Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Bukan anak manja


__ADS_3

Dua Minggu berlalu semenjak Fany menempati posisi sekretaris Presdir. Fany mengerahkan semua kemampuan terbaiknya untuk mengamankan posisinya. Tak jarang ia berusaha mencari kesempatan untuk mendekati bosnya itu. Tapi sayangnya, Daffa tetap cuek dan tak pernah menggubris segala upaya yang Fany lakukan.


Selama dua Minggu ini Fany selalu melihat kemesraan Daffa dan istrinya. Hal itu membuat darahnya mendidih.


"Aku muak melihat kemesraan mereka setiap hari. Aku harus bergerak cepat, untuk menggeser posisi nyonya Daffa Wiguna." gumam Fany.


"Untunglah siang ini ada jadwal meeting di luar, jadi aku tidak harus menyaksikan kelakuan mereka yang menjijikkan." tambahnya.


Fany masuk ke ruangan Daffa setelah mendapatkan izin dari empunya.


"Selamat pagi pak Daffa, ini laporan yang Bapak minta." Fany menyerahkan beberapa map di atas meja Daffa


"Apa jadwal ku hari ini?" tanya Daffa.


"Nanti siang ada meeting dengan pak Doni dari perusahaan Golden. Saya sudah menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk meeting nanti." ucap Fany.


"Oh ya, untuk meeting nanti apa pak Daffa membutuhkan kehadiran saya?" tanya Fany mencoba mencari kesempatan untuk menempel pada pujaan hatinya itu.


"Aku sama Beny saja!" jawab Daffa tanpa basa-basi. "Ada lagi?"


"Tidak pak!" jawab Fany kecewa.


"Kamu boleh pergi!"


"Baik pak, saya permisi!" Fany meninggalkan ruangan Daffa dengan muka ditekuk.


"Sial!! Aku harus cari cara untuk bisa menemani Daffa meeting hari ini." kesal Fany saat sudah berada di ruangannya.


"Kenapa sulit sekali mencari celah untuk mendapatkan perhatian Daffa. Apa dia benar-benar sudah melupakan aku sepenuhnya?" Fany bermonolog.


Tepat pukul sebelas Daffa keluar dari ruangannya bersama Beny.


"Fany." panggil Daffa.


"Iya pak, ada yang anda butuhkan?" tanya Fany menghampiri Daffa dan asistennya.


"Kamu temani saya meeting, Beny ada sesuatu yang harus dia urus!" perintah Daffa.


"Baik pak saya siap-siap dulu!" jawab Fany sumringah dan buru-buru kembali ke ruangannya untuk mengambil tas.


Tersungging seulas senyum di wajah cantik Fany.


"Usaha ku berhasil, sedikit mengacaukan proyek di lapangan sehingga Beny harus mengurusnya." gumam Fany sebelum meninggalkan meja kerjanya.


Meeting hari ini berjalan lancar. Mereka segera kembali ke perusahaan.


"Fa, boleh aku tanya sesuatu?" Fany memulai obrolan saat mereka berada di dalam mobil menuju perusahaan. Ya, mereka berbicara non formal saat hanya berdua saja.


"Apa?" tanya Daffa yang memang irit bicara.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kamu menikah?" tanya Fany.


"Baru sekitar hampir lima bulan. Kenapa?" jawab Daffa masih dengan suara datarnya.


"Pantesan kalian mesra banget!! Oh ya, waktu di Bali kan kamu juga bilang kalau kamu pengantin baru. Maaf aku lupa." tutur Fany sambil cengengesan.


"Apa istri mu belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan?" tambahnya.


"Aku rasa belum!" jawab Daffa.


"Apa kalian sengaja menundanya?" tanya Fany penasaran.


"Tidak juga!"


"Apa mungkin istri mu kecapekan dan kurang istirahat, makanya belum hamil." ucap Fany.


Daffa mengerutkan keningnya.


"Apa maksud mu? Dista tidak bekerja?" sanggah Daffa.


Fany terkekeh mendengar jawaban Daffa. "Tidak bekerja??" Fany menoleh ke arah Daffa.


"Menurut mu memasak, menyiapkan kebutuhan mu membersihkan apartemen dan masih harus melayani mu di malam hari bukan pekerjaan yang butuh tenaga?" tanya Fany gemas.


"Kamu ngomong yang jelas!" perintah Daffa.


"Pagi-pagi dia nyiapin keperluan kamu, masak sarapan, bersih-bersih. Siangnya masih harus masak juga dan anterin makanan ke kantor. Apa kamu nggak kasihan?" Fany melirik Daffa sekilas untuk mengamati respon wajahnya.


"Lalu menurut mu bagaimana baiknya?" Daffa meminta saran kepada Fany, setelah beberapa saat memikirkan ucapan wanita tersebut.


"Sebaiknya kamu jangan suruh istri kamu anterin makan siang tiap hari ke kantor. Biar dia punya banyak waktu untuk istirahat." saran Fany.


"Tapi aku sudah terbiasa makan masakan istri ku. Meski cuma makanan rumahan, tapi selalu pas di lidah ku. Aku tidak suka makan di luar!" jawab Daffa.


"Aku cuma ngasih saran. Semua terserah padamu." ucap Fany.


Tampak Daffa masih berpikir.


Di tempat lain.


"Sayang, kamu dimana? Aku sudah di apartemen kamu, tapi kosong!" ucap Daffy dengan benda pipih menempel di telinganya.


"Kamu di apartemen ku?" tanya Karin yang terkejut dengan kehadiran sang kekasih.


"Iya." jawab Daffy.


"Aku masih di jalan, lima belas menit lagi sampai!" jawab Karin.


Karin membuka pintu apartemennya. Ia berjalan ke kamar, mencari keberadaan Daffy karena di ruang tamu ia tidak menemukan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Honey... kamu di dalam?" Karin mengetuk pintu kamar mandi yang nampak sepi. Tidak ada jawaban.


"Pasti Daffy ngerjain aku, tidak ada tanda-tanda kedatangannya disini." gerutu Karin.


Saat Karin melangkah menuju dapur untuk mengambil air minum, ia mencium aroma masakan dari arah dapur. Karin mempercepat langkahnya menuju sumber aroma harum masakan itu.


"Honey..." Karin berlari menghambur memeluk pujaan hatinya yang tengah memasak. Karin mendekap erat Daffy dari belakang.


"Kangen ya?" goda Daffy sambil terkekeh. Daffy mematikan kompor dan berbalik menghadap Karin. Dipeluknya erat sang kekasih.


"Banget!" jawab Karin dengan suara manjanya.


"Aku juga." Daffy berbisik di dekat telinga Karin. Membuat gadis itu merasa geli.


"Kok kamu bisa ada di sini? Dua hari lagi aku ke Jakarta, kamu sudah nggak sabar ya mau ketemu aku?" kini Karin yang menggoda pria bujang tersebut.


Daffy mencubit hidung mancung Karin. "Aku khawatir, kemarin kamu bersin-bersin. Takutnya kamu sakit!"


"Ya ampun Honey, aku cuma flu biasa. Sakit ringan, nggak perlu sampai kamu jauh-jauh datang kesini. Bahkan mommy yang lebih dekat, cuma telepon dan bilang jangan lupa minum obat." ucap Karin menirukan suara mommy nya.


Ya, Karin memilih tinggal di apartemen pribadinya. Padahal orang tuanya juga berada di kota ini. Selain karena dekat dengan butiknya, juga ia terbiasa mandiri.


"Jadi kamu nggak senang dengan kehadiran ku di sini?" Daffy memanyunkan bibirnya.


"Bukan begitu, aku takut kamu kecapekan. Dan aku ini bukan anak manja, yang nggak bisa urus diriku sendiri!"


"Aku tahu sayang! Aku cuma ingin bikin surprise buat kekasih hatiku." Daffy mengecup puncak kepala Karin.


"Sekarang kamu duduk, biar aku siapkan makan siang untuk mu!" perintah Daffy.


"Siap bos!!" jawab Karin sambil memberi hormat kepada Daffy. Daffy hanya tersenyum melihat tingkah Karin.


"Hemmm... ini lezat sekali!" ucap Karin sambil mengunyah nasi goreng buatan Daffy.


"Dua jempol untuk mu honey.. !" tambahnya sambil tersenyum.


"Tentu saja, aku selalu bisa diandalkan." balas Daffy membanggakan diri.


Fany terkekeh. "Nanti setelah kita menikah, kamu mau kan masak buat aku honey?" tanya Karin.


"Of course sweet heart!"


"Bagaimana kabar keluarga di Jakarta?"


"Semuanya baik! Bahkan kak Daffa semakin lengket sama istrinya. Bikin aku iri, pengen cepet-cepet halalin kamu." ucap Daffy sambil menatap sang pujaan.


"Hahaha... " Karin terbahak-bahak.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2