Perjalanan Cinta Sang Santri

Perjalanan Cinta Sang Santri
14


__ADS_3

Malam telah berganti siang, Dhiafakhri memulai pagi ini dengan perasaan berbeda, 1 hari sebelumnya ia masih berada di Pondok Pesantren Al-fatah, kemarin sepanjang hari ia menyusuri perjalanan panjang dan hari ini ia telah sampai di Pondok Pesantren Bolaang Mongondow, perasaan suka dan duka menyelimuti hatinya pagi hari ini, untuk pertama kali Dhiafakhri pergi begitu jauh dari orang tuanya tanpa sempat berpamitan langsung, memang sebelumnya selama 6 tahun ia juga tidak bersama-sama dengan orang tuanya, tetapi selama itu orang tuanya sesekali menjenguknya di pondok.


Dhiafakhri tidak ingin berlama-lama dalam lamunannya, ia berpikir bahwa inilah jalan hidup, suatu saat nanti ia juga akan meninggalkan orang tuanya setelah memiliki keluarga sendiri, sekarang saatnya ia belajar lebih mandiri sebelum nanti waktunya tiba.


lama melamun, Dhiafakhri segera mencari kesibukan, ia segera ke kamar Zayyid untuk menanyakan kegiatan yang hendak mereka lakukan hari ini. Zayyid terlebih dahulu membawa Dhiafakhri berkeliling melihat kondisi Pondok Pesantren, semua gedung-gedung Zayyid jelaskan satu persatu fungsinya pada Dhiafakhri, dan berakhir di gedung serbaguna yang digunakan santri saat melaksanakan kegiatan keagamaan dan juga digunakan untuk acara perpisahan santri yang telah lulus.


Seharian Dhiafakhri sangat sibuk berkeliling melihat situasi dan kondisi kompleks Pondok Pesantren. Selesai melihat kompleks pondok pesantren mereka kembali ke perumahan, di perumahan Dhiafakhri dan Zayyid berbincang-bincang, mulai dari hal-hal umum sampai hal-hal yang bersifat pribadi.


Dhiafakhri, memulai percakapan: "Zay antum sudah berapa lama mengabdi di pondok ini? Dhiafakhri memanggil Zayyid dengan Panggilan Zay agar terdengar lebih Akrab.


Zayyid:


Alhamdulillah baru 2 tahun ana mengabdi tetapi sudah sangat banyak suka dan duka yang dirasakan. antum rencana mau mengabdi berapa tahun?


Dhiafakhri:


Sesuai SK yang diberikan Ustadz Nizwar Insyaallah 2 tahun, soalnya setelah mengabdi ana lanjut kuliah. Suka duka seperti apa yang antum sudah lalui, berbagi dong supaya ana bisa mengambil pelajaran dari pengalaman antum. ngomong-ngomong antum asli Manado atau pendatang?


Zayyid:


Sangat banyak mulai suka duka mengurus santri yang kepala batu (nakal) sampai mengurus agar mendapat bantuan pembangunan fasilitas dari pemerintah.


ana bisa dikatakan asli Manado bisa juga bukan. ana lahir di Manado tetapi orang tua semua asli dari Makassar. orang tua menetap di Manado sejak ana lahir sampai sekarang karena pekerjaannya disini. Kalau antum asli mana?


Dhiafakhri:


Berarti antum ini Masya Allah, jiwa dan raga berjuang demi majunya Pondok Pesantren. kalau Ana asli Kendari tetapi sejak ana lulus SD langsung dikirim ke Pondok Pesantren Al-fatah. Ngomong-ngomong kenapa antum tidak lanjut kuliah malah milih mengabdi?


Zayyid:


Subhanallah antum ini, sejak kecil sudah terbiasa mandiri, terdidik di Pondok Pesantren yang Subhanallah, iri ana sama antum.!!! Mengenai kuliah Ana belum ada keinginan kesitu, ana masih nyaman mengajar dari pada belajar.


Dhiafakhri:

__ADS_1


Sebenarnya lika-liku kehidupan yang membuat ana harus tinggal di pondok pesantren saat usia yang masih sangat kanak-kanak. Yah mau gimana lagi, awalnya ana juga berat untuk jauh dari orang tua tetapi karena takdirnya sudah digariskan seperti itu. ibuku meninggal saat ana baru umur 10 tahun, Setelah meninggalnya ibuku, ayahku menikah kembali dengan janda anak 2. Ana yang sudah terbiasa tidak memiliki saudara tentu merasa tidak nyaman tiba-tiba memiliki 2 orang saudara yang hampir seumuran ana. Permainan yang dulunya hanya untuk ana sendiri, kini harus berbagi dan kasih sayang ayahku seakan terbagi pula. Melihat kondisi itu, Nenekku, ibu dari Almarhumah ibunya ana memutuskan untuk mengirim ana ke Pondok Pesantren Al-fatah karena pada waktu itu ada sepupunya ana yang sudah terlebih dulu di antar ke pondok itu, dan ayahku juga menyetujui. Jadi gitu ceritanya 😁😁, tidak seindah yang antum bayangkan.


Zayyid:


Terharu ana dengar ceritanya antum, berarti antum sejak kecil sudah merasakan pahit manisnya kehidupan. Tetapi antum harus sujud Syukur karena dengan peristiwa itu antum bisa terdidik di Pondok Pesantren yang Subhanallah terkenal dimana-mana bahwa mampu menciptakan generasi yang luar biasa.


Dhiafakhri:


ia ana saat bersyukur, Alhamdulillah Allah berikan jalan terbaik melalui takdir yang berliku-liku, Allah siapkan kado terindah setelah badai menerjang. Ana tidak tahu akan seperti apa nasib ana jika terus bertahan di kampung tanpa Pendidikan agama yang kuat.


Zayyid:


ia Alhamdulillah kita terhindar dari pergaulan bebas, ana juga bersyukur orang tuanya ana lebih mementingkan pendidikan agama di banding Pendidikan umum. oh yah ana hampir lupa, tadi antum bilang setelah ngabdi ada rencana kuliah, antum rencananya kuliah dimana? kenapa ngak kuliah aja dulu dan setelah kuliah baru mengabdi?


Dhiafakhri:


oh itu, jadi kami para santri dari Pondok Pesantren Al-fatah diberikan beasiswa untuk setiap santri yang bersedia mengabdi, beasiswa gratis kuliah dan selama mengabdi 2 tahun sudah terhitung seperti orang kuliah jadi terhitung 4 semester.


Zayyid:


Dhiafakhri:


coba antum bicarakan dengan Ustadz Mahsyer, nanti Ustadz Mahsyer bicarakan ke Ustadz Nizwar, kali aja Ustadz Nizwar bisa mengatur antum jadi kita bisa se kampus.


Zayyid: ia bentar ana coba ceritakan sama Ustadz Mahsyer seperti yang antum ceritakan ke ana.


Dhiafakhri: ia kalau bisa segera antum bicarakan mumpung penerimaan mahasiswa baru sedang dibuka.


Serius berbincang Zayyid dan Dhiafakhri sampai lupa membicarakan jadwal mengajar yang telah mereka rencanakan semalam. Mereka masih ingin melanjutkan pembicaraan tetapi Zayyid mendapat panggilan dari Ustadz Mahsyer, segera Zayyid pergi dan mengatakan ba'da Ashar kita ngobrol lagi untuk membicarakan jadwal mengajar yang tidak sempat dibicarakan tadi.


Dhiafakhri yang di tinggal sendiri, segera menuju kamarnya. Sesampainya dalam kamar Dhiafakhri langsung mengechat Aleysia.


Dhiafakhri:

__ADS_1


Assalamualaikum...Sedang ngapain sayang?


Aleysia:


Waalaikumsalam... lagi santai sambil menunggu pesan dari seseorang yang sudah mulai melupakan ana.


Dhiafakhri:


Maaf jika kak Fakhri sudah buat dek Aleysia merasa dilupakan, tapi kak Fakhri tidak pernah melupakan dek, kak Fakhri hanya sedikit sibuk sejak pagi makanya baru ngechat sekarang.


Aleysia:


Hmmm... ia, mau gimana lagi kalau orang sibuk.!!


Dhiafakhri:


Maaf yah dek Aleysia sayang.


Aleysia:


Tidak perlu minta maaf kak, ngak ada yang salah, Aleysia aja yang terlalu berharap agar diperhatiin terus.


Dhiafakhri:


Jangan marah lagi yah dek Aleysia sayang, ntar kalau marah-marah cantiknya hilang.


Aleysia:


Hmm... Aleysia ngak marah kok, kak Fakhri istirahat aja, Aleysia ada kesibukan nih. by by


Dhiafakhri:


ia dek, Selamat beraktivitas yah 😍😍😘

__ADS_1


Aleysia sengaja mengakhiri chat karena marah dan jengkel pada Dhiafakhri, namun Dhiafakhri tidak peka dengan kemarahan Aleysia sehingga ia menganggap semua baik-baik saja.


__ADS_2