Perjalanan Cinta Sang Santri

Perjalanan Cinta Sang Santri
6


__ADS_3

Dhiafakhri dan kawan-kawan berlalu meninggalkan Aula pertandingan, mereka pulang dengan senyuman sebab dengan kemenangan hari ini, mereka telah mendapatkan 1 tempat di regu A untuk pertandingan putaran kedua yang akan dilaksanakan besok.


Walaupun demikian Dhiafakhri dan anak binaannya tidak serta merta merasa senang karena pertandingan masih panjang.


Berbeda dengan peserta dari pondok Pesantren As-Saadah. Aleysia dan kawan-kawan telah bersiap di Aula pertandingan, ketegangan tampak terlihat di wajah mereka.


Seluruh peserta telah mengambil posisi sesuai arahan panitia.


Sesaat sebelum pertandingan di mulai Dhiafakhri dan kawan-kawan juga terlihat memasuki aula pertandingan.


Ya Allah Sya, ana makin tegang dilihat banyak orang seperti ini, mana peserta dari Pondok Pesantren Al-fatah juga datang, ana semakin tak bisa fokus kalau seperti ini *Alya berbisik*


Al tetap fokus jangan pedulikan penonton yang datang, insyaallah kita pasti bisa dan harus semangat tunjukkan bahwa kita bisa bersaing dengan mereka dipertandingan selanjutnya *Aleysia berusaha membangkitkan kepercayaan diri Alya. ia berusaha membisikkan kalimat itu di telinga Alya dan terbukti kepercayaan diri Alya berangsur-angsur muncul.


Perbincangan itu tak berlangsung lama sebab pertandingan akan segera di mulai, masing-masing kelompok telah memperkenalkan diri. Aleysia yang menjadi juru bicara telah memperkenalkan nama dan pondok pesantren mereka berasal. Diam-diam ada yang menyimpannya di dalam hati.


pertandingan telah berlangsung pertanyaan pertama diajukan kepada kelompok A namun mereka tak mampu menjawab hingga akhirnya diberikan kesempatan kepada kelompok lain, dengan sigap Aleysia menjawab pertanyaan tersebut sehingga menambah poin mereka.


kejar-kejaran poin terjadi di dua pertanyaan terakhir yang menentukan Juara Grup serta kelompok yang harus gugur. Hal itu semakin menambah ketegangan setiap peserta karena melihat kondisi poin yang saling berkejaran dan tidak memiliki pautan angka yang jauh membuat setiap kelompok peserta memiliki kesempatan yang sama, kesempatan lolos ataupun gugur pada pertandingan ini. Sorak Sorai penonton semakin menambah ketegangan para peserta hingga akhirnya Halwah dapat menjawab pertanyaan terakhir yang membuat Pondok Pesantren As-Saadah menjadi Runner-up Grup.

__ADS_1


Pertandingan Hari ini telah usai, dan masih menyisakan ketegangan bagi mereka yang telah bertanding, hanya ucapan syukur yang dapat Aleysia, Alya dan Halwa katakan karena akhirnya mereka bisa melanjutkan pertandingan putaran kedua esok hari. Setelah turun dari panggung pertandingan pembina Pondok Pesantren As-Saadah langsung mengajak mereka ke warung makan untuk merefresh kan otak yang sedari tadi berpacu. Mereka pun bergegas pergi dan


seluruh peserta lainnya bergegas kembali ke tempat masing-masing untuk mempersiapkan hari esok.


Dhiafakhri yang melihat pertandingan Grup B diam-diam mengagumi Aleysia yang bertugas sebagai juru bicara.


Kekaguman Dhiafakhri tidak dinampakkan ataupun ia ceritakan kepada teman yang menjadi anak binaannya sebab ia ingin menjaga image sebagai orang kepercayaan Ustadz Nizwar dan juga tidak ingin di ledek


saat bertemu Aleysia di Aula pertandingan besok.


Setelah pertandingan yang sangat menegangkan tadi, sebelum kembali ke pondok Dhiafakhri diam-diam mencari tahu nomor telepon Aleysia melalui buku tamu, dan dengan ketelitiannya akhirnya ia menemukannya nama Aleysia dan nomor handphonenya di buku tamu.


Setelah sampai di Pondok Pesantren Al-fatah Dhiafakhri ingin mengirim pesan ke nomor Aleysia untuk berkenalan namun ia mengurungkan niatnya karena mengingat esok masih ada pertandingan jadi ia tidak ingin mengganggu


tidak membutuhkan waktu lama semua peserta telah terkumpul dan pertandingan segera di mulai.


Pada pertandingan kali ini Pondok Pesantren Al-fatah seregu dengan Pondok Pesantren As-Saadah, dengan demikian mereka saling beradu untuk menjadi yang terbaik.


Pertandingan telah dimulai, Peserta dari Pondok Pesantren Al-fatah terlihat begitu percaya diri setelah kemenangan kemarin dan mereka juga sangat memahami seluruh pertanyaan sehingga wajar ketika memiliki poin lebih tinggi dari lawannya di awal babak penyisihan ini. Berbeda dengan Pondok Pesantren As-Saadah, mereka terlihat tidak begitu percaya diri, entah apa yang menjadi penyebabnya.

__ADS_1


Diakhir pertandingan Pondok Pesantren Al-fatah terlihat sangat puas menjadi Juara grup dan kekecewaan terlihat di wajah santriwati Pondok Pesantren As-Saadah, sebab mereka berada di posisi ketiga dan dinyatakan gugur.


Setelah pertandingan itu, Aleysia dan kawan-kawan bergegas kembali ke Pondok Pesantren As-Saadah, sesampainya di pondok Kyai Husain menyambut mereka dengan senyuman dan memberikan semangat agar mereka lebih giat lagi belajar untuk lomba yang akan datang.


Setelah pertemuan itu mereka kembali ke Pondok untuk istirahat dan beraktivitas seperti sediakala. setelah istirahat beberapa menit, tiba-tiba handphone Aleysia berbunyi. Ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.


"*Tetap semangat Aleysia, kalian sudah memberikan penampilan terbaik hanya kemenangan yang belum berpihak pada kalian" Aleysia merasa bingung dan mengingat siapakah nomor baru yang mengirimkan pesan padanya, menurut ingatannya tidak pernah ada seorangpun yang meminta nomor handphone selama perlombaan, dan ia juga tidak memiliki satupun kenalan baru di tempat perlombaan.


Dalam kebingungan Aleysia enggan membalas pesan dari nomor yang tidak diketahuinya itu, ia memilih menyimpan kembali handphone di atas meja dan berusaha untuk tidak penasaran terhadap nomor baru itu. lima menit berlalu pesan dari nomor yang sama kembali masuk.


*Assalamualaikum Aleysia, bolehkah ana berkenalan denganmu?*


Karena merasa penasaran akhirnya Aleysia membalas pesan tersebut. *Waalaikumsalam Maaf ini siapa dan dapat nomor handphone ku dimana? Aleysia membalasnya tanpa basa-basi karena merasa risih.


"Ana Dhiafakhri, Maaf sudah lancang mengambil nomor handphone antum tanpa meminta izin."


Dharrr... Aleysia kebingungan dan bertanya-tanya, siapakah Dhiafakhri?? sepertinya ana ngak pernah dengar nama itu saat pertandingan ataupun melihat di buku tamu. Aleysia sok sok'an mengatakan demikian padahal baca buku tamu aja ngak pernah, ia hanya sekedar mengisi buku tamu tanpa memperdulikan nama-nama yang tertera dalam buku tamu. dipikiran Aleysia ngapain baca-baca buku tamu, teks untuk pertandingan aja tidak habis dibacanya.


Walaupun demikian Aleysia tetaplah seorang wanita yang memiliki tingkat keingin tahuan di atas rata-rata, ia juga merasa penasaran dengan pemilik nomor yang baru saja menghubunginya.

__ADS_1


Siapakah gerangan pemilik nomor baru ini? ada kepentingan apa sehingga mengambil nomor handphonenya secara diam-diam. Karena rasa penasaran tingkat tinggi yang melanda, Aleysia segera ke kamar Alya untuk menanyakan gerangan pemilik nomor handphone itu, namun hasilnya nihil Alya maupun Halwah juga tidak mengenal nomor tersebut.


Aleysia juga telah menyebutkan nama sebagaimana yang dikatakan pemilik nomor tadi namun di antara mereka tak ada yang mengenal atau mendengar nama Dhiafakhri selama pertandingan.


__ADS_2