
Alvar hari ini mengajak Dea ke kepulauan seribu, mereka akan menginap semalam di penginapan yang ada di situ. Karena besok mereka sudah kembali ke Jogja sedangkan mereka berdua belum menghabiskan waktu berdua setelah menikah. Banyak saja gangguan dan halangan yang mengganggu mereka untuk hanya berdua saja, kemarin mereka ingin pergi tetapi karena mood Alvar yang sedang tidak bagus mereka gagal pergi.
Alvar tidak mood kemarin karena bundanya yang menceramahi dirinya karena Nura, yap bundanya marah padanya karena kakak sepupunya itu yang mengadukan dirinya sehingga bundanya pulang kemarin dia di marahi habis-habisan bak anak kecil padahal dia bukan anak kecil lagi.
“Kamu nggak takutkan naik perahu begini?” tanya Alvar menanyai sang istri yang sedari tadi duduk diam sambil memegangi lengannya kuat.
“Nggak kok mas” ucap Dea sambil melihat suaminya yang duduk disebelahnya saat ini. jujur sebenarnya dia takut sih melihat laut yang tepat disebelahnya. Apalagi orang yang mengemudikan perahunya cukup kencang sehingga membuat percikan air laut mengenai dirinya.
Di perahu tidak hanya mereka berdua saja ada beberapa orang yang naik perahu bersama dengan mereka. Mereka-mereka juga ingin menyebrang ke salah satu pulau yang cukup terkenal dengan wisatanya.
“bilangnya nggak takut tapi kok pegangannya kenceng begini” Alvar melihat tangan Dea yang mencengkram kuat lengannya sambil melempar senyum pada perempuan tersebut.
“Nggak mas, aku nggak takut kok. Ya ka..kalau aku nggak pegangan gimana?” elak Dea, dia malu saja untuk mengakui kalau dirinya takut. Soalnya banyak orang yang berada satu perahu dengannya.
“Sini,” Alvar menarik Dea semakin dekat dan mendekap perempuan tersebut. “Bagaimana? Masih takut?” pungkas Pria itu.
“mas, nggak enak dilihat orang” Dea merasa gugup dan tak enak dengan yang lainnya.
“Biarin, kita hidup-hidup kita. Kenapa mentingin orang lain,” bisik Alvar ditelinga Dea.
“maaf pengantin baru ya,?” tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang duduk di belakang mereka bertanya begitu.
Refleks pasangan suami istri itu langsung menoleh kebelakang melihat ibu-ibu yang dudu dengan dua orang perempuan lain disebelahnya.
“Bukan” jawab Alvar singkat,
“Oh, ibu kira pengantin baru soalnya romantis banget dari tadi ibu lihat” ucap ibu tersebut.
Alvar hanya menanggapi dengan senyum tipis begitu juga Dea yang tersenyum canggung. Dan Alvar langsung memberi kode pada Dea agar melihat ke depan lagi. Mereka berdua melihat ke depan lagi tanpa memperdulikan ibu-ibu tadi.
............................................
“Mas Banu kok tumben main ke rumah ku, ada apa mas?” tanya Jihan yang membawakan kopi untuk kakaknya yang baru saja datang. “Mau ketemu mas bara ya? Tapi mas bara lagi nggak di rumah mas” ucap Jihan yang sudah duduk di depan kakaknya.
“Mas kesini bukan mau ketemu Bara tapi mau ketemu Alvar sama Azka, mereka berdua ada?” ucap Banu sambil mengambil kopi dan menyeruputnya.
“Alvar pergi sama istrinya ke pulau seribu, kalau Azka ada di belakang mas. Ada apa ya?” tanya Jihan penasaran.
__ADS_1
“mas ini kan udah tua, pengen cepat nimang cucu. Tapi kamu tahu sendiri Nura bagaimana, nah kemarin mas tanyain dia, dia malah marah sambil nyebut-nyebut nama Alvar sama Azka.” Jelas Banu
“Nyebut-nyebut gimana ya mas,?”
“Dia bilang kalau aku nyuruh-nyuruh Alvar sama Azka buat marahin dia, padahal aku nggak nyuruh Alvar atau Azka. Soal aku yang nyuruh Nura cepat nikah juga itu demi kebaikan dia daripada dia gonta-ganti pasangan”
“Kemarin Nura kesini terus dia ngadu ke aku kalau Alvar ngomong panjang lebar sama dia. tapi Alvar sudah aku marahi kok mas”
“Loh pakde, tumben kesini” ucap Alvar yang berjalan dari belakang bersama sang istri. “Sayang tolong ambilkan jus ku yang ada di kulkas ya dan bawa ke depan” ucap Azka pada istrinya yang berdiri di sampingnya saat ini.
“Iya, sana kamu gabung sama bunda sama pakde kamu. aku ambilin jusnya”
Azka langsung berjalan menghampiri bunda dan pakdenya yang ada di ruang tengah, jarang sekali kakak bundanya itu datang ke rumah mereka. Biasanya mereka yang datang ke rumah pakde nya sekalian melihat nenek dan kakeknya.
“Pakde kesini sebenarnya ada perlu sama kamu sama Alvar juga, eh Alvarnya lagi bulan madu.”
“maklum pakde kan mereka pengantin baru” balas Azka sambil tersenyum dan dia langsung duduk di sofa sebelah pakdenya.
“Ya sudah kamu temani pakde kamu , bunda mau siapin baju buat ayah kamu kalau dia pulang” pinta Jihan sebelum pergi.
“Iya bun”
“Pakde bisa aja, biasa aja ini pakde. Alvar yang ebih kekar, sama ayah tuh udah tua tapi masih berotot” ucap Alvar yang merendah saat di sanjung.
“Merendah aja kamu” kekeh Banu.
“Oh iya ada perlu apa pakde sama aku sama Alvar.”
“Gini Pakde mau tanya saja sama kalian, mbakmu itu kemarin pulang marah-marah saat pada tanya soal Nikah. Dia malah ngait-ngaitin sama kalian berdua, memang Alvar ngomong apa sama kamu pernah ngomong apa sama dia”
“Soal itu pakde, gini loh pakde aku memang pernah marahin mbak Nura bukan aku aja yang marah sama dia tapi bang radit juga. terus kemarin aku denger Alvar nasehati mbak Nura soal pacarnya sama soal Damar. Tapi aku kurang tahu lebih jelasnya apa yang Alvar bilang”
“Pakde malah senang sih soal kamu atau Alvar nasehatin mbak mu, habisnya pakde juga bingung sama dia. belum lama ini dia di lamar orang nggak mau, terus pakde malah denger dia pacaran sama seniornya Radit udah enam bulan ini.”
“Pakde memang nggak tahu Mbak Nura pacaran sama seniornya bang radit?”
“Nggak, lah dia bilangnya nggak mau anggota kan. nah pakde pikir mereka cuman temen karena cowok itu sering ke rumah sama Radit tahunya pacaran terus pakde tanya kejelasannya sama mbak mu malah mbak mu marah-marah sama pakde” “Oh iya tadi kamu bilang Damar< Damar siapa ya?”
__ADS_1
“Damar itu rekan ku sama Alvar di Akmil dulu, dia suka sama mbak Nura. Tapi mbak Nuranya nggak suka sama dia pakde, nah yang aku aneh dari mbak Nura sudah bilang nggak suka tapi masih nanggepin dan buat Damar semakin berharap sama dia. sampai tahu nggak pakde dia ngajak mbak Nura serius dengan syarat mbak Nura nunggu dia selesai pendidikan tapi mbak Nura nolak mentah-mentah alasannya dia nggak mau jadi istri anggota. Yang lebih parahnya lagi rekanku itu ngelepasin hal perbedaanya demi sama dengan mbak Nura pakde. Apa nggak parah banget mbak Nura mainin perasaan orang cowok lagi yang dia mainin” pungkas Azka mengeluarkan uneg-unegnya pada pakdenya itu.
“Masa mbak mu begitu, “ banu tampak tak percaya dengan sikap anaknya.
“Iya pakde, ngapain aku bohong. Makanya aku sama Alvar agak sensi sama Mbak Nura yang ganti-ganti pasangan. Maaf ngomong aja ya pakde, aku risih lihat mbak Nura begitu”
“denger kamu ngomong rasanya pakde pengen ceramhi mbak mu panjang lebar, soal Damar itu..anaknya bagaimana baik atau nggak”
“Anaknya sih kayak aku gini pakde agak jahil dikitlah, tapi dia kalau sudah cinta sama cewek aku bisa jamin baiknya kayak apa.”
“Oh gitu, kalau begitu kamu bisa deketin dia ke mbak mu lagi”
“Aku sih bisa pakde, karena anaknya kayaknya masih cinta sama mbak Nura. Tapi nggak tahu mbak Nuranya gimana, semoga aja habis di marahi Alvar kemarin dia bisa terbuka. Aku sama Alvar nih kalau sudah satu frekuensi berarti memang baik cowok itu, kita juga kasihan pakde sama Damar. “
“Coba kamu atau Radit tanya soal Damar ke mbak mu, habis itu kalau jawaban mbak mu memuaskan kalian. Suruh pria yang namanya Damar itu temuin pakde di Jakarta. Kalau bisa sama keluarga sekalian. Dia angkatan kan? tugasnya dimana?”
“Ini bagaimana maksudnya pakde? Pakde setuju sama Damar. Tapi kan aku belum taunya sama mbak Nura”
“Kan pakde bilangnya kalau jawaban mbak kamu memuaskan, dia tentara kan? Tugasnya dimana?”
“Dia tugasnya di Medan sekarang pakde,”
“Ya sudah nanti bilang sama dia suruh temui pakde di Jakarta”
“Siap pakde,tapi nanti kalau mbak Nura marah-marah gimana pakde. Sama Lavar yang dekat sama dia aja dia marah-marah nggak jelas katanya. Apalagi sama aku atau bang radit yang omongannya kasar”
“Ya justru itu pakde suruh kamu atau Radit buat ngomong sama mbak mu, kalau kalain sudah ngomong kan dia nggak berani banyak jawab aneh-aneh”
“Oke, aku nyusun strategi dulu sama bang radit buat ceramahin Mbak Nura”
“Pokoknya pakde serahin ke kamu masalah mbak mu itu, pakde aja kaget denger mbak mu suka mainin laki-laki begitu”
“Oke,”
“Oh iya mana istriku ini, aku suruh ngambil jus kok nggak datang-datang jusnya” ucap Alvar sambil melihat kearah dapur yang tak ada sang istri yang entah kemana.
°°°
__ADS_1
T.B.C