Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
9. sudah bisa masak?


__ADS_3

“Maaf ma…. Sebenarnya Dista punya banyak hutang pada rentenir itu.” Dista memulai ceritanya.


“ Bagaimana bisa?! Bahkan kamu baru berusia 20 tahun, tapi punya hutang pada rentenir.” Cerca Ratih.


Akhirnya Dista menceritakan semua kisahnya dari awal. Tanpa terasa Ratih meneteskan air mata.


Bagaimana mungkin gadis belia di hadapannya ini mengalami nasib yang sangat miris. Kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, cita-citanya bahkan harus menanggung hutang yang begitu banyak.


“Jadi ini alasan kamu meminta mas kawin yang cukup besar kepada Daffa??” Tanya Ratih.


“Iya ma… Maaf bukan maksud Dista untuk merampok mas Daffa, tapi hanya itu yang bisa Dista lakukan untuk melunasi hutang Dista.


“Apakah Daffa tahu masalah ini?”


“Tidak ma.” Jawab Dista sambil menunduk.


Perasaannya campur aduk, ada rasa takut, cemas tapi juga lega karena bisa berbagi beban dengan orang lain.


“Sebenarnya mama sudah curiga saat ada orang yang menghampiri kamu di kostan waktu itu.”


“Maksud mama…” Dista tak mengerti maksud perkataan mertuanya itu.


“Ya.. mama sempat menyuruh orang-orang mama untuk menyelidiki latar belakang kamu. Tapi mama melewatkan satu bagian penting seperti ini.” Ujar mama Ratih.


“Apa kamu tahu, kenapa kamu bisa berakhir menjadi nyonya Daffa?” Tanya Ratih dengan senyum sejuta arti.


“Maksud mama??” Dista semakin bingung. “Bukannya karena media yang terus menyudutkan mas Daffa??”


“Ya kamu benar… dan mama lah orang dibalik para awak media tersebut!” jawab Ratih sambil terkekeh.


“Ma… Dista semakin gak ngerti arah omongan mama.”


“Dista… mama sangat menyayangi anak-anak mama. Mama Cuma pengen mereka bahagia.” Ratih menghela napas panjang.


“Daffa orangnya tertutup, dia susah bergaul. Meskipun sebenarnya dia cukup hangat dengan orang-orang yang sudah akrab dengannya.”


“Iya aku tahu ma… dan mas Daffa itu jutek banget, jadi takut lihatnya.” Ucap Dista tanpa filter.


Ratih tersenyum mendengar ocehan menantunya itu.


“Eh.. maaf ma! Dista asal bicara.”


“Kamu bener Dis, memang Daffa orangnya seperti itu. Mama beberapa kali menyuruhnya untuk kencan buta, tapi selalu gagal. Dan saat ada berita kemarin itu, mama bertindak cepat. Menyelidiki latar belakang kamu. Dan mama yakin kamu gadis yang baik. Bahkan sepertinya tidak punya pacar.”

__ADS_1


“makanya mama sedikit memperkeruh suasana hahahaa….” Tawa Ratih tanpa rasa bersalah.


“Apa Daffa menyakiti kamu? Apa Daffa kasar sama kamu??” Ratih penasaran.


“Nggak kok ma, mas Daffa gak pernah kasar sama Dista. Ya… meskipun gak pernah anggap Dista ada.”


“Ya sudah, kita pulang ke rumah Mama ya…”


Di kediaman Wiguna.


Ratih menyuruh Dista istirahat di kamar Daffa. Karena mereka akan belajar memasak lagi. Ya memasak makanan kesukaan Daffa adalah salah satu cara Ratih untuk semakin mendekatkan mereka.


Sore hari, Dista dan sang mertua telah sibuk di dapur. Seperti biasa mereka masak yang tak jauh dari seafood, karena memang itu makanan favorit Daffa.


“Ma… emm.. apa mas Daffa pernah punya pacar?” Tanya Dista ragu-ragu.


Ratih tersenyum. “Ya.. dulu waktu SMA, seingat mama Cuma itu aja pacar Daffa, bahkan sampai tua bangkotan gitu gak pernah bawa cewek ke rumah. Makanya mama khawatir.”


“Sekarang udah ada kamu, jadi mama harap kamu bisa membuat Daffa jatuh cinta. Meskipun mungkin akan sulit. Tapi kamu harus berusaha ya…!!” pinta Ratih.


“Oh ya.. apa kamu sudah mulai menyukai anak mama?” Tanya Ratih sambil mengedipkan mata.


“eh..emm…” Dista gelagapan. Bingung harus menjawab apa. Andai mama tahu yang sebenarnya, apa mama masih menganggap aku menantu yang baik. Batin Dista. Heehh Dista menghela napas.


Deg…


Bagai disambar petir. Ucapan Ratih membuat Dista tak berkutik. Bagaimana bisa dengan mudahnya dia menyetujui perjanjian dengan Daffa. Perasaan bersalah semakin menghantui Dista.


Malam harinya Daffa datang ke kediaman Wiguna atas permintaan Ratih. Mereka makan malam bersama.


“Gimana rasanya jadi pengantin baru kak?” Tanya Daffy dengan jahilnya.


“Biasa saja!” Jawab Daffa singkat padat dan jelas.


“Kok gitu jawabnya…” goda Daffy lagi.


“Udah deh gak usah nyebelin.” Ketus Daffa.


“Fa.. ingat ya, pernikahan bukan mainan. Kamu harus serius menjalani nya. Belajar menerima Dista, mama yakin dia gadis yang baik.”


“Iya ma.” Jawab Daffa singkat.


Daffa melajukan mobilnya menuju apartemennya. Sebenarnya Ratih meminta mereka menginap, tapi Daffa menolak. Tentu saja Dista tak bisa berbuat apa-apa. Meskipun dia cukup nyaman di rumah itu. Seperti mendapat keluarga seutuhnya, mendapat kasih sayang mama dan papa mertuanya. Yang menganggap Dista seperti putri mereka sendiri. Dan kejahilan Daffy yang membuat mereka cepat akrab.

__ADS_1


***


Pagi hari di apartemen.


Dista menyiapkan nasi goreng sesuai resep dari mama mertuanya. Berharap Daffa menyukainya. Dista menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Dista menuju kamar Daffa.


Tok..tok..tok..


“Mas Daffa, sarapannya sudah siap. “ tak ada sahutan dari dalam kamar. Dista membuka pintu perlahan. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi.


“Oh,, masih mandi.” Dista masuk ke kamar Daffa, dibukanya lemari pakaian. Dista mulai memilih kemeja celana dan jas dengan warna serasi. Tak lupa mengambil dasi, dan menyiapkan sepatu Daffa. Kemudian ia berlalu pergi dari kamar itu.


20 menit kemudian, tampak Daffa keluar dari kamarnya.


“Mas Daffa sarapan dulu” teriak Dista saat melihat Daffa melangkah keluar.


Daffa menoleh. “Memangnya sudah bisa masak?? Jangan bikin aku sakit perut ya..”


“Isshhh… mas Daffa gak usah khawatir, kan aku belajar masak dari mama.” Jawab Dista dengan senyum manis di bibirnya.


Daffa menuju meja makan, dilihatnya nasi goreng yang lumayan menggugah selera.


“ Emm.. lumayan.” Ucap Daffa setelah mencoba nasi goreng buatan Dista.


“Alhamdulillah kalau mas Daffa suka.”


"Aku berangkat dulu." Ucap Daffa setelah menyelesaikan sarapannya. Daffa berbalik saat mencapai pintu keluar, "Makasih,,!"


"Untuk??"


"Sarapan dan baju ganti ku!" kemudian Daffa keluar dan menutup pintu kembali.


Tersungging senyum di bibir Dista, lega rasanya melihat Daffa mau memakan masakannya dan membiarkan Dista menyiapkan pakaian kerjanya.


Dista meremas dada sebelah kirinya. Ada perasaan asing, di hatinya. Ditambah debaran jantung yang tak karuan.


"Dasar jantung bodoh,!!" Umpat Dista. "Apakah aku mulai menyukai mas Daffa!!" batin Dista.


Seperti orang hilang akal, Dista terus senyum-senyum sendiri sambil merapikan meja makan dan menuju wastafel untuk mencuci peralatan makan yang tadi mereka gunakan.


Dista merasa bosan, seharian hanya di apartemen saja bersih-bersih. Diliriknya jam di hape menunjukkan 10.30.


"Apa aku masak makan siang dan mengantarkannya ke kantor mas Daffa ya?!" Gumam Dista.

__ADS_1


Saat melangkah menuju dapur, kemudian ia berbalik. "Sebaiknya aku tanya mas Daffa dulu. Takutnya malah ganggu dan aku yang kena semprot kalau dia marah!"


__ADS_2