Perjalanan Cinta Sang Santri

Perjalanan Cinta Sang Santri
20


__ADS_3

Setelah selesai ngobrol Fandi mengambil minuman dan juga cemilan yang sudah ia sediakan untuk menemani mereka ngobrol hingga tak terasa waktu Ashar sudah hampir tiba. Rayyan pun pamit untuk pulang.


Sesampainya di rumah Rayyan menuju kamar mandi untuk mandi dan juga berwudhu lalu melaksanakan shalat ashar. Ia mengerjakannya dengan sangat khusyuk. Kali ini Rayyan tidak shalat berjamaah dengan ayah, ibu dan adiknya karena ayah dan ibunya sedang keluar menyelesaikan urusan kantor, sedangkan adiknya masih bermain di rumah tetangga.


Rayyan memiliki 2 orang saudara, kakaknya sedang menyelesaikan perkuliahan di sebuah Universitas Negeri di Makassar sedangkan dirumah ia hanya bersama adiknya.


Hubungan Rayyan dan kakaknya tidak begitu harmonis, Rayyan merasa orang tuanya lebih menyayangi kakaknya dari pada dia. Rayyan iri dengan kakaknya yang dibelikan kendaraan sesuai keinginannya sedangkan Rayyan sudah meminta pada ayahnya untuk dibelikan namun belum di penuhi juga. Rayyan beranggapan ayah dan ibunya hanya menyayangi kakaknya sehingga mereka selalu memenuhi permintaan kakaknya.


Sikap ayah dan ibu Rayyan yang seolah tidak adil bukan tanpa alasan, menurut mereka karena Rayyan masih SMA jadi belum sewajarnya untuk di belikan kendaraan hanya saja Rayyan tidak memahami sikap orang tuanya tersebut.


Sesudah shalat ashar Rayyan tidak memiliki aktivitas, ia hanya duduk santai di ruang keluarga sambil menonton siaran tv kesukaannya, tak ada satupun teman yang bisa diajak ngobrol karena semua orang yang berada dirumahnya sedang keluar rumah dan belum satupun ada yang pulang. Lama menonton TV Rayyan mendengar suara lonceng pintu, iapun bangkit membukanya ternyata ayah Rayyan yang datang. Rayyan hanya membukakan pintu untuk ayahnya lalu kembali ke ruang keluarga. Ayah Rayyan yang baru pulang kantor segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat, tak lupa ia mengajak Rayyan untuk shalat berjamaah namun Rayyan telah lebih dulu shalat.


Tak ingin melewatkan waktu begitu lama ayah Rayyan segera melaksanakan shalat, lalu menemui Rayyan yang berada di ruang keluarga. Hampir setengah jam Rayyan dan ayahnya ngobrol, mereka membicarakan mengenai bisnis ayahnya dan juga cita-cita Rayyan kedepan. Ayahnya berharap ketika Rayyan lulus SMA ia yang akan meneruskan usaha ayahnya selama setahun untuk mencari pengalaman, setelah itu Rayyan diperintahkan kuliah untuk menambah pengetahuan. Keinginan ayah dan ibu Rayyan ketika ia kuliah nanti, Rayyan akan kuliah di kota Makassar tempat kakaknya kuliah namun dalam hati Rayyan tidak ingin sekampus dengan kakaknya. Rayyan ingin kuliah di kota tempat Aleysia namun ia enggan menceritakan itu pada ayahnya. Rayyan tidak ingin berdebat dengan ayahnya.


Rayyan dan Aleysia telah membicarakan itu jauh sebelumnya, Aleysia menginginkan Rayyan untuk kuliah di kota yang sama dengan dia agar mereka dapat saling mengenal satu sama lainnya. Rayyan sangat setuju dengan rencana Aleysia tersebut karena sejujurnya Rayyan telah menyimpan rasa suka pada Aleysia setelah beberapa kali mereka chattingan.


Sebenarnya Rayyan sudah ingin mengungkapkan perasaannya itu pada Aleysia namun ia masih ragu karena masih terlalu dini. Rayyan masih menunggu momen yang pas untuk mengungkapkan perasaannya itu.

__ADS_1


Cukup lama Rayyan dan ayahnya ngobrol tanpa sadar hari semakin sore tetapi Rayhan adik Rayyan belum juga kembali ke rumah.


Ayah Rayyan menyuruh Rayyan memanggil Rayhan pulang dan tanpa menunggu lama Rayyan sudah mencari adiknya.


Rayyan dan Rayhan hampir bersamaan sampai kerumah dengan ibunya, Rayyan langsung menyuruh Rayhan untuk membersihkan diri karena hari semakin sore. Rayhan langsung beranjak membersihkan diri tanpa sepatah kata.


Rayyan kembali ke ruang keluarga untuk bersantai sekaligus menunggu waktu magrib tiba.


Ray...kenapa masih santai, kamu ngak shalat berjamaah di masjid? terdengar suara ibu Rayyan dari kamar.


Setelah mengatakan demikian Rayyan bergegas masuk ke kamarnya untuk mengambil sarung dan kopiah. Tanpa menunggu perintah ibunya Rayyan segera ke masjid setelah mendengar suara adzan, tak lupa ia mengajak adiknya.


Sepulangnya dari shalat Maghrib Rayyan tak banyak aktivitas, ia hanya menunggu ibunya menyiapkan makan malam, setelah itu Rayyan dan keluarga makan malam bersama.


Di rumah Rayyan setelah makan malam bersama, setiap anggota keluarga bebas melaksanakan aktivitas tetapi masih dalam kontrol ayah dan ibunya.


Rayyan menyelesaikan tugas sekolah sedangkan anggota keluarga yang lain memiliki kesibukan masing-masing.

__ADS_1


Tugas Rayyan telah selesai, iapun mengambil handphonenya lalu mengechat Aleysia. Rayyan menanyakan aktivitas Aleysia setiap hari di pondok, Rayyan juga menanyakan bagaimana perasaan Aleysia tinggal di pondok, karena ia tidak pernah merasakan tinggal di pondok dan juga jauh dari orang tua.


Aleysia menceritakan seluruh suka dan duka berada di pondok pesantren, Aleysia menceritakan awal-awal ia tinggal di pondok selalu menangis saat malam hari karena mengingat ayah dan ibunya, menangis saat waktu makan tetapi lauk tidak sesuai dengan keinginannya dan terakhir ia menangis saat di cambuk pak Kyai karena terlambat bangun shalat subuh. Seiring berjalannya waktu Aleysia menjadi terbiasa dengan suasana pondok, yang awalnya Aleysia merasa tidak nyaman menjadi sangat nyaman, awalnya menangis karena mendapat cambukan dari pak Kyai karena telat bangun shalat subuh kini Aleysia yang di amanahkan untuk membangunkan santriwati lain. Aleysia juga menceritakan bagaimana riuhnya saat pembagian makanan dan juga serunya antrian ketika ingin mandi. Selain itu menurut Aleysia dengan tinggal di pondok pesantren akan terbiasa hidup mandiri, juga mendapat banyak ilmu dan kedisiplinan sangat ditegakkan di pondok pesantren tempat Aleysia menuntut imu.


Hampir semua suka dan duka di pondok Aleysia ceritakan pada Rayyan.


Rayyan yang mendengar cerita Aleysia semakin penasaran dengan suasana di pondok pesantren, Rayyan mengatakan pada Aleysia jika ia ingin mencoba dan merasakan suasana itu namun mustahil baginya. Rayyan menceritakan jika awalnya ayah dan ibunya menawarkan pada Rayyan untuk bersekolah di pondok pesantren tetapi karena mendengar cerita teman-temannya bahwa di pondok itu tidak bagus dan tidak bebas bahkan memegang handphone tidak di izinkan akhirnya Rayyan sendiri yang menolak tawaran ayah dan ibunya dengan alasan jika ia belum mampu terpisah jauh dari orang tua, padahal itu hanya alasan Rayyan agar ayah dan ibunya tidak memaksa Rayyan untuk sekolah dan tinggal di pondok pesantren.


bersambung....


*******


Hallo semua sahabat, kakak, adik dan para pembaca yang setia sampai saat ini, dukung terus author yah dengan memberi like, komentar dan vote agar novel perjalanan cinta sang santri agar author semakin semangat mengupdate novel ini.


Jangan lupa selalu berikan kritik dan sarannya agar novel perjalanan cinta sang santri semakin menarik untuk dijadikan bacaan.!!


Selamat membaca, selamat membaca

__ADS_1


__ADS_2