
Giana tidak bisa memberikan reaksi apa pun ketika jasad ibu nya telah sampai, Suga sejak tadi memeluk nya agar tidak hilang kendali.
Bayangan sang ibu yang meninggal kan nya tidak bisa ia hapus kan, Tetes air mata tidak berhenti sejak tadi.
Jacob juga tidak percaya jika kini putri nya telah meninggal kan dia, Wajah pucat gayatri tidak kuat ia tatap.
"Lidah nyonya membiru karena bekas racun yang ia minum tuan, Ini murni karena bunuh diri." Ucap dokter yang memeriksa ulang.
"Aku tidak percaya jika gayatri bunuh diri, Tidak ada alasan untuk nya." Desis jacob.
"Kita tidak tahu isi pikiran manusia tuan, Mungkin saja nyonya tekanan batin." Ujar dokter park.
Buaak.
Baru saja dokter park berucap jika gayatri tekanan batin, Tubuh nya terpental karena di tendang oleh giana. Tidak hanya itu saja giana naik kedada nya dan memukuli wajah dokter park.
"Apa yang kau katakan sialan?! Siapa kau hingga berani mengatakan jika hidup ibu ku penuh tekanan." Geram giana tidak kuat menahan emosi.
"Giana!"
Suga berlari menarik giana agar melepas kan cengkeraman nya pada dokter park, Sementara kondisi dokter park sudah babak belur. Tinju giana tidak di ragukan lagi, Karena jika sedang senggang dia berlatih boxing.
"Lepas kan aku! Bajingan ini enak saja bicara." Giana berhasil melepas kan diri.
"Kendali kan diri mu giana." Suga membentak keras.
Buaak.
Tinju yang seharus nya menghantam dokter park malah salah sasaran, Suga terjungkal kebelakang.
"Hajar saja aku, Aku tidak akan masalah dengan hal itu." Ujar suga menekan suara nya.
Giana mematung karena salah menyakiti orang, Penyesalan karena telah menjatuh kan tangan kepada suga.
"Dia hanya memberitahu mu jika ibu meninggal karena bunuh diri, Kenapa kau malah begini?" Suga mengusap bibir nya yang robek.
"Tapi dia berkata jika ibu ku punya tekanan." Kesal giana.
Suga meraih giana agar bisa tenang kembali, Sangat susah membuat gadis ini tenang. Karena emosi giana yang sangat susah untuk di kendali kan.
"Pergilah." Suga menyuruh dokter park keluar.
Akhir nya gayatri di kubur kan walau pun giana terus menjerit jerit mengamuk, Untung saja beberapa bodyguard dan suga tetap memegang nya.
"Ibuu... Lepas kan aku, Aku mau ibu." Giana meronta ronta.
"Giana tenang lah." Suga mendekap giana erat.
__ADS_1
"Aku mau ibu, Jangan tinggal kan aku ibu." Jerit giana semakin menjadi.
Setelah proses pemakaman yang menguras air mata, Akhir nya pemakaman gayatri pun usai.
"Ayo kita pulang." Ajak suga menarik giana berdiri.
"Aku ingin di sini saja, Kalian pulang lah." Giana malah berbaring di makam sang ibu.
"Giana! Kita sudah lama berada di sini." Bujuk jacob.
"Lalu mau kakek bagai mana, Kalian ingin aku meninggal kan ibu sendirian?!" Suara giana meninggi.
"Kau harus istirahat juga giana! Ayo kita pulang." V juga berusaha membujuk.
Tidak ada jawaban dari giana, Ia malah menatap kuburan ibu nya. Tetes air mata kembali mengalir deras.
"Aaakkk, Huhuhuhu! Ibu..."
"Gianaaaa."
Jungkook dan jimin tidak kuat melihat giana yang seperti ini, Mereka tidak bisa membayang kan perasaan giana. Ibu nya adalah satu satu nya keluarga terdekat giana.
"Aku harus bagai mana sekarang ibu?! Aku sendirian." Jerit giana.
"Sudah giana." Jacob bergetar tidak kuat.
"Bangun lah ibu, Kata nya ibu akan memberiku kado istimewa." Giana terisak isak.
"Kita pulang ya nak, Supaya bisa menyelidiki kematian ibu mu! Kakek juga tidak percaya jika gayatri bunuh diri." Ujar jacob.
Giana langsung menoleh ketika mendengar ucapan sang kakek, Ia pun bangkit dan berlari masuk mobil.
Kedua kakak giana masih di mansion jacob, Mereka tidak di izin kan ikut kepemakaman. Mobil giana melaju kencang.
"Segera kejar cucuku." Titah jacob pada bodyguard nya.
"Shiit, Dia bahaya sekali bawa mobil." Namjoon takut melihat giana yang melaju kan mobil nya sangat kencang.
"Di mana taehyung?!" Jimin mencari taehyung yang hilang.
"Aku tadi melihat nya ikut masuk mobil giana." Sahut jungkook.
"Shiball!"
Suga mengumpat karena malah taehyung yang bisa bersama giana, Padahal ia yang sejak tadi di samping giana.
"Aku akan mengejar nya." Suga mengambil kunci mobil dari tangan bodyguard.
__ADS_1
...****************...
Wina dan asih menatap giana yang datang dengan wajah yang sangat tidak ramah, Apa lagi di tangan nya ada pistol.
"Jangan terbawa emosi." Taehyung mengingat kan pelan.
Namun sama sekali tidak giana hirau kan, Dia mencengkeram leher wina dengan kasar hingga kakak nya susah bernafas.
"Gara gara kau ibu ku tidak ada! Kenapa kalian selalu membuat ibu dan hidup ku menderita!" Bentak giana.
"Giana lepas kan dia, Dia kakak mu giana." Bujuk asih.
V yang tidak tahu mereka sedang bicara apa pun hanya diam saja, Karena giana mengguna kan bahasa indonesia.
Braaak, Pyarr.
Tubuh wina di lempar dengan kasar hingga meja kaca pun pecah, Asih menangis terisak isak karena ketakutan.
"Aakk, Uhuk. Uhuk."
Terbatuk batuk wina sambil menahan rasa sakit di leher nya, Bahkan giana tanpa kasihan menginjak perut nya.
"Katakan apa yang terjadi di sana?!" Bentak giana.
"Giana, Kita bicara baik baik." Bujuk taehyung menarik giana.
"Ibu rindu mereka oppa, Sehingga dia meninggal kan aku dan pulang keindonesia. Ibu pergi dengan keadaan sehat, Namun pulang sudah tidak bernyawa." Sesal giana kembali menangis.
Asih berusaha mendekati giana untuk menjelas kan apa yang terjadi, Namun ia juga takut karena wajah giana yang sangat galak.
"Ibu usai bicara dengan kami, Namun tak lama ayah datang dan mengajak ibu bicara! Tak lama kami menemukan ibu sudah tergeletak dengan mulut berbuih." Jelas asih.
"Lalu di mana jahanam itu?!" Tanya giana menatap tajam.
"Dia juga ayah mu giana." Ujar wina yang tidak terima saat indra di sebut jahanam.
"Haissh!"
Giana ingin maju lagi mengahajar wina, Namun taehyung cepat merangkul erat giana agar tidak bisa melepas kan diri.
"Dengar kan dulu cerita mereka ya." Bisik v ketelinga giana.
Asih menelan ludah karena takut nya melihat giana, Apa lagi pistol di tangan nya belum juga di lepas kan.
"Katakan di mana ayah kalian sekarang." Ucap giana.
"Aku tidak tahu giana, Ketika kami datang ayah sudah hilang." Jelas asih.
__ADS_1
"Beserta harta yang ada di tubuh ibu kan?! Berlian ibu hilang yang ada di jari nya." Ujar giana.
Asih dan wina tidak tahu tentang berlian yang giana bicarakan, Memang mereka melihat cincin yang ibu nya kenakan. Namun tidak tahu jika itu berlian.