
"Mungkin kah anda ayah ku tuan?" Tanya gayatri gemetar tidak percaya.
Jacob tidak menjawab pertanya putri nya, Sekian puluh tahun ia kehilangan putri tunggal nya. Saat bertemu pun mereka sudah lanjut usia.
Gayatri menikah dengan indra saat berusia empat belas tahun karena di jodoh kan dengan orang tua angkat nya, Kini usia gayatri telah empat puluh sembilan tahun.
"Astaga, Aku bisa bertemu anak ku lagi." Jacob menangis.
"Ayah."
"Untung aku belum mati tuhan, Hingga masih punya kesempatan untuk melihat anak ku." Lirih jacob menangis haru.
Ayah dan anak ini berpelukan untuk melepas kan rasa rindu dan bahagia, Giana menatap mereka dengan perasaan yang tidak bisa di jabar kan.
"Sebaik nya kalian melakukan test DNA agar lebih meyakin kan." Saran giana.
"Tidak perlu! Aku sudah yakin jika dia memang anak ku dan kau adalah cucu ku." Tolak jacob.
"Ibu, Turuti lah ucapan ku. Akan lebih baik jika ada bukti yang kuat." Paksa giana.
"Heissh kau keras kepala sekali ternyata." Geram jacob.
Karena gayatri pun juga setuju untuk test DNA, Akhir nya jacob mengajak kerumah sakit milik nya untuk melakukan test.
"Kenapa kau terlihat tidak bahagia?" Tanya manjung ketika berdua dengan giana.
"Aku memang seperti ini biasa nya juga." Elak giana.
"Sudah berapa tahun aku mengenal mu giana, Tidak usah mencoba untuk di tutupi." Ujar manjung.
Senyum samar terlihat di bibir giana, Melihat ibu nya kini bahagia bisa bertemu ayah kandung nya. Giana pun sebenar nya ikut senang.
"Aku bodoh sekali, Bahkan dengan ibuku saja aku iri." Lirih giana.
"Kenapa begitu?" Manjung bertanya sambil mengelus kepala giana.
"Bahkan ibu ku saja bisa merasakan kasih sayang ayah." Giana tidak kuasa menahan air mata.
Manjung kini paham jika giana iri karena ia tidak pernah merasakan kasih sayang ayah, Bahkan rasa iri itu pun tumbuh walau pada ibu nya.
"Aku ingin pulang." Pamit giana.
"Biar aku antar ya, Atau dengan namgil." Tawar manjung.
"Tidak! Aku ingin sendirian." Tolak giana.
Manjung tahu jika giana tidak akan pulang jika berkata ingin sendirian, Pasti akan pergi kesuatu tempat untuk menghibur pikiran nya.
Giana pun pergi dengan mobil nya menuju tempat yang biasa ia kunjungi, Segala rasa ia akan buang di sana.
"
__ADS_1
Angin semilir menemani kesendirian giana, Melihat pemandangan seperti ini sudah bisa membuat giana tersenyum walau pun dalam tangis.
"Tidak kah kau kasihan melihat ku ayah? Begitu keras aku ingin mencari perhatian yang tidak bisa ku dapat kan darimu! Setiap melihat orang memiliki ayah maka aku akan iri." Desah giana tertunduk menangis.
Bersamaan dengan rintik hujan yang membasahi bumi, Seolah ingin menyembunyi kan air mata giana.
Para bodyguard giana tidak ada yang berani mendekat jika sang nona sudah seperti ini, Karena mereka tahu giana hanya ingin menangis sendirian.
Sambil berjongkok giana menangis tersedu sedu, Ingin sekali ia merasa kan peluk kasih seorang ayah.
"Kenapa kau sangat membenciku?! Aku ingin punya ayah juga." Giana menangis kencang.
"Biar kan orang yang membenci mu, Tidak perlu mengemis pada nya." Sahut suara di sebelah giana.
Giana mendongak karena tubuh nya kini tidak terkena hujan, Suga berdiri sambil membawa payung.
"Oppa!"
"Jangan menangis seperti itu, Kau sangat menyedih kan." Suga mengulur kan tangan.
"Aku ingin ayah." Isak giana pelan.
"Anggap saja aku ayah mu, Aku mengenal mu dari usia tiga belas tahun. Sudah cukup untuk menganggap sebagai anak ku." Ujar suga.
"Ayah ku tampan sekali." Ujar giana tersenyum geli.
"Kau sudah seperti anak kucing yang tersiram air! Ayo kita pulang." Ajak suga.
"Aku tidak ingin pulang kerumah." Tolak giana.
"Kita akan bermain dengan yang lain." Suga menarik giana.
Di bawah guyuran hujan mereka berjalan berdua, Payung tidak bisa melindungi mereka sepenuh nya.
...****************...
"Dari mana kalian sampai basah begini?" Tanya jimin keheranan.
"Jalan jalan." Jawab suga cuek.
"Ganti lah dulu baju mu gi." Suga mengulur kan paper bag.
"Apa ada dalaman mu juga?" Tanya giana tanpa malu.
Namjoon menjitak giana karena berucap tanpa melihat situasi, Sementara yang lain tertawa.
"Kau itu wanita, Tidak malu bertanya dalaman di hadapan kami." Rutuk namjoon.
"Kenapa malu? Bukan kah kalian oppa ku." Sahut giana enteng.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat dengan mulut pedas giana, Namjoon mendorong nya masuk kamar agar segera berganti baju.
"Eeh dia bisa tahu ukuran ku." Gumam giana ketika memakai dalaman nya.
Suga yang terkenal cuek itu bisa membeli kan giana baju dan dalaman yang pas, Walau yang di beli hanya kaos dan celana pendek.
"Kering kan rambut mu giana." Suruh seokjin yang cerewet.
"Malas oppa, Biar saja nanti kering sendiri." Sahut giana malah berbaring di sofa.
"Kau bisa sakit." Seru seokjin.
Namun giana yang bandel tidak mengindah kan ucapan nya, Seokjin pun bangkit mengambil hairdrayer.
"Duduk."
"Tidak usah." Tolak giana malas bangun.
Namun sorot mata seokjin mengatakan tidak ingin di bantah, Sehingga giana pun bangun duduk.
"Jadi gadis malas sekali kau ini, Bagai mana jika para fans mu tahu." Rutuk seokjin.
"Mereka akan menerima kekurangan ku jika memang benar cinta." Sahut giana.
"Mereka fans bukan pacar mu." Ralat jimin.
"Hei anal itik diam lah." Ujar giana.
Jimin yang di katai anak itik pun tidak terima, Ia mendekati giana dan menggelitik nya tidak berhenti.
"Hajima!"
Teriakan giana sama sekali tidak di hirau kan nya, Untung seokjin sudah selesai mengering kan rambut nya. Sehingga giana yang pontang panting pun bisa bebas.
"Yah jiminshi, Awas tangan mu salah pegang." Seru jungkook.
"Entah lah, Aku ngeri sendiri jika mereka sudah bergurau." Sahut jhope.
"Kadang jimin tidak ingat jika adik nya adalah seorang gadis." Ujar seokjin pula.
"Asal jangan namjoon hyung saja, Giana bisa patah patah jika bergurau dengan nya." Ucap taehyung.
Namjoon tersenyum mendengar ucapan adik nya, Ia yang terkenal sebagai tangan monster. Karena apa pun yang ia pegang pasti akan rusak.
"Makan lah dulu." Tiba tiba suga mengantar kan ramen untuk giana.
"Mana untuk ku?" Tanya jimin yang ingin juga.
"Gumawo oppa." Giana menerima mangkuk dari tangan suga.
"Hyung kau sangat tidak adil! Kenapa aku tidak di buat kan." Protes jimin tidak terima.
__ADS_1
Namun suga sama sekali tidak berniat menjawab ucapan jimin, Ia malah duduk sambil sibuk menulis lagu nya. Yang lain tertawa melihat jimin merajuk kesal.