Damar sama Lutfi?” Dea tampak bingung saat Alvar menyebutkan nama kedua orang itu.


“Kamu ingat Damar sama Lutfi kan? temanku dulu saat pendidikan” ucap Alvar yang melihat kebingungan Dea barusan.

__ADS_1


“Iya ingat mas, mereka kesini?” pungkas Dea.


“hemm, baru datang tadi dijemput bang Azka” balas Alvar.


“Ya sudah mas, beli cemilan untuk mereka siapa tahu buat temen ngobrol kalian nanti” usul Dea pada calon suaminya tersebut.


“kalau gitu nanti kita mampir ke pasar raya dulu yang deket kodim, kamu ngga keberatan kan. sudah bilang bapak atau Dimas belum kalau kita pulang agak terlambat” pungkas Alvar.


“Belum, Tapi bapak sama dimas tahu kok kalau aku keluar sama mas Alvar” ujar Dea.


Alvar hanya mengangguk saja, dia langsung sedikit menaikkan kecepatan mobilnya sekarang agar lebih cepat sampai di Kodim. Pasti abangnya dan dua temannya sudah menunggu dirinya.


Sedari tadi juga Damar terus-terusan mengiriminya pesan dan sesekali mengerjainya dengan menelpon berkali-kali. Tahu sendiri dulu yang paling jahil Damar saat mereka pendidikan.


“Oh iya mas, aku ada roti sama permen kopi. Ini kalau mas Alvar mau permen biar nggak ngantuk” ucap Dea yang baru saja ingat kalau di dalam tasnya ada permen kopi. Ia langsung menaruhnya di anatar dirinya dan Alvar duduk.


“Iya, terima kasih” ucap Alvar melihat sekilas.


“nanti saat sudah menikah, kamu lebih milih kerja atau menjadi ibu rumah tangga?” ucap Alvar sambil mengambil satu permen dan menyerahkannya pada Dea. “Tolong buka kan” pintanya pada perempuan itu.


Dea mengambil permen yang diberikan Alvar agar ia membukakannya,


“Terserah mas Alvar, kalau aku diijinkan bekerja aku bekerja kalau mas Alvar tidak mengijinkan aku bekerja aku jadi ibu rumah tangga saja” jawab Dea dengan bijak. “Ini mas permennya” ucap Dea lagi sambil mengulurkan permen yang sudah ia buka.


“aku sih kurang setuju kalau kamu bekerja, apalagi di tempat kerjamu dulu. bukannya aku tidak percaya denganmu tapi kamu pasti tahu orang-orang yang bekerja bersamamu menjadikanmu dengan bos mereka. Jadi rasanya tak bagus bekerja di sekitar orang-orang yang toxic” ucap Alvar dengan kalimat panjang mengisyaratkan penolakannya engan tegas soal Dea yang kemungkinan akan bekerja lagi di Cafe tempat Gavin.


Dea sedikit tersentak karena ucapan Alvar, pria itu baru kali ini berbicara cukup panjang dan menunjukkan penolakannya.


“Kalau mas Alvar berpendapat begitu, aku akan turuti mas. Bagaimanapun mas Alvar suami ku.” Balas Dea.


Mendengar itu Alvar hanya tersenyum saja sambil melihat sekilas kearah Dea yang membalas kecil senyumnya itu.


°°°


T. B. C

__ADS_1


__ADS_2