
Giana berulang kali melengos melihat suga yang hanya menggunakan celana pendek hitam serta kaos warna putih, Apa lagi kini tampilan suga yang tanpa make up.
"Oppa.."
"Hhmm?"
"Bisa kah kau ganti piyama saja." Pinta giana.
"Kenapa?"
"Sudah pakai yang ini, Tidak usah ganti lagi." Tolak suga.
"Cuaca sedang dingin, Lebih baik jika pakai celana panjang." Saran giana.
Namun suga hanya tersenyum sekilas seolah tau isi pikiran giana, Sengaja ia duduk dengan kaki di angkat sebelah.
"Oppa!!"
"Kenapa?"
"Duduk yang bagus." Giana menurun kan kaki suga.
Greeep.
Suga menarik giana hingga jatuh kepangkuan nya, Wajah yang sangat dekat hingga nafas suga pun bisa giana rasakan hangat nya.
"Giana.."
Bibir pink giana jatuh kepada bibir suga yang menanti nya, ******* lembut membuat giana terlena. Giana bisa merasakan jika suga mencium nya tanpa rabaan lain nya.
Saat sedang sibuk dalam ciuman, Ponsel giana berdering sangat keras. Hingga ciuman mereka pun terlepas.
__ADS_1
"Siapa yang menelfon malam malam begini?" Tanya suga mendekati giana.
"Sebentar."
"Hallo."
"Nona! Ada kejadian di hotel kita." Ujar penelfon.
"Tunggu? Ini dari siapa?" Giana bingung.
"Ini saya yang mengurus hotel haerin, Park bojung." Sahut tuan park.
"Apa yang terjadi tuan park?!"
"Hotel kita terjadi kebakaran yang cukup besar, Tidak ada yang tahu asal nya dari mana." Beritahu tuan park.
"Shiball!"
"Aku akan segera datang." Sahut giana menutup telepon.
Giana menyambar mantel nya dan berlari keluar, Suga yang tahu jika giana panik pun ikut berlari.
"Aku yang menyetir." Suga duduk di belakang kemudi.
"Solomon yang mengemudi." Ujar giana.
"Baik lah."
Suga mengira jika giana yang akan mengemudi, Ternyata solomon sudah berdiri tegap di sebelah mobil nya.
"Cepat lah lomon." Suruh giana tidak sabar.
__ADS_1
"Tuan jacob sudah tahu nona, Apa lebih baik kita jemput dulu?" Tawar solomon.
"Tidak usah, Aku akan menangani nya sendiri." Tolak giana.
Solomon pun menurut dan melaju kan mobil nya menuju hotel haerin, Cukup jauh dari rumah giana.
"Apa menurut pun salah satu musuh kakek sudah mengincar ku?!" Tanya giana pada solomon.
"Bisa saja nona, Namun lebih baik kita periksa dulu bagian dapur! Siapa tahu ada kebocoran gas." Sahut solomon.
"Namun tidak mungkin CCTV bisa mati jika hanya kebocoran gas." Tukas suga.
"Itu yang masih perlu di selidiki tuan, Besar kemungkinan jika ada yang membakar nya." Jawab solomon.
"Selidiki sampai tuntas, Aku ingin tahu siapa yang ingin memusuhi aku juga." Titah giana.
"Baik nona."
Tiba lah mereka di hotel haerin yang masih dalam pemadaman, Sepuluh mobil damkar yang kini sedang berusaha memadam kan api.
"Astaga! Hotel ku habis." Keluh giana menatap bangunan hotel.
Suga memegang pundak giana untuk menguat kan nya, Giana sedih karena ini hotel pertama yang ia bangkit kan.
"Ada kamar untuk ibu di dalam." Lirih giana tiba tiba menangis.
"Jangan menangis, Aku tidak ingin melihat mu begini." Suga menghapus air mata giana.
"Ibu hanya tahu hotel ini oppa! Di sini ia sering tidur bersama ku." Rintih giana.
"Yang kuat ya, Ini ujian untuk mu." Bisik suga.
__ADS_1
Seolah tidak ada henti cobaan yang giana rasakan, Meski ini tidak sesakit seperti ia kehilangan seorang ibu.