Perjalanan Cinta Prajurit

Perjalanan Cinta Prajurit
Ep 34


__ADS_3

Malam sudah larut, Alvar terbangun dari tidurnya setelah apa yang dia dan Dea lakukan sore tadi. Dia melihat Dea yang terlelap disampingnya perlahan Alvar menaikkan selimut Dea agar tubuh perempuan itu tidak terlalu terekspos.


Setelah itu Alvar langsung melihat kearah nakas meja, melihat ponselnya yang ternyata masih menunjukkan jam sembilan malam. Nama Azka tampak pada layarnya itu, Alvar mengernyitkan dahinya saat melihat nama kakaknya yang baru saja menghubungi dirinya tadi.


“Bang Azka,” gumamnya saat melihat nama itu.


Alvar menurunkan kakinya untuk mengambil celana pendeknya yang berada di lantai, sehabis itu ia memaki celan itu perlahan di tempat tidur agar tidka membangunkan Dea yang masih nyenyak. Kemungkinan perempuan tersebut kelelahan karena melayaninya barusan.


Sedudah memakia celananya Alvar langsung berdiri, sambil memegang ponsel miliknya berniat menghubungi kakaknya menanyakan kenapa pria itu menghubungi dirinya tadi.


Alvar berjalan sedikit menjauh lebih tepatnya ke arah kursi yang berada didekat jendela saat ini


Dia mendudukan dirinya dengan menyilangkan kaki, menekan nomor Azka, setelah meekan nomor itu Alvar segera mendekatkan ponselnya ketelinganya smabil menunggu panggilan di jawab di seberang sana.


“Walaikumslaam bang,” ucap Alvar saat panggilan di sana sudah di angkat.


“Aku nelpon karena bang Azka yang nelpon aku duluan tadi, kenapa bang?” jelas Alvar pada abangnya tersebut.


“Abang tadi sebenernya mau ngomong sesuatu sama kamu”


“Nomong apa bang,?”


“Soal mbak Nura, tapi nggak jadi. Sudah abang bahas sama bang Radit”


“Kenapa mbak Nura?”


“Nggak pa-pa sih, dia cuman ngadu ke Pakde soal kamu terus pakde kerumah tadi.”


“Bilang apa pakde?”


“Cuman bilang soal Damar yang suruh nemuin Pakde Banu”


“Damar? Kenapa Damar harus nemuin pkade Banu. Pakde tahu darimana soal Damar?” Alvar sedikit terkejut saat dia emndengar kalau pakdenya tahu mengenai Damar padahal dia tidak pernah cerita soal rekannya itu.


“Dari abang, abang yang bilang sama pakde soal Damar. Mbak Nura kayaknya jga suka deh sama Damar?”


“Mbak Nura tuh buakn suka sama Damar, tapi cuman mempermainkan aja. Terus ngapain Pakde Banu nyuruh buat nemuin dia”


“abang kurang tahu, tapi Damar suruh Ke Jakarta sama ornag tuanya langsung temuin pakde.”


“Suruh ngelamar gitu maksudnya?”


“Maybe” jawab Azka

__ADS_1


“kamu tadi darimana, kenapa jam segini baru nelpon?” tanya Azka


“Main bola” jawab Alvar singkat dan dia melihat sekilas kearah Dea yang masih tidur.


“Main Bola lama banget, ada lapangan memang di situ”


“hemm, yaudah kalau nggak ada yang dibahas lagi bang. aku mau istirahat besok aku balik” ucap Alvar hendak mengakhiri panggilannya.


“Ya sudah kalau gitu, sampai ketemu besok” pungkas Azka diseberang sana, dan panggilan langsung terputus.


Sesudah mengobrol dengan Azka barusan, Alvar langsung berdiri dan berjalan kearah tempat tidurnya. Dia akan kembali tidur, karena besok pagi dia harus buru-buru pulang kerumah orang tuanya beres-beres dan setelah itu sorenya baru pulang ke Jogja.


.................................................


Pagi sudah menyapa, Dea mengerjapkan matanya saat melihat sinar matahari yang menerobos masuk dan mengenai wajahnya saat ini. Dia mengucek matanya, sambil melihat ke arah sinar matahari itu dan melihat di smapingnya yang sudah kosong membuat dirinya sedikit terkejut karena tak mendapati sosok suaminay disitu.


Ia langsung mendudukkan dirinya tegap sambil memegangi selimut yang menutupi tubuh polosnya,


“Astaga aku kesiangan” ucapnya sambil melihat kesana kemari siapa tahu Alvar masih ada di dalam kamar. Dia juga malu kalau sampai suaminya ada di kamar, bagaimana tidak malu setelah kejadian semalam.


“Mas Alvar kemana ya,?” gumamnya sambil perlahan menurunkan kakinya, tentu saja dnegan selimut yang menggulung rapat di tubuhnya.


“Arkh,” rintihnya menahan sakit saat dia akan melangkah, rasa sakit begitu terasa pada bagian pusatnya.


Baru saja dia berjalan beberapa langkah pintu kamar terbuka, refleks dia langsung melihat kearah pintu tersebut.


“kamu sudah bangun?” tanya Alvar yang baru saja masuk kedalam kamarnya dan melihat sang istri yangterbungkus selimut tengah berjalan kearah kamar mandi.


“Su..sudah mas, mas Alvar darimana?”


“Ini aku ambil sarapan untuk kita berdua” Alvar menunjukkan yang dia bawa pada istrinya, makanan dari resort untuk sarapan mereka berdua. Alvar berjalan kearah meja yang tidak jauh dari tempat Dea berdiri. Dirinya menaruh makanaan yang dia bawa diatas meja itu.


“Kok kamu repot-repot sih mas, aturan kamu bangunkan aku bair aku saja yang mengambilnya” tukas Dea yang merasa tak enak pada suaminya.


“Aku kasih padamu, santai saja aku tidak masalah mengambilkannya untuk istriku” balas Alvar dna menatap Dea, da berjalan mendekati perempuan itu yang menelan ludahnya saat suaminya perlahan mendekat kearahnya.


Tanpa aba-aba sama sekali Alvar langsung menggendong Dea, dan sontak membuat perempuan itu terkejut, matanya melebar menatap wajah Alvar yang menggendongnya.


“Mas, turunkan aku” ucap Dea pada Alvar.


“Kamu mau mandikan? Biar aku gendong” singkat Alvar sambil berjalan menuju kamar mandis ambil membopong sang istri.


Dea hanya bisa diam tak berkutik saja, degupan jantungnya begitu terasa. Pesona Alvar saat ini begitu memabukkan membuatnya gugup saja.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu malu atau sungkan dengan suamimu sendiri,” ucap Alvar smabil berjalan.


“Aku bukannya malu mas, tapi..” ucapan Dea menggantung untuk mengatakannya.


“Tapi apa?” tanya Alvar.


“nggak” elak Dea menggelengkan kepalanya,


“Sudah, kamu mandi dulu.” Alvar langsung menurunkan Dea saat mereka sudah sampai di dalam kamar mandi,


“Terimakasih soal semalam” ucap Alvar sebelum keluar dia mengecup kening istrinya lembut.


“Sama-sama mas” senyum Dea mengembang


“Aku keluar dulu,” pamit Alvar dan langsung pergi dari situ, Dea hanya mengangguk dan ia segera menutup pintu kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


...........................................


Jihan tengah berada di dlam kamar Alvar, dia membereskan baju ananya itu dan juga baju dari menantunya.


“Dek mas berangkat dinas dulu ya, kamu ngapain di kamar Alvar?” ucap Bara yang hendak pamit pada istrinya untuk berangkat dinas.


“Ini, bantu Alvar beresin baju dia. nantikan mereka habis pulang dari kepulauan seribu mau balik Jojga mas, jad aku bantu biar mereka nggak buru-buru” jawab Jihan.


“Oh,”


“Kamu tadi bilang mau bernagkat dinas kan, sekalian anterin Bian sama Runa ke sekolah ya mas. Soalnya Azka kan sudah berangkat duluan tadi”


“Iya siap,”


“Oh iya mas nanti ada urusan di Kodim, sama Azka kan katanya piket kan. Alvar nanti suruh jemput adiknya ke sekolah ya mas nggak bisa jemput”


“Iya nanti Alvar aku suruh jemput Bian sama Aruna. Sudah mas sana kamu bernagkat nanti kesiangan. Sarapan dulu deng baru berangkat, Kinan tadi sudah siapin sarapan”


“Iya”


“Satu lagi dek, mas kan kemarin beli burung nah itu Alvar suruh bawa ke Jogja buat Fahrul. Dia suka ngoleksi burung soalnya, ada di garasi ya dek” pesan Bara pada istrinya.


“Iya nanti kalau Alvar pulang aku sampaikan”


“Ya sudah mas kebawah dulu,” Bara langsung berjalan keluar setelah pamit pada snag istri sednag Jihan menutup koper Alvar dan meminggirkannya ketepi ranjang. Dia akan menyusul suaminya yang kebawah menemani Bara sarapan, dan melihat kedua anaknya yang masih kecil-kecil sudah siap belum untuk berangkat sekolah.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2