
"Kamu sudah selidiki semuanya?" tanya Daffa.
"Sudah pak, bukti dan juga saksi sudah terkumpul. Besok kita bisa mengambil tindakan." jawab asisten Beny.
"Oke, kamu urus saja dulu. Besok aku akan datang ke kantor." ucap Daffa kemudian menutup sambungan telepon.
Daffa tidak menanyakan secara detail masalah yang sedang terjadi di perusahaan. Karena ia ingin fokus pada liburannya yang hampir berakhir.
Daffa dan Dista menyusuri tepian pantai sambil bergandengan tangan. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah cantik Dista. rambut panjang yang ia gerai sesekali menutupi wajah cantiknya.
Daffa menghentikan langkahnya dan menarik Dista ke dalam pelukannya.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Daffa.
"Tentu saja mas, aku sangat bahagia!" jawab Dista antusias.
"Kita ke arah sana ya." Daffa menunjuk ke suatu tempat.
Matahari hampir tenggelam. Menunjukkan cahaya keemasan yang memukau. Hari hampir gelap, Dista mengikuti langkah sang suami menuju tempat yang ditunjuk Daffa tadi.
Tampak cahaya lilin yang berjajar di sepanjang garis pantai. Sinar matahari yang mulai menghilang digantikan dengan indahnya cahaya temaram lilin yang nampak terang karena berjumlah ratusan.
Dista tampak terpukau dengan apa yang ia lihat.
"Mas, ini indah sekali. Tapi kenapa di sini sepi? Apa orang-orang nggak tahu kalau di sini sangat indah?" Dista tampak bingung, karena di tempat seindah ini hanya ada mereka berdua.
Daffa menepuk jidatnya. Apakah istrinya ini benar-benar tidak tahu apa yang ia lakukan sehingga tempat ini tampak sangat indah.
"Sayang, aku menyiapkan semua ini khusus buat kamu. Jadi nggak boleh ada orang lain yang menikmatinya." jawab Daffa dengan gemas.
"Jadi, ini semua mas Daffa yang menyiapkan?" ucap Dista dengan mata berbinar.
Daffa menanggapi dengan senyuman. Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah meja bundar yang berhias lilin di sekitarnya.
Dista semakin menganga menyaksikan pemandangan di depannya. Meja makan ini tampak seperti pelaminan. Karena di hias dengan bunga mawar pink dan putih. Ditambah cahaya lilin dan pemain musik live di sebelahnya.
__ADS_1
"Mas Daffa!" Dista berbalik memeluk sang suami dengan haru. "Terima kasih kamu membuatku sangat bahagia. Aku berjanji akan selalu berusaha menjadi istri terbaik buat kamu. Aku akan selalu setia seumur hidupku." ucap Dista dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang, apapun akan aku lakukan untuk membuat mu bahagia. Dan aku janji, aku akan menjadi suami terbaik untuk mu, dan juga ayah terbaik untuk anak-anak kita nanti." ujar Daffa.
Dista tersipu malu saat Daffa menyebut 'anak-anak'.
"Ayo kita duduk." ajak Daffa. Kemudian ia menarik kursi untuk Dista. Mempersilahkan pujaan hatinya untuk duduk.
Daffa menepuk tangannya dua kali. Dan dua orang pelayan muncul membawa hidangan makan malam. Alunan musik menemani makan malam mereka.
Setelah menyelesaikan makan malam, Daffa mengajak Dista untuk berdansa.
"Sayang, mari berdansa!" ucap Daffa sambil mengulurkan tangannya.
"Apa? Dansa?" Dista tampak bingung. "Aku nggak bisa mas." jawab Dista ragu.
"Di sini nggak ada orang, kamu nggak usah malu. Cukup peluk aku dengan erat, aku akan menuntun mu bergerak sesuai irama." pinta Daffa masih dengan tangan terulur ke arah Dista.
Dista pun menerima uluran tangan Daffa. Ia memeluk erat tubuh Daffa, mengikuti gerakan dan langkah kaki Daffa. Semakin lama Dista terlarut dan alunan musik dan suasana romantis di antara mereka.
"Sebagai tanda cinta ku untuk istri kecilku." ucap Daffa sambil membuka kotak tersebut. Tampak sebuah kalung dengan berlian mungil.
"Mas,.. " Dista kehilangan kata-kata. Sungguh Daffa sangat memanjakannya. Memberikan kejutan-kejutan tanpa jeda. Membuat bunga-bunga cinta di hati Dista semakin merekah.
"Terima kasih untuk semuanya." Dista meneteskan air mata bahagia.
Daffa berdiri dan mengusap air mata Dista. Kemudian memakaikan kalung ke leher Dista.
"Kalung ini semakin cantik saat kamu pakai." puji Daffa.
"Mas Daffa stop muji-muji aku. Nanti aku bisa terbang saking bahagianya."
"Mas Daffa memberikan banyak hal padaku, tapi aku nggak bisa membalas semua kebaikan mas Daffa. Aku nggak punya apa-apa untuk ku berikan pada mas Daffa." tambah Dista.
"Aku nggak minta apa-apa. Cukup cinta tulus kamu yang aku mau. Berjanjilah tidak akan pernah pergi meninggalkan ku, apapun yang terjadi di antara kita." pinta Daffa.
__ADS_1
Dista mengangguk setuju. "Aku akan menjaga cinta kita mas, dan aku berjanji tidak akan pernah pergi meninggalkan mu apapun yang terjadi." janji Dista dalam hati.
Usai menikmati malam indah ini, mereka kembali ke villa lebih cepat. Daffa tidak mau besok pagi terlambat ke bandara, karena mereka mengambil penerbangan pagi.
Pagi hari di perusahaan Wiguna grup.
"Coba kamu jelaskan apa yang terjadi." perintah Daffa.
"Begini pak, kemarin bagian keuangan mengkonfirmasi bahwa anda meminta pencairan dana sebesar 500 juta. Tapi setahu saya, tidak ada perintah seperti itu dari anda. Setelah saya periksa memang benar ada tanda tangan anda. Kemudian saya meminta beberapa orang untuk menyelidiki masalah ini. Dan kecurigaan kami mengarah kepada satu orang." Beny menjeda ucapannya.
"Siapa orang itu?" tanya Daffa tidak sabar.
"Sekretaris Della." jawab Beny ragu.
"Della?" Daffa mengerutkan keningnya. "Apakah kamu yakin?" tanya Daffa.
"Sebenarnya saya tidak percaya sepenuhnya. Tapi semua bukti mengarah kepadanya. Dan Fany, pegawai baru di bagian keuangan mengatakan bahwa Della yang meminta pencairan uang tersebut. Setelah saya selidiki, memang benar ada dana masuk sebesar 500 juta ke rekening pribadinya." Beny menjelaskan secara detail.
"Aku tidak habis pikir, Della adalah orang kepercayaan papa. Tak pernah sekalipun ia mengecewakan perusahaan. Dia selalu loyal terhadap pekerjaannya." Daffa menghela nafas. Mencoba mengingat apakah ada gelagat Della yang mencurigakan. Tapi sejauh yang ia tahu, Della tak pernah berkelakuan mencurigakan. Bahkan selama ini tak pernah terjadi penggelapan seperti ini.
Desas desus tentang penggelapan itu sudah menyebar di seluruh perusahaan bagai kobaran api. Banyak nyinyiran para pegawai yang sudah sampai ke telinga Della. Bahkan para pegawai yang biasanya memandang hormat kepada Della, kini yang tersisa hanya penghinaan.
Kini Della berada di ruangan Daffa. Ada Daffa, Beny, Tedy dan juga Fany.
"Sekretaris Della, apakah anda bisa menjelaskan semua ini?" Daffa memulai introgasinya.
"Saya tidak tahu apa-apa pak! Saya tidak pernah meminta pencairan dana selama anda tidak berada di kantor." jawab Della mantap.
"Tapi semua bukti mengarah kepada anda. Bahkan dari bagian keuanga juga bersaksi yang memberatkan Anda." timpal Daffa.
"Sungguh pak Daffa, saya tidak pernah mengkhianati perusahaan. Saya tidak mungkin berbuat curang. Saya sudah mengabdi kepada perusahaan selama bertahun-tahun. Dan belum pernah saya mengecewakan pak Daffa maupun pak Wiguna."
Semua terdiam, semua yang mengenal Della tahu bahwa wanita berusia 40 tahun itu adalah orang yang jujur. Tapi keadaan ini sungguh mengejutkan.
Bersambung...
__ADS_1