
Alvar membuka gorden yang berada di resort mereka, pemandangan dari balik jendela langsung mengarah kearah laut yang cukup indah. Ketika sunset bisa terlihat dnegan cukup jelas semakin memanjakan mata saja dikala sore.
“Kamu suka dengan tempat ini?” tanya Alvar berbalik melihat Dea yang tengah membongkar koper di atas tempat tidur.
“Suka mas” jawab Dea sambil melihat kearah Alvar yang berjalan kearahnya.
“Sudah tidak usah kamu bongkar semua barang-barangnya, taruh saja di koper” ucap Alvar melarang sang istri untuk mengeluarkan semua barang-barang mereka dari dalam koper.
“kan biar muda kita ngambilnya mas,” balasa Dea.
“Mau jalan-jalan?” tanya Alvar berniat mengajak istrinya untuk jalan-jalan menikmati deruan ombak serta semilir angin pantai.
“Boleh mas, aku juga pengen lihat-lihat sekitar” Dea mengiyakan ajakan Alvar barusan, dia sendiri juga ingin untuk jalan-jalan. dia belum pernah ke kepulauan seribu jadi dia ingin melihat salah satu pulau yang indah ini.
“Ayo itu taruh disitu saja barang-barangnya” Alvar langsung bergegas menggandeng tangan Dea mengajak perempuan tersebut untuk keluar menikmati alam pantai yang begitu menyegarkan mata dan pikiran.
“Sabar mas, ini bagaimana” ucap Dea yang melihat antusiasnya Alvar.
“Sudah biarkan saja” Alvar menarik pelan Dea agar cepat keluar bersamanya
Mereka berdua langsung berjalan keluar dari resort dengan Alvar yang teramat antusias mengandeng tangan Dea.
Saat sudah sampai di tepi pantai, Alvar masih setia menggandeng tangan Dea bahkan kini dia membawakan sepatu milik perempuan yang dia cintai itu berjalan berdua menyusuri tepi pantai.
“Kamu apsti nunggu kita begini lama banget ya mas?” ucap Dea yang mulai membuka suaranya sambil berjalan disebelah Alvar.
“Bukan lama lagi,” sahut Alvar sambil tersenyum.
“Aku minta maaf ya, kalau kamu nunggu aku lama. Akunya malah muter-muter nggak jeas soal perasaanku dulu” Dea merasa bersalah atas semua itu apalagi soal ingatannya saat dia yang tidak percaya diri untuk menjadi pasangan Alvar bahkan dia terkesan mempermainkan perasaan Alvar.
“Aku nggak masalah soal itu, sekarang kamu sudah jadi milikku” Alvar berhenti melangkah dan otomatis Dea juga ikut berhenti.
__ADS_1
Alvar menaruh septu Dea pelan di atas pasir, dan dia langsung membenarkan hijab yang dikenakan Dea saat ada rambut yang terlihat.
Dea terpaku dengan perlakuan manis Alvar, padanya kini.
“Mas Alvar kenapa nunggu aku begitu lama padahal banyak perempuan yang suka denganmu mas, dan kenapa hanya padaku mas Alvar tersenyum manis seperti ini” Dea yang terpaku melihat senyum manis Alvar membuat kalimat itu keluar dari mulutnya.
“Ya karena cintaku itu kamu, sebuah senyuman dan perlakuan manis akan muncul dengan sendirinya pada orang yang dia cintai. Ayo jalan lagi, kita duduk di kursi itu” ucap Alvar dna mengambil sepetu Dea serta menggandeng perempuan itu lagi mengajaknya ke arah kursi yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.
Dea melhat tangan Alvar yang menggenggamnya erat, dia tersenyum kecil melihat hal itu.
.......................................................
Waktu di pantai terasa begitu cepat padahal Alvar dan Dea sepertinya baru saja keluar ntuk bersenang-senang di pantai hari sudah sore saja. Pantai yang tadinya begitu terang benderang kini berubah menjadi sedikit gelap dan sedikit suara yang bergemuruh. Langit sore tengah mendung membuat Alvar dan Dea terpaksa harus kembali ke penginapan mereka.
“Mas ini handuknya, kamu mandi dulu saja” Dea memberikan handuk yang baru saja di ambil dari dalam kopernya pada Alvar.
Alvar yang baru saja membuka kopernya langsung duduk di tepi tempat tidur sambil menerima handuk yang di berikan Dea padanya. Dia bukan hanya mengambil handuk itu saja tetapi ia malah menggenggam tangan sang istri.
“Aku boleh minta sesuatu?” tanya Alvar menatap intes wajah Dea yang bingung dengan ucapannya.
“Mas Alvar mau minta apa?” tanya Dea.
“Aku minta kamu” suara serak mengiringi perkataan yang mampu membuat Dea langsung begetar bulu kuduknya.
Deg.
Seperti ada sebuah sengatan listrik yang menjalar disekujur tubuh Dea saat mendengar itu, jantungnya semakin berpacu cepat tak karuan.
“Boleh aku minta dirimu seutuhnya,” kali pertama Alvar mengatakan bahwa dia menginginkan Dea saat ini setelah beberapa hari dia menikah resmi. Sebulmnya dia belum meminta haknya itu sama sekali karena menghargai Dea yang mungkin masih merasa canggung.
Dea meneguk salivanya, sambil menatap manik mata Alvar yang menatapnya penuh harap. Ini pertama kali Alvar meminta hal itu. pria itu sejak mereka menikah belum pernah meminta haknya, dan dia tak kecewa sama sekali malah ia salut terhadap Alvar yang seakan tahu tentang dirinya.
__ADS_1
Dea menggauk perlahan untuk sebagai ajwaban dia mengiyakan hal itu,
“Kamu serius?”
“Iya mas, aku serius. Itu hak kamu” jawab Dea.
Alvar langsung berdiri tepat didepan Dea, dia memegang kedua bahu perempuan itu dan mereka bertukar posisi dengan Dea yang berada tepat di sebelah tempat tidur. Perlahan Alvar mengusap lembut lengan Dea, dan naik keatas mulai melepaskan hijab yang dipakai istrinya itu. tidak berhenti disitu Alvar menidurkan perlahan Dea di kasur membuka kancing baju belakang dea perlahan.
Alvar membenamkan kepalanya diantara tengkut leher Dea menghirup aroma harum dari tubuh istrinya tak lupa dia meninggalkan bekasnya disitu membuat Dea sedikit melenguh karena sensasi tersebut.
“Mas,” lenguhnya sambil mengalunkan tangannya di leher Alvar saat ini.
Alvar mendongakkan wajahnya menatap wajah Dea yang cukup dekat di depan matanya, wajah perempuan itu. Tak menunggu lama, Alvar langsung mencium bibir Dea ******* bibir manis itu dengan decapan-decapan memabukan dari pria tersebut.
Dea menikmati setia sentuhan yang diberikan Alvar saat baju mereka sudah sama-sama telepas dari badan, Alvar menjelajahi setiap jengkal tubuh istrinya.
“Aku mencintaimu” ucap Alvar tepat didepan wajah Dea, sebelum dia memasukkan miliknya kedalam goa milik Dea.
“Aku juga mas, aku..aku juga mencintaimu” balas Dea.
“Arkh” erang Dea saat milik Alvar yang sudah masuk kedalamnya dan kemungkinan sudah menaruh benihnya di tempatnya.
“Maaf kalau sakit,” lirih Alvar yang begitu terbuah dengan gelora asmaa mereka.
“nggak kok mas, aku justru menyukainya”
“Aku akan pelan-pelan melakukannya” Alvar semakin mempercepat gerakannya saat ini, dia meskipun melakukannya dengan cepat tapi ia melakukannya dengan sangt lembut agar istrinya tak merasakan sakit. Dia tak mau perempun yang dia cintain kesakitan nantinya, hal pertama yang dia lakukan tadi berdoa berharap bahwa Dea akan segera mengandung anaknya agar dia dan kakaknya memiliki anak yang tidak terlampau jauh.
Dea memeluk Alvar semakin erat saat pria itu terus menghujani dirinya, dia tak merasa berat hati untuk melakukannya. Ia menikmati setiap perlakuan lembut pria dingin nan romantis didepannya.
°°°
__ADS_1
T.B.C