
Indra yang tertangkap kini menggigil ketakutan, Dia hanya bandit biasa yang tidak punya persembunyian khusus. Tentu saja para bodyguard tidak sulit mencari nya.
Koneksi jacob yang menyebar luas sehingga indra cepat di temukan, Kini indra sudah berada di korea ruang penyekapan jacob.
"Di mana cucu ku sekarang?" Tanya jacob pada solomon.
"Mereka di kamar penyekapan tuan." Jawab solomon.
"Hmmm, Apa yang giana lakukan sekarang pada dua iblis itu?" Tanya jacob lagi.
"Nona giana sedang pergi untuk menyendiri, Mereka hanya berdua saja." Jelas lomon.
"Jadi saat ku tanya cucu tadi, Kau mengira aku menanyakan iblis itu?!" Jacob menggeram.
Solomon menunduk karena salah mengira, Padahal wina dan asih juga cucu nya jacob. Namun ternyata jacob hanya mencari giana.
"Kasihan sekali cucu ku, Pasti sekarang dia sedang menangis sendirian." Jacob membayang kan giana.
"Nona giana memang tidak ingin di temani jika berkata ingin sendirian tuan, Ada tempat yang biasa ia datangi." Seohyuk angkat bicara.
"Jadi kalian tidak ada yang tahu di mana tempat itu?!" Jacob tampak kaget.
Solomon dan seohyuk menggeleng pelan, Takut jika sampai di semprot oleh pria tua namun tampan ini.
"Hanya suga yang tahu di mana tempat itu tuan." Ujar seohyuk.
"Suga? Siapa anak itu." Jacob tidak ingat.
"Dia salah satu dari ketujuh pria itu tuan, Yang kulit nya sangat putih pucat." Jelas seohyuk.
"Oooh sikulkas tujuh pintu ternyata." Jacob baru ingat.
Mereka hanya diam tidak menyahuti ucapan jacob, Akhir nya seohyuk berpamitan untuk pergi mengurus perlengkapan giana.
"Buka penutup kepala nya." Titah jacob pada anak buah nya.
Solomon membuka penutup kepala indra, Kain hitam di buka dan tampak lah wajah indra yang mulai keriput di makan usia. Karena usia indra dan gayatri memang terpaut jauh.
"Hah! Siapa kalian?" Indra ketakutan melihat sekeliling.
"Apa yang telah kau lakukan pada anak ku?!" Jacob bertanya tanpa basa basi.
"Apa maksud kalian, Aku tidak tahu." Indra berteriak keras.
__ADS_1
Solomon menunjukan foto gayatri pada indra, Seketika indra mendelik karena baru tahu jika yang di hadapan nya ini adalah ayah mertua nya.
"Ka..kau ayah gayatri?" Indra tergagap tidak percaya.
"Katakan apa yang telah kau lakukan?" Desak jacob.
"Aku juga tidak tahu ayah mertua, Saat aku melihat nya dia sudah meneguk racun dan tergeletak di lantai. Aku ketakutan dan langsung lari." Jelas indra.
"Bawa dua anak nya." Titah jacob.
Bodyguard mengambil wina dan asih yang masih dalam keadaan terikat, Mereka berdua di paksa jalan menemui ayah nya.
"Ayah.."
Asih dan wina kaget karena ada indra di sini, Namun mereka masih menatap sekeliling mencari keberadaan nya giana.
"Mereka yang pertama menemukan nya ayah! Aku yakin mereka pasti tahu kejadian nya." Indra menunjuk dua putri nya.
"Berhenti memanggil ku ayah!" Bentak jacob.
Indra terjingkat karena di bentak oleh ayah mertua nya, Asih dan wina menunduk sedih karena malah di jadikan umpan oleh ayah nya.
Buak, Buaak.
"Setelah semua yang kau lakukan pada anak dan cucu ku! Berani sekali mulut mu menyebut ku ayah." Geram jacob.
"Ini salah paham tuan, Aku tidak mungkin tega pada mereka." Kilah indra.
Tak lama detak sepatu mendatangi tempat ini, Jacob yang kembali akan meninju indra pun menjadi urung.
"Nona."
Bodyguard menunduk hormat ketika giana masuk bersama suga, Sengaja suga ingin ikut karena takut jika giana sampai lepas kendali.
"Gianaa..."
Indra tidak menyangka jika anak yang selalu ia siksa dan sia sia kan kini sudah tumbuh besar dan sangat cantik, Namun kecantikan nya tersimpan sejuta keangkuhan saat menatap nya.
"Dia baru saja datang, Kakek ingin kau yang menyelesai kan nya." Ujar jacob.
Duk, Buaak.
Dagu indra di makan dengkul giana hingga membuat nya terjungkal kebelakang, Tak hanya sampai di situ saja. Giana menarik kaos yang indra kenakan dan kembali menghujani tinju.
__ADS_1
"Gara gara kau ibu ku meninggal! Apa yang kau lakukan pada ibu ku bangsaat?" Teriak giana.
"Gianaaa.."
Asih dan wina menjerit ketakutan sekaligus tidak tega melihat ayah nya yang di hajar, Robekan bekas tinju pun mengalir kan darah. Karena ternyata di tangan giana ada borgol yang untuk melapisi tangan.
"Giana! Cukup giana." Suga mengambil tubuh giana.
"Lepas kan aku! Aku bunuh dia sekarang." Teriak giana meronta ronta.
"Jika kau bunuh maka kita tidak tahu bagai mana ibu meninggal." Bujuk suga susah payah.
Mendengar hal itu baru lah giana bisa tenang dan kembali berdiri tegak, Nafas nya terengah engah.
"Dia ayah mu giana, Bukan kah katamu dia sangat jahat. Jika dia mati maka kau tidak bisa membanggakan semua prestasi yang kau dapat." Suga kembali bicara.
"Bangun kan dia." Suruh giana pada lomon.
Indra yang di ikat kekursi pun kembali di bangun kan, Posisi indra sangat rawan walau pun hanya satu kali pukulan. Pria tua ini terengah engah menahan sakit nya.
Ini lah yang giana sangat benci dalam diri nya, Hati giana tidak tega melihat sang ayah yang sudah tua menahan rasa sakit seperti ini.
"Kau tahu aku sekarang?" Giana bertanya di hadapan indra.
"Maaf kan ayah yang sejak dulu kerap menyiksa dan membeda beda kan dari kedua kakak mu, Maaf juga ayah selalu mencaci maki mu anak haram." Sesal indra.
"Katakan saja apa yang kau lakukan pada ibu ku?!" Giana tidak menatap indra.
"Ayah sungguh tidak tahu apa apa giana, Kami memang sempat bicara. Lalu ayah membuat kan teh untuk ibu mu, Tapi saat kembali dia sudah tergeletak dengan mulut berbusa." Ujar indra menunduk sedih.
"Kau pikir aku ini apa sialan?!" Bentak giana kembali mengeras.
"Apa?!"
"Racun tidak membunuh secepat itu! Hanya dengan jarak beberapa menit saja untuk membuat teh, Ibu pasti kesakitan terlebih dulu bahkan bisa mengelepar karena organ dalam nya terkena racun." Giana terduduk menangis membayang kan rasa sakit gayatri sebelum menghembus kan nafas terakhir.
Indra terdiam karena tidak bisa menyangkal ucapan giana, Membuat reh paling lama cuma lima sampai enam menit.
"Kalian?! Kenapa kalian malah diam saja menerima kebohongan nya, Dia juga ibu kalian." Isak giana menunjuk dua kakak nya.
"Apa kakak tahu, Ibu mati karena ingin melihat wajah kalian berdua! Tapi kenapa kalian malah melindungi kejahatan biadap ini." Teriak giana memukul kepala wina dan asih.
Wina dan asih sama sekali tidak menjawab, Mereka memang memilih untuk diam saja sambil menangis.
__ADS_1