
Rangkulan tangan suga di pundak nya membuat giana merasa sangat nyaman, Di tambah hembusan angin yang seolah merestui perasaan ini.
"Bukan kah ini jadi kencan pertama kita?" Tanya suga menatap giana.
"Kencan?!"
"Hmm, Sejujur nya aku juga menyukai mu. Walau pun sudah berusaha aku hilang kan, Namun tidak bisa." Ucap suga.
Giana menatap suga yang juga sedang menatap nya, Ada yang salah tanggap dalam pikiran suga.
"Oppa, Aku memang mencintai mu! Namun aku tidak ingin menjalin hubungan." Ujar giana menyakiti perasaan suga.
"Maksud mu bagai mana?"
"Akan lebih baik jika kita tetap seperti biasa, Aku tidak ingin menjadi istri atau kekasih orang." Tegas giana.
"Lalu kenapa kau mencintai ku? Bukan kah alasan mu itu hanya untuk bisa bebas bergendengan dengan pria mana pun." Suga menatap tajam.
Giana menghelai nafas panjang, Ada rasa menyesal karena sudah mengakui perasaan nya. Kini mereka malah jadi bertengkar karena beda pendapat.
"Oppa, Aku tidak percaya kepada pria mana pun." Lirih giana.
"Bahkan aku?! Apa alasan mu giana, Tidak semua pria itu akan seperti ayah mu." Bujuk suga.
"Dalam hubungan, Komitmen itu hanya omong kosong. Setia itu bohong, Semua akan berubah jika telah bertemu orang baru." Ujar giana.
Suga membuang muka karena tidak akan bisa meyakin kan hati giana, Sangat sulit menyakin kan hati yang telah remuk hancur lebur seperti ini.
"Terserah kau saja." Angguk suga tidak ingin memaksa.
"Bukan berarti aku ingin bebas berhubungan dengan pria mana pun, Hanya saja aku tidak ingin terikat pada pria." Ucap giana.
"Hhmm iya."
Tidak ada tanggapan lagi dari suga, Ia malah menggandeng tangan giana meninggal kan pantai.
"Kita mau kemana?" Tanya giana ketika mobil sudah melaju.
"Aku baru teringat kalau ada kerjaan." Ujar suga.
Giana tahu jika itu hanya alasan suga saja, Namun ia tidak ingin mengungkit nya. Bisa saja suga sangat kecewa.
"Sampai jumpa lagi." Suga melambai kan tangan ketika mengantar giana pulang.
"Semangat oppa, Aku akan menonton konser mu besok." Janji giana.
"Sungguh?!"
__ADS_1
"Iya, Sekalian aku ada kerjaan di LA." Angguk giana.
Suga tersenyum dan mobil melaju meninggal kan giana, Sementara gadis ini masih mematung di tempat.
"Kau kenapa?" Tanya seohyuk tiba tiba.
"Haiss kau ini, Buat kaget saja." Rutuk giana bergegas masuk mobil nya.
"Mau kemana lagi kita?" Seohyuk ikut masuk juga.
"Hotel haerin."
*****
Asih pulang kedesa nya setelah sekian lama tidak pernah melihat wajah sang ayah dan kakak, Ia tahu jika sang ibu telah pergi entah kemana.
"Kemana saja kau itu? Tidak pernah sama sekali melihat ayah." Kesal indra.
"Ayah kan juga sudah senang mendapat kan janda kaya, Nanti malah mengira aku mau minta uang." Sahut asih.
"Berani sekali kau membantah ku sialan!" Indra hendak menampar asih.
Namun triyoga sigap melindungi istri nya, Anak asih yang lelaki hanya diam saja. Asih sudah memiliki anak dua.
"Kami datang karena ingin melihat keadaan ayah Tapi malah seperti ini kalian." Kesal asih.
"Tidak perlu aku kau lihat, Kirim kan saja aku uang sebagai bentuk balas budimu." Sinis indra.
"Jangan begitu dik, Tenang lah sedikit." Cegah triyoga.
Indra bergegas masuk meninggal kan anak menantu dan cucu nya, Wina yang sejak tadi diam pun menatap adik nya.
"Kenapa kau kak?" Tanya asih melihat kakak nya yang lesu.
"Dia menghianati aku sih, Aku merasa kan penderitaan seperti ibu." Isak wina.
"Maksud mu mas adi?"
"Iya, Dia berselingkuh dengan zaenap." Beritahu wina.
"Zaenap?! Istri nya mas guntur." Kaget asih mendengar nama istri sepupu nya.
Wina mengangguk sambil mengusap air mata nya, Memang sekarang tubuh wina tampak kurus kering mungkin saja karena banyak pikiran.
"Urusan mu lah itu, Aku masih bingung kemana ibu dan giana pergi." Keluh asih.
"Kau tidak baca artikel, Dia itu giana adik kita." Sahut wina.
__ADS_1
"Benarkah?! Aku membaca namun ragu jika itu memang giana." Ujar asih.
"Terlalu mustahil memang jika giana kita bisa menjadi bintang besar, Dan ada satu lagi berita yang mengatakan jika giana membuka sebuah hotel besar." Ucap wina.
"Dia pantas bahagia, Sejak kecil selalu menderita." Asih mengingat adik nya.
"Anak mu sudah sekolah?" Tanya asih pada anak wina.
"Sudah, Tiap malam menanyakan ayah nya." Ujar wina.
Asih menghelai nafas panjang, Kasihan juga ia melihat kakak nya yang di selingkuhi oleh suami nya dengan istri sepupu mereka.
*****
Tidak peduli dengan tubuh yang lelah dan mata yang mengantuk, Giana berkerja keras dari kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala.
Kini di usia yang belum genap dua puluh tahun, Giana berhasil mendirikan agensi milik nya sendiri.
Dua tahun yang ia jalani ini sangat lah ringan bagi nya, Karena ada sang ibu yang selalu memberi semangat dan menyokong mental nya.
"Tidur lah anak ibu sayang." Gayatri mengelus kepala giana dalam pangkuan nya.
"Ibu, Nanti di ulang tahun ku yang kedua puluh. Berikan aku kado istimewa ya." Pinta giana.
"Masih lama, Sekarang saja baru bulan juni tanggal enam belas." Sahut gayatri.
"Ku bilang lah dari awal, Agar ibu bisa memikir kan hadiah istimewa itu." Ucap giana di tengah kesadaran nya yang hampir hilang.
"Ayo kita pindah saja kekamar, Ibu juga ngantuk." Ajak gayatri.
Giana yang sangat ngantuk berjalan lesu masuk kamar nya, Gayatri tidur memeluk anak nya sambil bernyanyi kecil.
"Apa tidak ingin menikah suatu saat nanti gi?" Tanya gayatri hati hati.
"Tidak."
"Kan kalau menikah jadi punya teman untuk menami mu tidur seperti ini." Ujar gayatri.
"Aku sudah punya ibu yang menemani, Tidak butuh lain nya." Jawab giana mantap.
Gayatri tidak berlanjut untuk bertanya, Ia mengelus elus kepala putri nya agar tidur lelap.
"Bagai mana ya kabar dua anak ku?" Gayatri teringat anak nya yang sudah ia tinggal kan bertahun tahun.
Ada rasa rindu yang terselip di hati nya, Bagai mana pun ia seorang ibu yang sangat menyayangi anak nya.
Jika saja indra tidak selalu menyakiti hati nya, Maka gayatri akan terus bertahan demi anak anak. Namun indra selalu menyakiti hati dan fisik nya, Di tambah giana yang selalu di asing kan dengan kejam.
__ADS_1
"Kini hidup mu sudah berkecukupan sayang, Semoga kelak hati mu terbuka untuk pria." Doa gayatri mencium kening giana.
Gayatri pun memejam kan mata untuk tidur, Walau pun bayangan wina dan asih seolah menari nari di pelupuk mata.