
Seluruh rangkaian acara telah berlangsung
kini memasuki acara inti yaitu tausiyah, pembawa acara mempersilahkan kepada Ustadz Dhiafakhri Ubaidillah untuk mengisi tausiyah pada sore hari ini.
Pembawa Acara:
Kita telah memasuki acara inti pada sore hari ini, yakni tausiyah yang akan dibawakan Ustadz Dhiafakhri Ubaidillah kepada Ustadz kami persilahkan.
Dhiafakhri:
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, sebelumnya saya menyampaikan permohonan maaf dari Al-Ustazd Mahsyer karena beliau tidak dapat memenuhi undangan pada hari ini karena ada kesibukan yang tidak dapat ditunda ataupun digantikan oleh orang lain, sehingga beliau mempercayakan kepada saya untuk menggantikan beliau pada hari ini.
Setelah menyampaikan permohonan maaf Dhiafakhri memulai tausiyahnya yang membahas tentang pentingnya menuntut ilmu, ia mengajak kepada seluruh siswa-siswi agar rajin menuntut ilmu, karena orang yang berilmu akan mendapatkan keistimewaan. Selain itu menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ والمسلمة
Artinya: "Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah."
Hadis ini merupakan riwayat Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu'anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami'ish Shaghiir no. 3913 sehingga hadis ini merupakan hadis yang shahih.
Selain itu, menuntut ilmu mempunyai beberapa keutamaan dalam Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Mujadilah Ayat : 11 yang berbunyi:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا
__ADS_1
تَعْمَلُونَ خَبِير
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat di atas menunjukkan bahwa betapa mulianya orang yang memiliki ilmu pengetahuan sehingga derajatnya sama dengan orang-orang yang beriman, tentu hal ini bisa kita jadikan motivasi untuk terus giat menuntut ilmu.
Selain Hadis dan ayat yang telah saya bacakan tadi , dalam sebuah hadist tentang keutamaan ilmu pengetahuan dalam Islam, Rasulullah SAW bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: "Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699)
Adik-adikku semua, Sangat banyak keutamaan dalam menuntut ilmu sehingga kita semua jangan sampai menyia-nyiakan waktu hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Jangan pernah merasa puas terhadap ilmu yang kita miliki sekarang karena rasa puas itu membuat kita sombong dan enggan menuntut ilmu.
Wallahul Muwafiq ilaa aqwamit Thariq, wallahul musta'an, Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Dhiafakhri telah mengakhiri tausiyahnya, terdengar Pembawa Acara memberi kesempatan kepada siswa-siswi untuk bertanya terkait tentang keutamaan orang berilmu sebagaimana isi tausiyah. Seorang siswa mengacungkan tangannya untuk bertanya dan dipersilahkan oleh pembawa acara.
Siswa:
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Nama Saya Hafiz al-Qarni Siswa kelas XI jurusan TKJ. sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Adapun Pertanyaan saya, mengapa Rasulullah Saw menyuruh kita untuk menuntut ilmu hingga ke negeri China, padahal kita sama-sama mengetahui bahwa negeri China jauh dari kata Islami sebab agama Islam di negeri China adalah minoritas. Demikian pertanyaan saya Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh.
Pembawa acara mempersilahkan Dhiafakhri untuk menanggapi pertanyaan dari Hafiz.
__ADS_1
Dhiafakhri:
Terima kasih kepada adik Hafiz al-Qarni Pertanyaannya sungguh sangat luar biasa.
Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina," begitu titah sebuah hadis yang sekalipun lemah derajatnya, tetapi menjadi bukti tentang posisi strategis Cina. Mengapa negeri berjuluk tirai bambu dalam hadis tersebut dijadikan target menuntut ilmu?
Ternyata, ada sejumlah alasan kuat kenapa Cina diposisikan sebagai negara tujuan menuntut ilmu. Di antaranya, jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban. Dalam dunia perdagangan, penduduk Cina dikenal sebagai masyarakat yang sangat pandai. Karena itu, di beberapa negara di dunia, penduduk Cina turut meramaikan perekonomian sebuah negara. Dan, Kota Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina.
Tak bisa dimungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya, antara lain ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum 500 M.
Saat Dinasti Tang berkuasa, masyrakat Cina sudah mengenal uang kertas. Mereka melakukan peredaran atau pertukaran uang kertas bersama dengan kekaisaran Romawi dan Persia. Dalam catatan William L Langer, dalam Encyclopedia of World History, edisi 1956, ketika pusat pemerintahan dipegang oleh seorang Muslim, sirkulasi atau peredaran uang kertas berjalan dengan baik. Namun, saat pusat pemerintahan di pegang kelompok non-Muslim, terjadilah krisis moneter dan inflasi merajalela.
Dalam perkembangannya kemudian, masyarakat Cina juga sudah bisa membuat uang kertas. Bahkan, Marco Polo (1254-1324 M) ketika berkunjung ke Cina, tercengang melihat kemajuan yang dialami Cina. Marco Polo menyebutkan, dalam beberapa lawatannya ke berbagai negara, orang menggunakan uang emas dan perak sebagai alat bayar dan pertukaran barang, bukan kertas. Ia kemudian menyelidiki cara pembuatannya.
Dan, salah satu kota yang dikenal ketika itu untuk membuat uang kertas dalam mata uang Cina adalah Khanbalik. Kulit pohon mulberri dikupas (daunnya untuk makanan ulat sutra), dan dari situ diambil lapisan halus yang terletak di antara kulit kasar dengan batang pohonnya. lapisan halus itu direndam, kemudian ditumbuk dengan alu sampai menjadi semacam bubur (pulp). Lalu, dibuat menjadi kertas serupa dengan pembuatan kapas, tetapi berwarna hitam.
Setelah siap, lalu dipotong-potong menurut berbagai ukuran dalam bentuk persegi empat panjang. Ukuran terkecil untuk nilai setengah tornesel, dan ukuran berikutnya senilai groat perak, yakni mata uang Venesia (Italia). Dan, selanjutnya menjadi nilai satu, dua, tiga sampai sepuluh mata uang emas. Kini, di era modern, Cina dipredikis menjelma sebagai salah satu kekuatan dunia. Bahkan, pada 2017, negara tersebut diprediksi menjadi kekuatan ekonomi utama di dunia.
Cukup panjang penjelasan Dhiafakhri mengenai anjuran menuntut ilmu sampai ke negeri China. Sehingga tanpa terasa waktu hampir menjelang Maghrib.
Melihat kondisi tersebut pembawa acara menutup acara dan mempersilahkan kepada siswa-siswi untuk mengambil air wudhu karena akan melaksanakan shalat Maghrib berjamaah.
Shalat Maghrib pun tiba Dhiafakhri diperintahkan sebagai imam, dan iapun menyanggupi. Setelah Shalat Dhiafakhri pamit kembali ke pondok dan seluruh siswa-siswi kembali ke rumah masing-masing.
__ADS_1