
Aleysia sengaja mengakhiri chat karena marah dan jengkel pada Dhiafakhri, namun Dhiafakhri tidak peka dengan kemarahan Aleysia sehingga ia menganggap semua baik-baik saja.
Di kamar Aleysia meluapkan kekesalannya dengan mematikan handphone dan menggerutu. "Hmm dasar laki-laki kurang peka, orang lagi marah bukannya di bujuk malah di cuekin. ini aja baru hari kedua ia mengabdi sudah kayak gini, gimana nanti kalau udah sebulan, bisa-bisa udah ngak pernah ngechat".
Bosan menggerutu sendiri di kamarnya, Aleysia menuju kamar Alya. Disana Aleysia menceritakan segala kekesalannya tentang kejadian hari ini.
Aleysia:
kesal sekali ana sama kak Fakhri, dari pagi ana tunggu dia ngechat tetapi nanti siang baru chat, itupun hanya sekedar memberi kabar dan mengatakan alasan baru ngechat, setelah ana balas dengan singkat chatnya, eh bukannya peka tetapi ana malah disuruh istirahat seharusnya kalau pacar sedang marah itu dibujuk atau apalah usahanya agar ana tidak marah.
Alya:
Aduuh Aleysia Syantik kak Fakhri itu pasti sibuk, ente harus mengerti dong jangan bersikap seperti anak kecil gitu. Memangnya kak Fakhri tahu kalau ente lagi marah sama dia? Cowok mah kurang peka Sya jika kita sedang marah, apalagi marahnya seperti ente, marah tidak jelas 😁😁😁
Seharusnya ente bersyukur Sya, setidaknya kak Fakhri masih menyempatkan waktu untuk ngechat ente di tengah kesibukannya, itu tandanya dia cinta dan sayang makanya diwaktu sibukpun tetap kak Fakhri menyempatkan waktunya untuk ente bagaimana kalau tidak ngechat sama sekali?
Aleysia:
Bukan masalah bersyukur atau tidak, masalahnya dia tidak menyempatkan waktu sebentar aja untuk sekedar mengabari kegiatannya pagi tadi, kan 1 chat tidak memakan waktu sampai 1 jam.
Hmm...ente ini Al, ana yang datang curhat, ana sahabatnya ente tapi malah ngedukung kak Fakhri bukan ana?
Alya:
Bukan ngedukung Sya, ana tidak mau karena permasalahan kecil ente dan kak Fakhri bisa end. Makanya karena ana pikir itu masih permasalahan kecil makanya ana memberikan pengertian sama ente, dengan pengertian yang ana kasih, ana berharap ente sepemikiran dengan ana. kita sebagai perempuan tidak boleh terlalu egois, hanya memikirkan perasaan dan kesibukan kita tapi tidak memikirkan bagaimana perjuangan orang lain untuk membahagiakan kita Sya. kalau ente yang sibuk dan tidak sempat kasih kabar kak Fakhri tidak pernah kan marah atau protes?
Aleysia:
ia sih, dia itu selalu memahami keadaan ana. Berarti ana yang harus mendewasakan diri agar tidak terlalu egois. Terima kasih Al, ente memang sahabat is the best.
Alya:
Hmm... yah sudah ente kembali sana ke kamar, ana mau istirahat. Kalau ente disini terus tidak mau tertidur ana.
Aleysia:
ia ana balik dulu by by cerewet.
__ADS_1
Sampai di kamarnya Aleysia juga tidur siang, karena sebentar setelah Ashar ia akan mengajar santri baru latihan marawis.
Kini Aleysia dan Dhiafakhri disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Dhiafakhri yang sudah mulai aktif mengajar santri-santri di waktu pagi, sore dan malam hari semakin tidak memiliki waktu luang untuk sekedar ngechat ke Aleysia. Begitupun sebaliknya Aleysia yang telah naik kelas XII juga tidak memiliki waktu luang untuk ngechat, ia sibuk belajar dan mengerjakan tugas-tugas pondok, selain itu ia dipercayakan untuk menjadi pembina bagi santri baru.
Kesibukan Aleysia dan Dhiafakhri membuat hubungan mereka sedikit renggang, Aleysia tidak lagi memperhatikan handphonenya karena sangat sibuk dengan kegiatan pondok, Dhiafakhri pun demikian, walaupun ia memegang handphone namun ia tidak memiliki waktu luang untuk ngechat karena dia selalu sibuk mengatur dan mengajar santri.
*******
Hari-hari terus berlalu, tidak terasa telah 6 bulan lamanya Dhiafakhri mengabdi di Pondok Pesantren Bolaang Mongondow dan semenjak 1 bulan terakhir Dhiafakhri dan Aleysia tidak lagi saling berkomunikasi.
Di Manado Dhiafakhri telah memiliki banyak teman, ia telah melupakan sosok Aleysia dan begitupun dengan Aleysia setelah beberapa kali ia mencoba menghubungi namun nomor Handphone Dhiafakhri selalu tidak aktif ia memutuskan untuk menghapus nomor Dhiafakhri karena tidak ingin menghubunginya lagi. Ia beranggapan bahwa Dhiafakhri sengaja mengganti nomor handphonenya karena telah memiliki kekasih baru.
Kini Dhiafakhri dan Aleysia telah memiliki kesibukan masing-masing. Aleysia disibukkan dengan pembelajaran persiapan menjelang Ujian Nasional sedangkan Dhiafakhri disibukkan dengan kegiatan pondok serta sibuk menghadiri setiap acara keagamaan yang dilakukan masyarakat setempat.
Banyak masyarakat setempat yang menyukai kepribadian Dhiafakhri sehingga mereka menginginkan agar Dhiafakhri selamanya berada di Manado karena itulah mereka menawarinya untuk menikah di Manado.
Ia telah menjumpai beberapa ibu-ibu di kawasan pondok menawarinya untuk menikah dengan anak gadis mereka tetapi ia hanya tersenyum dan menganggap semua itu hanya gurauan.
Sore hari Ustadz Mahsyer mendapatkan undangan untuk mengisi Tausiyah yang dilaksanakan SMK Karya Bhakti, namun karena jadwal tausiyah yang begitu padat sehingga Ustadz Mahsyer tidak dapat menghadiri undangan tersebut. Tidak ingin mengecewakan siswa-siswi SMK Karya Bhakti, Ustadz Mahsyer menemui Dhiafakhri di kamarnya untuk menyuruh menggantikan dirinya mengisi tausiyah di SMK Karya Bhakti.
Ustadz Mahsyer:
Dhiafakhri:
ngak ada Ustadz, mengapa? Ada yang bisa Fakhri bantu?
Ustadz Mahsyer:
sebentar ba'da Ashar Ustadz ada undangan mengisi tausiyah di SMK Karya Bhakti, tetapi ada urusan pondok yang harus Ustadz selesaikan dan tidak bisa diwakilkan, jadi Ustadz percayakan sama antum untuk mengisi tausiyahnya.
Dhiafakhri:
Afwan Ustadz, bukanlah lebih baik kalau Ustadz menyuruh Zayyid untuk mengisi tausiyah itu, sebab berdasarkan lama mengabdi tentu Zayyid yang lebih berpengalaman dari pada ana.
Ustadz Mahsyer:
Semua sama di mata Ustadz tidak ada yang lebih berpengalaman. Ustadz percayakan kepada antum agar antum menambah pengalaman. Zayyid akan menjaga santri di pondok agar tidak berkeliaran kemana-mana.
__ADS_1
Dhiafakhri:
baik Ustadz, terima kasih atas kepercayaannya.
Setelah perbincangan itu, Ustazd Mahsyer kembali kerumahnya dan segera bersiap berangkat. Sedangkan Dhiafakhri segera mandi dan bersiap-siap shalat Ashar. Setelah shalat Ashar ia langsung menuju SMK Karya Bhakti untuk menggantikan Ustadz Mahsyer mengisi tausiyah.
Sesampainya di SMK Karya Bhakti, beberapa siswa yang menjadi panitia dalam kegiatan tersebut telah menunggu Dhiafakhri di gerbang sekolah, mereka mengarahkan Dhiafakhri menuju Mushallah SMK Karya Bhakti tempat berlangsungnya acara.
Sesampainya di Mushallah Dhiafakhri dipersilahkan duduk di tempat yang telah disediakan. Tiga orang siswi yang melihat Dhiafakhri masuk ke dalam mushallah terlihat berbisik.
Siswi A:
Ustadz Mahsyer masih sangat muda yah, selain itu ganteng lagi.
Siswi B:
ia masih cocok jadi anak SMA hmmm
Siswi C:
memangnya itu Ustazd Mahsyer? sepertinya terlalu muda, setau saya Ustadz Mahsyer sudah tidak begitu muda, tapi entahlah soalnya belum pernah liat secara langsung juga hanya tahu namanya saja. ha-ha-ha
Siswi B:
ha-ha-ha kamu mah so' tahu tapi tidak tahu
Siswi A:
Stttt... jangan terlalu berisik itu acara sudah mulai.
Siswi B dan C:
ia...ia
Merekapun diam dan mendengarkan semua rangkaian acara yang dibacakan pembawa acara.
Dukung terus karya Author teman-teman karena dukungan memberi semangat Autror untuk terus mengupdate episodenya
__ADS_1