
Dua Minggu telah berlalu. Kedekatan sepasang suami istri itu semakin intens. Semakin membaik setiap harinya. Dista pun sudah terbiasa dengan sikap manja sang suami. Dan sudah tidak canggung lagi untuk menerima keromantisan suaminya tersebut.
Bahkan keduanya memutuskan untuk tidur sekamar belakang ini. Meskipun Daffa masih belum menyentuh Dista. Hanya sekedar pelukan dan ciuman kasih sayang yang selama ini mereka lakukan.
"Sayang, nanti tolong kamu packing baju-baju aku ya. Soalnya besok aku mau ke luar kota. Ada perjalanan bisnis." ucap Daffa saat mereka tengah menikmati sarapan pagi ini. Ya Daffa memanggil Dista dengan sebutan 'sayang'.
"Kok mendadak mas. Bukannya Minggu depan ya pergi ke Bali nya?" tanya Dista heran, karena memang Daffa sudah mengatakan bahwa akan pergi ke Bali Minggu depan.
"Jadwalnya dimajukan sayang. Soalnya rekan bisnis aku Minggu depan harus terbang ke Jepang. Daripada nunggu dia balik sebulan lagi, mending aku berangkat lebih awal." jelas Daffa.
"Iya mas, berapa lama mas Daffa perginya?" tanya Dista.
"Mungkin seminggu. Tapi aku usahakan selesai lebih cepat." Daffa menjeda ucapannya untuk minum air putih. "Mana bisa aku lama-lama jauh dari kamu" Daffa terkekeh.
"Tuh kan mulai deh,," protes Dista.
"Emang kamu mau aku lama-lama di sana?" goda Daffa.
"Enggak lah mas, aku kan takut sendirian di apartemen." jawab Dista ngeles.
"Takut apa kangen??"
"Ih, terserah mas Daffa mau bilang apa." Dista memanyunkan bibirnya. Padahal jauh di lubuk hatinya, dia merasa berat untuk berpisah dengan suaminya. Meski hanya seminggu. Tapi pasti akan terasa seperti satu tahun.
Setelah selesai sarapan Dista mengantar suaminya sampai di depan pintu. Tak lupa ia cium punggung tangan Daffa. Dan sebuah kecupan manis mendarat di kening Dista.
Waktu berlalu dengan cepat nya. Setelah selesai menyiapkan segala keperluan Daffa untuk ke Bali. Dista sengaja memasak makanan kesukaan suaminya. Tak jauh dari yang berbau laut.
Berbagai hidangan telah tertata rapi dimeja makan. Mulai dari cumi pedas manis, udang crispy, ikan bakar, kerang Asam manis dan ada juga sambal bajak kesukaan Dista.
Dista sudah rapi dengan dress selutut berwarna merah marun. Rambutnya ia biarkan tergerai, dengan jepit rambut ala Korea di bagian poninya. Ia poles wajahnya dengan sapuan make up natural. Semakin menambah ayu gadis yang tengah menunggu kedatangan suaminya.
Pukul tujuh malam Daffa baru sampai di apartemen. Saat melangkah masuk, dilihatnya Dista yang sedang duduk di sofa.
"Malam sayang" sapa Daffa.
"Malam mas Daffa." jawab Dista dengan suara lembutnya.
"Mas Daffa bawa apa?" lanjutnya lagi saat melihat Daffa membawa sebuah kotak.
"Selamat tiga bulan pernikahan sayang." ucap Daffa sambil memeluk tubuh Dista. Tak lupa mengecup puncak kepala istrinya.
"Dan ini kue, kamu siapin di meja ya. Aku mandi dulu."
"Selamat tiga bulan pernikahan juga mas Daffa. Tumben ingat mas?" goda Dista. Memang biasanya Dista yang alay, selalu memperingati tanggal pernikahan mereka tiap bulan. Meskipun sebelumnya pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian, tapi bagi Dista tak ada salahnya untuk merayakannya.
"Mulai saat ini aku akan simpan baik-baik dalam memori otak ku." Daffa terkekeh.
"Mau aku siapkan air hangat mas?" tawar Dista.
__ADS_1
"Nggak usah sayang." ucap Daffa berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Dista menyiapkan kue yang di bawa Daffa di atas meja. Tak lupa memasang lilin dengan bentuk angka tiga di atasnya.
Sepuluh menit kemudian Daffa keluar dari kamarnya. Dengan rambut yang masih agak basah. Menambah kadar ketampanannya. Meski hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans biru.
"Ayo nyalakan lilinnya." Dista pun menyalakan lilin tersebut.
"Sekarang kita sama-sama make a wish." ucap Dista.
Mereka memejamkan mata sejenak. Kemudian membuka mata bersama-sama.
"Ayo tiup lilinnya mas!" ajak Dista. Mereka pun meniup bersamaan.
"Mas Daffa mau makan kuenya?" tanya Dista.
"Nanti saja. Aku udah lapar banget, apalagi lihat masakan kamu. Semakin dangdutan perut ku hehehee .."
"Aku ambilkan nasi ya, mau lauk apa mas?"
"Emm... udang sama cumi." Jawab Daffa. Semakin hari masakan Dista semakin menggugah selera. Bisa dibilang setara dengan masakan mama mertuanya.
Setelah mengambilkan makanan untuk sang suami, Dista mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Gimana mas masakan aku??"
"Alhamdulillah kalau mas Daffa suka." Dista tersipu.
"Malam ini kamu kelihatan cantik banget." ucap Daffa sambil memperhatikan sang istri.
"Makasih mas Daffa, kebetulan dress ini dibelikan mama tempo hari." ungkap Dista.
"Aku lebih suka kamu pakai baju seperti itu. Terlihat semakin cantik."
"Mas Daffa bisa aja." Mereka telah menyelesaikan makan malamnya. Dan beranjak ke sofa sambil menikmati kue yang di beli Daffa tadi.
Dista duduk dengan menyenderkan kepalanya di dada bidang sang suami. Daffa mengelus rambut hitam Dista dan sesekali mengecup puncak kepalanya.
"Besok berangkat jam berapa mas?" tanya Dista memulai obrolan mereka.
"Jam enam pagi."
"Pak Beny juga ikut?"
"Iyalah, kami kan sepaket hehe.." Daffa tertawa.
"Emang kita nggak sepaket??" protes Dista.
"Iya juga sih." balas Daffa sambil mencubit hidung mungil istrinya. "Kamu mau ikut?"
__ADS_1
"Nggak, takut ganggu kerjaan mas Daffa."
"Iya, kamu kan bawel" Daffa terkekeh.
"Mas Daffa...." Dista mencubit perut suaminya.
"Aduh.. ampun.. ampun.." Daffa meringis kesakitan.
"Makanya, jangan suka ngatain orang."
"Iya maaf sayang. Tapi karena kamu bawel dan berisik yang bikin aku nyaman." Daffa melancarkan rayuan mautnya.
"Gombal." Timpal Dista.
"Bener kok, emang menurut kamu apa yang bikin aku suka sama kamu?"
"Hemm... apa ya?" Dista mengetukkan jari telunjuk ke dagunya.
"Apa? Nggak ada baik-baiknya kan?" Daffa tersenyum miring. "Selain kamu itu bawel, nggak bisa masak, ceroboh, nggak bisa dandan juga."
"Tuh kan mulai." protes Dista lalu menggelitik Perut suaminya.
"Ampun sayang... udah geli nih!"
"Bilang kek, aku suka sama kamu karena kamu dengan Gigih belajar memasak. Dengan sabar ngurusin aku.. atau apa kek?" protes Dista dengan sebel.
"Iya iya.. itu kamu sudah tahu." jawab Daffa dengan memeluk tubuh ramping Dista.
"Aku suka semua yang ada dalam diri kamu. Kesabaran kamu, kebawelan kamu, kegigihan kamu juga kecantikan kamu yang alami." ungkap Daffa.
"Aku jadi malu." Dista tersipu.
"Kalau kamu, kenapa suka sama aku?" tanya Daffa.
"Karena kamu tampan, baik meskipun awalnya nyebelin dan bikin aku takut." Dista tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Jadi aku nyebelin?" goda Daffa sambil menggelitik perut Dista.
"Ampun mas, geli... Emang bener kamu nyebelin. Irit bicara, bentak aku Melulu." oceh Dista sambil tertawa.
"Tapi aku tahu kamu orang yang baik, berbakti sama orang tua. Ditambah lagi kamu ganteng. Mana bisa aku cegah hatiku buat nggak suka sama kamu" terang Dista sambil menunduk malu.
Daffa meraih dagu Dista dan mengangkat wajah cantiknya agar menghadap ke arahnya.
"Terima kasih karena sudah sabar menghadapi aku. Dan maaf kalau sebelumnya aku cuek sama kamu." ucap Daffa sambil terus mendekatkan bibirnya ke bibir Dista.
Cup.. sebuah kecupan mendarat di bibir kenyal Dista. Dista memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan bibir suaminya. Saling me ***** bibir masing-masing. Lidah Daffa mulai menerobos masuk ke rongga mulut Dista. Saling membelit lidah. Menikmati kehangatan yang mereka ciptakan berdua.
Bersambung.....
__ADS_1