
Seohyuk menatap giana yang menghisap rokok nya dengan di temani segelas wine, Semua nya telah berubah ketika kepergian gayatri.
Giana seolah telah hilang arah dalam hidup nya, Peran ibu sangat besar dalam hidup giana. Kini ia menjalani hidup semau nya saja.
"Setidak nya kau masih bisa berteman dengan mereka giana." Seohyuk berkata pelan.
"Tidak bisa! Aku tidak mau pertemanan mereka akan hancur karena aku." Tolak giana.
"Maka pilih lah pria yang kau cintai, Hidup lah bahagia kalian berdua." Seohyuk sangat prihatin dengan giana.
Senyum giana terkembang ketika mendengar ucapan seohyuk, Terlihat menyeram kan senyum ini. Sedikit saja manis nya tidak ada.
"Hidup ku sangat sulit, Aku terus berjuang untuk hidup! Namun sebenar nya aku tidak pernah merasa nyaman satu hari pun." Giana berkata pelan.
"Aku tahu giana, Coba lah untuk membangun hubungan pada seseorang dengan serius." Saran seohyuk.
"Tidak bisa! Aku lelah seohyuk, Aku muak! Entah apa yang salah dengan semua ini. Hanya saja aku merasa muak berhubungan dengan orang lain, Bagai kan pekerjaan berat bagi ku menjalani hari demi hari." Ujar giana.
Seohyuk menangis mendengar kan ucapan giana yang sangat rapuh, Entah bagai mana ia akan berusaha membangkit kan semangat gadis ini lagi.
__ADS_1
"Maaf seohyuk." Giana tersenyum lebar.
"Kenapa kau tersenyum?"
"Bukan kah lebih baik dari pada menangis?"
"Jika ingin menangis ya menangis lah giana, Kau tersenyum begitu malah terlihat lebih menyedih kan." Ujar seohyuk ikut meminum wine.
Tawa giana malah menggema dalam kamar nya, Sudah dua hari ini giana ada di korea. Biasa nya ia akan melakukan perjalanan bisnis yang sangat memusing kan.
"Kau tidur lah, Aku ingin pergi kekamar." Ujar seohyuk.
"Istirahat lah." Suruh giana.
"Ibu! Aku sangat kesepian sekarang." Keluh giana.
Giana bangkit mengambil mantel tebal nya berwarna hitam, Tak lupa juga ia membawa senjata. Sekarang hidup giana di kelilingi banyak musuh dari jacob.
"Kemana kita pergi nona?" Solomon mengikuti giana.
__ADS_1
"Kau diam saja di rumah, Aku ingin sendiri." Giana memgambil kunci mobil dari tangan lomon.
"Izin kan saya ikut nona." Kekeh solomon.
"Tidak usah, Aku akan segera mengabari jika ada bahaya." Tolak giana.
Karena sang nona tetap kekeh tidak ingin di temani, Solomon pun hanya menatap ketika mobil yang giana kendarai semakin menjauh.
Tempat yang biasa kunjungi kini terlihat sepi, Karena hari memang sudah cukup malam. Orang orang biasa nya datang di siang hari saja.
"Kenapa mereka semua pada takut sepi, Padahal sepi bisa membuat tenang." Lirih giana memasukan tangan kedalam saku mantel.
Jika di lihat dari kejauhan giana bagai kan sosok hantu, Mantel hitam dan rambut nya yang tergerai.
"Ternyata hanya aku yang kesepian, Semua nya telah bahagia." Gumam giana duduk di bangku.
Bulir salju yang jatuh mulai mengotori rambut giana, Suasana sedang dingin sekali. Daun pohon mulai berguguran jatuh.
"Setidak nya ada daun yang menemani ku jatuh." Giana tersenyum sedih.
__ADS_1
"Aku ingin menemani juga."
Giana tersentak kaget ketika mendengar suara yang sangat tidak asing ini, Suara yang sudah lama tidak ia dengar. Giana hanya bisa melihat atau mendengar suara nya di layar ponsel.