
Sepanjang perjalanan Alya dan Fandi ngak ada akurnya, mereka terus bertengkar di atas kendaraan mengenai hal-hal yang tidak penting.
45 Menit perjalanan sampailah Rayyan, Fandi, dan Alya di depan rumah Aleysia. Aleysia yang sudah berpenampilan yang begitu cantik sudah menunggu kedatangan mereka.
Aleysia menghampiri dan mengajak Alya, Rayyan dan Fandi untuk masuk ke dalam rumahnya lalu menuju ruang tamu. Sebelum mereka sampai Aleysia telah menyiapkan beberapa cemilan dan juga minuman untuk menyambut kedatangan Rayyan, Alya, dan Fandi. Aleysia menyiapkan cemilan khusus untuk mereka bertiga. Alya yang sudah sangat akrab dan beberapa kali kerumah Aleysia langsung menikmati cemilan itu tanpa menunggu perintah Aleysia, hanya Rayyan dan Fandi yang masih malu menikmati cemilan yang telah disediakan walaupun Aleysia telah mempersilahkan. Walaupun Aleysia telah mempersilahkan Rayyan dan Fandi untuk menikmati cemilan itu namun terlihat Aleysia sangat grogi saat pertama kali bertemu Rayyan begitu pula dengan Rayyan ia terlihat kurang percaya diri saat bertemu Aleysia.
Melihat tingkah sepasang kekasih yang baru pertama kali bertemu dan saling grogi Alya berusaha untuk mencairkan suasana dengan memulai pembicaraan.
Alya: uhuk.. uhuk... hmm... kenapa saling diam aja nih,? kalau jauh katanya kangen, setelah bertemu kenapa seperti patung? ha-ha-ha
Aleysia: Ngak kok, Siapa yang seperti patung Al? "Aleysia berusaha mengelak"
Alya: Yah siapa lagi kalau bukan ente dan Rayyan, kalian kan sepasang kekasih yang baru bertemu ha-ha-ha, hmm sepertinya kita berdua mengganggu nih kutu kampret.!!!
Fandi: Kutu kampret pala loh, dasar mak lampir.!!
Rayyan: Hmm... Mulai lagi, ingat rumah orang jadi jaga sikap dikit dong.
Alya: Bukan rumah orang Ray tapi rumah calon mertua ha-ha-ha
Fandi: ia benar tuh kata mak lampir, ini bukan rumah orang Ray tapi rumah calon mertua.
Aleysia: uhuk... uhuk...
Alya: Kenapa batuk Sya? ngomong-ngomong ibu dimana Sya kok ngak kelihatan?
Aleysia: hmm...!!! ibu lagi di dapur.
Mendengar Ramai di ruang tamu, ibu Aleysia keluar untuk melihat. Eh ada nak Alya, sudah lama datangnya Al? "sapa ibu Aleysia"
Alya: belum bu, baru juga beberapa menit.
Yah sudah dilanjutin lagi ngobrolnya, ibu mau keluar sebentar.
__ADS_1
Alya dan Aleysia: ia ibu.
Ibu Aleysia sangat dekat dengan Alya, sebab saat menjenguk Aleysia di pondok, ibunya selalu bertemu Alya, dan Aleysia sudah menceritakan berbagai hal mengenai Alya. Selain itu Alya telah beberapa kali ke rumah Aleysia.
Selepas ibu Aleysia pergi, mereka kembali melanjutkan obrolan yang sempat terhenti.
Alya: Astagfirullah... kita sejak tadi datang tapi si kutu kampret belum juga kenalan. Sya ini kutu kampret (sambil menunjuk Fandi) dia sahabat Ray dan aku.
Fandi: Eh mak lampir nama gue Fandi , Hai aku Fandi sahabat Ray (Fandi memperkenalkan diri)
Aleysia: Aku Aleysia.
Rayyan sedari tadi hanya mendengar dan menyimak percakapan mereka. Alya yang mengerti dengan keadaan Rayyan segera mengajak Fandi untuk keluar agar memberikan kesempatan kepada Aleysia dan Rayyan untuk ngobrol.
Alya: Sya, taman di belakang pasti pemandangannya sudah semakin indah karena waktu ana kesini terakhir kali ana lihat ibu menanam bunga sangat banyak.
Aleysia: ia, ke taman yuk.!
Mengetahui maksud Alya dan Fandi menjauh, Rayyan segera memanfaatkan kesempatan. ia mengajak Aleysia untuk duduk di kursi yang telah disediakan di tengah taman.
Rayyan: Sya, duduk disitu yuk ( Menunjuk ke kursi taman.
Aleysia hanya menuruti ajakan Rayyan, dalam hatinya deg degan karena ini merupakan kali pertama ia pacaran dan ketemuan secara langsung.
Rayyan: Yang gimana kesan pertama kamu ketemu aku?
Aleysia: deg degan, soalnya ini kali pertama aku ketemu kamu.!!
Rayyan: Setelah ketemu aku, makin sayang atau sayangnya hilang?
Aleysia: Pertanyaan macam apa tuh? kalau udah terlanjur sayang kalau ketemu tentu makin sayang toh.
Rayyan: Terima kasih Yang sudah mencintaiku apa adanya.
__ADS_1
Aleysia: ia sama-sama.
Aleysia dan Rayyan terus ngobrol, banyak hal yang mereka ceritakan termasuk tentang sekolah. Setelah puas ngobrol berdua Aleysia dan Rayyan mencari Alya dan Fandi yang sedari tadi menghilang.
****
Alya dan Fandi mengelilingi taman, dan mengabadikan momen itu dengan berfoto di taman, melihat momen yang pas, Fandi memanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama ini.
Fandi: Al boleh ngobrol sebentar ngak?
Alya: Sejak tadi juga ngobrol terus.! mau ngomongin apa sih kutu kampret?
Fandi: Tapi loh jangan ketawain gue yah, gue pengen ngomong serius ama loh.
Alya: mau ngomong apa sih? tumben serius loh kutu kampret.
Fandi: Al, sebenarnya sudah sangat lama gue suka sama loh, tapi baru hari ini ada momen yang pas buat gue ungkapin perasaan ini.
Alya: kutu kampret jangan canda terus loh.
Fandi: Gue serius Al, ngak lagi bercanda nih.
Setelah beberapa menit berjalan mengitari taman Aleysia dan Rayyan pun bertemu Alya dan Fandi, namun sebelum mereka sampai di tempat Alya dan Fandi, tiba-tiba Rayyan berhenti melangkah setelah mendengar Fandi mengungkapkan perasaannya pada Alya. Sebenarnya Rayyan telah lama mengetahui itu, karena Fandi sering curhat jika ia menyukai Alya.
Belum sempat Alya memberi jawaban, Aleysia sudah mengajak Rayyan untuk segera bergabung dengan mereka, sebenarnya Rayyan tidak ingin merusak momen itu, tetapi karena Aleysia memaksa mereka segera bergabung. Aleysia tidak begitu mendengar pembicaraan Alya dan Fandi sehingga ia memaksa untuk menemui mereka karena Aleysia merasa tidak enak, Alya dan Fandi sudah cukup lama menunggu.
Alya menjadi salah tingkah dan tidak lagi menjawab pertanyaan Fandi. Alya berusaha bersikap biasa, ia tidak ingin Aleysia dan Rayyan mengetahui jika Fandi mengungkapkan perasaannya. Rayyan yang telah mengetahui semuanya bersikap biasa, hanya Aleysia yang mempertanyakan sikap Alya yang tiba-tiba berubah dan tidak seperti biasanya.
Aleysia: Ada apa dengan ente Al? Diapain Fandi sampai mukanya ente merah gitu, perasaan tadi baik-baik aja!
Alya tidak bisa berkata-kata ia semakin kikuk dan mukanya makin memerah, ingin sekali Alya menceritakan kejadian yang sebenarnya tetapi ia malu. Alya memilih untuk terus diam dan Rayyan mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.
Hallo sahabat pembaca novel "Perjalanan Cinta Sang Santri" terima kasih yah sudah menyempatkan waktu untuk membaca novelnya jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komentar, dan berikan vote.
__ADS_1