Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 22


__ADS_3

Hari ini Alvar dan juga pra senior lain tengah memberikan arahan dan juga persiapan mental pada calon prajurit terpilih untuk menjadi anggota tentara setelah terpilih dalam seleksi beberapa waktu lalu.


Para calon prajurit itu berbaris rapi mengenakan kemeja putih dan juga celana dasar berwarna hitam berdiri tegap melihat ke depan dimana calon pelatih mereka memberikan ucapan-ucapan renungan dan juga cara menjadi seorang prajurit nanti. Bukan itu saja para pelatih juga akan memberikan arahan pada mereka untuk mengikuti seleksi lagi di daerah yang berbeda.


“Kalian siap bekerja dan mengabdi bagi nusa dan bangsa?” tegas Alvar sambil sedikit menekan dada salah satu pemuda yang berada di depannya. Meskipun itu bukan iya tujukan untuk pemuda itu saja.


“Siap,” seru semuanya yang berbaris didepan Alvar.


“Kalian disini hanya mencari kerja atau mengabdi kepada Nusa dan bangsa?” tanya Serka Hoedin, pria paruh baya yang merupakan senior Alvar meskipun jabatan Alvar lebih tinggi darinya.


“Siap mengabdi pada Nusa dan bangsa” seru semuanya dengan lantang.


“Tidak kompak ulangi” tegas Alvar kemudian.


“Ulangi apa yang diperintahkan Letnan Alvar” ucap Hoedin dan juga Serda Guntur.


“Kalian disini hanya untuk mencari kerja atau untuk mengabdi keada Nusa dan Bangsa” tegas Alvar mengulangi ucapannya.


“Siap mengabdi pada Nusa dan Bangsa” seru semuanya dengan lantang dan lebih baik dari sebelumnya.


“Bagus, Serma Hoedin tolong lanjutkan” perintah Alvar pada Hoedin.


“Siap Ndan” jawab Hoedin, dan kini dia menggantikan Alvar memberikan pengarah.


Sedangkan Alvar bejalan kearah pos yang memang saat ini mereka berbaris didekat pos penjagaan.


“Bang Juna,” panggil Alvar pada Juna yang berada di pos itu tengah sibuk menulis di kertas lebar.


“Oy var, kenapa?” sahut Juna dan balik bertanya pada Alvar yang berjalan mendekat kearahnya saat ini.


“Saya nanti mau minta tolong boleh bang?” tanya Alvar pada seniornya itu.


“Minta tolong apa nih, tumben seorang Alvar minta tolong” ucap Juna diselingi candaan.


“Bang Juna nanti nggak tugaskan, saya minta tolong sama abang buat jemput bang Azka sama orang tua saya di bandara bisa bang?” tutur Alvar sambil menatap abang seniornya tersebut.


“Azka mau kesini?”


“Iya, sama orang tua saya juga”


“Ya sudah, nanti saya yang jemput mereka. Berarti bener nih kata Om saya kamu mau menikah secara hukum sama Dea” ucap Juna dan kalimat terakhir dia mengatakannya sedikit pelan agar yang lain tak mendengar.


“Insyaallah iya bang”


“Mantap, abang tunggu undangan kalian.”


“Tapi, abang serius bisa menjemput abang saya dan orang tua saya di bandara”


“Bisa, sayakan cuti hari ini” ucap Juna.


“Terimakasih bang”

__ADS_1


“Sama-sama”


“Kalua begitu saya balik ke sana dulu” pungkas Alvar sambil menunjuk kearah rekan-rekannya yang sedang memberikan arahan pada calon prajurit.


“oke”


Alvar dan Juna langsung berjabat tangan, sebelum Alvar pergi dari hadapan Juna saat ini. alvar langsung berjalan pergi meninggalkan seniornya tersebut, dia harus bergabung lagi dengan para rekannya.


........................................


Juna menepati permintaan Alvar tadi pagi padanya saat ini dia sudah berada di bandara untuk menjemput Azka dan orang tua pria itu. dia menunggu tepat di tempat duduk pintu keluar bandara sambil sesekali memainkan ponselnya.


“bang,” sebuah suara memanggilnya dan mengalihkan perhatiannya saat ini.


Juna langsung menoleh melihat kebelakang arah seseorang yang memanggilnya barusan.


“Eh ka, sudah sampai. Om, Tante” ucap Juna saat melihat rombongan Azka. Juna langsung berdiri dan menghampiri Bara dan juga Jihan untuk mencium tangan kedua orang yang tengah menggendong dua bocah di gedongan mereka.


“bang Juna nunggu dari tadi atau barusan” tanya Azka saat dia sudah menjabat tangan seniornya dulu.


“Barusan,” jawab pria itu. “Om tante, apa kabar” tanya Juna pada kedua orang tua Azka.


“Alhamdulilah kabar kita baik-baik saja, kamu sendiri apa kabar. Saya dengar kamu satu tempat dinas sekarang sama Alvar” jawab Bara dan balik bertanya.


“iya om, baru beberapa minggu ini” jawab Juna. “Wiih, sudah ngisi aja ini.berapa bulan nyonya Azka” ucap Juna beralih pada Kinan yang berdiri disebelah Azka saat ini.


“Baru lima bulan bang” jawab Kinan.


“mari bang” pungkas Azka sambil menarikan koper istrinya.


“mereka semua langsung berjalan kearah mobil yang terparkir agak jauh dari pintu masuk bandara. Mereka saling mengobrol sampai menuju ketempat mobil Juna di parkir kan.


..................................................


Alvar saat ini sedang bertemu dengan Dea, mereka tampak membicarakan sesuatu di meja kantin saat ini.


“Kamu mau ke KUA kapan? Perlu aku antar atau tidak?” tanya Alvar pada Dea yang duduk didepannya.


“kemungkinan besok, sepertinya tidak usah. Aku sendiri saja, hanya mengurus surat keterangan belum menikah saja kan dari KUA”


“Iya,”


“kenapa kamu cuman nyuruh aku untuk ngurus hal itu saja, bukannya berkas untuk pengajuan nikah banyak ya?” heran Dea, karena setahunya berkas-berkas untuk pengajuan nikah itu sangat banyak dan rumit. Tapi kenapa Alvar hanya menyuruhnya ke KUA saja untuk mengurus surat belum menikah.


“Soal yang lain aku serahin sama ayah kamu, kita tinggal buat dokumen tertulis saja”


“Ayah aku?”


“Iya, aku minta tolong sama beliau” jelas Alvar, “kita tinggal mengurus dokumen itu sama nanti kamu tinggal pembinaan mental dan kita menghadap pejabat kesatuan disini. termasuk menghadap ayah kamu nantinya” tukas Alvar memberitahu Dea soal hal itu.


“Kamu serius mau menikah denganku secara hukum?” tanya Dea lirih.

__ADS_1


Alvar langsung mendongakkan kepalanya menatap Dea, keningnya sedikit terdapat guratan menatap Dea tak mengerti.


“Kenapa kamu denganku, masih meragukan diriku selama bebera..” tukas Alvar dengan nada bicara tidak bersahabat.


‘Bukan,bukan, maaf kalau kamu tersinggung. Aku, aku hanya tidak percaya saja kalau kita benar-benar akan menikah sebentar lagi” sela Dea sambil memegang tangan Alvar, supaya pria itu lebih tenang.


“Kita sudah menikah dari dulu, kita hanya meresmikannya saja. Jadi untuk apa kamu tak mempercayai hal ini. yakin dan percaya padaku kalau aku benar-benar ingin bersamamu” ucap Alvar, pria itu berbicara dengan sanga yakin dan bicaranya sedikit lebih panjang tak sesingkat biasanya. Tangannya terus mengusap lembut jemari tangan Dea menatap perempuan itu penuh cinta. “hari ini orang tuaku dan kakakku kemari,” lanjut Alvar memberitahukan soal kedatangan orang tua dan kakaknya.


“Mereka kemari, bukannya masih beberapa hari lagi mereka akan kesini” kaget Dea, karena setahunya orang tua alvar datangnya masih beberapa hari lagi tapi kenapa hari ini sudah datang.


“Kapan aku bilang begitu, mereka datang hari ini dan bang Juna yang menjemput mereka”


“Aku takut,” lirih Dea.


“Takut kenapa, tidak perlu takut”


“Aku, aku harus bersikap bagaimana. Aku agak,.” Ucap Dea terhenti karena dia bingung harus mengutarakan ekspresinya bagaimana nantinya.


“Tidak perlu canggung dengan mereka, bundaku sayang denganmu. Selama ini bunda selalu menanyakan kabarmu, mereka pasti senang kalau kamu sudah mengingat mereka. Apalagi Kinan, dia juga pasti senang saudara iparnya sudah ingat semua. Sudah tidak perlu mengkhawatirkan hal itu” tukas Alvar menenangkan Dea yang merasa gelisah sendiri akan bertemu dengan orang tuanya.


“Habis ini kamu mau kemana?” tanya Alvar.


“Aku mau bertemu temanku di Cafe, dia mengajakku untuk ketemu”


“Siapa? Gavin? Tidak usah kau temui dia lagi” ucap Alvar dengan tajam.


“Bukan, tapi rekan kerjaku”


“Aku antar” tawar Alvar.


“Tidak perlu, aku bisa ke sana sendiri. kamu bukannya masih ada tugas hari ini, aku pergi sendiri saja”


“Ya sudah, nanti kabari aku lagi. Aku kembali ke camp dulu, kamu masih mau disini atau mau langsung pergi”


“Aku langsung pergi,” jawab Dea yang juga langsung berdiri saat Alvar berdiri.


“Ya sudah hati-hati di jalan, aku pergi dulu” ucap Alvar, tetapi sebelum pergi dia tiba-tiba saja mendekati Dea dan mencium kening Dea saat ini.


Apa yang dialkukan Alvar itu seketika membuat Dea terpaku di tempatnya, menatap Alvar perlahan. Tanpa di duga dia cegukan saat melihat manik mata Alvar yang menatapnya.


Alvar malah menunjukkan senyum manisnya melihat itu,


“Kenapa kamu melakukannya, ba..bagaimana kalau ada yang melihat kita” gugup Dea


manisnya.


“Biarkan saja, aku duluan” pamit Alvar dan langsung pergi sambil diselingi senyum kecil nan manisnya.


Sedangkan Dea melihat kanan kiri, takut kalau ada yang memergoki mereka. Dia takut kalau ada orang yang berpikiran yang tidak-tidak pada mereka, karena bagaimanapun hubungan mereka tidak ada yang mengetahuinya.


°°°

__ADS_1


T. B. C


__ADS_2