Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Bab 5


__ADS_3

"Maaf pak saya izin tidak masuk kerja karena kurang enak badan" Dista memulai percakapan setelah Daffa duduk di sebuah kursi. Perasaannya campur aduk, antara malu, kecewa dan juga rasa bersalah.


"Ya.. Aku tahu!" jawab Daffa singkat.


"Lalu ada perlu apa Bapak datang kesini?!" Dista penasaran "Apa bapak mau pecat saya? pak.. Tolong jangan pecat saya, saya minta maaf kalau saya udah bikin bapak repot dengan pemberitaan yang beredar!! meskipun saya masih kesel, kenapa bapak peluk-peluk saya!" Dista ngedumel.


"Sudah selesai pidatonya?" Daffa melirik Dista yang masih tampak bingung. "Aku akan menyeret kamu ke penjara!"


"Apa pak??" tampak Dista gemetaran. "Tolong jangan pak.... Kan bapak yang peluk-peluk saya, kenapa malah saya yang dilaporkan polisi?" air mata mengalir deras dari kedua matanya.


Daffa tersenyum sinis "sepertinya aku akan gampang mengajak gadis ini menikah" batin Daffa.


"Ehemm... aku ada penawaran menarik untuk mu."


"Apa?!" sahut Dista dengan cepat, karena dia sangat penasaran dan sangat takut kalau sampai masuk penjara. "penawaran apa pak?!"


"Kalau kamu memang gak mau masuk penjara, kamu tinggal turuti kemauan ku. Mudah bukan??" ucapan Daffa semakin membuat Dista penasaran.


"Ayo cepat katakan pak?? aku akan melakukan apa saja yang bapak inginkan... Hidupku sudah terlalu banyak masalah pak, masa harus masuk bui juga" Dista makin terisak.


"Kamu tinggal bersihkan nama baik ku!"


"Caranya??!" jawab Dista antusias.


"Kita menikah!"


"Apa??" mata Dista terbelalak, tak pernah terpikirkan sebelumnya kata-kata yang meluncur dari mulut bosnya itu. "Apa saya gak salah dengar?"


"Itu satu-satunya cara untuk mengembalikan kepercayaan semua orang terhadap ku".


"Kenapa harus menikah? apa tidak ada cara lain??" Dista masih sangat terkejut dengan ucapan bos nya itu.


"Kalau ada cara lain, pasti sudah ku ambil!!" tegas Daffa. "Kamu tenang saja, aku tidak akan merugikan mu sedikit pun!"


Melirik ke arah Dista " Kita akan buat perjanjian!!" tegasnya.


"Perjanjian??" Dista masih bingung dengan keadaan ini.


"Yaa... kita hanya akan menjalani pernikahan ini selama 6 bulan, setelah itu kita akan bebas melanjutkan hidup kita masing-masing."


"Lalu apa yang ku dapat dari pernikahan ini, bukannya bapak sudah dapat untung dengan kembalinya nama baik bapak... Lalu saya??" Dista mencoba bernegosiasi.


"Kamu bisa minta apa saja yang kamu mau...! Selama menjadi istriku, kamu akan mendapat fasilitas mewah selayaknya istri sungguhan. Mobil mewah, tempat tinggal yang nyaman dan uang belanja tiap bulan!"


"Bapak serius??" wahh... kalau begitu Aku bisa dengan cepat melunasi hutang-hutangku. Tiba-tiba Dista teringat sesuatu. "Apakah aku juga harus melakukan kewajiban sebagai seorang istri?"


"Tentu saja...!" Daffa menjahili gadis itu.


"Tidaaakk... Aku tidak setuju, bagaimana mungkin aku menjual harga diriku.." gerutu Dista.


"Aku tidak akan menyentuhmu, Lagipula aku tidak tertarik sama sekali dengan mu!" melirik ke arah Dista. "Pikirkanlah.. Besok aku akan datang lagi. Tentunya kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini kan?! Kalau kamu menolak, kamu akan tahu sendiri akibatnya!!" ucap Daffa penuh percaya diri dan berlalu pergi.


Pikiran Dista sangat kacau, apa yang harus ia lakukan. " apa aku terima saja ya.. Agar secepatnya aku terbebas dari rentenir itu. Lagian pak Daffa setuju untuk tidak menyentuh ku."


Sore hari...


"Gimana Dis... Udah enakan??" tanya Ana mengagetkan Dista.

__ADS_1


"Kamu.. Ngagetin aja!"


"Ngelamunin apa sih... udah gak usah dipikirin gosip-gosip gak jelas tuh, yang penting kan kamu masih bisa tetap kerja! Apa kamu malu kalau harus ketemu pak Daffa?" selidik Ana.


"Pak Daffa tadi datang kesini."


"Ngapain..."


"Memberi sebuah penawaran... Lebih tepatnya memaksa!!" ujar Dista dengan kesal.


"Penawaran apa??" Ana semakin penasaran.


"Dia mengajak ku menikah!"


"Waahh... Bagus donk, ini kesempatan emas. Mau cari dimana lagi coba pria tampan dan kaya seperti pak Daffa. Kamu sangat beruntung Dis... "


"Hanya untuk 6 bulan!"


"Maksudnya??!"


"pak Daffa memintaku menjadi istrinya selama 6 bulan. Setelah itu kami harus bercerai. Dia akan memberikan ku rumah dan mobil setelah kami bercerai. Dan selama menjadi istrinya dia menjanjikan hidup mewah untukku."


"Apa kamu akan menerimanya?? " tanya Ana.


"Aku tidak bisa menolak, karena dia mengancam ku! Tapi aku juga takut harus menyandang status janda di usia muda. Meskipun pak Daffa sudah berjanji tidak akan menyentuhku."


"Semua keputusan ada di tanganmu Dis, pikirkan baik-baik.. Kalau saran ku sih, kamu terima aja lalu buat pak Daffa jatuh cinta sebelum 6 bulan. Bisa dipastikan kamu akan menjadi nyonya Daffa selamanya" Ana tersenyum sumringah.


"Kalau aku yang jatuh cinta duluan dan dia tidak, bagaimana??" dengan cemberut "cinta tak terbalas, jadi janda pula... Bukannya itu sangat menyedihkan!"


Kring..Kring.. Terdengar suara hape Dista berbunyi.


"Bagaimana sudah kamu pikirkan baik-baik?" tanya suara di ujung telepon.


"Apa??!"


"Pernikahan kita, pasti kamu sudah ambil keputusan. Besok asistenku akan menjemputmu. Bersiaplah jam sembilan pagi! aku tidak suka menunggu!!"


tutt..Tutt...Tutt... Telepon terputus.


"Dasar orang aneh..." Dista menggerutu.


"Siapa... Pak Daffa?" Ana penasaran.


"Siapa lagi yang berani bicara sembarangan kalau bukan dia." Dista merasa kesal.


"Apa yang dikatakannya??"


"Menyuruhku siap-siap besok asistennya akan menjemput ku."


Pagi hari..


Dista bersiap-siap untuk bekerja tapi dia baru ingat kalau ada janji dengan Daffa pagi ini. Ia mengurungkan niat nya pergi ke kantor. Mengambil hape di atas meja.


"Hallo bu.. Saya Dista, saya mau minta izin kalau hari ini saya belum bisa masuk kerja, karena ada keperluan." Dista merasa tidak enak hati kalau harus bolos lagi.


"Iya Dis, saya sudah tahu. Selamat ya... Tidak usah pikirkan kerjaan, kamu urus saja urusan mu!" jawab suara diseberang.

__ADS_1


"Baik bu.. terima kasih!" jawab Dista.


Dista tidak mengerti kenapa atasannya bilang sudah tahu kalau dia tidak bisa masuk kerja hari ini.


Suasana kost sudah sepi karena semua orang sudah berangkat bekerja. Dista tampak cemas menunggu assisten Daffa. Entah kemana Daffa akan mengajaknya pergi.


teett..Tett.. Suara klakson mobil Beni. Dista keluar dan menyapa Beni " pagi pak Beni!"


"Selamat pagi bu Dista! mari silahkan naik!" sapa Beni. Membuat Dista kaget.


"Jangan panggil saya bu, saya yakin pak Beni lebih tua dari pada saya."


"Baik kalau begitu mari nona!" sambil membuka pintu mobil dan mempersilahkan naik.


"Panggil Dista saja pak... Saya risih dengarnya!" Dista memanyunkan bibirnya.


"Tidak bisa, mana mungkin saya tidak sopan pada calon istri pak Daffa!" Beni tersenyum. "Bagaimana kalau saya panggil mbak Dista?"


"Itu lebih baik!! jawab Dista. "Sebenarnya kita mau kemana sih pak?"


"Saya kurang tahu mbak.. Pak Daffa hanya menyuruh menjemput mbak Dista dan mengantarkan ke butik."


"Butik??!" Dista mengernyitkan keningnya " mau ngapain ke butik??"


Sampai di depan butik, Beni turun dan membukakan pintu mobil untuk Dista. "Silahkan mbak, pak Daffa sudah menunggu di dalam."


"Selamat pagi pak."


"Pagi Ben." jawab Daffa sambil melirik ke arah Dista. "Kamu kembali ke kantor, gantikan saya meeting nanti siang!"


"Baik pak. Saya permisi"


"Citra tolong kamu bantu Dista memilih gaun untuk akad dan resepsi. Aku percaya dengan pilihan mu." titah Daffa.


"Baik pak!" jawab pegawai butik Yang hafal betul selera Daffa.


"Tunggu....Gaun?? untuk akad dan resepsi??" Dista merasa kesal "Tapi saya belum menyetujui tawaran bapak, kenapa bapak terburu-buru?"


"Memangnya kamu punya pilihan lain?" suara Daffa datar. "Aku sudah siapkan surat perjanjiannya, kamu tinggal baca dan tanda tangan."


"Kenapa bapak seenaknya begini? kejadian itu bukan sepenuhnya salah ku, tapi kenapa bapak menghukum ku??" butiran bening jatuh dari mata Dista.


"Kamu pikir aku senang dengan pernikahan ini? aku juga terpaksa!!" ucap Daffa dengan nada kesal "Baca dengan teliti" sambil menyerahkan map berisi surat perjanjian.


"Kalau ada yang kurang tinggal bilang!". tambahnya.


Dista membaca dengan teliti dia takut kalau sampai tertipu. Ternyata Daffa sudah mencantumkan permintaan Dista untuk tidak menyentuhnya. Dista tersenyum puas, karena pria ini tidak merugikan dirinya sama sekali. Kecuali status yang akan disandangnya kelak setelah bercerai.


"Baiklah aku setuju..." sambil mengambil sebuah bolpoin "Tapi, apa aku boleh meminta sesuatu di luar perjanjian itu?"


"Katakan!"


"Apakah aku boleh memilih mas kawin sesuai keinginanku?" tanya Dista penuh harap.


"Apa yang kau inginkan??"


"Aku mau mas kawin uang tunai 100 juta. Apakah bapak akan memberikannya?" tanya Dista penuh harap.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2