Perjalanan Hidup Giana

Perjalanan Hidup Giana
Epa19


__ADS_3

Gayatri memandikan putri nya yang duduk di kursi, Giana menolak ketika perawat yang akan membersih kan tubuh nya.


"Ibu."


"Hmmm, Apa kedinginan sayang?" Tanya gayatri menatap putri nya.


"Jika nanti ibu sudah tua, Maka aku yang akan gantian memandikan ibu." Ucap giana memandang mata ibu nya.


"Iya, Semoga ibu walau pun sudah tua tidak merepot kan mu." Sahut gayatri.


"Mana ada aku repot! Nanti aku jadi bisa balas budi." Giana memegang tangan gayatri dan mencium nya.


Gayatri tersenyum melihat perkembangan putri nya yang semakin membaik, Suara serak giana perlahan sudah mulai menghilang walau pun tidak sepenuh nya.


Sempat giana mengeluar kan kotoran bercampur darah juga, Namun dokter mengatakan jika itu adalah sisa racun yang sempat tertinggal.


"Dasar sialan orang yang meracuni ku! Kan jadi gagal mau membuka hotel lagi." Rutuk giana.


"Kau ini, Masih saja pekerjaan yang di pikir kan." Seru gayatri menuntun anak nya keluar kamar mandi.


"Lomon, Apa sudah ada bukti nya." Giana bertanya pada solomon.


"Eehh maaf nona, Saya akan keluar dulu." Pamit lomon malu.


Giana baru sadar jika hanya memakai handuk, Gayatri tertawa melihat putri nya yang bersemu merah karena malu.


"Ibu!!"


"Mana ibu tahu kalau dia ada di sini." Ujar gayatri.


"Aku mau yang warna hijau." Giana meminta dalaman nya.


"Ooh ada nama mu di sini?!" Kaget gayatri melihat dalaman giana.


"Iya dong, Aku memproduksi nya sendiri." Bangga giana.


"Sungguh?! Kenapa ibu tidak tahu."


"Belum sempat cerita bu, Ini tidak untuk di jual." Sahut giana.


Gayatri menggut manggut mendengar ucapan putri nya, Giana sangat pintar jika mengelola uang. Walau pun kecil maka uang tersebut akan di gunakan membuka usaha.


"Kamu bahas saja dengan solomon, Ibu menunggu di luar." Gayatri keluar untuk memberi ruang pada giana.


Solomon masuk dan membungkuk hormat pada sang nona, Giana mengajak nya duduk agar lebih leluasa.


"Memang ha joon pelaku nya nona, Dia sakit hati karena penolakan mu!" Jelas solomon.


"Dasar bajingan tidak tahu terima kasih." Geram giana.


Padahal giana tidak mempolisi kan ha joon meski pria tersebut sudah meleceh kan nya, Ia ingin memaaf kan agar tidak ada kerugian yang akan di terima.


Namun ha joon bukan nya berterima kasih, Malah berniat jahat untuk membunuh nya karena dendam.

__ADS_1


"Apa yang akan nona lakukan?" Tanya solomon.


"Jangan polisi kan dia! Aku akan mengurus nya." Ujar giana.


"Baik nona." Angguk solomon.


Ha joon sudah berada dalam genggaman solomon, Dia hanya tinggal menanyakan pendapat giana.


"Segera urus kepulangan ku! Aku sudah merasa sehat." Pinta giana.


"Namun anda belum sepenuh nya sembuh nona." Cegah solomon.


"Aku sudah sehat! Lagi pula ada dokter keluarga di mansion kakek." Sahut giana.


Karena giana bersikeras ingin pulang saja, Jacob pun mengizin kan nya dengan syarat harus tinggal di mansion nya.


"Ada yang sakit nak? Wajah mu pucat." Cemas gayatri.


"Wajah ku memang putih ibu, Mana ada ini pucat." Sangkal giana.


"Melawan saja pada orang tua!" Rutuk jacob menjitak dengkul giana.


"Haish!"


Giana sudah membayang kan bagai mana nanti terkekang nya saat tinggal di mansion jacob, Belum sampai saja giana sudah merasa sesak untuk bernafas.


"Ibu, Aku ingin makan ayam goreng buatan mu." Pinta giana.


"Tidak boleh! Anak ku tidak ku izin kan lagi memasak." Larang jacob.


"Pokok nya tidak boleh, Minta maid saja yang membuat nya." Kekeh jacob.


"Kenapa kakek begitu? Aku ingin makan masakan ibu ku." Rutuk giana.


"Tidak akan ku izin kan lagi anak ku bekerja keras, Kini ia hanya boleh duduk santai menghabis kan uang ku! Ooh anak ku yang berharga." Jacob memeluk gayatri.


Ini lah yang giana malas kan jika tinggal bersama, Rasa iri dalam hati nya sangat tidak bisa di kendalikan.


"Aiissh shibal sekiya!"


"Yah! Berani nya kau mengumpat di hadapan orang tua." Jacob ingin menjewer telinga giana namun tidak bisa.


"Sulit sekali mengumpat dengan sopan." Keluh giana.


"Sungguh? Adakah umpatan yang sopan." Heran jacob.


Giana tidak menjawab pertanya kakek nya, Ia menatap jendela mobil melihat mobil lain yang berlalu lalang.


...****************...


Ha joon yang di ikat ketakutan melihat kedatangan solomon dan giana serta jacob, Wajah nya pun sudah babak belur di hajar oleh lomon.


Buaak, Braak.

__ADS_1


Kursi yang di duduki ha joon terpental kebelakang karena di tendang oleh jacob, Giana kaget melihat kebringasan kakek nya.


"Kau yang ingin membunuh cucuku! Berapa nyawa yang kau punya memang nya?" Geram jacob.


"Ampuni aku tuan, Tolong ampuni aku." Ha joon sangat kesakitan.


"Aku sudah berniat memaaf kan mu sebelum nya! Tapi kau menyalah gunakan kebaikan ku." Giana berkata dengan nada dingin.


"Tidak giana! Aku tidak akan mengulangi nya." Janji ha joon.


Greepp.


Suara sepatu giana yang menginjak mulut ha joon, Bahkan gigi ha joon ada yang patah sangking kuat nya giana menginjak.


"Aarrkhh, Aakhh!"


Jeritan ha joon menggema dalam ruangan ini, Jacob tersenyum melihat kesadisan cucu nya.


"Lihat kakek, Begini cara menggunakan nya." Jacob mengeluar kan pistol.


"Hah?!"


Terkejut giana melihat jacob mengeluar kan pistol, Memang giana sekali lewat pernah melihat nya. Namun ia masih kaget karena jacob sungguh menggunakan nya sekarang.


Klek, Dor.


"Aarrkhhh!"


Ha joon menjerit kesakitan karena jacob menembak kaki nya, Giana tersurut mundur karena kaget.


"Jika ingin menghabisi musuh jangan setengah setengah! Apa lagi sampai punya rasa takut dalam diri, Kau akan akan kalah jika begitu." Jacob berkata tegas.


"Ak aku.. Aku hanya terkejut." Gugup giana melihat darah ha joon.


"Kesempatan itu lah yang akan musuh gunakan untuk menghabisi mu, Tidak perlu terkejut apa pun yang terjadi di depan mata." Nasihat jacob.


"Wajar nona giana terkejut tuan, Dia kan baru pertama melihat." Solomon membela giana.


"Haish diam kau ikan salmon!" Sentak jacob membuat solomon mundur.


Jacob mendatangi giana dan memberikan pistol nya, Giana gemetar menerima benda tersebut.


"Bidik telinga nya." Suruh jacob menunjuk telinga ha joon.


"Aku?!"


"Setan! Tentu saja kau." Geram jacob yang ternyata sangat galak.


"Aku.. Aku tidak berani kakek." Tolak giana.


"Sampai kapan kau terus tidak berani?! Siapa yang akan melindungi ibu mu." Bentak jacob.


"Kenapa ibu harus ada yang melindungi?" Tanya giana bingung.

__ADS_1


Jacob menarik nafas panjang untuk bicara, Jujur ia khawatir jika keselamatan anak dan cucu nya terancam. Karena sekarang para rival nya tahu jika ia telah menemukan putri nya.


__ADS_2