Perjalanan Hidup Giana

Perjalanan Hidup Giana
Eps32


__ADS_3

Suga mendekat kan wajah nya kewajah giana, Degup jantung giana tidak terkendali sangking grogi nya. Padahal saat bersama V ia tidak seperti ini.


"Apa yang dia lakukan pada mu?" Desak suga.


"Hhmm, Kau berat oppa." Kilah giana agar suga melepas kan nya.


"Katakan saja sekarang giana!"


Tidak bisa lagi mengelak giana, Karena suga sudah mulai emosi. Tampak jelas di wajah nya jika suga menahan amarah sejak tadi.


"Dia mencium ku." Lirih giana membuang tatapan.


"Di mana?"


"Di bibir dan leher." Jujur giana.


Suga langsung meloncat dari tempat tidur meninju dinding, Sementara giana terduduk menatap pria yang terlihat cuek setengah mati ini.


"Kau menolak ku dan sekarang berpacaran dengan adik ku." Sinis suga.


"Tidak! Aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun." Elak giana.


"Kenapa kau tidak menjalin hubungan? Tidak semua pria seperti ayah mu giana." Geram suga.


"Ini yang aku malas kan, Aku tidak ingin sibuk menjelas kan kedekatan ku dengan pria mana pun." Jawab giana.


Tatapan suga tajam menghunus kepada giana, Marah dan cemburu menyatu jadi satu dalam diri nya.


"Jadi mau mu apa giana?!" Tanya suga mendatangi giana.


"Aku tidak ingin apa pun, Aku ingin sendiri dan menghasil kan banyak uang! Sudah tidak ada tujuan untuk bahagia, Aku hanya menjalani hidup semau ku saja dan menunggu kematian." Sahut giana.


Sebegitu rapuh kah jiwa giana, Bahkan semangat hidup nya telah hilang entah kemana. Ibu yang menjadi prioritas utama nya pun kini telah tiada.


"Maaf kan aku." Sesal suga ketika giana sudah teringat ibu nya lagi.


"Aku tidak ingin bersama mu oppa, Karena aku tau kau akan menderita menahan rasa cemburu ketika aku bersama orang lain." Ujar giana.


Tidak ada jawaban dari suga, Ia tidak memikir kan apa pun jika bersama giana yang seperti ini. Karena suga tahu seberapa rusak nya mental giana saat ini.

__ADS_1


Pada dasar nya giana memang sudah tidak memiliki kepercayaan pada hubungan, Kini sang ibu pun telah pergi. Tentu saja giana akan seenak nya menghabis kan hidup nya.


"Kau tidak ingin aku tersakiti?" Suga bertanya sambil mengelus kepala giana.


Hanya anggukan kecil yang giana berikan, Pada dasar nya giana juga tidak yakin jika ia mampu menjaga perasaan suga jika mereka terus bersama menjalin hubungan.


"Ada saat nya nanti oppa akan sakit hati ketika aku melakukan adegan intim dengan lawan main, Belum lagi jika aku bersama mereka di real life." Ujar giana.


Suga terdiam mendengar ucapan giana, Tentu saja dia akan sakit hati dan terluka. Sedang kan dia saja tidak pernah menyentuh wanita mana pun.


"Kehidupan kita berbeda oppa! Aku setiap ganti drama atau film. Maka pasangan ku juga akan ganti." Jelas giana.


"Aku tahu itu." Lirih suga nyaris tanpa suara.


"Sanggup kan dirimu melihat nya?! Kalau pun oppa sanggup, Aku yang tidak kuat menjalani hubungan yang terus di bebani dosa." Ujar giana.


"Harus kah ku buang perasaan ini?" Tanya suga.


Tidak bisa giana menjawab pertanyaan suga, Karena ia juga memiliki perasaan yang sama. Ia ingin bersama namun juga takut untuk memulai nya.


Suga bekelebat pergi meninggal kan giana, Luka hati nya akan semakin dalam jika terus bersama tanpa ada keputusan.


Tak, Tak.


Suara sepatu mendatangi ruangan tempat wina dan asih, Mereka tidak satu ruangan dengan indra. Sudah hampir pagi, Namun giana tidak bisa memejam kan mata barang sekejap pun.


"Kalian bisa tidur walau sudah kehilangan ibu." Lirih giana menatap kedua kakak nya.


Wina dan asih tertidur pulas di atas ranjang, Mereka sudah tidak di ikat lagi atas perintah dari jacob. Karena kakek tua itu juga kasihan pada cucu nga ini.


"Giana..."


Wina terbangun ketika di ujung ranjang ada yang menatap nya tajam, Bahkan asih juga ikut terbangun.


"Ada apa giana?" Asih bertanya dengan suara serak.


"Tidak ada! Aku hanya ingin bercerita jika aku tidak bisa tidur tanpa ada ibu di samping ku." Jawab giana mendekati kedua kakak nya.


"Mari tidur bersama kami." Ajak wina menggeser.

__ADS_1


Smirk menakut kan keluar dari bibir giana, Bukan senyum yang indah. Baik wina mau pun asih langsung ketakutan.


Apa lagi kini mereka sadar jika giana bukan orang sembarangan, Ada jacob dan banyak lagi lain nya yang mendukung giana.


"Giana.. Aku berani bersumpah jika aku tidak ada ikut andil dalam kematian ibu! Biar pun aku jahat seperti ini, Aku juga ingin punya ibu." Ujar wina.


"Sumpah mu palsu wina! Kau dulu kerap bersumpah pada ayah dan ibu setelah mencelakai aku." Lirih giana.


Wina terdiam karena adik bungsu nya masih ingat semua kelakuan buruk nya, Ia memang sering membuat sumpah palsu untuk melarikan diri dari hukuman.


"Ibuku mati karena kalian! Jika kalian tidak membuat nya rindu, Maka saat ini aku masih punya ibu." Teriak giana.


"Kami tidak membunuh nya giana, Meski aku tidak yakin jika ibu bunuh diri." Sahut asih.


"Apa yang membuat mu tidak yakin?!" Giana langsung menghampiri asih.


"Le..lepas kan dulu aku." Asih tergagap ketakutan karena giana mencengkeram pundak nya.


Giana melepas kan cengkeraman nya kasar, Ia menatap asih tanpa berkedip. Sementara asih gemetar ketakutan.


"Aku yakin dia tidak bunuh diri karena hidup nya enak bersama mu, Tidak ada yang membebani pikiran ibu." Asih mengeluar kan pendapat nya.


Plaaak.


Tanpa dugaan dari asih, Giana malah menampar pipi nya hingga membekas merah. Asih merintih kesakitan.


"Meski aku telah bekerja keras siang dan malam, Bahkan ada kakek juga yang membahagia kan ibu! Namun dia tetap tidak bahagia sepenuh nya, Itu karena kalian." Bentak giana.


"Ibu masih saja merindukan kalian, Kenapa mulut ku seenak nya saja berkata." Sentak giana.


Asih menangis di peluk wina, Selama ini ia mengira karena gayatri sudah hidup enak jadi tidak merindukan mereka. Padahal nyata nya setiap hari gayatri memikir kan kedua anak yang ia tinggal kan.


"Ibu memikir kan kalian, Merindukan kalian siang dan malam! Hingga terpaksa aku mengizin kan ia untuk pergi menemui kalian, Namun dia pulang tanpa nyawa." Giana menangis lagi.


"Mungkin jika ibu bunuh diri di sini, Ada alasan nya karena ia rindu pada kalian dan aku tidak memberi nya izin! Namun kenapa ibu bunuh diri setelah bertemu kalian?!" Giana merosot kelantai.


"Nona!"


Park solomon yang tahu jika giana menemui dua kakak nya pun menerobos masuk, Sigap ia membantu giana untuk berdiri lagi. Ia pun kasihan melihat keadaan giana yang seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2