
Sudah menjadi kebiasaan Dista untuk memasak dan menyiapkan segala keperluan Daffa di pagi hari. Bak istri teladan, dengan telatennya Dista mengurus suami kontraknya itu. Tapi entah mengapa, Dista sedikit melupakan perjanjian nikah yang mereka buat.
Entah karena perasaan nyaman akhir-akhir ini. Atau karena desakan mama mertuanya.
Tapi memang ada sedikit perasaan suka terhadap suami kontraknya tersebut.
Dista menuju meja makan setelah mandi dan berganti pakaian. Dista juga sudah menyiapkan pakaian kerja Daffa di atas ranjangnya, ketika Daffa masih di kamar mandi tadi.
15 menit kemudian Daffa keluar dari kamar,
"Ayo sarapan mas." Ajak Dista.
Tepat sebulan pernikahan mereka. Kini mereka semakin akrab dan tidak terlalu canggung.
"Hemm... nasi goreng seafood! pasti enak." Seru Daffa.
Dengan antusias Daffa menyuap sesendok demi sesendok nasi goreng ke mulut nya.
"Makin pinter masak ya..." celetuk Daffa.
Bluussshhh....
Merona bak buah tomat pipi gadis di depannya tersebut.
"Mas Daffa bisa aja!!"
Meski sikap Dista terkesan kekanak-kanakan tapi ia dapat belajar dengan cepat mengenai tugas-tugas nya. Ia memang gadis yang bertanggung jawab dan pekerja keras meskipun kadang sedikit ceroboh.
"Beneran Dis,, kalau dibandingkan dengan pertama kali kamu masak. Nasi goreng seafood pagi ini jauuuhhh lebih enak. bisa dibilang lezat malahan."
"Makasih atas pujiannya mas Daffa!" ucap Dista.
"Aku senang akhir-akhir ini mas Daffa mulai banyak ngobrol sama aku" batin Dista.
"Sama-sama."
"Oh ya, apa nanti siang boleh aku bawakan bekal makan siang buat mas Daffa." tanya Dista ragu-ragu.
"Boleh." jawab Daffa singkat padat dan jelas.
"Serius mas??" Dista membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Iya.. tugas kamu sebagai istri kontrak kan memang untuk melayani semua kebutuhan ku. Dan aku memberikan uang bulanan buat kamu. Adil kan."
Jleb...
Kenapa hatinya seakan diremas mendengar ucapan Daffa, bukannya memang begitu adanya. Bahkan dengan sadar ia menandatangani surat perjanjian itu.
"Iya mas."
Sunyi kemudian, tak ada lagi yang bersuara. Mereka menikmati sarapan dalam keheningan.
Dista mengantarkan suaminya sampai di pintu.
****
Siangnya Dista memasak bekal untuk Daffa. setelah semuanya siap. Ia bergegas mengganti pakaian dan bersiap-siap untuk ke kantor Daffa.
Tiga puluh menit kemudian ia telah sampai di loby kantor Wiguna Grup.
Dista mendekati meja resepsionis.
__ADS_1
"Siang mbak. Apa pak Daffa ada di ruangannya??" Tanya Dista dengan sopan.
"Oh Bu Dista. Iya pak Daffa ada di ruangannya. Apakah perlu saya antar ke ruangan beliau Bu ??"
"Emm.. gak usah. Aku ke sana sendiri saja. Oh ya, jangan panggil Bu dong, aku berasa tua." Dista terkekeh.
Sang resepsionis pun ikut tersenyum, "Baiklah, kalau aku panggil mbak bolehkan??"
"Itu lebih baik." Dista tersenyum.
Sungguh hidup itu berputar seperti roda. Kemarin mana ada yang tau namanya. Selain seragam cleaning servis yang ia kenakan, mana ada yang mengenal dirinya. Tapi hari ini, semua pegawai kantor ini mengenal namanya. Bahkan menyapanya dengan hormat
Tapi jauh di lubuk hatinya. Dista merasa takut semua hal manis yang hari ini ia rasakan akan segera sirna. Bersama dengan berakhirnya perjanjian itu.
Dista menggelengkan kepalanya. Mencoba menghilangkan segala macam pikiran buruk di kepalanya.
Dengan langkah pasti ia ayunkan kakinya menuju lift.
Ting pintu lift terbuka. Dista melangkah menuju meja sekretaris tepat di depan ruangan suaminya.
"Siang Bu.. pak Daffa nya ada??" Tanya Dista.
Diangguki oleh sang sekretaris. "Silahkan masuk Bu, Bapak sudah menunggu di dalam."
"Terima kasih." Dista melenggang meninggalkan sekretaris suaminya tersebut.
Tok..tok.. tok...
ceklek...
Dista membuka pintu tanpa menunggu sahutan dari dalam.
"Kamu sudah datang."Sahut Daffa. "Ayo duduk!" Daffa menunjuk sofa di sebelah meja kerjanya.
Dista pun segera menuju sofa tersebut. Dan meletakkan rantang yang ia bawa.
"Mas Daffa mau makan sekarang??"
"Boleh,, setengah jam lagi aku ada meeting. Jadi lebih baik makan sekarang."
"Pak Beny dimana mas. Aku bawa bekal banyak loh..?" tanya Dista sambil menyiapkan makanan di atas meja.
"Ada di ruangannya."
"Panggil aja mas, biar kita bisa makan bareng." pintanya.
Daffa mengeluarkan ponselnya. "Ke ruangan ku sekarang."
"Mas Daffa mau lauk yang mana biar aku ambilkan" tawar Dista.
"Mau da..." belum selesai bicara terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk" jawab Daffa
"Ada yang bisa saya bantu pak??" tanya Beny setelah sampai di hadapan Daffa.
"Ambil itu, bawa ke ruangan mu."
"Maksudnya.. makanan ini pak?" tanya Beny ragu.
"Iya pak Beny, kebetulan aku masak banyak. Jadi sebagian buat pak Beny. Belum makan siang kan??" ucap Dista Sambil menyodorkan bekal ke hadapan Beny.
__ADS_1
"Terima kasih Bu Dista." Beny menerima makan siangnya.
"Kita makan bareng pak Beny." ajak Dista.
"Bawa ke ruangan mu!" sela Daffa sambil melirik ke arah asistennya tersebut.
Beny menaikkan sebelah alisnya. Kemudian menjawab " Baik pak, Bu Dista saya permisi"
"Iya pak Beny." Dista tersenyum pada Beny.
"Mas, kenapa gak diajak makan bareng disini aja sih. Biar rame." protes Dista.
"Aku gak suka keramaian." ketus Daffa.
"Ih.. bertiga doang."
"Jadi makan gak nih ." kesal Daffa.
"Jadilah.. oh ya tadi mau aku ambilkan da.. ging kan? sayur nya mau??"
"Hemm..."
"Aku suapi mau??" goda Dista sambil terkekeh.
"Boleh!" jawab Daffa asal.
Dengan telaten Dista menyuapi suaminya yang tiba-tiba jadi manja. Tentu saja ia tak mau melewatkan momen langka seperti ini. Hihihi... pikirnya.
Akhirnya sesi makan siang telah usia. Dista keluar dari gedung pencakar langit Wiguna grup. Ia menunggu taksi online yang sudah dipesannya.
Tin..tin..
Suara klakson mobil. Tapi sepertinya bukan taksi yang ia pesan.
"Dis..." sapa seseorang dari dalam mobil.
"Hai.. Giant," ucap Dista sambil tersenyum.
"Iihh... udah ganteng gini masih juga dipanggil Giant." protes Ramon, ya dia adalah Ramon.
"Ngapain disini??" tanya Ramon lagi.
"Lagi nunggu taksi. Kamu sendiri mau kemana??" tanya Dista.
"Aku mau balik kantor, habis makan siang sama klien papa ku. Emang kamu mau kemana, mau aku antar??"
"Enggak usah aku sudah pesan taksi kok." tolak Dista.
"Emangnya kamu udah kerja Ram??"
"Kadang-kadang bantuin papa di perusahaan nya, disela-sela jadwal kuliah ku. Sekalian belajar hehehe..."
"Ih.. kamu memang hebat." puji Dista. " Eh itu pasti taksi yang aku pesan. Aku duluan ya." Dista melambaikan tangannya
"Beneran gak mau aku antar??" tanya Ramon dengan sedikit berteriak.
" Gak usah makasih " jawab Dista dengan berteriak juga.
Mereka pun berpisah menuju tujuan mereka masing-masing.
Bersambung.....
__ADS_1