
"Sungguh membosankan, kenapa aku terjebak dengan orang-orang yang tidak berguna seperti ini. Aku harus segera mencari cara mendekati Daffa." gerutu Fany dalam hati.
"Tania, tolong kamu hantarkan berkas ini ke ruangan Presdir. Beliau minta siang ini semua laporan sudah ada di mejanya." terdengar perintah dari manager keuangan.
"Baik pak." Jawab Tania singkat seraya mengambil berkas yang ada di tangan Tedy sang manajer.
"Eh, Tania.. kamu mau mengantar berkas ke ruangan Presdir ya?" tanya Fany.
"Iya, kenapa?"
"Emm.. kamu masih banyak kerjaan kan? Biar aku saja yang mengantarkan ke ruangan pak Daffa. Kebetulan pekerjaan aku sudah beres." tawar Fany.
"Boleh, nih kamu anterin. Makasih ya!" ucap Tania.
"Masuk!" terdengar suara berat dari dalam ruangan setelah Fany mengetuk pintu beberapa kali. Tak tampak sekretaris Della di mejanya. Sehingga ia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan papan nama Presdir tersebut.
"Selamat siang Fa, ini aku mengantarkan laporan yang kamu minta." ucap Fany setelah masuk ke ruangan Daffa.
"Taruh di meja. Ada lagi?" tanya Daffa masih tetap fokus dengan laptop di hadapannya.
"Emm, kemana sekretaris kamu? Aku lihat mejanya kosong."
"Mungkin ke toilet." jawab Daffa singkat.
"Bagaimana kalau siang ini kita makan di luar? Emm,, anggap saja sebagai ucapan terima kasih ku, karena kamu sudah memberikan aku kesempatan bekerja di sini." tawar Fany.
"Maaf, lain kali saja. Dista akan membawakan makan siang ku kesini. Kalau tidak ada kepentingan lagi, silahkan kembali bekerja." ucap Daffa tegas.
"Baiklah. Aku permisi!!" sahut Fany dengan kesal. "Bahkan dia tidak melirik ku sama sekali. Awas saja.. aku pastikan kamu bertekuk lutut di hadapan ku. Memang apa bagusnya istrinya yang kampungan itu. Huh.." Gerutu Fany dalam hati menahan kekesalannya.
"Oh ya, satu lagi. Tolong bersikap profesional selama di kantor!" ujar Daffa tegas, masih dengan pandangan tertuju pada laptopnya.
"Baik." Fany keluar dari ruangan Daffa dengan kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun.
Saat menutup pintu dilihatnya Della sudah berada di mejanya. Fany memandang Della dengan penuh kebencian. "Seharusnya aku menjadi sekretaris Daffa, bukannya pekerjaan rendahan seperti ini. Aku harus bisa menggeser posisi sekretaris tua ini." batin Fany.
****
Di apartemen Daffa.
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Daffa baru saja sampai di apartemennya.
"Sayang!!" panggil Daffa saat tak mendapati istrinya di dalam kamar.
"Iya!" terdengar suara Dista dari arah kamar mandi. Distapun membuka pintu. "Mas Daffa baru pulang?" tanya Dista yang baru keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Iya sayang, aku harus memeriksa beberapa laporan dulu sebelum pulang. Jadi telat pulangnya." jelas Daffa.
"Mas Daffa mau langsung mandi, biar aku siapkan air hangat." tawar Dista sambil mengambil jas dan tas kerja suaminya.
"Boleh."
Setengah jam kemudian, keduanya telah berada di ruang makan.
"Sayang, besok 4 bulan pernikahan kita. Apa kamu mau mengunjungi suatu tempat?" tanya Daffa.
"Emm.. biasanya kita merayakan di apartemen saja mas." jawab Dista.
"Tapi kali ini aku pengen kita berlibur."
"Tapi besok bukan hari libur mas, masih hari Rabu." ucap Dista sambil terkekeh.
"Aku kan bosnya, terserah mau libur kapan saja." ucap Daffa dengan bibir manyun.
"Hahaha... mas Daffa tambah manis lho kalau manyun gitu!" goda Dista.
"Aku serius nih, kau mau kita kemana. Sekalian bulan madu!" ucap Daffa sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Terserah mas Daffa saja. Kemanapun mas Daffa membawa ku pergi aku akan ikut. Asalkan bersama mas Daffa, aku pasti bahagia." ucap Dista.
Mereka tertawa bersama. Menikmati makan malam dengan masakan rumahan sang istri adalah kebahagiaan tersendiri buat Daffa. Distapun menikmati setiap momen bersama sang suami. Mempererat hubungan dan perasaan satu sama lain.
Pagi ini Daffa bersiap menuju ke bandara. Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Bali. Kebetulan Dista sangat ingin pergi ke Bali. Sekalian Daffa mengunjungi villanya, dan menunjukkan beberapa properti milik keluarga Wiguna yang berada di Bali.
Mereka menuju bandara diantar oleh asisten Beny.
"Ben, aku titip perusahaan sama kamu. Kalau ada hal penting segera hubungi aku." titah Daffa kepada asistennya.
"Baik pak!" jawab Beny singkat.
Setelah mengantar Daffa dan Dista ke Bandara, Beny segera menuju ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Sementara itu di depan ruangan Presdir berdiri seseorang yang menunggu kedatangan Daffa.
"Selamat pagi mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Della yang baru datang.
"Saya mau bertemu dengan pak Daffa. Tapi sepertinya beliau belum datang." jawab wanita tersebut yang tidak lain adalah Fany.
"Pak Daffa tidak ke kantor hari ini." timpal Della.
"Maaf, kalau boleh tahu kenapa pak Daffa tidak datang? Apa beliau sakit?" tanya Fany penasaran.
__ADS_1
"Pak Daffa mengambil cuti selama tiga hari. Pagi ini beliau beserta istri berangkat ke Bali." ujar Della. "Kalau tidak ada kepentingan lagi, silahkan kembali ke tempat anda. Saya masih banyak pekerjaan." tambahnya.
Fany pergi meninggalkan tempat itu tanpa permisi. Dia sangat kesal karena Della mengusirnya.
"Huh, sombong sekali. Baru juga jadi sekretaris, lagaknya sudah kayak bos!" gerutu Fany.
"Sudah capek-capek bawa bekal, Daffa malah enak-enakan liburan ke Bali." Fany masih saja ngomel saat sampai di meja kerjanya.
"Kenapa Fan? Sepertinya kamu sedang kesal?" tanya Tania.
"Tumben kamu bawa bekal?" tambah Tania saat dilihatnya Fany menenteng kotak makan.
"Iya, nih buat kamu." jawab Fany ketus.
"Beneran? Makasih ya. Aku sih sudah sarapan, biar aku simpan buat makan siang nanti." ucap Tania sambil menerima kotak makan dari Fany.
Seharian Fany uring-uringan. Bahkan Tania sampai geleng-geleng melihat kelakuan teman barunya itu.
Sementara di tempat lain.
"Silahkan masuk tuan, bi Ratih sudah menyiapkan kamar untuk anda dan nyonya." ucap Pak Amir saat mereka tiba di villa.
"Iya. Terima kasih pak!" jawab Daffa.
"Apa tuan Daffa mau dibuatkan kopi atau teh, biar saya memberitahu Ratna untuk menyiapkan." tawar pak Amir.
"Tidak usah, kami mau istirahat dulu sebentar. Nanti saya panggil kalau kami butuh sesuatu." tutur Daffa. Kemudian masuk ke dalam kamar yang biasa ia tempati saat berkunjung ke villa ini.
"Villanya bagus mas, mewah banget." ucap Dista mengagumi kemewahan villa keluarga Wiguna.
"Kamu suka??"tanya Daffa sambil memeluk Dista dari belakang.
"Aku suka banget. Apalagi dari sini pemandangannya sangat indah, udaranya juga segar." tutur Dista sambil menikmati pemandangan dari jendela kamar.
"Kalau begitu kita di dalam kamar saja, nggak usah kemana-mana." goda Daffa.
"Ih.. mas Daffa, masak jauh-jauh ke Bali cuma di kamar aja. Emang mau ngapain?" protes Dista.
"Tadi kamu bilang suka di sini." goda Daffa.
"Tapi aku juga pengen jalan-jalan mas. Ini pertama kalinya aku ke Bali." ucap Dista dengan sedih.
"Kok cemberut sih,, nanti cantiknya luntur loh." goda Daffa sambil mencubit dagu Dista. "Nanti kita jalan-jalan, sekarang kita istirahat dulu. Kamu pasti capek!!"
Bersambung...
__ADS_1