Perjanjian Cinta Ladista

Perjanjian Cinta Ladista
Selangkah lagi


__ADS_3

Sekitar dua jam kelima orang itu berada dalam ruangan Daffa. Della sama sekali tak bisa membela diri. Ia tak punya bukti untuk menyanggah tuduhan. Bahkan bukti-bukti yang memberatkannya tampak sangat nyata. Uang senilai 500 juta benar adanya di rekening pribadi Della.


Tapi yang ia tak habis pikir adalah kesaksian Fany yang sangat menyudutkannya. Ia tak mengingat kapan dirinya menemui Fany untuk meminta pencairan dana. Kalaupun ada keperluan dengan bagian keuangan, pasti Della akan menemui Tedy selaku manager. Bahkan ia tak mengenal Fany dan Fany adalah anak baru.


"Mengingat jasa-jasa mu kepada perusahaan, aku tidak akan memperkarakan masalah ini ke jalur hukum. Segera kamu kembalikan uang perusahaan, dan kemas barang-barang mu. Sekarang juga kamu tinggalkan Wiguna grup." ucap Daffa tegas. Meskipun hati kecilnya tak mau percaya semua ini. Tapi ia harus menjalankan kewajibannya.


"Maaf pak Daffa, bila saya mengecewakan bapak. Tapi sebanyak apapun bukti yang menyudutkan saya, Saya tetap dengan lantang mengatakan bahwa saya tidak bersalah. Dan terima kasih atas kebijakan bapak untuk tidak memenjarakan saya. Saya pamit undur diri." ujar Della dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.


Ada kilatan kepuasan di mata Fany, yang sejak tadi menyaksikan drama ini.


Wajah tampan Daffa tampak muram. Bukan masalah uang 500 juta yang ia sesalkan, tapi kecurangan orang kepercayaannya sangat melukai hatinya.


Seminggu berlalu sejak pemecatan sekretaris Della. Daffa belum menemukan pengganti yang cocok. Banyak yang mengajukan lamaran menjadi sekretarisnya. Para kandidat berasal dari pegawai lama di kantor dan pencari kerja dari luar.


"Pak Daffa, ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani." ucap Fany saat sudah berada di hadapan Daffa.


"Taruh di atas meja, apa ada lagi?" tanya Daffa.


"Hemm.. ini sebenarnya tugas sekretaris, tapi saya mencoba melakukan yang terbaik untuk mengerjakannya. Saya sudah menyelesaikan laporan yang anda minta." Fany menyerahkan map lain di atas meja.


"Dan untuk siang ini ada meeting dengan PT. Cahaya Plastindo. Kebetulan asisten Beny sedang mewakili anda meninjau proyek di luar kota. Jika anda tidak keberatan, saya bisa menemani anda menghadiri meeting kali ini." tawar Fany penuh harap.


"Siapa yang menyuruh mu mengerjakan pekerjaan sekretaris ku?" tanya Daffa mengintimidasi.


"Maaf pak Daffa, saya yang menawarkan diri kepada asisten Beny. Karena saya lihat seminggu ini beliau keteteran." jawab Fany.


"Baiklah, nanti kamu ikut denganku. Siapkan semua yang dibutuhkan untuk meeting nanti." perintah Daffa.


"Baik pak!" jawab Fany. Kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan Daffa. Saat ia memegang handle pintu, terdengar Daffa sedang menelepon.


"Sayang, nanti siang kamu nggak usah bawain aku makan siang. Nanti aku ada meeting di luar." ucap Daffa kepada sang istri.


"Oh begitu. Padahal aku mau sekalian belanja. Bahan makanan di kulkas sudah habis semua." keluh Dista.


"Gimana kalau besok saja belanjanya, aku temani kamu? Sekarang apa kamu nggak capek? Kita baru pulang pagi ini." tawar Daffa.


"Nggak bisa mas, harus hari ini. Lagian aku udah cukup istirahat pagi ini. Kalau gitu aku minta izin ya, nanti belanja di supermarket dekat sini." pinta Dista.

__ADS_1


"Oke sayang. Hati-hati ya.. Maaf nggak bisa nemenin." sesal Daffa.


"Iya mas, nggak apa-apa. Tapi nanti kamu pulang cepat kan?" tanya Dista.


"Aku usahakan sayang." jawab Daffa.


"Ya udah, selamat bekerja mas! Semangat suamiku!" ucap Dista menyemangati Daffa.


"I love you, mcuahh..!" Daffa mengakhiri sambungan telepon dengan romantis. Ia tak menyadari di balik pintu masih berdiri Fany yang kebakaran jenggot mendengar percakapan mereka.


"Selangkah lagi aku bisa lebih dekat dengan Daffa. Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin." batin Fany.


Pukul 11 siang Daffa dan Fany meninggalkan kantor. Mereka menuju sebuah restoran mewah di kota ini. Tiga puluh menit waktu yang mereka tempuh untuk sampai di tempat tujuan.


Di sebuah ruang privat sudah menunggu dua orang utusan PT. Cahaya Plastindo.


"Selamat siang pak Daffa!" Ucap seorang pria paruh baya.


"Selamat siang pak Doni." jawab Daffa.


"Maaf, apakah ini sekretaris baru bapak?" tanya laki-laki bernama Doni tersebut.


"Memangnya ada apa dengan Bu Della?" tanya Doni yang mengenal Della, karena kedua perusahaan sering bekerja sama.


"Bu Della mengundurkan diri. Oh ya, mari kita mulai rapat kali ini." Daffa mengalihkan perhatian rekan bisnisnya.


Selama ini Della selalu berhasil menggaet para investor untuk bergabung dengan perusahaannya. Tapi kali ini Della tidak bersamanya. Ada kekhawatiran dengan hasil meeting kali ini. Meskipun kedua perusahaan sering bekerja sama, tapi tetap saja Della berperan penting dalam hubungan kerja sama ini.


Mereka menyelesaikan meeting hari ini dengan hasil yang memuaskan. Fany bisa meyakinkan perwakilan dari PT. Cahaya Plastindo dengan baik. Sehingga mereka memutuskan untuk meneruskan kerja sama yang sudah bertahun-tahun terjalin.


"Terima kasih Fan, karena kerja keras mu kita tidak kehilangan investor." ucap Daffa.


"Sama-sama Fa, sudah menjadi tanggung jawab ku untuk membantu mu!" jawab Fany dengan menunjukan senyum termanisnya.


"Oh, maaf aku berbicara tidak sopan padamu." ujar Fany.


"Tidak apa-apa, kamu bisa lebih santai saat tidak berada di perusahaan dan di depan klien." Daffa menimpali.

__ADS_1


"Oke!" jawab Fany sumringah.


"Apa kita bisa mampir ke supermarket terdekat? Ada yang harus aku beli." pinta Fany.


"Baiklah."


Sepuluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah supermarket.


"Fa, apakah kamu mau nitip sesuatu?" tawar Fany.


"Tidak!" jawab Daffa datar.


"Aku pergi dulu." pamit Fany.


"Daffa sekarang beda banget sama Daffa yang aku kenal dulu. Kenapa sekarang dia cuek banget? Apa dia benar-benar sudah melupakan aku?" batin Fany.


Saat Fany masuk ke supermarket, ia tak sengaja melihat Dista sedang berbelanja. Di sampingnya ada seorang lelaki muda. Yang sepertinya mengikuti Dista. Atau memang mereka belanja bersama.


"Siapa laki-laki itu? Apakah Daffa mengenalnya?" gumam Fany.


"Lebih baik aku foto, dan menunjukkan pada Daffa. Siapa tahu bisa jadi senjata yang berguna " ucap Fany sambil tersenyum.


Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan, Fany segera membayar di kasir dan meninggalkan supermarket tersebut.


"Ayo jalan pak!" perintah Fany pada sopir yang mengantarkan mereka.


"Fa, nih aku beliin minuman dingin buat kamu." ucap Fany sambil menyodorkan sebotol minuman dingin.


"Terima kasih." jawab Daffa datar sambil menerima botol minuman.


"Oh ya Fa, tadi aku lihat istri mu di dalam." Fany memulai aksinya.


"Tadi dia memang izin mau belanja."


"Sepertinya dia tidak sendiri. Kamu kenal dengan laki-laki ini?" tanya Fany sambil menyodorkan foto di hapenya.


Daffa terbelalak melihat foto tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2