Perjalanan Cinta Sang Santri

Perjalanan Cinta Sang Santri
23


__ADS_3

Setelah keadaan canggung sudah mulai stabil Alya, Aleysia, Fandi, dan Rayyan kembali ngobrol berbagai hal. Keasyikan ngobrol dan mengelilingi taman Rayyan, Alya dan Fandi tidak menyadari bahwa sudah hampir 3 jam mereka berada di rumah Aleysia.


Setelah menyadari itu, kini Alya mulai terlihat gelisah sebab tadi saat ia berpamitan kepada ibunya, ia mengatakan hanya pergi sebentar.


Aleysia yang memperhatikan kegelisahan sahabatnya itu langsung bertanya, "Ada apa Al?


Alya: Tadi sebelum berangkat ana pamit ke ibu bilangnya hanya sebentar, ternyata udah 3 jam dan ana pengen hubungi ibu agar tidak khawatir tapi handphone ana batereinya habis, mana ana ngak bawah charger.


Aleysia: Coba lihat handphonenya kali aja charger nya sama dengan charger ku, jadi ente bisa pinjam ngecas.


Aleysia mengambil handphone Alya dan membawanya ke dalam kamar untuk mencobanya, tidak berselang waktu lama Aleysia kembali keluar kamar dan mengembalikan handphone Alya.


Aleysia: Ngak pas dengan charger ku. Copot aja kartu simnya Al, nanti pakai Handphone ana! Hmm...


Ray kamu ngak ada nomor ibunya Alya?


Alya: Kalau ada pakai handphone Ray aja, soalnya malas ana mau buka sim card nya, ribet.!


Rayyan: Sepertinya ada, tunggu aku cek dulu.


Setelah mengecek nomor ibu Alya dan ternyata ada, Rayyan memberikan kepada Alya handphonenya untuk menghubungi ibunya.


Alya pun menghubungi ibunya dan mengatakan jika mereka masih berada dirumah Aleysia, dan sedikit lagi mereka akan kembali.


ibu Alya yang sedari tadi menghubungi Alya merasa legah setelah mendapat telepon dari Alya, ia mengingatkan agar tidak ngebut saat pulang dan segera pulang karena cuaca terlihat mendung.


Tak ingin ibunya khawatir, setelah menutup telepon Alya segera berpamitan pada Aleysia dan mengajak Rayyan dan Fandi untuk segera pulang.


Sebenarnya Rayyan masih ingin berlama-lama berada di rumah Aleysia namun ia tidak ingin ibu Alya khawatir dan ia merasa bertanggung jawab terhadap Alya sebab ia yang mengajaknya mengunjungi Aleysia. Dengan sangat berat hati akhirnya ia menuruti keinginan Alya untuk segera pulang.

__ADS_1


Sya, kami pulang yah, soalnya ibuku sudah khawatir dirumah dan cuaca sudah mulai mendung, ibu dan ayahmu dimana Sya?


Aleysia pun mencari ibunya dan mengatakan jika teman-temannya ingin berpamitan karena akan pulang. Ibu Aleysia segera menghampiri mereka.


Alya : ibu, alya balik dulu yah.!! soalnya cuaca sudah mendung dan dirumah ibu sudah khawatir.


Fandi dan Rayyan juga pamit tante, insyaallah kalau ada kesempatan dan masih di izinin, Fandi dan Rayyan akan main kesini lagi.


ibu Aleysia: ia pintu rumah ibu selalu terbuka untuk teman-teman Aleysia, kapan pun jika ingin berkunjung silahkan.


Alya, Rayyan dan Fandi mencium tangan ibu Aleysia dan mengucapkan terima kasih atas jamuan yang telah di berikan kepada mereka. Tak lupa mereka juga berpamitan pada Aleysia. "Sya kita balik yah" ucap mereka bertiga. Aleysia pun mengangguk. Hati-hati di jalan ingat jangan ngebut dan jika ada kesempatan main lagi kesini.


Mereka pun mengiyakan. Ketika Rayyan dan Fandi mengambil motor yang diparkirkan di samping rumah Aleysia, ayah Aleysia datang.


eh ada tamu, kenapa cepat banget pulangnya nak? Sapa ayah Aleysia


Yah udah hati-hati di jalan dan jangan ngebut. "ucap ayah Aleysia"


ia om, ia ayah kami pulang assalamualaikum...


Waalaikumsalam... Jawab Aleysia, ayah dan ibunya.


Setelah Rayyan, Fandi dan Alya pulang, Aleysia segera menutup pagar dan masuk ke dalam rumah.


Ibu Aleysia: Sya, teman Alya tadi sepertinya baru pertama kali ibu lihat, kenal dimana?


Aleysia: oh itu teman Alya bu, yang tinggi putih tadi namanya Rayyan rumahnya tetanggaan sama Alya, dan yang satunya Fandi dia juga teman Alya. mereka sejak kecil berteman.


ibu Aleysia: oh gitu, yah sudah sana mandi kemudian Shalat. itu ayah sudah nunggu.

__ADS_1


Aleysia: ia ibu.


Diperjalanan Alya dan Fandi berada di depan, sedangkan Rayyan mengikuti mereka di belakang.


Fandi kembali menanyakan kepada Alya mengenai jawaban dari pernyataan tadi saat mereka berada di taman.


Alya: Emang loh serius kutu kampret? Soalnya sejak dulu kamu itu canda terus, hampir ngak pernah ada seriusnya!


Fandi: Kalau gue nggak serius ngapain gue tanyain lagi Alya mak lampir?


Alya: Hmm, gimana yah? aku masih bingung mau jawab apa!


Fandi: Ngak perlu bingung mak, kalau mau bilang ya kalau ngak bilang tidak. Aku ngak maksa kok, soalnya tidak baik suatu hubungan yang di awali dengan keterpaksaan.


Alya: So' bijak kata-kata loh kutu kampret. Sampai rumah aja deh baru aku jawab.


Fandi: Ia mak bukan so' bijak tetapi faktanya memang seperti itu, dan apapun jawaban loh aku terima dan hubungan kita akan tetap seperti ini, gue hanya ngungkapin isi hati gue.


Alya: ia kutu kampret, terima kasih udah ngertiin gue, takutnya kalau jawaban gue kurang memuaskan kamu turunin aku di jalanan lagi.


Sepanjang perjalanan Alya dan Fandi ngobrol terus sampai mereka tidak menyadari telah sampai di depan rumah Alya. iapun turun dan setelah ia pikirkan dan pertimbangkan sepanjang Alya sudah mendapatkan jawabannya. Turun dari kendaraan ia langsung memberi jawaban pada Fandi sesuai dengan janji alya tadi di perjalanan.


Alya: Fan maaf yah sebaiknya kita berteman seperti ini, aku tidak ingin persahabatan kita rusak karena status hubungan kita. Tapi aku juga tidak ingin kamu berubah karena ini, aku ingin kamu tetap menjadi Fandi sahabat gue yang selalu bersikap konyol.


Walaupun ada sedikit kekecewaan Fandipun pernyataan Alya, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya sebab hubungan yang terjalin karena keterpaksaan tidak akan bertahan lama. Tidak ingin Alya mengetahui kekecewaannya, Fandi pun pamit kembali kerumahnya, sedangkan Rayyan sejak tadi kembali kerumahnya.


Di rumah Fandi masih saja memikirkan nasib dirinya yang di tolak Alya, ia tidak menyangka jika Alya akan menolaknya, karena menurut penilaian Fandi dan Rayyan, Alya juga memiliki perasaan yang sama pada Fandi tetapi entahlah Fandi tidak mengetahui alasan lain di balik penolakan Alya, yang ia ketahui hanya sebatas penjelasan Alya padanya.


Alya terus memikirkan keputusannya yang telah menolak Fandi, ia tidak ingin Fandi berubah karena penolakannya karena sebenarnya Alya memiliki perasaan yang sama pada Fandi hanya saja ia tidak ingin persahabatan mereka rusak suatu saat nanti setelah hubungan mereka renggang, dan Alya juga masih trauma dengan yang namanya pacaran karena dulu waktu ia masih kelas IX SMA, Alya pernah sekali pacaran namun diselingkuhi. Alya sudah berjanji pada dirinya untuk tidak pacaran sebelum menikah.

__ADS_1


__ADS_2