
Alvar turun dari mobil diikuti oleh Dea yang juga turun, Alvar segera menuju pintu belakang untuk mengambil oleh-oleh yang telah mereka beli sebelumnya untuk keluarga Heru.
“Sini aku bantu mas” ucap Dea yangs udah berdiri disebelah Alvar saat ini.
“tolong ya,” ucap Alvar yang memberikan keranjang buah pada Dea, dia mengambil beberapa paper bag dari dalam mobil.
“Kamu bawa ini saja, ini lebih ringan” ucap Alvar yang balik membawa keranjang buah yang cukup besar dari tangan Dea dan menggantinya dnegan beberapa paperbag yang dirasa cukup ringan.
“Udah nggak pa-pa aku bawa ini saja mas” tolak Dea, dia sedikit menjauh saat Alvar akan menukarnya.
“Kamu serius?” Alvar merasa tak tega saja.
“Iya,”
Alvar langsung menutup pintu mobilnya, karena Dea tak mau menukar barang bawaan mereka saat ini.
“Sudah, biar aku saja yang bawa keranjang buahnya” Alvar memaksa dan mendekati Dea saat dia sudah selesai menutup pintu mobil.
“Tapi ini nggak be..”
“Bisa tidak, kamu tidak usah menolak semua yang aku ingin lakukan” tegur Alvar langsung membuat Dea terdiam. Dea lagi-lagi merasa bersalah pada Alvar karena pria itu kembali menegurnya lagi.
Dengan lemah, dan mau tak mau Dea menyerahkan keranjang buah didepan Alvar. Alvar langsung menyerahkan Paperbagnya pada Dea saat dia sudah menerima keranjang buah tersebut.
“Ayo masuk,” ajak Alvar pada Dea.
Dea mengikuti langkah Alvar dnegan pelan, meskipun mereka berjalan beriringan saat ini.
“Kamu nggak usah malu atau sungkan disini, mereka orangnya baik-baik” tutur Alvar memberitahu Dea soal keluarga Heru.
“Iya mas” jawab Dea pelan,
.................................................
“Akhirnya nyusul abang kamu juga ya var, ibu senang dengernya” ucap istri Heru saat dia melihat undangan di tangannya.
Alvar hanya tersenyum saja menanggapinya,
“Udah bu, nggak usah ngobrol dulu siapin makanannya dulu sana” pinta Heru pada sang istri.
“Iya, iya pak. Aku kan kangen sama anak bujang kita ini, sudah lama nggak main ketempat kita” jawab istri Heru.
“Maaf kalau saya jarang main kesini” ucap Alvar yang merasa tak enak saja.
“Ibu kamu nggak usah didengerin var, namanya juga dinas gimana bisa main. Alvar banyak pekerjaan bu, jadi nggak bisa main leluasa” ucap Heru pada Alvar dan beralih menasehati sang istri.
__ADS_1
“Ini nak Dea pacar kamu dulu ya, yang sering abang kamu ceritain sama bapak” ucap Heru beralih menatap Dea setelah istrinya pamit untuk pergi.
“Iya pak” jawab Alvar diselingi senyuman, dan sesekali melihat kearah Dea. Dea sendiri terlihat tersenyum canggung.
“Dia anaknya pak Fahrul, pak. Rekan ayah dulu,” ucap Alvar lagi memberitahu Heru.
“Oh, iya ya. Anak Letkol Fahrul. Bapak kok lupa ya” ucap Heru, dia menepuk jidatnya sendiri karena sedikit lupa kalau Dea adalah anak Fahrul.
“Maaf ya nak Dea, bapak lupa sama kamu. kalau kamu anak Fahrul” ucap Heru pada Dea.
“Iya tidak apa-apa pak” jawab Dea lirih.
“Besok Bapak datang kan ke pernikahanku, ajak mbak Shofie sama mbak Rani juga pak” ucap Alvar.
“Bapak pasti datanglah, masa anak bapak mau nikah bapak nggak datang. Tapi kalau mbak-mbak kamu kayaknya nggak bisa datang var, mereka berdua ikut suaminya semua” tukas Heru pada Alvar.
“ikut suami semua, bukannya yang ikut suami cuman mbak Rani pak, mbak shofie kan tinggal disini” heran Alvar karena setahunya anak Heru yang bernama Shofie tinggal di rumah ini.
“Shofi, ikut suaminya ke rumah mertuanya di Palembang, baru dua hari di sana. Jadi kayaknya belum bisa pulang waktu kamu nikah. Tapi nggak tahu juga deng, nanti bapak tanyain ke dia” jelas Heru.
“oh, kalau gitu sampaikan saja salam ku buat mbak Shofie sama mbak Rani pak.buat suami-suami mereka juga, terutama bang Guntur” ucap Alvar berpesan pada bapak angkatnya tersebut.
“Pasti bapak salamin”
“Minumnya diminum var, nak Dea” lanjut Heru mempersilahkan Alvar dan juga Dea untuk minum.
“Kalian minum aja dulu ya, sambil itu cemilannya dimakan. Bapak ke dapur dulu nyusul ibu kamu, kok lama banget nyiapin makanan” ucap Heru yang pamit pergi pada kedua sejoli tersebut.
“Habis ini mau ke makam ibu kan, sesudah dari makam ibu mau kemana lagi?” tanya Alvar yang membuka suara saat mereka tengah berdua saat ini.
“Kayaknya nggak jadi ke makam ibu dulu deh mas, kita besok saja ke sana. Kita kemalaman kayaknya nanti” jawab Dea sambil melihat Alvar.
“Terus mau kemana?”
“Terserah mas Alvar saja, mau kemana. Aku ikut saja mas” jawab Dea.
“Teman-teman kamu di Cafe, mau kamu kasih undangan atau tidak?” tanya alvar sembari menatap Dea.
“Pengennya sih aku kasih mas, tapi tergantung mas ngijinin aku atau nggak” ucap Dea menatap manik tajam mata Alvar.
“Aku kasih ijin, kenapa juga aku harus ngelarang kamu ngasih ke mereka. Bagaimanapun mereka teman dan bos kamu” putus Alvar dnegan bijak. Karena untuk apa juga dia melarang toh Dea juga akan menjadi miliknya meskipun bos Dea di Cafe menyukai calon istrinya itu.
“Syukur, kalau mas Alvar ngasih ijin”
__ADS_1
“Ya sudah habis dari sini kita ke Cafe tempat kamu kerja dulu, kita kasih undangan ke mereka” ucap Alvar.
................................................
“Sayang, aku ijin keluar dulu ya. Ayah bunda aku ijin keluar ya” ucap Azka yang baru saja keluar dari kamar milik Alvar. Dia menghampiri kedua orang tuanya dan juga Kinan yang tengah duduk di meja makan.
“Mau kemana sih, malem begini keluar” Kinan berbicara dengan manja sambil mendekati sang suami yang sudah rapi.
“Iya bang, kamu mau kemana?” tanya Jihan yang juga penasaran mau keluar kemana anaknya itu di kota orang.
“Jangan manja gitu dong, jadi nggak tega aku mau ninggalin kamu” ucap Azka sambil mengusap pelan rambut Kinan yang sudah bergelayut manja di lengannya.
“Kamu nggak di Jakarta, nggak disini sama aja tukang kelayapan. Istri kau hamil kamu tinggali terus” omel Bara yang tadinya sibuk dnegan koran langsung beralih menatap Azka.
“Bukannya gitu, yah bun. Aku mau ke bandara jemput Lutfi sama Damar” jelas Azka.
“Lutfi sama Damar kesini, ngapain? Mereka nggak dinas apa” ucap Bara.
“Mereka diundang Alvar katanya, terus Lutfi juga sekalian mau kasih undangan pernikahan dia ke Alvar” jelas Azka.
“Ya sudah sana bang buruan jemput mereka, kasihan jauh-jauh dari Medan” ucap Jihan.
“Aku ikut ya mas,” ucap Kinan.
“Nggak usah ya cil, kamu di rumah aja sama ayah sama bunda aku pergi sama bang Juna sama Dimas juga kok” ucap Azka melarang sang istri untuk ikut.
“Pokoknya ikut aku, aku pengen jalan-jalan mas” rengek Kinan yang bersi keras ingin ikut.
“Sudah ajak saja istri kamu, istri pengen ikut apa salahnya bang” ucap Jihan.
“ya boleh aku, ayo. Ambil jaket dulu sayang, nanti kedinginan’ ucap Azka pada Kinan dan mengingatkan perempuan itu untuk mengenakan jaketnya.
“Oke, mas aku ambil jaket dulu” Kinan langsung girang tanpa sadar dia langsung sedikit berlari ke kamar saat.
“jangan lari-lari bisa nggak” seru Azka saat melihat istrinya yang berlari kecil ke kamar.
“Yah, kapan kita nyewa mobil, kalau ayah nggak nyewa-nyewa aku sewa sendiri loh” ucap Azka beralih pada ayahnya.
“Ya kamu tinggal sewa aja kenapa bang, sudah besar nunggu ayah yang sewa. Ayah besok mau sewa waktu kita mau ke rumah Heru” ucap Bara.
“hemm,” jawab Azka dan langsung berjalan ke depan menunggu Juna dan juga
__ADS_1
°°°
T. B. C